Kalau Cinta tuh Bilang dong!
Aura duduk di tepi lapangan basket, sambil sesekali melihat jam tangannya dan melihat ke kanan dan ke kiri. Sudah pukul tiga, tapi ia belum melihat Rio sama sekali. Dihubungi daritadi, nomornya selalu saja sibuk. Dikirimi sms apa lagi, tidak dibalas juga.
Sambil terus menunggu, Aura berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes lagi siang ini. Cukup sudah ia menangis tanpa henti selama seminggu ini, dan hari ini ia tak ingin lagi! Walau setidaknya hanya untuk hari ini saja.
Akhirnya, setelah hampir dua jam ia menunggu, sosok Rio muncul juga dihadapannya. Rio masih mengenakan celana abu-abunya, walau baju seragam putih kini telah berganti menjadi kaus oblong berwarna hijau.
“Ra hampir dua jam disini nungguin kamu sendirian. Kamu darimana kok baru muncul? Tadi Ra ke kelas kamu juga udah nggak ada siapa-siapa.”
Rio melemparkan tasnya kebawah. “Udahlah, Ra! Kamu nggak perlu tau aku darimana dan mau kemana. Kita tuh udah putus dari seminggu yang lalu, jadi tolong jangan ganggu aku lagi!”
Aura mengusap air matanya yang sedikit lagi jatuh. “Ra minta maaf, Rio. Ra emosi waktu itu. Ra nggak bisa mengendalikan diri Ra sendiri. Rio maafin Aura ya? Ra masih sayang banget sama Rio. Ra nggak mau kehilangan Rio.”ucapnya dengan suara yang bergetar.
“Udahlah, Ra! Aku risau kayak gini terus! Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku nggak mau liat muka kamu lagi. Pergi deh sana!”seru Rio sambil menepiskan tangan Aura yang hendak menyentuh tangannya.
Dengan perasaan sedih, Aura berlari meninggalkan lapangan, sambil terus menangis sepanjang perjalanan pulang.
***
Mona mondar-mandir kebingungan dikamar Aura. Memang bukan hal asing lagi melihat seorang Aura menangis meraung-raung seperti anak kecil. Apalagi menangis karena putus dari pacar, itu sih biasa sudah dilihat Mona sejak tiga tahun mereka kenal. Tapi kali ini agak sedikit berbeda masalahnya.
Aura memang sudah putus dengan Rio sejak satu minggu yang lalu, apalagi penyebabnya adalah perasaan Aura yang terlalu sensitive dan sangat cemburu. Jadilah tanpa tertahankan lagi kata “putus” yang menyakitkan keluar tanpa tertahankan dari bibir Rio karena emosi melihat kecemburuan Aura terhadapnya.
Sejak putusnya Aura dengan Rio, Aura seolah menjadi orang yang berbeda. Ia pingsan saat itu akibat terpukulnya. Aura juga selalu memanggil-manggil nama Rio saat pingsan kemarin itu. Mona yang berada disamping Aura hanya bias memeluk Aura dan menenangkannya saja, karena memang sepertinya Aura sangat kehilangan Rio.
Hari ini terulang lagi. Aura menelepon Mona sambil menangis tersedu-sedu, hingga membuat Mona langsung tancap gas dan dating kerumah Aura beberapa menit kemudian. Untunglah rumah mereka berdua tidak terlalu jauh, jadi tidak perlu memakan waktu yang lama untuk pergi ke rumah Aura.
Aura memeluk boneka dolphin kesayangannya. “Aku nggak bisa ngelupain dia, Mon. Aku sayang banget sama Rio. Bahkan udah cinta, Mon. nggak bisa ngilangin dia dari pikiran aku.”rengek Aura disela isak tangisnya.
“Iya, Ra. Aku tau kok. Tapi mau kayak gimana lagi coba? Kalian tuh masih sama-sama emosi, Ra. Lebih baik kalian tenagkan pikiran kalian masing-masing dulu. Kalau memang sudah benar-benar tenang dan tidak emosi lagi satu sama lain, barulah kalian icara lagi berdua dengan baik-baik tanpa emosi, Ra. Menyelesaikan masalah itu perlu waktu dan kepala yang dingin untuk berpikir, Ra.”
Aura hanya bisa mengangguk lesu sambil melanjutkan isak tangisnya dibalik selimut dan boneka dolphin.
***
Aura hanya duduk dibangkunya walau bel tanda istirahat telah berbunyi. Ia tak memiliki selera untuk keluar kelas, barang untuk mencari jajanan sekalipun. Ia hanya duduk termangu ditempatnya, sambil sesekali memejamkan matanya karena terasa berat akibat semalaman menangis terus-menerus.
“Ra nggak ke kantin?”tanya Miko yang ternyata sudah berdiri didepannya tanpa ia sadari.
Aura mencoba untuk sedikit tersenyum, walau sangat terlihat hanya dipaksakan saja. “Nggak. Malas mau keluar kelas.”
“Ini buat Aura aja.”Miko meletakkan sepotong coklat dan segelas air mineral diatas meja Aura.
Aura melongo ditempatnya melihat Miko meletakkan jajanannya diatas meja. “Kok kasi ke Aura sih? Kamu makan apa jadinya?”
Miko tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Aku sih udah makan banyak dikantin. Maklum lah, porsi kuli kan agak banyak gitu. Hhee.”
“Makasih, ya.”
Miko mengangguk, “Ok, sama-sama. Hemm, Aura kenapa sih beberapa hari ini murung terus? Biasanya selalu ceria dan rebut dikelas, tapi belakangan ini malah jadi pendiam. Nggak asik banget ah.”hibur Miko.
Aura tertawa mendengar ucapan Miko barusan. “Lagi ada masalah aja. Jadi ya gini deh.”
“Hemm, jangan terlalu dipikirin banget ya, Ra. Jangan nyakitin diri kamu sendiri. Aura masih punya banyak teman disini. Miko juga ada nih buat Aura. Jadi jangan sedih terus ya. Cepat kembali ceria seperti Aura yang biasa lagi ya.”ucapnya sambil mengerlingkan mata.
***
Sejak saat itu, Aura mulai dekat dengan Miko. Miko selalu menghibur Aura yang bersedih karena putus cinta. Miko memberikan perhatian yang telah hilang pada Aura. Disaat Aura sepi dan sedih, Miko pasti langsung dating apabila diminta.
Ia menjadi lebih sering mengantar Aura kemanapun, karena ia tak ingin melihat Aura terus bersedih. Terkadang mereka pun berangkat dan pulang sekolah bersama. Perlahan Aura mulai bisa melupakan kesakitannya terhadap rio, walaupun sebenarnya ia tetap tak bisa menghilangkan Rio dari hatinya.
***
Rio menarik tangan Mona saat mereka berpapasan didepan koperasi sekolah. “Aku mau ngomong.”ucapnya dengan singkat, padat, dan jelas.
Mona mengerutkan keningnya heran. “Ngomong ya ngomong aja, kok susah banget sih?”tanyanya heran.
Rio terlihat gusar, dan terlihat pula kekhawatiran diwajahnya. “Aura lagi dekat sama Miko ya??”selidiknya.
“Hemm, setau aku sih, dia Cuma dekat gitu aja, nggak lebih. Memangnya kenapa? Bukannya kalian udah putus, dan kamu nggak mau ambil pusing dengan urusan Aura? Kan kamu sendiri yang bilang ke Aura.”
“Haduuh,, kok dia nggak ngerti banget sih? aku kayak gitu juga bukan karena nggak mau peduli lagi. Tapi emang susah mau dijelasinnya. Ya ampun, kenapa sih dia dekat sama Miko?! Kenapa harus Miko?!”
Mona mengangkat bahunya, “Mana aku tau. Memangnya salah dia dekat dengan Miko? Miko baik kok sama Aura. Aku ikut senang bisa liat Aura tertawa lagi sekarang.”
“Ya ampun Mona, aku nih dari SMP kenal Miko. Enam tahun aku kenal dia. Aku tau baik dan buruknya Miko. Aku nggak mau Aura kenapa-kenapa. Terserah deh dia mau dekat sama siapapun, asal jangan sama Miko, tolonglah, Mon, kamu kasi tau Aura, jauhin Miko.”
“Mana aku bisa suruh dia jauhin Miko, Yo. Toh sejauh ini yang aku liat Miko malah buat Aura tertawa lagi. Nanti kalau aku suruh Aura jauhin Miko, malah nanti Aura yang gimana gitu sama aku. Kan jadi aku yang nggak enak. Ngerti posisi aku juga dong, Yo.”
“Tapi aku nggak mau dia kenapa-kenapa, Mon.”
Mona menggeleng-gelengkan kepalanya heran. “Kamu nih aneh, Yo. Kalo emang kamu khawatir, ya kamu lindungi lah dia. Aura tuh selalu dengarin kata-kata kamu, nurut sama kamu. Ngapain juga sih kamu ngerasa nggak enak mau ngasi tau dia?! Kalo emang kamu masih sayang sama dia, Yo, bilang dong! Jangan jadi pengecut buat nyatain perasaan sendiri pada orang yang kita sayang. Jangan sampai nyesal nantinya, Yo.”ucap Mona sambil berlalu meninggalkan Rio yang tertegun ditempatnya.
***
Aura keluar dari kamar sambil mengusap kedua matanya yang masih terasa berat karena mengantuk, baru bangun tidur.
Ia berjalan pelan sambil membuka pintu rumahnya.
“Selamat pagi.”sapa Rio saat Aura membuka pintu.
“Hah?! Rio?! Ngapain kesini? Ya ampun, nggak bilang-bilang lagi. Ra kan baru bangun, masih jelek gini.”ucapnya sambil cemberut.
Rio tertawa sambil mencubit kedua pipi Aura yang tembem, “Biar aja jelek. Nggak peduli kok.”
Aura melongo mendengar ucapan Rio barusan.
“Sudah, mandi gih sekarang. Terus siap-siap ya kita pergi.”
Aura mengerutkan keningnya heran. “Memangnya mau pergi kemana?”
Rio mengedipkan sebelah matanya. “Rahasia dong, ya udah siap-siap aja dulu sana. Nanti Rio kasi tau kamu kok.”
Aura mengangguk dan langsung bergegas mandi dan berisap-siap.
Setengah jam kemudian Aura sudah berada diboncengan belakang motor Rio. Dengan sedikit enggan, Aura meletakkan tangannya disamping tubuh tegap Rio yang melindunginya dari terpaan angin dibelakang boncengan.
Tiba-tiba tangan Rio terulur, dan menarik kedua tangan Aura agar memeluk tubuhnya dengan erat. “Kok daritadi nggak meluk Rio sih? Nanti kalau tiba-tiba jatuh gimana? Kan nanti Rio yang susah jadinya kalau kamu kenapa-kenapa. Jangan buat Rio khawatir ya, Ra.”ucapnya pelan sambil terus memegang tangan kiri Aura dengan tangan kirinya.
“Iya, maaf.”sahut Aura pelan, sambil mengeratkan pelukannya pada Rio.
***
“Pernah pergi sejauh ini sebelumnya?”tanya Rio saat mereka sudah sampai ditepi danau buatan yang lokasinya lumayan jauh dari pusat kota.
“Kalau pergi tanpa bunda, ini yang pertama kali yang paling jauh.”ucapnya terkagum-kagum melihat pemandangan yang menenangkan hati.
Rio tersenyum sambil duduk disamping Aura. “Makasih ya udah mau ikut kesini, Ra.”
Aura tersenyum manis. “Iya sama-sama. Hemm, memangnya ada apa kamu ajak Ra ketempat jauh ini?”
Rio menatap lurus kearah mata Aura. “Ra, aku mau Tanya sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Kamu sedekat apa sih sama Miko?”Tanya Rio dengan wajah cemburu yang tidak dapat disembunyikannya.
Aura tersenyum manis. “Hanya teman biasa kok, nggak lebih. Miko hibur Ra saat Ra sedih karena kehilangan kamu, Yo. Nggak lebih dan nggak ada perasaan apa-apa kok, Yo. Karena hati ini hanya untuk satu orang aja.”
Seketika Rio langsung memeluk Aura dengan erat. “Maafin Rio karena Rio salah bersikap sama kamu ya, Ra. Rio masih sayang sama kamu. Jujur, aku khawatir banget saat liat kamu dekat dengan Miko. Sebenarnya Rio juga cemburu sih, Rio akui itu. Rio masih sayang kamu juga, Ra. Kamu mau jadi pacar Rio lagi?”
Aura mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Ra mau jadi pacar kamu lagi.”
Rio menatap lurus ke mata Aura. “Rio janji, mulai sekarang Rio nggak akan pernah ragu untuk katakn cinta setiap hari sama kamu.”ucapnya lembut sambil mengecup lembut kening Aura. ■