Riko mengendarai mobilnya dengan perasaan bahagia. Akhirnya ia bisa benar-benar pergi berdua – kecuali pergi sekolah, lain lagi ceritanya – bersama Riri. Ia menghentikan mobilnya didepan rumah Riri, dan membunyikan klakson mobilnya sebanyak dua kali.
Tak lama ia menunggu, Riri pun keluar dari rumahnya. Ia terlihat sangat manis dengan kemeja putih motif bunga berwarna pink , dipadukan dengan celaja jins warna biru tua, serta sepasang wedges berwarna pink muda yang terpasang indah di kakinya.
Riko tak henti melepaskan pandangannya dari Riri, sejak ia keluar dari rumah, menutup pintu, membuka pagar, menutupnya kembali, hingga ia masuk kedalam mobil, dan duduk di kursi samping Riko.
Baru kali ini Riko melihat penampilan Riri diluar sekolah. Tubuhnya tampak lebih jenjang dengan celana jins pas badan dan wedges yang dikenakannya. Seragam sekolah yang biasa dipakai, membuat badannya yang mungil tampak lebih kecil karena rok panjang yang dikenakannya, tetapi kini dihadapan Riko, ternyata Riri tidak semungil yang dibayangkannya.
“Kenapa kak, merhatiin Riri sampe segitunya?”tanya Riri sambil tertunduk malu.
“Ahh, nggak apa-apa kok.”sahutnya sambil cengengesan – malu karena ketahuan sejak tadi terus memperhatikan Riri. “Kita berangkat sekarang?”
Riri mengangguk, “Iya.”
Riko pun menyalakan kembali mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya menjauhi rumah Riri.
***
Dimas memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Jarak yang sebenarnya jauh dan ditempuh dalam waktu setengah jam, jadi terasa dekat karena dalam waktu limabelas menit Dimas sudah sampai dirumah Rena.
“Ada apa sih, Mas? Kok kayaknya emergency banget sih?”tanya Rena heran.
“Nanti deh aku ceritain sambil jalan, Ren. Sekarang cepet naik deh, ntar malah kehilangan jejak nih!”
Mendengar perintah Dimas yang pelan tapi tegas itu, Rena pun langsung naik ke boncengan motor Dimas, dan langsung dibawa “terbang” karena Dimas memacu motornya dengan sangat cepat.
“Mas, jangan ngebut banget dong! Aku belom mau mati nih!”pekik Rena sambil mencengkeram pegangan besi di belakang jok motor Dimas.
Ya Allah, jangan jemput aku sekarang...Rena berdoa dalam hatinya.
“Kalau nggak cepat nggak bakal terkejar, Ren. Nanti kita kehilangan jejak mereka.”sahut Dimas saat motornya berhenti diperempatan lampu merah.
“Mereka? Riri sama sudara sepupunya maksud kamu?”
“Riko bukan saudara sepupunya, Ren.”jawab Dimas pelan.
“Ya jelas bukan lah!”sahut Rena. “Eh, jangan bilang, kalau Riri sekarang lagi pergi sama kak Riko?”
Dimas menghela nafasnya dengan keras, “Memang kenyataannya seperti itu, Ren.”
“Kok Riri bohong gitu ya sama kita?”tanya Rena pelan – sibuk memikirkan alasan yang akan dilontarkan Riri nanti.
“Nah, itu aku nggak tau, Ren. Untuk tau semua jawaban dari pertanyaan kita, ya kita harus mata-matain mereka.”
“Setuju!”
Dimas langsung memacu kembali motornya dengan kecepatan tinggi, sehingga Rena langsung terdorong kebelakang, dan secara refleks langsung mencengkeram pegangan besi dibelakang jok lagi.
“Dimaaass! Tolong deh! Sedikit lagi aku jatoh, bisa mati jadi dendeng nih kelindas mobil serame ini!”pekik Rena kesal.
***
Riko memarkir mobilnya diarea tengah basement. “Tunggu sebentar ya, Ri.”
Riri bingung melihat Riko yang keluar dari mobil sambil berlari mengitari mobil. “Silahkan..”ucap Riko sambil sedikit membungkuk – seperti pengawal yang membukakan pintu kereta bagi permaisuri.
Riri tertawa, “Kakak ada-ada aja deh.”sahutnya. “Terimakasih.”ucapnya sambil tersenyum saat sudah berdiri disamping Riko yang sedang mengunci pintu mobilnya.
“Sama-sama.”sahutnya sambil tersenyum. Ia sangat bahagia hari ini.
***
Setelah memarkir motornya, Dimas langsung menarik tangan Rena.
“Aduuh, Mas. Jangan buru-buru dong. Aku pake high heels nih, ntra hak sepatunya patah!”protes Rena.
“Kita harus cepet, Ri! Nanti kita kehilangan jejaknya.”
Rena tersenyum sinis, “Sekarang aja udah kehilangan jejaknya kali, secepat apapun kita jalan masuk ke mall, tetep aja kita nggak tau mereka ada di toko apa!”
“Ya kita masuk satu-satu lah ke toko.”
“Dimaaaass!! Mall nih bukan segede warung atau kantin sekolah kita, yang hanya dari ujung pintu aja bisa liat keseluruh ruangan dan bisa mengenali siapa aja semua yang ada dalam kantin! Mall gede kali, tokonya banyak, terus gede-gede pula. Mana bisa dengan cepat kita bisa nyari dia yang bisa dipastikan dia tuh udah berada dimall setengah jam lebih dulu dri kita yang baru datang ini!!”sergah Rena.
Dimas terdiam ditempat. Dengan tubuh yang lemas ia duduk disalahsatu kursi panjang yang disediakan untuk pengunjung – didepan pintu masuk mall. “Jadi kita harus gimana?”
“Ya udah kita carinya pelan dan sabar. Insya allah ketemu kok. Yakin aja.”hibur Rena.
“Iya deh.”
***
“Kak, aku mau ke toilet dulu ya.”ujar Riri.
“Oh, ya udah, aku juga sekalian ke toilet deh. Ada diujung dekat lift kan, toiletnya..”
“Iya.”
Riri dan Riko pun berjalan bersisian menuju toilet terdekat dari tempat mereka kini berada, dilantai dua.
***
“Mas, kemana lagi nih? Kita udah masukin semua toko dilantai satu ini dari tadi, tapi belom ketemu juga.”keluh Rena sambil memegangi lututnya yang pegal karena daritadi berjalan mengelilingi mall yang sangat luas ini.
“Yuk, kita ke lantai dua, Ren.”sahut Dimas mendekati eskalator yang berada didekat tempat mereka bediri sekarang.
“Hah?! Naik lagi nih, cari ke toko satu-satu?! Baru satu lantai aja capeknya udah gini, Mas, gimana kita harus ngecek sampai lantai empat di mall ini?!!”
“Iya lah, nggak ada pilihan lain kan?”tanya Dimas.
“Huft, yuk deh. Tapi ntar ke toilet bentar ya, kebelet pipis nih daritadi jalan melulu sih.”
“Iyaaa.”sahut Dimas sambil melangkahkan kakinya naik ke eskalator yang membawa mereka ke lantai dua.
***
Rena keluar dari toilet dengan wajah yang terpancar lega.
“Lama banget sih?!”sungut Dimas.
“Ya namanya juga cewek, wajar lah kalau lama di toilet, lagian ramai gitu..”sahutnya.
“Ya udah, yuk kita mulai dari toko souvenir di ujung sana.”ujar Dimas sambil menunjuk toko yang letaknya lumayan jauh dari toilet.
Rena tertegun melihat sosok yang dikenalnya dengan baik. Mereka naik ke eskalator, dan berbelok kesebelah kanan.
“Mas, nggak perlu muter-muter mall lagi! Aku udah ketemu sama target!”seru Rena sambil menyeret Dimas , naik ke eskalator.
“Mana, Rena? Mereka mana?!”tanya Dimas dengan heboh sambil melihat kanan-kiri, depan dan belakang.
“Udah deh, ikut aja!”Rena langsung menarik kembali tangan Dimas saat mereka sampai dilantai tiga dan langsung berlari kecil mengikuti sosok yang tadi dilihatnya.
***
“Ri, bagusnya beliin apa ya buat ulang tahun papa besok? Aku bingung nih mau beliin apa. Habis biasanya selalu mama yang beli kadonya, tapi berhubung ulang tahun papa kali ini ingin dirayakan lebih spesial – sekaligus merayakan keberhasilan perusahaan papa yang menang tender, jadinya mama sibuk ngurusin revarasi restoran segala macem, jadinya aku deh yang disuruh beli kado.”jelas Riko.
“Hemm, papa kakak punya perusahaan ya?”t
“Iya, dia direktur utama sekaligus pemilik sahamnya.”jawab Riko.
“Hemm, gimana kalau beliin satu set jas beserta celana dan kemejanya kak? Jadi kan, bisa dipakai terus sama papa kak Riko kalau kerja.”usul Riri.
“Tapi dia udah banyak punya jas, Ri.”
“Tapi pemberian dari anak dan istri tercinta jauh sangat berharga kan, dibanding jas lain yang dibeli sendiri?”
Riko tersenyum, “Bener juga ya. Oke deh, yuk kita ke departemen store di lantai ini aja. Aku rasa ada jas yang cocok untuk papa.”
“Yuk.”sahut Riri.
***
“Mas, mereka masuk ke departemen store tuh!”tunjuk Rena.
“Iya,iya, yuk buruan kita susul!”sahut Dimas bersemangat.
Rena menarik tangan Dimas agar kembali mundur, “Ehh, tunggu dulu! Jangan gegabah dong, katanya mau jadi mata-mata, kalo buru-buru gitu ntar ketauan dong. Kita harus nyamar dulu, yuk beli perlengkapan nyamarnya.”seru Rena
“Hah?!”
Dimas hanya pasrah saat tangannya ditarik paksa oleh Rena yang membawanya ke arah toko lain yang tak jauh dari tempat yang dimasuki Riri dan Riko tadi.
***
“Nah, kalau gini kan kita aman.”ujar Rena setelah mereka membeli dan langsung memakai alat penyamaran mereka.
“Iya sih.”sahut Dimas sambil mematut dirinya di cermin.
Untuk memudahkan “penyelidikan” yang mereka lakukan, Rena memilihkan sebuah topi dan kacamata hitam untuk dipakai Dimas. Setidaknya dengan seperti itu wajah putih bersih Dimas tidak terlalu dikenali oleh Riri.
Sedangkan Rena sendiri, ia membeli sebuah kacamata model seperti kacamata minus, berbingkai putih, dan sebuah topi rajut biru muda yang senada dengan bajunya, tidak lupa juga ia membeli syal dengan warna serupa.
“Yuk, kita susul mereka.”sahut Dimas.
Rena mengangguk dan berjalan mengekori Dimas yang berada didepannya.
***
Rena dan Dimas bersembunyi dibalik gantungan-gantungan baju yang ada disekeliling mereka. Tak jauh didepan mereka, Riri dan Riko berada dibagian yang menjual jas dan mereka tampak sedang memilih sebuah jas. Dilihat dari logo nama yang trertera diatas counter tempat Riri dan Riko berada, Dimas tau, bahwa harga jas dengan merek tersebut tidak lari dari harga lima juta rupiah.
“Ri, bagus yang mana nih?”Riko menunjukkan dua buah jas berwarna hitam kepada Riri.
Mereknya memang sama, tapi telihat dari bahan dan modelnya hanya satu yang menarik perhatian Riri. Ia mengambil jas yang berada ditangan kanan Riko dan tersenyum, “Ini yang bagus kak.”
“Oke deh, kita ambil yang ini ya..”ujar Dimas. “Mbak, saya ambil yang ini ya, sepasang dengan celananya.”tutur Dimas kepada seorang SPG wanita yang menjaga bagian yang mereka datangi.
SPG itupun langsung mengambilkan jas yang diinginkan Riko di tempatnya, ia mengambilkan jas yang masih terbungkus rapi yang telah disimpan sepasang dengan celananya. “Ada lagi, Mas?”tanya SPG itu dengan ramah.
“Iya mbak, saya mau cari kemeja dengan dasinya.”
“Kemeja dan dasi ada dibagian depan , Mas.”
Riko dan Riri pun bergerak ketempat yang ditunjukkan oleh SPG itu. Setelah meminta pertimbangan Riri, akhirnya pilihan mereka jatuh pada kemeja polos berwarna hitam dan dasi berwarna merah tua yang tampak sangat elegan.
Pasti papa Riko tampak gagah mengenakannya, pikir Riri sambil tersenyum.
Dimas dan Rena agak sedikit maju dan mencari posisi yang pas untuk bersembunyi didekat mereka, agar bias mendengar percakapan Riri dan Riko.
Setelah menerima nota bon dari SPG itu, Riko pun menghampiri Riri yang sedang melihat-lihat kemeja. “Sekarang, aku yang mau kasi kado untuk papa. Kira-kira apa ya?”tanya Riko.
“Loh, bukannya kita sudah belikan jas ini?”
“Itu kan kado dari mama untuk papa, dari aku kan belum, Ri.”jawab Riko sambil tersenyum.
“Hemm, gimana kalau jam tangan aja? Jadi kan setiap waktu bisa ingat sama kamu.”saran Riri.
“Saran yang bagus, yuk kita ke bagian jam tangan.”
“Iya. Riri yakin deh, pasti papa kak Riko seneng banget, saat ulang tahunnya besok, dapat kado spesial dari istri dan anak tercinta.”seru Riri.
“Iya, dan kadonya semua kamu yang pilih. Dia pasti senang bisa ketemu kamu besok.”sahut Riko sambil tersenyum, dan menggandeng tangan Riri menuju bagian tempat menjual jam tangan.
***
Dimas terpaku ditempatnya, setelah mendengar percakapan Riri dan Riko barusan.
Rena menepuk pundak Dimas dengan pelan, “Hei, kita mau diam disini aja? Target udah menjauh tuh! Nanti kehilangan jejaknya lagi.”
“Biarin aja lah, Ren. Yang penting sekarang kita sudah tau untuk apa mereka pergi hari ini. Yuk sekarang kita ke toko buku. Mumpung disini, kamu sekalian aja cari novelnya.”
“Kamu yakin, Mas?”
Dimas mengangguk pelan, sambil tertunduk. “Iya. Yuk kita pergi.”
***
Dimas melemparkan jaketnya dengan kesar ke lantai. Perasaan kesal dan tak enak menyelimuti pikirannya. Ia tidak habis pikir, mengapa Riri bisa berbuat seperti ini. Berbohong pada Rena dan Dimas, karena ingin pergi mencarikan kado ulang tahun papanya Riko yang akan dirayakan besok?!!
Apa yang ada dipikirannya? Mengapa ia seperti ini?!
Dimas menghantamkan tinju nya ke dinding hingga darah segar pun bercucuran dari kepalan tangan kanan nya.
***
Keesokan malamnya, Riko kembali menjemput Riri untuk menghadiri pesta ulang tahun papanya. Dengan kemeja berwarna putih dan jas hitam yang terpasang dibadannya, Riko pun turun dari mobil , memasuki pekarangan rumah Riri.
Betapa kagetnya Riko saat ia membunyikan bel, sosok Riri terlihat sangat cantik dan menawan dalam balutan gaun berwarna pink lembut. Rambutnya tampak digelung keatas, dan hanya beberapa helai yang tergantung disamping telinganya.
Riko memberikan lengan kirinya pada Riri. Sambil tersenyum malu Riri memegang lengan kiri Riko dan bersama berjalan menuju mobil Riko yang terparkir didepan rumah.
***
Dimas mengendarai motornya agak jauh dibelakang mobil Riko yang tadi menjemput Riri. Dimas tau, inilah kali pertama Riri sedekat ini dengan cowok, selain dirinya. Ia tidak pernah pergi kepesta dengan dandanan secantik itu sebelumnya kecuali dengan dirinya, Dimas!
Dimas merasa terpukul melihat kenyataan yang seolah menyayat hatinya.
Riri, kenapa kamu seperti ini? Keluh Dimas dalam hati, sambil menatap lekat pada mobil yang berada sekitar sepuluh meter didepannya.
***
Mobil Riko memasuki halaman sebuah restoran yang megah sekali, sepertinya restoran ini adalah restoran termahal dan terbagus yang ada di Bandung ini.
Dengan bangga dan bahagia Riko menggandeng tangan Riri memasuki restoran tersebut. Sepertinya seluruh restoran ini sepenuhnya sudah dipesan oleh mama Riko khusus untuk ulang tahun papanya kali ini. Terlihat sekali bahwa tamu-tamu yang hadir bukanlah tamu sembarangan. Riri merasa tersanjung karena Riko membawanya kesini.
Semoga aku tidak terlihat kampungan.. Riri berharap dalam hatinya.
Saat memasuki pintu restoran, terlihat wanita yang kira-kira berumur empatpuluhan menyambut Riri dan Riko dengan senyum yang mengembang.
“Hai sayang..”sapanya sambil memeluk dan menciumi kedua pipi Riko dengan sayang.
Sepertinya adalah mama Riko. Wajahnya masih terlihat cantik dan belum terlihat ada kerutan diwajahnya – pasti karena sentuhan salon ternama yang selalu merawatnya beberapa kali seminggu, atau mungkin setiap hari?
Riko tersenyum , “Ma, ini Riri, yang Riko ceritakan tempo hari.”
Wanita itu tersenyum manis pada Riri, “Hai, Riri.”sapanya hangat sambil memeluk dan juga menciumi kedua pipi Riri dengan lembut. “Terima kasih ya sudah mau datang malam ini. Tante senang sekali bertemu dengan kamu.”
Riri tersipu malu, “Terimakasih tante.”ucapnya lembut.
Mama Riko pun membimbing Riri dan Riko masuk kedalam restoran hingga menghilang dari pandangan Dimas yang mengamati dari ujung jalan.
Ia kembali menyalakan mesin motornya, dan memacu dengan kecepatan tinggi.
Menghilang bagai angin, seperti hatinya kini yang berantakan disapukan angin.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar