Sonya duduk dipinggir lapangan basket sambil sesekali tersenyum sendiri dan berusaha menahan rona mukanya yang memerah dengan norak.
" Heh! Ngapain sih senyum-senyum sendiri daritadi? Dipinggir lapangan basket pula.."ujar Meta - sahabat Sonya - saat ia memergoki Sonya - lagi-lagi - senang melamun dan tersenyum sendiri dipinggir lapangan basket saat istirahat.
"Apaan sih, Ta?! Kayak hantu aja deh muncul tiba-tiba."
"Enak aja, kayak hantu!"sergah Meta. "Kamu tuh kayak orang gila, tiap hari senyum-senyum melulu setiap istirahat. Kamu sakit kali ya?."Meta memegang kening Sonya dengan tangan kanan nya.
"Nggak kok.."jawab Sonya - sambil kembali tersenyum-senyum sendiri.
"Sonya!! Kenapa sih kamu?!!"pekik Meta dengan geram.
Sonya dengan cepat langsung menutup mulut Meta dengan tangan kanannya - sebelum Meta berteriak lebih kencang lagi dari ini. "Jangan teriak-teriak dong, Ta. Nanti orangnya ngeliat kesini!"
"Orangnya? Maksudnya?"tanya Meta dengan bingung
"Dio, Ta."jawab Sonya - yang lagi-lagi tersenyum dengan rona muka yang merah seperti udang rebus!
Meta mengerutkan keningnya, bingung. "Dio? Maksud kamu, Dio dari kelas XI IPS 1 itu?"
Sonya mengangguk - masih tersenyum sendiri.
"Terus kenapa dengan Dio?"tanya Meta dengan heran.
Sonya menjawab pertanyaan Meta dengan tatapan dan senyuman yang berbunga-bunga.
"Ya ampun, Sonya.. Jadi kamu setiap hari duduk dipinggir lapangan gini cuma buat ngeliatin Dio yang berdiri di selasar depan kelasnya itu?!"
Sonya mengangguk sambil tertawa. "Akhirnya ngerti juga kamu, Ta."
"Sonya!! Norak banget sih?!!"pekik Meta (lagi) sambil mengacak-acak rambut ikal sonya yang tergerai indah sepanjang bahunya.
"Meta! Kan udah aku bilang jangan teriak-teriak, ntar si Dio ngeliat kesini, ntar gue yang malu kalau ketahuan ngeliatin dia dari sini setiap hari."sergah Sonya.
"Biar aja si Dio ngeliat kesini! Biar dia tau kalau ada cewek norak yang ngeliatin dia dari sini setiap hari!"sindir Meta.
"Iih, Meta... Kok jadi sinis gitu sih?"
"Aku gemes liat kamu ngelakuin hal norak kayak gini, Sonya sayaanggg!"
Sonya menerutkan keningnya - heran. "Kok gemes, Ta? Memangnya salah ya aku gini?"
"Ya salah banget lah, Sonya!"
"Kok gitu?"
Meta memutar posisi duduknya hingga berhadapan dengan Sonya. "Kamu kira cowok bisa terkesan dan suka sama cewek kalau cewek itu merhatiin dia terus setiap hari dari pinggir lapangan basket gini?!"
"Hemm, nggak tau juga sih. Tapi kayaknya iya deh. Pastilah tuh cowok seneng kalau ternyata ada yang mengaguminya dari jauh."
"Nggak!"
"Kok nggak?"
"Sonya! Nanya tuh nggak usah kebanyakan "kok"nya dong! boros banget sih!"
Sonya tertawa sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Hehe. Jadi, kenapa kamu tadi bilang "nggak!" Meta sayaangg?"
"Karena cowok model Dio itu pasti bakalan ilfil liat ada cewek norak yang ngeliatin dia tiap hari dari sini. Kesannya kamu tuh minder banget sampai nggak berani buat ngeliatin dia ataupun minimal ngajak dia kenalan secara langsung. Pastinya kamu langsung terdepak jadi kandidat "Dio lovers" karena Dio-nya udah keburu ilfil sama kamu."jelas Meta.
Senyum yang daritadi mengembang diwajah Sonya - yang sebenarnya manis, hanya saja tidak pernah disentuh sedikitpun dengan makeup, karena dia hanya memakai bedak bayi saja kemanapun dan kapanpun.
"Jadi aku harus gimana , Ta?"tanya Sonya dengan lemah.
"Ntar aku pikirin caranya biar kamu bisa deket dengan cara nggak norak seperti gini. Sekarang kita ke kelas yuk! Bentar lagi bel masuk bunyi."ujar Meta sambil menggandeng Sonya menuju kelas mereka.
***
"Sonya, aku dapet nomor telepon rumahnya si Dio, loh!"goda Meta saat Sonya sedang sibuk melahap semangkuk bakso+tahu,tempe,bakwan,dan kawan-kawan.
"Hah?! Yang bener , Ta??"
Meta mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Suer. Aku dapet nomornya dari Nena, anak kelas sebelah."
"Nena yang pernah ngejar Dio mati-matian waktu kelas X itu??"
Meta mengangguk sambil tersenyum bangga.
"Kok kamu bisa dapat dari dia? Dia kan orangnya nggak-akan-rela-kalau-ada-yang-dekat-Dio-selain-dia ?!"tanya Sonya, masih tidak percaya.
"Meta gitu loohh.."
***
"Ta, gimana nih ngomongnya? Malu ah nelpon duluan."ujar Sonya dengan tangannya yang gemetaran menggenggam gagang telepon.
"Seenggaknya cara ini lebih "nyata" dari pada mandangin dia dari jauh kayak yang biasa kamu lakuin. Kamu bisa kenal sama dia, ngomong langsung, ntar disekolah jadinya kan nggak canggung lagi kalau ketemu atau berpapasan di koridor."jelas Meta."Udah, cepetan telpon sekarang!"
"Iya.. Iya.."
Sonya menekan nomor-nomor yang tertera pada secarik kertas yang diberikan Meta tadi pagi, dengan telpon rumah yang daritadi berada dalam genggaman tangannya yang gemetaran menahan rasa nervous.
Tttuutt...tttuutt... Sonya menanti jawaban dari seberang dengan perasaaan deg-degan yang luar biasa. Tak henti-hentinya ia menggenggam tangan Meta yang menggerutu sebal disampingnya.
"Lepasin tangan aku, dong Sonya! Sakit nih! Mana nih tangan dingin pula.. Kamu deg-degan atau lagi di kutub utara sih dingin banget?!"ujar Meta dengan suara berbisik
"Huusss! Diem ngapa sih, Ta. Aku grogi berat nih.. Cenat-cenut banget rasanya!"
"Hihi, kayak lagunya SMASH aja!"goda Meta sambil terkikik geli.
"Ta! Diangkat nih.."
"Halo.."Terdengar suara Dio diseberang telepon sana.
"Ha..halo.."jawab Sonya dengan suara yang tergagap.
"Ya halo. Siapa ini?
Sonya menatap Meta yang ada disampingnya - sibuk mengunyah wafer dengan nikmat.
"Gimana nih?"tanya Sonya dengan suara berbisik sangat pelan.
"Ya dijawab lah. Ajak kenalan"jawab Meta dengan mulutnya yang sibuk mengunyah.
"Ini benar rumahnya Dio?"tanya Sonya dengan suara gemetaran.
"Iya benar, dengan saya sendiri. Ini siapa ya?"
Sonya menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. "Aku Sonya, dari kelas XI IPA 2."
"Sonya yang mana ya? Aku nggak kenal deh, kayaknya."
Sonya seperti dihantam petir hingga tubuh dan terutama hatinya hancur berkeping-keping. Bahwa Dio yang yang selama ini ditaksirnya justru tidak mengenalnya bahkan tidak tau siapa-yang-bernama-Sonya ini!!
Nggak mungkin kan aku harus bilang 'Aku ini Sonya, yang selalu merhatiin kamu dari pinggir lapangan basket setiap jam istirahat' gila aja! gumam Sonya dalam hatinya.
"Kalau gitu, kita kenalan aja dulu. Hai, aku Sonya Wiranata dari kelas XI IPA 2, salam kenal ya."ucap Sonya. Ya ampun, ngomong apa aku barusan?! Kok PeDe banget sih?! runtuk Sonya dalam hatinya
Meta terkikik geli diatas tempat tidur Sonya yang berantakan akibat Meta tertawa dengan sangat gelinya sehingga berguling-guling disana.
"Hai Sonya. Hemm, kurasa kamu tau siapa aku dan aku dari kelas mana bukan? Karena nggak mungkin kamu bisa telepon aku kalau kamu nggak kenal aku."ujar Dio. "Ngomong-ngomong ada perlu apa ya telepon aku?"
Pembicaraan yang entah mengapa bisa menjadi seru pun berlangsung antara Dio dan Sonya selama hampir satu jam lebih. Sonya menutup telepon nya dengan senyum yang merekah diwajahnya.
***
"Hai, Sonya!"
Sonya dan Meta menghentikan acara makan pagi mereka di kantin saat Dio menghampiri mereka dan langsung duduk didepan Sonya.
"Hai! Kok tau kalau aku yang namanya Sonya?"goda Sonya sambil tersenyum manis. Meta yang duduk disamping Sonya hanya menatap bingung kearah dua orang yang ada disamping dan depannya ini.
Dio tersipu sebelum akhirnya ia tertawa. "Tadi aku tanya sama temen sekelas kamu yang dulunya waktu kelas X sekelas juga sama aku."
"Oh ya? Siapa?'
"Reno." Dio menunjuk kearah cowok yang duduk dimeja ujung dekat pintu masuk.
Sonya teringat pada Meta - yang ternyata daritadi melihat kejadian bertemunya Sonya dan Dio dengan pandangan takjub dan heran, serta menuntut penjelasan pada Sonya yang nyengir padanya.
Sonya membalas tatapan Meta dan seolah berbicara padanya , nanti deh aku ceritain habis ini ya..
***
"What?! Jadi kamu udah sedeket itu dengan Dio dan aku nggak kamu kasi tau?! Jahat banget kamu, Sonya... Kamu nggak akan bisa sedekat ini dengan dia tanpa bantuan meminta-nomor telepon-Dio-sama-Nena. Aku yang bantu kamu dan aku yang nggak tau!"pekik Meta sambil melipat kedua tangannya didepan dada - merajuk.
"Sori deh, Ta.. Bukan maksud aku nggak mau kasih tau kamu. Aku juga sebenarnya masih kaget dengan kenyataan yang bikin aku jantungan ini! Habis aku telepon Dio waktu itu, ternyata malamnya Dio nelpon aku bali, Ta! Kebayang nggak kagetnya aku gimana Ta? Aku seneng banget Ta.. Kamu tau dia nelpon aku berapa lama?"
Meta menggeleng bingung.
"Dio nelpon aku dari jam 8 malam sampai jam 11 malam, Ta! Tiga jam, Meta!!"seru Sonya dengan girang.
"Jadi ceritanya udah berani buat pedekate nih?"goda Meta - yang syukurnya sudah tidak merajuk lagi.
Sonya mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi, tindakan kamu selanjutnya gimana?"
"Ya, jalani aja dulu lah, seperti ini. Gimana lanjutnya, aku pikirin nanti deh."
***
Dewi keberuntungan dan dewi cinta sekarang sedang berada disisi Sonya sepenuhnya. Entah karena keajaiban apa, Sonya dan Dio menjadi sedekat ini. Padahal dulunya, Dio saja tidak kenal pada Sonya.
Memang sih, Sonya tidak terlalu cantik, tapi wajahnya cukup manis dan tidak membosankan. Pribadinya yang mengasyikkan pun menjadi nilai tambah baginya.
Sebagai sahabat, Meta hanya berharap semoga Sonya dapat bahagia...
***
"Ta, kamu harus kerumah aku ya malam ini.."rengek Sonya.
"Mau ngapain, Nya? Males ah keluar lagi malem-malem. Mendingan aku nonton sambil ngemil dirumah."
Sonya menarik lengan baju Meta dengan wajah yang memelas. "Ayo lah, Meta.. Kamu nonton dirumah aku aja. Boleh deh kamu habisin snack aku dikamar, asal kamu temenin aku malam ini dirumah.. Nginep aja sekalian, jadi nggak pulang malem, kamu. Ya Metaa? Pliiisss..."
"Iya deh. Memangnya kenapa sih, Nya aku harus nginep dirumah kamu malam ini?"
Sonya tertunduk dan menahan senyumnya merekah sebesar bunga bangkai yang gede itu.
"Sonyaa..."tegur Meta yang sudah tidak sabaran.
"Aku mau nembak Dio nanti malam."
"APA?!!"
***
"Yakin mau nembak Dio, Ta? Kalian baru deket satu bulan loh!"tanya Meta.
Sonya mengangguk dengan mantap. "Iya, Ta. Aku rasa udah cukup satu bulan untuk pedekate. Aku udah nggak tahan, Ta nahan rasa ini dan nggak bilang ke Dio kalau lama-lama. Aku pengen dia tau gimana perasaan aku ke dia."
"Ya udah deh terserah kamu aja."sahut Meta - pasrah.
***
Sonya menarik dan menghembuskan nafasnya berkali-kali. Mencoba mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menembak seorang cowok memang memerlukan waktu yang sangat lama bagi Sonya.
Meta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat langkah persiapan diri yang dilakukan Sonya dari satu jam yang lalu.
***
Sonya menekan sederet angka - nomor telepon rumah Dio - yang sudah diingatnya dengan perasaaan campur aduk dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata - hanya Sonya sendiri yang mengerti perasaannya saat itu.
"Halo."
Senyum diwajah Sonya merekah saat telepon diseberang sana diangkat. "Halo, Dio."
"Hah? Aku bu.."
"Aku mau ngomong penting sama kamu."ujar Sonya - memotong omongan yang diseberang sana.
Terdengar suara bergumam diseberang sana, dan Sonya tidak dapat mendengarnya.
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?"
"Hah?!"
"Iya, kamu mau nggak jadi pacar aku?"ulang Sonya.
"Kamu serius?"
"Iya, aku serius!"jawab Sonya dengan mantap
"Oke deh. Aku mau kok jadi pacar kamu."
Sonya diliputi rasa bahagia yang sangat luar biasa.
"Makasih ya. Samapi ketemu besok, di sekolah."
Sonya menutup telepon dengan wajah yang sangat bahagia. Meta memperhatikan sahabatnya itu dengan bingung. "Kenapa, Nya?"http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5531716980502366260
"Metaaa.!"Sonya langsung menghambur dan memeluk Meta yang tampak kebingungan dalam pelukannya.
***
Dio berjalan memasuki sekolah - beriringan dengan sepupunya , Keno yang datang satu minggu yang lalu dari Bandung. Mulai dari tiga hari yang lalu, Keno sekolah disini dan ia ditempatkan di kelas XI IPS 2, bersebelahan dengan kelas Dio.
Sejak tadi malam Dio seakan mogok bicara dan menekuk mukanya, hingga saat ini. Kerutan sebal diwajahnya bertambah ketika dilihatnya Sonya berdiri empat meter didepannya dengan senyum yang merekah diwajahnya.
"Selamat pagi, Dio.."seru Sonya yang langsung merangkul lengan kanan Dio dengan kedua lengannya - manja.
Dio menepis tangan Sonya dan memandangnya dengan tatapan sinis. "Apa-apaan sih kamu? Jangan sok manja deh pagi ini!"sergah Dio.
Sonya kaget dengan perubahan Dio yang sangat drastis.
"Kamu kok sinis gitu, sih? Masa hari spesial pertama kita pacaran jadi gini sih??"
"Hah?! Pacaran? Kapan kita jadian?! Kamu tuh nyatain cinta ke Keno tadi malem! Aku kecewa sama kamu, Nya. Aku kira selama ini kamu serius pedekate sama aku, tapi ternyata, kamu malah nembak Keno yang baru tiga hari sekolah disini! Aku kecewa sama kamu, Nya. KAlau tau gini aku nggak akan buang-buang waktu aku buat pedekate dan berharap kamu beda dari cewek-cewek yang selama ini deketin aku. Tapi ternyata aku salah. Jangan pernah ganggu aku lagi! Aku benci sama kamu, Nya!"
Dio langsung pergi meninggalkan Sonya dan Keno yang terdiam ditempatnya masing-masing.
"Kamu Sonya ya?"tanya Keno.
Sonya menatap kearah Keno dengan wajah bingung. "Iya, kenapa?"
"Aku nggak nyangka banget loh, baru sekolah disini tiga hari, tapi udah ada cewek yang nembak aku. Aku seneng banget ternyata yang telepon aku tadi malem itu, kamu. Makasih ya udah jadi pacar aku."
Keno mengecup kening Sonya yang kebingungan sebelum akhirnya ia meninggalkan Sonya yang mematung ditempatnya.
"Oh God, tadi malem aku salah sambung!!!"
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar