“Kok lama banget sih, Ren keluarnya?”tanya Riri saat melihat Rena baru keluar dari ruangan ulangan. Karena urutan nama mereka jauh, merekapun menjalani ulangan tidak diruang yang sama.
Rena menyeka keringat yang menetes didahinya. “Lama?! Kamu kali yang kecepetan, Ri! Bagi kamu sih, ngerjain fisika cukup sambil tutup mata juga bisa, kalau aku?! Sampai dunia kebalik juga belum tentu aku bisa ngerjain 40 soal itu dengan benar semua!”sungutnya.
Riri terkikik geli. “Ya udah deh, berhubung hari ini aku lagi pengen baik hati, yuk kita ke taman!”Riri menyeret Rena yang kebingungan.
“Apa hubungannya baik hati sama ke taman?”
“Tadi pagi, papa bikinin aku yakiniku dua porsi, karena aku nggak serakus itu, sanggup menghabiskan yakiniku dua porsi, jadi aku akan berbaik hati membaginya kepada sahabat dan teman sebangkuku yang tersayang ini...”sahutnya.
“Waahh, makasi banget Riri sayaangg! Tau banget deh aku kelaperan sekarang. Yuk, Yuk buruan ke taman kita makan..”seru Rena bersemangat.
Riri menahan tangan Rena yang ingin buru-buru menujju taman. “Tunggu dulu ngapa, Ren. Belom selesai ngomong nih.”
“Apaan lagi?”
“Aku mau bagi yakiniku nya, Cuma ada satu syarat ya? Gampang kok..”ujar Riri sambil tersenyum penuh arti.
Rena membelalakkan matanya dengan lebar. “Hah?! Kayak gini nih yang namanya baik hati? Malah kasi syarat gitu..”sungutnya.
“Syaratnya gampang kok, Ren. Yaa? Pliisss??”rengek Riri.
“Apaan sih emangnya?”
“Antar aku pulang yaa..”ucapnya sambil tersenyum (sok) manis.
“Hah?! Tumben.. Pak Dadang memangnya kemana?”tanya Rena
Riri mendengus, “Dia ngantarin mama, nggak tau kemana, jadi nggak bisa jemput. Mau pulang pakai taksi malas ah, Ren. Hemat doonggg..”
“Kak Riko kemana?”
“Katanya ada les pulang sekolah ini.”sahut Riri.
Rena mengangkat sebelah alisnya, “Kok kamu tau, Ri, aku kesekolah hari ini dianter supir pakai mobil? Kan pas aku datang, kamu ada di kelas?”selidik Rena.
Riri terkikik geli, “Aku kan paranormal, Ren.”godanya.
“Serius doong, Rii..”pekik Rena sambil mencubit Riri.
“Aaww.. lepas ah Ren. Sakit tau!”Riri mengelus kedua pipinya yang dicubit Rena dengan gemas.
“Makanya serius dong, tau dari mana??”tanya rena penasaran.
“Ya tau nya dari hasil analisis aku lah, Ren.”sahut Riri
“Maksudnya?”
“Tadi pagi, kamu nggak seperti biasanya. Kalau kamu ke sekolah bareng kakak kamu pakai motor, rambut kamu pasti kayak habis kena tiup angin topan waktu sampai disekolah, dan dikelas kamu baru sibuk pinjem sisir dan kaca sama aku buat ngerapiin dandanan kamu. Tapi pagi ini, rambut kamu sangat rapi, dan tidak berantakan seidikitpun. Jadi aku memiliki kesimpulan, kamu pasti diantar sama supir pakai mobil, karena kakak kamu nggak bangun-bangun juga setelah dibangunin dan dipukulin sekalipun. Sehingga, dengan kesimpulan tersebut, aku bisa nebeng kamu pulang deh!”jelas Riri sambil tersenyum dengan arti tolong-banget-antar-aku-pulang-nanti-ya.
Rena mengehela nafasnya. “Oke deh, ntar aku antarin pulang.”
“Yey! Tengkyu banget Renaa!!”Riri memeluk rena dengan kencang sambil menciumi kedua pipinya.
“Iihh riri lepas aah. Aku nggak mau disangka pasangan lesbi kamu!”
Riri tertawa dan melepaskan pelukannya.
Rena menghela nafas lega dan langsung menarik tangan Riri. “Yuk buruan kita makan. Menghadapi 40 soal fisika dalam waktu kurang dari dua jam bikin aku jadi pengen makan orang!!”
***
Salah satu hobi Riri yang paling disenanginya – selain membaca, setiap sore, Riri pasti dengan rajin menyirami kebun bunga yang ada dihalaman depan. Dua atau tiga hari sekali diberinya pupuk dan perhatian yang teramat sangat besar setiap harinya.
Sebenarnya urusan kebun sudah menjadi tugas Toto, tapi khusus untuk kebun bunga, jangan harap ada yang boleh menyentuhnya selain Riri! Karena kecintaannya dengan bunga ini lah, mama pun dengan senang hati – dan perasaaan yang juga berbunga-bunga, membuatkan sekaligus mendesainkan taman bunga kecil disudut kanan halaman rumah mereka.
Memang, halaman depan rumah tidak seluas halaman belakang, tapi dengan penataan yang bagus dari mama, taman yang tidak terlalu besar itu pun menjadi sangat indah dan sangat asri.
Disekeliling rumah, sengaja ditanami pohon yang sangat tinggi dan rindang. Entah apa namanya, hanya mama sendirilah yang tau. Di depan ataupun dibelakang halaman rumah, pohon-pohon ini lah yang seolah menjadi “bingkai” rumah mereka.
Dihalaman depan, terdapaty beberapa jenis dedaunan yang tersusun rapi sepanjang selasar teras. Lalu disudut depan sebelah kanan, berjejer beraneka ragam jenis dan warna bunga. Dari mulai bunga mawar melati semuanya indah sampai bunga terompet dan bunga pukul sembilan pun ada. Cuma bunga raflesia yang tidak ada karena tidak dijual – kalaupun ada yang menjual, mama pasti tidak akan mau membelinya, karena bukan menambah indah rumahnya, malah memperburuk dengan aroma yang tidak sedap itu.
Sedangkan dipojok kanan, disebelah teras, tepat di depan jendela kamar mama dan papa, terdapat kolam ikan kecil beserta air mancurnya. Sengaja mama meletakkannya disebelah sana, agar mendapatkan kesan dingin yang menyejukkan setiap dia membuka jendela kamarnya.
Riri sedang asyik merapikan bunga-bunga nya sejak tadi. Namun kegiatannya itu pun terhenti saat terdengar sapaan dari rumah sebelah.
“Hai, Ri.”
Riri menoleh dan mendapati Dimas berdiri disamping dinding pembatas rumah mereka. “Hai.”sahutnya tanpa menoleh lagi kearah Dimas – tetap konsentrasi mengurus bunganya.
“Udah daritadi disitu?”tanya Dimas dengan canggung.
“Ya.”
Dimas menghela nafasnya dengan berat. “Heemm, Ri...”
“Ya, ada apa?”
Aku kangen kamu yang dulu... “Nggak apa-apa kok. Aku masuk dulu ya.”
Dimas pun langsung masuk kerumahnya dengan kepala yang tertunduk.
Riri termenung ditempatnya, dirasakannya ada air yang menetes di pipinya, ia mendongak, ternyata rintik hujan pun turun dan membasahi dirinya. Seolah mengerti dan menemani Riri yang besedih dan ikut menangis bersama langit.
***
Dimas dengan asyiknya menggerak-gerakkan kedua jempolnya di PSP miliknya. Satu kegiatan yang sering dilakukan Dimas saat dirumah. Tidur, makan, main game, dan.. kerumah Riri.
Sudah hampir seminggu ini, Dimas tidak bertegur sapa dengan Riri. Jika bertemu disekolah, Riri kadang hanya tersenyum sekilas lalu pergi menjauh darinya. Tadi, saat dilihatnya Riri sedang mengurus kebun bunga nya, Riri pun seakan berbicara dengan Dimas sangat enggan.
“Kenapa nih, anak mama murung terus belakangan ini?”mama mengelus kepala Dimas dengan sayang.
“Dimas kangen sama Riri, ma...”keluhnya.
“Loh,kalau kangen ya tinggal jalan toh kesebelah, kan nggak jauh ini..”
Dimas menghela nafsnya berat, “Dimas lagi nggak teguran, ma..”
“Loh, memangnya kenapa? Kamu bikin Riri ngambek ya?”
Dimas mengangguk, “Iya, ma. Dimas memang agak kelewatan sama Riri, sampai dia marah gitu sama Dimas.”
“Memangnya kamu ngapain? Cerita dong sama mama..”ucap mama sambil menyalakan televisi didepan mereka.
“Riri kemarin sempat bohong sama Dimas dan teman sebangkunya. Dia bilang mau pergi sama sepupunya untuk cari kado om nya yang ulang tahun. Tapi ternyata dia perginya sama kak Riko.”
Mama mengerutkan keningnya, heran. “Memangnya salah kalau Riko pergi sama Riri?”
“Tapi kak Riko tuh bukan sepupunya Riri, ma! Dia kakak kelas kami di sekolah. Kak Riko naksir sama Riri. Riri bohong sama Dimas, ma!”
Mama tertawa, “Kamu cemburu sama si Riko itu?”
Dimas tertunduk dan lanjut memainkan PSPnya lagi, “Nggak kok, Dimas nggak cemburu. Dimas nggak terima aja Riri bohong gitu sama Dimas. Riri nggak pernah gitu dari dulu, dia selalu cerita apapun ke Dimas. Memangnya apa salahnya kalau dia jujur? Dimas kan nggak akan larang dia ma. Dimas Cuma mau Riri jujur sama Dimas.”
Lagi-lagi mama tersenyum, “Mungkin Riri pengen jaga perasaan kamu sayang..”
“Maksud mama?”
“Kamu sudah beranjak remaja sekarang, sudah waktunya kamu belajar untuk menjadi sedikit lebih dewasa dalam menghadapi hidup, terutama dalam menghadapi wanita. Menghadapi Riri yang sahabat kamu aja, kamu kebingungan gini, gimana kalau kamu punya pacar nanti?”goda mama.
“Aah mama.. Dimas nggak punya pacar. Lagian, Dimas juga nggak ngerti maksud mama apa.”
“Tidak semua hal bisa wanita katakan pada pria, apalagi (jika) menyangkut hal yang sangat pribadi dan ingin disimpannya sendiri. Untuk menghadapi wanita yang seperti ini, kamu nggak bisa berfikir pake otak sayang, tapi pakai ini...”mama menunjuk dada Dimas sambil tersenyum.
***
Mama Dimas membukakan pintu rumah untuk papa yang baru pulang kerja. “Tumben pa, pulangnya lebih larut?”tanya mama sambil mengambil tas kerja papa dan mengunci pintu.
Papa menghempaskan tubuhnya yang lelah di sofa ruang keluarga, “Tadi ada klien yang sedikit bermasalah, ma. Dia nggak terima dengan hasil yang diterimanya dari sidang pengadilan tempo hari. Padahal, percuma saja dia protes sekarang, toh keputusan itu kalau tidak salah papa, sudah ditetapkan sekitar sebulan yang lalu.”
Papa Dimas adalah seorang pengacara, jadi wajar saja bila ada beberapa klien yang merasa kurang puas dengan yang didapatnya. Toh semua keputusan ditentukan kembali oleh hakim, jadi sebagai pengacara, setelah melakukan hal yang semaksimal mungkin dan menunjukkan bukti yang ada, semua kembali lagi ketangan hakim.
“Ooh, ya sudahlah pa, toh bukan sekali ini saja papa menghadapi klien yang tidak puas.”sahut mama. “Papa sudah makan?”
“Sudah kok, tadi papa minta dibelikan makan malam sama satpam di kantor.”jawabnya. “Dimas mana ma?”
“Mungkin lagi istirahat di kamar, pa. Dia lagi kalut pikirannya.”sahut mama sambil sedikit tertawa.
“loh, apa lagi yang dikalutkan nya? Bukankah ulangan akhir sudah selesai dijalani nya dengan baik?”tanya papa heran.
Mama tersenyum sambil memijat kaki papa. “Biasalah pa, dia lagi tidak teguran dengan Riri selama seminggu ini.”
“Ada apa lagi memangnya? Seingat papa, terakhir kali mereka bertengkar waktu kelas 6 SD, itu pun tiga hari kemudian mereka sudah berbaikan lagi, kan?
“Biasalah pa, kesalahpahaman anak remaja. Biarkan saja mereka saling menenangkan diri, nanti juga bisa baik sendiri kok.”
Papa menghembuskan nafasnya pelan, “Ma, papa rasa kita harus mengambil tindakan untuk Dimas.”
“Maksud papa?”
“Beberapa bulan yang lalu, papa bertemu dengan teman lama papa. Mereka baru pindah dari Surabaya kesini, karena dia dipindah tugaskan kemari. Setelah berbincang lama dengan dia, kami bermaksud menjodohkan Dimas dengan anak perempuannya.”jelas papa.
“Ha?! Papa tidak bercanda kan?!”sahut mama kaget.
“Untuk apa papa bercanda mengenai anak kita, ma?”
“Tapi pa, biarkan Dimas menentukan pilihannya sendiri. Dimas sudah besar, biarkan dia menjalani kehidupan remaja nya, jangan dijodohkan seperti zaman kita dulu, pa!”
“Ma, sampai kapan Dimas begini terus? Dia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain Riri kan? Mana ada perempuan yang mau dekat dia kalau dia saja tidak pernah lepas dari Riri seperti itu?!”sergah papa.
“Kalau Dimas seperti itu karena dia sayang pada Riri melebihi seorang sahabat bagaimana pa? Kita tidak bisa melarangnya.. Itu perasaannya..”
“Tidak ma! Sahabat kecil tetap saja sahabat kecil! Papa sudah memutuskan ini dan memikirkannya secara matang, ini yang terbaik untuknya. Tidak ada bantahan lagi ma!”tegas papa.
***
Tok..tok..tok.. “Rena...”panggil mama dari balik pintu kamar Rena.
“Iya ma, masuk aja nggak Rena kunci kok.”
Rena sedang mengeringkan rambutnya yang basah – setelah tadi keramas, dengan hair dryer miliknya. “Ada apa, ma?”
“Kita ke mall yuk, Ren.”ajak mama.
“Tumben ngajak Rena ke mall, ma?”godanya. “Memangnya mau cari apa?”
Mama tersenyum, “Kita ke salon, terus cari gaun untuk kamu nanti malam.”
Rena terbelalak kaget, “Ha?! Nanti malam? Memangnya nanti malam ada apa, ma?”
“Masih rahasia, pokoknya kamu siap-siap sekarang ya. Limabelas menit lagi kita berangkat, mama tunggu di mobil.”
Mama menutup pintu kamar Rena, dan meninggalkan anak gadisnya itu kebingungan ditempatnya.
***
Mama memoleskan lipstik di bibir Rena sebagai sentuhan terakhir, “Nah, sekarang anak mama sudah cantik deh!”seru mama dengan senang melihat Rena yang tmpak anggun dengan gaun yang dipilihkannya tadi siang.
Rena menatap bayangan dirinya yang terpantul dikaca, “Waah, mama hebat deh. Harusnya mama buka salon kecantikan aja deh.”puji Rena sambil mengecup kedua pipi mamanya dengan sayang.
“Kamu pandai memuji juga ya..”olok mama. “Mana sepatu yang tadi kamu beli? Coba kamu pakai, mama ingin lihat hasil keseluruhan dari kreasi mama malam ini.”
Rena mengeluarkan wedges putih yang tadi dibelinya bersama mama.
“Sempurna..”ucap mama dengan menirukan gaya Demian – magician yang sering muncul di televisi.
Rena tersenyum manis, “makasih ya, ma.”
“Iya. Kamu siap-siap ya, bentar lagi langsung turun ke bawha, papa pasti sudah tidak sabar menunggu kita yang daritadi belum juga turun.”
Rena tertawa dan mengangguk. Ia mengambil tas tangannya yang berwarna putih juga – yang diletakkannya diatas tempat tidur. Sebelum ia keluar, ia kembali mematut dirinya didepan kaca.
Gaun putih pilihan mama yang berbahan satin ini memang sesuai dengan seleranya. Wedges dan tas tangan kecil dengan warna senada mempermanis dandanan Rena malam ini.
Rambut lurus panjangnya digelung kebelakang dan disisakan sedikit bebertapa helai disamping telinganya.
Sambil tersenyum pada bayangan dirinya, Rena menutup pintu kamarnya dan berjalan menuruni tangga.
***
Dimas duduk dikursi belakang mobil dalam diam. Sesekali papa mama memperhatikan kediaman anaknya itu melalui kaca spion yang berada didalam mobil.
“kamu kok daritadi diam terus, Mas?”tanya mama.
“Nggak apa-apa kok, ma.”sahutnya pelan.
Mama menghela nafasnya pelan, sedangkan papa hanya geleng kepala dan tetap konsentrasi menghadap jalan didepannya – mengemudikan mobil.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di salah satu hotel terkemuka di daerah Bandung dan naik dengan lift menuju restoran yang berada dilantai atas. Entah dilantai berapa, karena Dimas tidak memperhatikan angka penunjuk didalam lift, karena sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah terbang tak tau kemana.
“Ma, Dimas ke toilet dulu ya.”ujarnya saat mereka sudah sampai di meja pesanan papa.
Mama mengangguk, “Iya, jangan lama-lama ya.”
Dimas pun pergi menuju toilet yang berada diujung restoran ini.
***
Dodi memperhatikan sekelilingnya dan mencari sosok yang dikenalnya. Diujung sana terlihat Irawan, teman lamanya duduk dimeja bundar bersama istrinya.
“Selamat malam, Irawan..”sapanya sembari merangkul teman lamanya itu.
“Malam, Dodi. Waah, tampak lebih gagah dari biasanya nih.”canda Irawan.
Dodi tertawa, “Ah, bercanda saja bisanya. Jelaslah, kalau hari biasa kamu hanya melihatku dalam balutan seragam kepolisian, kalau sekarang kan aku bisa sedikit bergaya dengan setelan jas.”
Dodi merangkul istrinya, “Perkenalkan, ini istriku, Lastri. Tentu kamu masih ingat kan, Wan?”
Irawan mengangguk sambil tertawa, dan mengulurkan tangannya ada Lastri. “Tentu saja. Dialah wanita yang kamu kejar-kejar sejak SMP. Senang sekali melihat kalian masih bersama hingga sekarang.”
“Tentu. Kamu tau, untuk urusan percintaan, aku memang jauh beruntung daripadamu, yang sejak dulu, sangat pemalu. Beruntung sekali kamu mendapatkan istri yang cantik seperti ini. Padahal untuk berkenalan dengan perempuan saat SMA saja, muka mu sudah memerah seperti udang rebus!”ucap Dodi sambil tertawa dan mengenalkan Lastri pada istri Irawan.
Mita tersenyum memandang seorang gadis yang daritadi berdiri disamping Lastri, “Siapa gadis cantik ini? Apa anak kalian?”tanyanya lembut.
Lastri mengangguk, “Iya, ini anak bungsu kami. Anak tertua kami, laki-laki, tapi dia sedng sibuk dengan urusannya sendiri, tidak tau pergi kemana.”
Dodi dan Irawan asyik berbincang dan tertawa, “Ngomong-ngomong, mana anak kalian?”tanya Dodi.
“Ooh, dia sedang ke toilet, sebentar lagi mungkin datang.”sahut Mita.
“Itu dia.”Irawan menunjuk kearah Dimas yang baru keluar dari toilet dan menuju kearah mereka.
Dimas mengerutkan keningnya heran, kenapa sekarang meja itu menjadi ramai? Apa papa mengundang temannya? Dan, siapa pula gadis bergaun putih yang membelakanginya?
Dimas berdiri disamping papanya, Irawan. “Ini dia anak kami. Dimas, ini teman lama papa, namanya pak Dodi.”
Dimas menyalami pak Dodi dengan sopan dan tersenyum.
“Dimas, kenalkan ini anaknya om Dodi dan tante Lastri.”
Gadis bergaun putih itu pun berdiri. Wajahnya tertunduk.
Rena mengangkat wajahnya dan begitu kaget saat melihat sosok yang dikenalnya kini berad tepat didepannya.
“Dimas?!”
“Rena?!”ucap mereka berdua hampir bersamaan.
“Wah, ternyata kalian sudah saling mengenal, ya?”ucap Dodi sambil tersenyum.
Irawan menepuk pundak Dimas dua kali, dan tersenyum. “Bagus kalau kalian sudah saling mengenal. Berarti, setelah kalian lulus SMA nanti, acara pertunanganpun bisa langsung kita laksanakan.”
“Pertunangan? Maksud papa?”sahut Rena bingung.
Dodi mengangguk. “Iya, kamuu dan Dimas akan kami tunangkan setelah kalian lulus SMA nanti.”
“APA?!!”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar