Inilah masa SMA ku, masa bahagiaku, dan masa remajaku.
Banyak teman, sekaligus memiliki pengagum yang merupakan kakak kelasku. Kak Riko baik, baik banget. Dia sopan, aku nyaman berada disampingnya. Senang dipercaya sebagai pemilih kado ulang tahun untuk papanya – yang sama baiknya dengan dia. Apalagi setelah bertemu dengan mamanya, aku tidak bisa membayangkan, bagaimana bahagia dan harmonisnya kah keluarga mereka? Pasti seperti keluarga idaman yang sering dipertontonkan di televisi.
Kak Riko menyukaiku.. Aku? Mungkin aku menyayanginya. Mungkin. Satu kata yang sangat mengganggu makna kata yang indah artinya, “mungkin sayang”. Aku pasti akan mengecewakan kak Riko bila dia tau bagaimana perasaanku yang masih “mungkin” ini. Karena tak pasti, tak jelas, dan tak tahu kapan akan datang menjadi “pasti” dan tak sekedar “mungkin”.
Bahagia memang bersama kak Riko, aku akui, tapi.. Maaf Rena, aku bohong sama kamu, dan Dimas... aku kangen kamu..
***
Riri turun dari mobil dan berjalan menuju sekolahnya. Dilihatnya Rena dan Dimas sedang berbicara berdua ditaman.
“Haai, Rena.”sapa Riri, mengecup pipi Rena.
“Haai, Dimas.”juga mengecup pipi Dimas.
Riri duduk dihadapan mereka berdua dan heran karena Dimas dan Rena memperhatikannya tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Kalian kenapa sih, kok diam aja?”
Sunyi. Tetap diam tanpa bicara.
“Kalian lagi sariawan? Kok kompakan sih bisa barengan gitu sariawannya?”Riri kembali bertanya.
“Kita nggak sariawan, Ri.”sahut Rena.
Kini gantian Riri yang diam mematung.
“Aku mau tanya sesuatu sama kamu, Ri.”ucap Dimas pelan.
Riri mengerutkan keningnya, bingung. “A..apa?”
“Kenapa kamu bohong sama kami, Ri?”
“Bohong apa maksud kamu? Aku nggak ngerti deh.”sahut Riri
Dimas nampak diam ditempatnya. Tangannya bergetar dan kepalanya selalu tertunduk daritadi. Rena menghembuskan nafasnya pelan. “Dua hari yang lalu kamu kemana, Ri?”
“Kan aku bilang aku pergi cari kado untuk om aku..”
“Sama siapa kamu pergi?”tanya Rena pelan, tetapi matanya terus menatap lurus
Seketika Riri menegang, wajahnya memucat dan sedikit takut. “Emm, sama sepupu aku lah, Ren.”
Dimas berdiri dari tempatnya duduk dan langsung maju secara tiba-tiba kearah Riri. “Sejak kapan kak Riko jadi sepupu kamu, Ri?! Sejak kapan?!”
Riri terdiam ditempatnya. Belum pernah dilihatnya Dimas semarah ini padanya.
“Atau baru aja tante kamu menikah sama papanya kak Riko, jadinya sekarang kak Riko itu sepupu kamu? Iya?!”tegas Dimas dengan suaranya yang menggelegar. “Jawab, Ri!”
Riri menahan air matanya yang sudah menggenang diujung kelopak matanya. Rena merangkul Riri yang sedikit terguncang dengan lengan kanannya. “Mas, a..aku..”
“Kamu bohong kan, Ri? Kamu bohongin Rena, dan akhirnya juga aku – karena Rena memberitahu aku!”desis Dimas.
“Mas, maafin aku..”sahut Riri dengan lirih.
“Kenapa Ri? Kenapa kamu bohong? Kenapa kamu jadi Riri yang nggak aku kenal?”tanya Dimas dengan suaranya yang bergetar.
Rena mengelus punggung Riri dengan lembut, mencoba menghentikan tangisannya.
“Aku bilang gitu ke Rena, karena aku nggak mau diolokin terus. Dia semangat banget kalau dengar tentang kak Riko yang deketin aku. Lagian, toh aku nggak sepenuhnya bohong kan. Aku emang cari kado dan pergi acara ulang tahun, ya memang soal kak Rikon dan ulangtahun papa nya aku bohong. Tapi nggak sepenuhnya salah kan?”
“Kamu harusnya bilang sama aku kalau mau pergi sama dia, Ri!”tegas Dimas.
Riri berdiri dari tempatnya duduk.”Mas! Kamu memang sahabat aku dari kecil, tapi kamu nggak punya hak untuk ngatur hidup aku! Kamu bukan orangtua aku yang harus tau aku kemana dan sama siapa!”pekiknya.
“Oke kalau begitu. Maaf selama ini aku selalu mencampuri urusan kamu yang sebenarnya bukan urusan aku. Maaf aku sudah lancang. Maaf aku tidak tahu diri dengan memaksa kamu harus memberitahukan semua hal kepada aku. Sekarang urus urusan masing-masing. Dan aku tidak akan mengganggu kedupan pribadi kamu lagi.”
Dimas pergi meninggalkan Riri yang berdiri diam ditempatnya. Rena memeluk Riri yang menangis sambil berusaha menenangkannya. “Ri, jangan nangis lagi..”
***
Sejak saat itu, Riri dan Dimas tak lagi sedekat dulu. Mereka sibuk – menyibukkan diri dengan urusan masing-masing. Tak ada lagi canda tawa dan keisengan saat makan siang di kantin. Tak ada lagi keributan kecil saat pulang sekolah, dan tak ada lagi teriakan jelek yang memekakan telinga Dimas setiap sore dirumahnya.
Rena menjadi orang yang berada diposisi yang membingungkan. Disatu sisi ia harus selalu berada dismping Riri yang sekarang menjadi pemurung dari biasanya. Disisi lain, dia harus memberikan laporan berkala secara diam-diam kepada Dimas yang memang tidak bisa jauh dari Riri.
Sampai kapan Rena mampu bertahan dalam posisi ini? Bagaimana jika Riri akhirnya tau bahwa Rena masih sering memberikan kabar tentang keadaannya pada Dimas? Apa yang akan Riri lakukan padanya? Ia tidak ingin Riri semakin menjauh dan menjadi semakin sedih, karena dikhianagi dua sahabatnya?
Mungkin untuk sementara Rena hanya bisa mengikuti alur yang telah ditetapkan sebagai cerita mereka.
Membiarkan Riri sibuk dengan berbagai les dan menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan akhir yang kurang dari seminggu lagi, adalah hal yang sedikit lebih baik, daripada terus melihat Riri menangis dalam pelukan Rena setiap hari.
***
Riri meregangkan kedua tangannya . Lusa ia akan menempuh ulanagan akhir semester. Karena ulangan ini sangat penting bagi mereka – semua murid, sekolah pun dengan baik hati memberikan libur satu hari – hari ini, hari Sabtu agar para murid dapat konsentrasi belajar dirumah.
Sudah jam 3 sore sekarang. Sejak pagi tadi Riri sibuk menghapalkan rumus dan materi lainnya dengan serius. Kini waktu belajarnya telah selesai. Riri tidak ingin memforsir otaknya hingga harus belajar sampai satu jam sebelum ulangan berjalan. Bisa-bisa bukannya lancar mengerjakan, justru blank dan akhirnya down karena terlalu capek.
Riri menutup semua bukunya dan kembali menyusunnya dengan rapi kedalam lemari di meja belajarnya.
Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga yang berada di bawah. Dengan tubuh yang lemas karena berjam-jam duduk tegap menghadap buku, energi Riri pun terkuras banyak seperti baru selesai lomba lari maraton.
Dengan manja Riri beringsut kearah mama yang sedang asyik menonton acara berita seputar selebriti diruang keluarga. Dengan nyaman dibenamkannya wajahnya dipangkuan mama.
“Aduuh Riri, kenapa sih?”ujar mama kaget saat melihat Riri tiba-tiba saja langsung berbaring dipangkuannya.
“Capek, ma. Lemes.”keluh Riri dengan manja.
Mama membelai rambut Riri dengan sayang. “Siapa suruh daritadi pagi serius banget belajarnya, sampai nggak keluar kamar. Kamu makan dulu gih. Belum makan siang kan tadi?”
“Belum. Suapin dong, ma?”goda Riri.
“Kamu nih udah gede, masih aja minta diperlakukan kayak masih kecil. Mama sih seneng aja memperlakukan kamu kayak anak kecil, Cuma jangan salahin mama ya, kalau setiap hari mama nyuapin kamu makan, mandiiin kamu, ngelonin kamu tidur, jagain kamu disekolah sampai bel pulang sekolah kamu bunyi. Mau kamu kayak gitu? Nggak malu?”ujar mama sambil tertawa.
Riri berdiri dan langsung berlari kecil menuju dapur. “Iih mama suka ngaco deh!”
Mama tertawa.
***
Riri sedang asyik mengunyah pizza bikinan papa, sambil menonton ulang serial twilight yang disukainya dengan dvd player, saat handphone nya berbunyi.
“Halo.”
“Hai, Ri..”
Riri tersenyum, “Kak Riko! Waah udah lama nih kakak nggak ada nelpon atau sms. Sombong sama Riri. Lagi sibuk ya kak? Atau udah punya pacar jadi ngelupain adik angkat mu ini, hah?!”goda Riri.
Riko tertawa diujung sana, “Sori deh, Ri. Kemarin memang sibuk banget, guru-guru pada banjir ngasi tugas nih! Makin deket ulangan bukannya makin tenag buat belajar, malah makin pusing karena banyak tugas.”keluhnya.
“Sabar aja ya, kak. Ngasi tugas bejibun kan memang hobinya para guru yang sangatg digemarinya. Kita mau nggak mau nurut aja kan, demi nilai kita bagus..”
“Iya sih, Ri. Cuma kan, sekolah juga bukan dinilai dari angka kan? Toh hasil pencapaian kita selama sekolah itu dinilai dari pengetahuan kita.”sahutnya
“Memang sih kak, tapi memangnya kakak mau, kalau nanti udah lulus, terus mau melamar kerja, tapi ijazah SMA nya tertera nilang berwarna merah semua. Memangnya nggak malu?”godanya
“Hehe, iya juga ya.”sahutnya sambil terkekeh. “Lagi ngapain, Ri?”
“Lagi nonton twilight aja nih kak, sambil makan pizza buatan papa..”
“Hemm, bagi dong, Ri. Bau pizza nya keciuman sampai sini nih..”
Riri tertawa, “Enak aja! Kalau urusan lain sih aku rela berbagi kak, tapi kalau menyangkut makanan, jangan harap aku mau berbagi!”
Riko tertawa diujung sana, “Dasar pelit! Oh iya, dirumah sama siapa aja, Ri?”
“Sama Bi’Inah dan Toto aja nih. Mama sama papa lagi malam mingguan. Mengenang masa muda kembali kali, jadinya aku ditinggalin dirumah kak, nasib anak bontot ya gini deh.”
“Kasiannya.”Riko terdengar terkikik geli diseberang sana. “Kakak kamu yang kuliah di Jakarta itu, nggak pulang weekend?”
“Mas Tommy? Nggak kak, katanya mau pesiapan UTS beberapa minggu lagi, jadi ya, sibuk gitu deh.”
“Jalan yuk, Ri!”
“Hah?! Kemana kak? Lagian sekarang kan udah jam 8 malam, kalau nungguin kakak jemput lagi kan jauh, bisa-bisa jam 9 baru berangkat, belum lagi kena macet, mau pulang jam berapa lagi.”
“Tenang aja deh, nggak usah dipikirin. Kamu ganti baju aja sana.”
Riri bangkit dari tempat duduknya tadi di sofa, mematikan TV dan dvd player nya. “Iya deh, aku ganti baju dulu ya ka, daah.”
Riri hendak mematikan teleponnya tetapi dicegat oleh Riko. ‘Eh tunggu dulu, Ri.”
“Ada apa kak?”
“Sambil nungguin kamu ganti baju, aku boleh masuk ke kamar kamu nggak? Banyak nyamuk nih, diluar.”ujarnya sambil terkekeh.
Riri langsung berlari keluar Rumah dan mendapati Riko yang berdiri didepan pintu rumahnya sambil tertawa.
Riri tersenyum, dan mempersilahkan Riko masuk kedalam rumah.
***
Riri memekik girang saat ia dan Riko tiba disebuah pasar malam yang ternyata letaknya tak jauh dari kompleks rumah Riri.
“Waah, aku udah lama banget kak, nggak ke pasar malam.”seru Riri sambil tersenyum
“Bagus deh kalau gitu. Berarti kamu harus nemenin aku mencoba semua wahana yang ada di pasar malam ini, karena aku belum pernah ke pasar malam sebelumnya.”
“Hah?! Nggak pernah sama sekali kak?”seru Riri tak percaya.
Riko mengangguk sambil terkekeh, “Malu banget ya, nggak pernah ke pasar malam. Ya udah deh, yuk kita mulai perjalanan keliling pasar malam ini sekarang. Kita harus cobain semua wahana!”
“Yuk!”
Riri dan Riko pun memulai wisata malam mereka dengan menaiki komidi putar. Sambil memasang pose yang lucu pun mereka berfoto diatas kuda yang berputar-putar itu. Mereka pun mencoba satu-persatu wahana yang ada tanpa ketinggalan satupun. Tidak perduli mereka harus menaiki wahana anak kecil sekalipun, yang penting mereka bisa senang-senang malam ini.
Mereka pun menyempatkan diri berfoto bersama badut yang berkostum micky dan minnie mouse. Riko tampak tegang difoto, sedangkan Riri tertawa lebar melihat ketakutan yang terpancar diwajah Riko. Ternyata dia takut badut. Katanya dulu waktu kecil, dia pernah dikejar-kejar badut, makanya sampai sekarang dia takur banget sama badut, cuma karena Riri yang meminta ingin berfoto dengan badut, Riko pun dengan terpaksa menahan rasa takutnya itu.
Wahana terakhir yang mereka masuki adalah rumah hantu. Riri bersembunyi dibelakang punggung Riko dan dengan kuat mencengkeram lengan kiri Riko dengan kedua tangannya. Sesekali ia memekik takut saat seorang pocong berloncatan melewati mereka.
Riko hanya tertawa melihat ketakutan Riri yang sejak masuk tadi tak pernah lepas mencengkeram lengan kirinya.
“Huft. Akhirnya selesai juga!”seru Riri dengan lega saat mereka sudah selesai mengitari rumah hantu.
“Sama hantu bohongan aja takut, gimana kalau beneran..”sindir Riko yang daritadi tak hentinya menertawakan Riri yang ketakutan.
Riri mencubit lengan kiri Riko yang tertawa daritadi dengan gemas, “Ketawa aja terus kak, daritadi. Sebel deh!”sungutnya.
“Duuh duh ampun, Ri. Iya deh berhenti ketawa deh ni..”ucapnya sambil menahan senyum.
“Pulang yuk, kak, udah hampir jam 11 malam nih..”
Riko mengangguk, “Yuk, tapi besok pagi kita pergi lagi ya..”
“Hah?! Kemana lagi kak?”
Riko tersenyum penuh arti, “Rahasia dong.”
***
Riko menepati janjinya. Keesokan pagi, sekita jam 8 pagi, ia sudah sampai didepan rumah Riri utnuk menjemput cewek itu.
“Mama, Riri pergi dulu ya..”terdengar pekikan Riri dari dalam rumah.
Riri berlari kecil keluar rumahnya menghampiri Riko yang sudah menunggu didepan pagar.
“Loh kak, mobilnya mana?”tanya Riri heran.
“Hari ini kita pergi pakai motor ya, karena aku pengen ada suasana yang beda kali ini.”sahutnya.
Riri menerima helm yang diberikan Riko dan naik diboncengan belakang.
Motor sport Riko sepertinya betipe sama dengan milik Dimas, hanya saja milik Riko berwarna hitam metalik yang menmbahkan kesan cool bagi si pembawa motor.
“Sudah siap, Ri?’
“Yups.”
***
Riko menghentikan motornya ditepi sebuah kebun teh yang sangat luas dan asri. Setelah memarkir motornya dengan benar, Riko pun menuntun Riri melintasi jalan setapak dikebun teh yang sangat luas itu.
“Waah, kebun siapa nih, kak? Nggak apa-apa nih kita jalan-jalan disini? Ntar kalau dimarahin gimana?’tanya Riri
Riko tersenyum, “Tenang aja, nggak akan ada yang marah kok. Kebun teh ini milik keluarga aku. Tepatnya milik kakek dan nenek aku. Mereka tinggal diatas sana.”Riko menunjuk sebuah rumah yang terletak ditempat paling tinggi di kebun teh yang sangat luas ini.
“Waah, kakak enak dong ya, pasti sering kesini. Aku baru pertama kali ini loh kak, ke kebun teh. Biasanya cuma lewat-lewat aja.”
“Kamu suka, aku ajak kesini?”
Riri tersenyum manis, “Suka banget.”sahutnya
“Yuk kita keliling”
Riko menggandeng tangan Riri dan mereka pun mengelilingi kebun teh yang sangat luas itu dengan senyum yang terus tepasang diwajah mereka.
Setidaknya sekarang aku bisa membuat Riri tersenyum lagi,gumam Riko dalam hatinya.
***
Beberapa hari yang lalu...
Riko berjalan menuju tempat mobilnya diparkir. Ia terkejut saat mendapati Dimas berdiri disamping mobilnya – menanti kedatangan Riko daritadi.
“Hai, Mas. Ada perlu?”tanya Riko.
“Kak, aku mau minta tolong sama kakak.”
Riko mengerutkan keningnya, heran. “Tolong apa ya?”
“Jagain Riri ya, kak.”pintanya.
“Hah?! Maksud kamu, Mas?”
Dimas menceritakan semuanya, mulai dari kedekatannya hingga hari dimana ia bertengkar dengan Riri. “Sebelumnya aku juga minta maaf sama kakak, karena secara tidak langsung aku marah Riri jalan dengan kakak. Sebenarnya aku tidak marah kak, yang aku kecewakan, karena Riri berbohong sama aku dan Rena, sahabatnya. Ya, kurasa kakak mengertilah maksud ku seperti apa.”
Riko mengangguk sambil tersenyum, “Ya, aku mengerti. Kalau aku juga memiliki sahabat dari kecil, seperti kalian, aku juga pasti kecewa, sama seperti kamu kalau sahabat aku itu berbohong dan tidak jujur. Jadi, apa yang harus aku lakukan?”
“Buat Riri kembali tersenyum ya, kak. Aku percaya Riri bisa bahagia sama kakak.”
“Pasti. Aku pasti akan buat Riri bahagia.”
***
Riri dan Riko duduk disalah satu pondok kecil yang terletak diujung barat, dan menghadap kelangit yang mulai menyembunyikan surya nya dalam balutan embun dan awan.
“Makasih ya kak..”ucap Riri sambil tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Untuk semua hal yang udah kakak lakuin. Pasar malam, kebun teh ini. Aku seneng banget.”
Riko tersenyum sambil mengangguk, “Iya, sama-sama. Aku seneng kok, bisa jalan sama kamu, Ri.”
Riri tersipu malu.
Riko meraih kedua tangan Riri dan menatap lurus kematanya. “Ri, boleh aku minta sesuatu?”
Riri mengerutkan keningnya, heran. “Apa kak?”
“Boleh kan, aku mengenal kamu lebih jauh mulai sekarang? Dekat dengan kamu melebihi adik dan kakak kelasnya? Dekat dengan kamu, mengenal kamu, boleh kan Ri? Boleh aku minta kesempatan itu ?”
Riri menunduk sebelum kemudian ia tersenyjm dan mengangguk. “Boleh kok, kak.”sahutnya.
Riko tersenyum mendengar jawaban Riri. Berarti secara tidak langsung, Riri telah memberikan kesempatan pada Riko untuk lebih dekat dengannya.
Mereka pun tetap duduk di pondok kecil itu sambil berpegangan tangan. Sambil menjadi saksi sang mentari yang perlahan tersenyum dan menghilang dari peraduannya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar