Powered By Blogger

Minggu, 14 Agustus 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 2


“Hai, Riri.”
“Eh, kak Riko, selamat pagi kak.”Riri tersenyum Manis saat kak Riko – wakil ketua OSIS yang pada saat MOS, diperkenalkan kak Bimo – mentor kelasnya – didepan kelas saat itu, menghampirinya saat baru memasuki gerbang sekolah.
“Baru datang, Ri?”tanya Riko dengan ramah dan penuh senyum diwajahnya.
“Ya iya lah kak, baru datang, masa baru mau pulang sih.”canda Riri.
Riko tertawa dan memamerkan dua lesung pipi nya di kanan dan di kiri.
“Yuk kekelas, sama-sama.”
Riri mengerutkan keningnya, “Kelas kita kan beda kak, aku kelas X, kakak kan kelas XI.”
“Emang beda . Maksud aku, jalan bareng menuju kelas, kan mau ke kelas aku juga lewat kelas kamu, Ri.”
Riri tertawa kikuk, “Oh iya, ya, maaf kak agak lemot pagi ini, belum sarapan sih.”jawab Riri dengan jujur.
Riko tersenyum. Perasaan senang menyelimuti hatinya saat ia mulai mengenal Riri satu bulan yang lalu. Berawal dari perkenalan, didepan kelas, Riko pun mulai mendekati Riri secara pribadi.
Benar pikirannya, Riri tipe cewek yang periang dan sangat mengasikka, juga lucu. Sempat terbesit rasa cemburu Riko pada Dimas, yang sangat dekat dengan Riri. Tapi sejak mengetahui bahwa Dimas dan Riri adalah sahabat sejak lahir, hal tersebut tak lagi jadi pikiran Riko.
Kini ia semakin dekat dengan Riri. Mulai dari sekedar menyapa saat berpapasan, ke perpustakaan bareng, bahkan ke kantin bersama. Riko pun tidak keberatan bila dia dan Bimo harus gabung makan di kantin bersama Dimas dan juga Rena – dengan Riri juga pastinya.
Sejak Riko kelihatan terang-terangan mendekati Riri, tak heran para fans yang mengaguminya gencar melakukan aksi protesnya. Mulai dari mengintorgasi teman Riko – dalam kasus ini adalah Bimo, sampai membayang-bayangi Riri dari belakang. Tapi untungnya setelah Riko mengembil tindakan tegas, para fans itu tak berani lagi mengusik dan mundur secara teratur.
“Ke kantin yuk, Ri. Masih ada duapuluh menit sebelum bel. Aku juga belum makan nih.”ajak Riko.
“Hemm, gimana ya, kak..”Riri terlihat ragu.
“Aku yang traktir deh, yuk!”
Mata Riri langsung berbinar, “Nggak ngerepotin nih kak?
“Nggak, yuk!”Riko menggandeng tangan Riri menuju kantin.
Dari jauh, terlihat Dimas mengamati kepergian Riko dan Riri yang menghilang dibelokan kantin dengan pandangan dingin.

***

Hari Minggu, hari yang sangat menyenangkan bagi Riri. Hari dimana ia bisa bersantai di taman belakang rumahnya, ditemani suara gemericik air di kolam ikan yang berisi ikan mas koki milik Papa.
Sejak pagi tadi, Riri sudah stand by ditempat favoritnya – gazebo – yang terdapat diujung kanan belakang halaman belakang rumahnya. Gazebo itu sangat teduh dan nyaman, disekelilingnya tumbuh pohon-pohon tinggi yang mengelilingi seluruh sisi halaman – yang sengaja didesain khusus oleh Mama, yang notabene adalah seorang arsitek.
Riri dibesarkan dalam suasana yang harmonis. Papa seorang pengusaha restoran yang cukup terkemuka di Indonesia. Mama seorang arsitek yang mengkhususkan bidangnya pada desain taman dan yang berkaitan erat dengan bunga. Riri memiliki dua orang saudara, Kakak yang pertama bernama Esti – ia sudah menikah dan memberikan Papa dan Mama seorang cucu tampan berumur 1 tahun, bernama Ricky. Kakak yang kedua bernama Tommy – ia sekarang sedang menjalankan studi nya di salah satu universitas terkemuka negeri di jakarta, dan mengambil jurusan Teknik Arsitektur.
Tapi walaupun masing-masing dari anggota keluarganya memiliki kegiatan masing-masing dan terkadang membuat waktu sangat padat, Riri tak pernah merasa kesepian. Karena, Mama selalu mengerjakan perkerjaan mendesain tamannya dirumah, hanya jika ada hal yang tidak dapat dibereskan oleh anak buahnya baru mama turun langsung ke lapangan.
Sedangkan Papa, berhubung restoran-restoran yang di kelola adalah milik pribadi, maka ia hanya sesekali datang untuk mengawasi dan mengecek perkembangan dari restorannya. Sebelum jam 3 sore, Papa sudah ada dirumah.
Mbak Esti, walaupun sudah berkeluarga, tapi setiap seminggu dua sampai tiga kali, dia selalu datang bersama suami dan juga si kecil Ricky. Mbak Esti bekerja sebagai seorang Desainer. Ia memiliki butik sendiri disamping rumahnya. Paling jika banyak orderan deswain, Mbak Esti sering menitipkan Ricky ke rumah, dan Riri lah yang paling senang jika harus mengurus si kecil Ricky yang menggemaskan.
Mas Tommy, walaupun ia kuliah di Jakarta, tetap seminggu sekali saat weeksend ia akan pulang kerumah kami , di Bandung. Saat Tommy pulang lah, Riri yang sangat bahagia, karena ia memang sangat dekat dengan Tommy sejak dulu. Ia rela membuatkan masakan favorit Tommy dengan peluh yang terus bercucuran dari dahinya, yang penting Tommy senang dengan masakannya.
Selain anggota keluarga utama, dirumah juga ada Bi Inah dan juga Pak Dadang. Mereka adalah sepasang suami-istri yang dipekerjakan Mama dan Papa. Mereka juga memiliki anak yang seusia dengan Riri, bernama Toto.
Bi’ Inah lah yang merawat Riri beserta saudaranya sejak kecil, jadi bisa dibilang, Bi’ Inah adalah ibu kedua mereka bertiga.
Pak dadang, supir yang sangat dipercaya Papa untuk mengantar semua anak-anaknya dari dulu. Pak dadang juga merangkap sebagai satpam yang biasa berjaga didepan rumah.
Sedangkan, Toto, ia sangat terampil dalam menata tanaman. Sehingga, Mama pun memintanya untuk menjadi tukang kebun yang merawat dan merapikan seluruh tanaman dan bunga yang ada dirumah. Walaupun pekerjaannya rapi, tapi kadang mama masih ikut turun tangan dalam membereskan taman, dan ia tak segan membagi ilmunya pada Toto yang sudah dianggap seperti anak sendiri.
Riri asik membaca majalah STORY yang baru dibelinya kemarin, sambil berbaring ditengah gazebo. Tak lupa ia juga memakai headphone untuk mendengarkan musik dari ipodnya. Sesekali ia menggerakkan kepalanya dan ikut bernyanyi bersama musik yang didengarnya, seolah Riri telah larut dalam dunianya sendiri.
“Hei, jelek!”panggil Dimas saat melihat Riri sedang malas-malasan di gazebo -   lengkap dengan majalah dan headphone yang seolah membuatnya seperti orang budek!
Riri tak juga sadar bahwa Dimas duduk dibelakangnya. Ia terus melantunkan lagu Vierra-Terlalu Lama dengan suara tidak-merdu-dan-tidak-fals.
“JELEEKKK!!!”Dimas teriak tepat disamping telinga Riri dan menggelitik perutnya.
“Huuuuwwaaaa!!! Dimas! Gila deh, apa-apaan sih ngagetin segala?!”Riri langsung melepas headphonenya dan menatap sebal kearah Dimas yang tertawa melihat kekagetan Riri.
“Jelek banget kagetnya, mbak.”goda Dimas sambil menjawil pipi Riri.
“Nggak usah keganjenan deh, Mas. Kalo rese’nya kamu nih udah kumat, pasti ada apa-apanya. Tumbenan juga jam segini udah kesini?”Riri melihat jam  tangannya, “Jam  9. Rekor terpagi kamu bangun dihari minggu, Mas. Bisa masuk world record nih!”seru Riri.
“Dasar ya, ngolok mulu kerjaannya..”Dimas kembali menggelitiki Riri sampai ia terguling-guling di gazebo.
“Hahahahah..ampun Mas, geli...”keluh Riri yang sudah tak bergerak lagi – terlalu kecapean tertawa menahan gelotokan Dimas daritadi.
“Makanya, jangan suka ngolokin jadi orang!”
Riri tertawa, sambil bangkit dari posisi berbaring, hingga duduk bersandar di pembatas gazebo – berhadapan dengan Dimas. “Habisnya, kamu mulai duluan sih ngagetin tadi. Udah tau aku lagi baca majalah sambil denger lagu.”
“Gimana mau panggil dengan lemah lembut kalau kamu aja mendadak jadi orang budek gitu!”protes Dimas.
“Hehe, sori deh.”sahut Riri. “Ngomong-ngomong, ada apaan pagi-pagi kesini, Mas? Kalo bukan ada hal penting yang mau diomongin, nggak mungkin kan kamu datang kesini sepagi ini?”
Riri kembali merebahkan badannya dan bersandar di kaki paha dimas yang duduk berlipat kaki.
“Aku mau nanya sesuatu ke kamu, Ri.”ujar Dimas, sambil membelai rambut ikal Riri.
“Mau tanya apaan?”sahut Riri, sambil membaca ramalan bintang untuknya pada bulan ini. Hemm, keuangan, lagi hoki minggu ini, kira-kira ada apa ya?, pikir Riri dalam hati.
“Kamu pacaran sama kak Riko, Ri?”tanya Dimas dengan pelan.
Tumben Dimas bicara sepelan dan terdengar serius seperti ini, pikir Riri. “Menurut kamu?” Riri mendongakkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Dimas yang memandang serius kepadanya.
“Hemm, nggak.”
“Nah, tuh kamu tau jawabannya. Kenapa pakai nanya lagi?”
“Aku ngeliat kamu beda, Ri.”
Riri mengerutkan keningnya, “Beda gimana maksudnya?”
“Kamu nggak pernah sedekat ini sama cowok, Ri. Kecuali aku, sama temen-temen cowok yang kamu kenal, kamu biasa aja, nggak sampe terlihat lagi PDKT gini.”
Riri tersenyum – mendongakkan kepala – menatap lurus kearah Dimas. “Kalau memang kak Riko mau PDKT sama aku, masa aku larang, Mas? Kan hak nya dia mau naksir aku atau nggak.”
“Tapi kamu nggak naksir dia kan, Ri?”
“Hemm, sejauh ini sih nggak. Aku lihat, kak Riko baik kok, nggak sombong walupun beken di sekolah. Sejauh ini nggak ada yang minus dari penilaian aku tentang dia. Kalau skala penilaian aku 1-10, nilai dia 7 deh.”
Dimas membelalakkan matanya, kaget. “Cuma 7, Ri? Kurang apa dia sampai Cuma dikasi 7 aja? Ganteng udah, pinter, lumayan lah untuk ukuran cowok, tajir, udah pasti, banyak yang naksir pula.  Tolak ukur kamu tinggi banget sih Ri, sambpe nilai kak Riko Cuma 7 doang?!”
“Nggak ada yang kurang kok sama dia, Dim. Tapi ya, untuk saat ini penilaian aku terhadap dia – sebagai teman, dan adik – cukup 7 aja. Kalau aku pacaran sama dia, naik jadi 8, kalo bisa sampe nikah ya, baru deh bisa 9.”jawab Riri sambil tersenyum.
Dimas hanya terdiam dan menunduk.
“Kenapa sih, Mas, tiba-tiba jadi nanya kayak gini? Kamu aneh deh belakangan ini.”
“Aku nggak mau kehilangan kamu, Ri.”
Riri langsung bangun dari posisinya, dan duduk menghadap Dimas, “Maksud kamu apa sih, Mas?!”
“Aku nggak mau kamu ninggalin aku. Aku takut kamu disakiti sama cowok, apalagi kamu belom pernah pacaran sama sekali. Aku nggak mau kamu ninggalin aku setelah kamu punya pacar. Aku nggak mau, Ri.”ujar Dimas dengan suara yang bergetar.
Riri menggenggam kedua tangan Dimas, dan menatap kedua matanya. “Mas, kamu tuh sahabat aku. Dari kita lahir sampai sekarang kita sahabat. Dari kita lahir, dan sampai maut memisahkan pun kita tetap sahabat. Mau alam kita berbeda atau ngggak, kita tetap sahabat. Kalaupun maut yang memisahkan, kamu, aku tetap ada disini...”Riri menunjuk dada Dimas. “..aku ada dihati kamu dan kamu ada dihati aku. Sampai kapanpun akan begitu. Kita nggaka akan terpisah sampai kapanpun.”jelas Riri sambil tersenyum manis.
Dimas tersenyum mendengar ucapak Riri barusan. “Janji ya, Ri, jangan pernah ninggalin aku?”
“Iya janji.”
Riri dan Dimas menautkab jari manis mereka berdua.
“Ri, ngomong-ngomong, penilaian kamu tentang aku, kalau disuruh kasi nilai, kamu kasi aku nilai berapa?”
“Khusus buat kamu, nilainya 99,99!”sahut Riri dengan ceria.
“Kok nggak 100, Ri?’
“Karena didunia ini nggak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya  milik Tuhan.”ujarnya.
Dimas tersenyum dan memeluk Riri, “Makasih, jelek...”

***

“Riri, ada teman kamu tuh dibawah, jemput kamu mau ke sekolah sama-sama.”ucap Mama saat memasuki kamar anak bungsunya.
Riri membetulkan letak ikat pinggangnya dan mengambil tas sekolahnya diatas kursi. “Siapa, Ma? Dimas?”
“Kalau Dimas yang dateng sih, nggak perlu mama bilang ke kamu dia dateng, paling dia langsung gedor pintu kamar kamu. Mama juga nggak kenal tuh siapa, baru kali ini mama lihat.”
Riri mengerutkan keningnya, bingung. “Cewek atau cowok, ma?”
Mama menahan senyumnya, “Cowok. Ganteng loh, Ri. Pakai mobil lagi. Atau jangan-jangan dia pacar kamu ya?”goda mama, sambil menyisir rambut anaknya yang mulai beranjak dewasa ini.
“Iih mama ngaco. Kalau Riri punya pacar nggak mungkin Riri diem-diem, pasti lah Riri cerita ke mama.”
“Iya deh, sana cepet berangkat sekolah, nanti terlambat lagi. Kasian juga temen kamu nunggu lama dibawah. Nanti biar mama suruh Bi’ Inah beresin ini kamar. Ampun deh mama, anak gadis kok berantakan gini!”
Riri terkekeh, “Hehe, makasih ya ma. Ya udah deh, Riri berangkat dulu ya, daadaahh mama.”Riri mengecup kedua pipi mamanya, dan langsung menuruni tangga, menuju ruang tamu.
“Kak Riko ngapain pagi-pagi kesini?”tanya Riri heran – saat melihat Riko duduk diruang tamunya.
“Mau jemput kamu. Ternyata rumah kita searah, Cuma beda berapa komple aja. Ya udah deh, sekalian aku mampir kesini.”
Riri tersenyum manis, “Jadi ngerepotin kakak aja deh, Riri jadi nggak enak.”
“Nggak apa-apa kok. Hemm, yuk kita berangkat sekarang, ntar telat lagi. Mama kamu mana?”
“Ada tuh diatas. Udah sekalian aku pamitin kok tadi, langsung berangkat aja, kak.”
“Oke deh. Yuk!”
***

“Pagi, Riri..”sapa Rena – teman sebangkunya – saat masuk ke kelas.
“Hai, Pagi. Tumben datang agak siang, Ren?”
“Iya nih. Abang aku tuh bangunnya kesiangan! Aku kan pergi sekolah bareng dia yang juga turun kuliah, jadinya tadi nungguin dia mandi dan sarapan dulu deh, lama!”sungut Rena.
Riri tersenyum, “Sabar aja ya, Ren. Itulah nasibnya punya kakak cowok. Dulu aku juga gitu pas abang aku masih SMA, lama nungguin dia bangun!”
“Iya, sebel banget kalau udah dia tuh males. Kalau nggak ingat dia tuh abang, mungkin udah aku simbur pakai air seember kali, biar dia bangun!
Riri hanya tertawa mendengar omelan Rena terhadap kakaknya yang pemalas. Jadi kangen juga sama mas Tommy, pikirnya.
“Ri, tadi pagi kamu pergi sekolah bareng Kak Riko , ya?”
Riri mengangguk, “Iya, kenapa?”
“Gila, kok bisa sih, Ri?”
“Ya, aku juga nggak tau sih, tiba-tiba aja tadi pagi dia udah nongol didepan rumah, dia bilang sih karena sekalian lewat jadi pengen jemput.”ujar Riri.
“Iih bohong banget sih dia, Ri.”desis Rena
“Maksudnya?”
“Rumahnya dia tuh nggak jauh dari komplek aku, Ri. Di sebelah utara sono. Rumah kamu kan di sebelah selatan! Waah, kayaknya gosip kak Riko naksir kamu itu bener deh.”seru Rena
“Gosip apaan sih, Ren?”
“Ya gosip kamu dekat sama kak Riko lah. Kan heboh banget nih dari semingu belakangan. Kalau dulu kan, paling kamu sekedar ketemu dan berpapasan, atau kita ramai-ramai makan di kantin, tapi kalau sekarang kan, kak Riko kadang nungguin kamu dijemput supir, hari ini malah jemput kamu. Waaah, seneng deh jadinya!”
Riri mengerutkan keningnya – bingung. “Senang kenapa?”
“Iya senang. Berarti seisi sekolah ini bisa liat tampang juteknya Kak Sasha – miss seksi dan cantik di sekolah ini, patah hati berkeping-keping!”
‘Emang kak Sasha naksir kak Riko?”
“Bukan naksir lagi, Ri. Kabarnya – gosipnya – dia udah jatuh-bangun-mengejar- kak Riko dari kelas 2 SMP loh! Soalnya kak Sasha tuh dulu pindahan dari Jakarta, pas pindah ke Bandung dia satu sekolah dan satu kelas sama kak Riko, jadi deh dia naksir berat gitu. Tapi kak Riko nggak pernah nanggepin perasaannya kak Sasha, soalnya dia Cuma anggap sebagai teman aja, nggak lebih!”jelas Rena. “Waah, pasti cemburu berat dia tuh kalau tau kak Riko lagi ngedeketin kamu, Ri.”
“Kok kamu tau gosip sampai sedetail ini sih, Ren?”
“Rena gitu loh!”ucapnya bangga.
Bbbbrraaakkkk..
Pintu kelas yang tadinya tidak terbuka lebar, kini jadi terbuka lebar karena dorongan tangan seseorang yang membukanya dengan kasar.
Segerombol cewek – yang pastinya bukan kelas X – ada sekitar lima orang, menyapukan pandangannya keseluruh sudut kelas.
“Mana yang namanya, Riri?!”tanya cewek yang berdiri ditengah, dengan suara yang nyaring dan membahana keseluruh penjuru kelas.
“Ri, itu kak Sasha. Panjang umur baru diomongin langsung muncul disini.”bisik Rena.
“Ngapain dia kesini nyari aku?”tanya Riri dengan suara yang tak kalah pelan.
“Mana yang namanya Riri?!”Sasha kembali bertanya dengan suara yang lebih nyaring.
Riri menarik nafasnya berat, lalu berdiri dari bangkunya, “Aku, kak.”sahutnya.
Sasha tersenyum sinis, “Oh, elo yang namanya Riri?!”
Oh, Tuhan, tolong aku... semoga aku selamat dan masih dapat hidup hari ini, besok dan seterusnya... keluh Riri dengan jantung yang berdebar-debar.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar