Powered By Blogger

Rabu, 21 September 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 12 (END)


Dua tahun kemudian...
            “Dimaaaass!!!”Riri menghambur dalam pelukan Dimas – yang baru saja muncul diambang pintu kamar Riri.
            “Wo,wo,wo.. Ada yang kangen banget nih kayaknya.”goda Dimas sambil mengerling nakal.
            “Iih, mulai deh ganjennya!”sungut Riri sambil mencubit lengan Dimas yang sekarang sudah terbentuk otot hasil nge-gym dua tahun ini.
            “Tapi suka kan?”
            “Dimaass!! Benci deh mulai ganjen gini! Kayak waria, tau!”
            “Ya ampun, teganya dirimu mengatai aku ini waria..”sahut Dimas dengan memasang wajah memelas. Akting banget siihhh!!
            Riri mengibaskan tangannya. “Terserah deh!”
            “Yah, jangan ngambek dong, Ri. Nih, aku bawain brownies..”seru Dimas sambil mengeluarkan sekotak brownies dari dalam tas kecil yang dibawanya.
            “Waah! Kamu emang the best sayaangg! Makasii..”Riri segera menyambut brownies itu dengan suka cita dan mendaratkan sebuha kecupan dipipi Dimas.
            Dimas tersenyum.

***

            Riri mendekati makam Rena dengan membawa sebuah rangkaian mawar putih dan meletakkannya diatas makam itu.
            “Hai, Ren! Sumpah, kangen banget sama kamu, tau! Jahat banget sih, ninggalin aku. Gara-gara kamu pergi, mau nggak mau aku deh yang harus ngerawat si putih – kelinci yang aku kasi ke kamu – sekarang. Padahal kamu kan tau, aku lebih suka kucing daripada kelinci. Kamu sengaja ih, ngerjain aku!”
            Riri tersenyum dan berlutut disamping makam Rena. “Sekarang, aku jadi mahasiswi kedokteran UI loh! Hebat kan ya? Nggak nyangka kan kamu? Haha, aku mau sombong sedikit ah! Hihi.. Aku bisa masuk kedokteran UI lewat jalur PMDK loh! Lebih sombong lagi nih aku nya..”
            Riri tertawa dan mengelus makam Rena. “Udah satu tahun aku kuliah, satu tahun juga kemarin aku nyelesain SMA tanpa kamu, Ren! Dua tahun loh kamu ninggalin aku. Kamu nggak kangen apa? Pasti kangen dong ya, aku kan ngangenin.”
            Riri menunduk, “Ren, kamu pasti bahagia kalau aku bahagia kan? Aku tau, jawaban kamu disana pasti iya. Makasih kalau begitu untuk jawabannya.
            “Aku baru tau, Ren. Ternyata orang yang aku sangat sayangi dan orang yang sangat aku butuhkan, bukan orang yang sama, Ren. Aku sayang banget sama Dimas, kamu tau itu. Tapi aku sangat butuh kak Riko dalam hidup aku. Dia selalu jadi penguat untuk aku.
            “Aku tunangan sama kak Riko, Ren. Tepat ulang tahun aku - 12 februari, beberapa bulan yang lalu. Aku nggak nyesel dengan pilihan aku, Ren. Walau aku tau aku sangat sayang sama Dimas, tapi aku jauh lebih membutuhkan kak Riko.
            “Maaf aku nggak bisa penuhi permintaan kamu, Ren. Karena setelah aku bertanya pada hati aku, selama setahun setelah kepergian kamu, aku mendapatkan jawabannya. Aku butuh kak Riko. Hanya itu jawabanyang aku temukan.
            “Tapi tenang, Ren. Aku akan jagain Dimas semampu aku. Sekarang dia juga mahasiswa kedokteran loh! Cuma bedanya dia lebih memilih di UNPAD. Kamu tau, kenapa aku lebih memilih masuk UI daripada UNPAD? Karena di UI ada kak Riko, Ren. Dia senior aku loh. Hihi. Jadinya, ospek gak berasa ospek tuh, karena dia terus nemenin aku. Senang banget deh!”
            Riri melirik jam tangannya. “Waah, gawat Ren, udah jam 4 nih! Jam 5 aku harus berangkat ke jakarta sama kak Riko! Bisa-bisa mama marah nih aku molor gini. Aduuh Rena.. sekarang aku jadi sudah pakai jam karet deh kalau jenguk kamu. Tapi nggak apa-apa deh. Aku seneng kok cerita sama kamu disini. Walau aku nggak bisa denger suara kamu, tapi aku tau, kamu pasti denger aku.”
            Riri tersenyum dan berdiri dari posisi berlututnya. Ia merapikan celananya yang sedikit terlipat dan kembali tersenyum kearah makam Rena. “Aku pergi dulu ya, Rena.. Ntar kalau aku ada libur lagi, aku pasti jenguk kamu. “
            Riri berbalik dan berjalan menjauhi makam Rena.
            Sebuah kelopak mawar putih terjatuh diatas pundak Riri. Ntah dari mana asal kelopak mawar itu, tapi Riri tersenyum. Ia berbalik dan memandang makam Rena yang terlihat dari jauh.
            Aku tau kamu mendengarkan aku, Ren. Terimakasih kamu sudah jadi sahabat terbaik yang pernah aku punya. Terimakasih kamu sudah mengajarkan aku arti dari cinta yang sesungguhnya.
            Aku sayang kamu, Rena...

THE END

21-09-2011 , 23:38 wib
           

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 11


Riri membekap mulutnya dengan dua tangan untuk menahan isak tangisnya yang kencang. Riko tak henti mencoba menenangkannya sepanjang perjalanan tadi. Lain halnya dengan Dimas yang dari tadi hanya diam, hingga sekarang.
            Riko menghentikan mobilnya ditempat parkir, kemudian mereka bertiga pun bergegas mencari ruang dimana Rena berada saat ini. Setelah bertanya kepada petugas yang berjaga diruang piket, mereka pun langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditunjukkan petugas tadi.
            Dari jauh, terlihat kedua orangtua Rena dan abangnya berdiri bersisian didepan ruang UGD. Mama Rena menangis dengan kencang dalam pelukan papa Rena. Sedangkan abang Rena – Danny – berdiri mematung – berhadapan dengan kedua orangtuanya – sambil bersandar pada dinding sambil tertunduk lesu.
            Dimas dengan cepat berjalan menghampiri kedua orangtua Rena serta bang Danny.
            “Tante, oom..”panggil Dimas dengan pelan.
            Tante Lastri yang langsung menoleh saat mendengar suara Dimas yang memanggilnya, langsung menghambur dalam pelukan Dimas.
 “Rena, Rena belum sadarkan diri sampai sekarang, Dimas. Kami tidak diizinkan masuk.”ujar tante Lastri – mama Rena – disela isakan tangisnya.
Dimas menepuk pelan bahu tante Lastri yang berguncang hebat – mencoba menenangkan. Ditatapnya oom Dodi yang sedih melihat Rena belum sadarkan diri dan istrinya yang terus menangis dengan histeris. “Kenapa bisa begini, oom?”
“Menurut saksi yang berada disekitar tempat kejadian, saat ditikungan, ada mobil dari berlawanan arah yang oleng dan keluar dari jalurnya. Sepertinya Rena kaget dan dia banting setir ke kiri – menabrak trotoar dan pohon – tapi mobil yang oleng itu justru berbelok kearah mobil yang Rena kendarai. Sehingga setelah mobil yang dibawa Rena menabrak pohon, mobil yang oleng itu juga menabrak mobilnya, tepat disisi kursi pengemudi yang diduduki Rena.” Oom Dodi mengusap kedua matanya yang menitihkan air mata. “Ren..Rena. Tubuh Rena, terjepit didalam mobil. Saat dibawa kemari, dia sudah tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya mengeluarkan darah, terutama kepalanya yang terbentur setir mobil dengan sangat keras.”
Tangis tante Lastri semakin menjadi saat Oom Dodi selesai menjelaskan situasi yang terjadi saat kecelakaan itu terjadi.
Riri yang sejak tadi berdiri beberapa meter dibelakang Dimas dan keluarga Rena, tambah menangis pula saat oom Dodi selesai menjelaskan. Disampingnya – Riko, terus merangkul Riri dengan erat – berharap tubuh mungil Riri yang sangat terguncang hebat dengan kesedihan ini tidak roboh.
            Danny berjalan menghampiri Riri dan Riko yang berdiri beberapa meter dari yang lainnya. “Kamu, Riri kan?”
            Riri mengangguk pelan, “Iya, aku Riri.”
            Danny menyerahkan sepucuk surat berwarna biru muda pada Riri. “Ini, untuk kamu.”
            “Apa ini bang?”
            “Ini dari Rena. Surat ini ditemukan dalam tas tangan yang Rena bawa tadi.”
            Dengan tangan bergetar, Riri mengambil sepucuk surat biru muda yang terlihat ronyok disemua sisi – mungkin Danny sedikit merapikannya dengan tangan, tapi tidak menutupi keronyokan yang ada disemua sisi surat.
            Riri membaca tulisan kecil yang berada pada amplop surat itu.
                                              
            Untuk sahabat terbaikku, Febriani Putri.

***

            Dear Riri.
            Jujur Ri, aku nggak tau kenapa aku nulis surat ini. Tapi sejak kamu menjauh, aku kangen kamu, Ri. Sangat kangen. Aku kangen sahabat ceriaku, Febriani Putri!
            Aku senang karena kamu adalah teman pertama ku di SMA dan sahabat terbaik dalam hidupku. Aku senang berada didekat kamu, Ri. Lihat keceriaan kamu, semuanya. Aku senang punya sahabat kamu.
            Apalagi karena kita sebangku ya, aku ngerasa kamu seperti sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup aku, setelah keluarga aku.
            Kamu seperti dunia baru dalam duniaku selama ini, Ri. Bersama kamu, aku kadang berpikir, tidak apa kalau didunia ini aku hanya bersama dengan satu orang saja. Dan aku pasti sangat berharap bahwa orang itu kamu, Ri.
            Bersama kamu, aku sangat bahagia. Sama bahagianya seperti aku bersama keluargaku. Bahkan aku kadang lebih sangat bahagia sama-sama kamu. Kamu sangat penting buat aku, Ri. Sangat berarti.
            Aku ingat saat aku sangat sedih kelinci kesayangan aku mati, kamu hibur aku, Ri. Seharian penuh kamu nemenin aku. Kita sampai bolos pelajaran, karena kamu mau ngajak aku nikmatin udara dingin dan menenangkan disudut sekolah. Besoknya, kita manjat pagar bareng gara-gara telat. Sembunyi dari kejaran guru piket, yang untungnya agak sedikit rabun jauh, jadi nggak bisa ngenalin wajah kita berdua.
            Terus besoknya lagi, kamu kerumah aku pagi-pagi banget. Aku kaget banget pas bangun tidur ada kelinci diatas tempat tidur aku!
            Semua itu kerjaan kamu, Ri. Aku inget banget kamu ketawa ngakak dibalik pintu kamar bareng mama karna ngeliat aku kelabakan karena tuh kelinci mau pipis dimuka aku! Dasar jahil kalian.. Tapi aku seneng. Seneng banget!
            Tapi aku sedih saat kamu ngambek sama aku, Ri. Mungkin kamu bukan ngambek lagi, tapi udah marah sama aku. Maafin aku, Ri.. Aku tau maaf aku nggak akan cukup untuk menebus kesalahan aku, sebanyak apapun itu, tapi aku kangen kamu, Ri...
            Kalau kamu cuma ngambek, Ri. Cukup aku bawain satu loyang brownies, pasti kamu langsung ceria. Tapi sekarang nggak, Ri. Mungkin walau aku bawa pabrik brownies sekalipun, belum tentu kamu mau maafin aku, ya?
            Aku juga kaget, Ri tentang perjodohan ini. Orangtua aku sama Dimas ternyata teman lama, tau-tau kami ketemu pas makan malam, terus papa bilang kami akan dijodohkan. Setelah tamat SMA nanti, papa dan oom Irawan ingin kami langsung tunangan.
            Sebelumnya aku minta maaf, Ri. Maaf aku telat menyadari perasaan kamu. Maaf aku baru sadar bahwa yang kamu sayang itu Dimas, tepat saat aku juga mulai menyukai Dimas!
            Maafin aku, Ri. Aku salah udah bohongin kamu. Dan aku juga salah karena aku nyakitin kamu. Aku salah banget sama kamu, aku minta maaf.
            Saat kamu baca surat ini, Ri. Mungkin aku udah nggak bisa ngomong langsung ke kamu, untuk nyampaikan semua isi surat ini secara langsung ke kamu.
            Selama ini insting aku memang suka meleset, Ri. Kamu tau banget tentang itu. Aku selalu gagal kalau disuruh menebak atau menerka-nerka. Tapi sekarang, aku yakin banget sama insting aku, Ri. Yakin banget, seratus persen! Nggak pake diskon. Hehe.
            Bilang ke aku, Ri, kali ini insting aku bener kan? Berarti aku nggak bisa ketemu lagi untuk ngomong langsung sama kamu. Aku memang bukan Tuhan, Ri. Tapi firasat manusia ada saatnya akan terjadi kan?
            Kalau kamu sudah baca surat ini, berarti firasat aku bener, Ri..
            Sekali lagi maafin aku ya, Ri.. Maaf aku udah bohong dan bikin kamu sakit.. Maaf aku nggak bisa ngomong langsung.. dan, maaf aku nggak bisa selamanya disisi kamu.
            Kalau aku nggak ada lagi, kamu jaga Dimas ya, Ri. Biarpun aku hanya sebentar dikasi waktu untuk sayang sama Dimas, tapi aku sudah bersyukur karena diberi waktu untuk bbisa sayang sama dia.
            Jaga dia ya, Ri. Aku tau kalian saling sayang, hanya saja, karena kalian saling bersahabat sejak kecil, kalian jadi bingung mengartikan rasa sayang kalian yang sebenarnya adalah cinta sepasang kekasih, bukan sahabat.
            Semoga kalian bahagia ya, Ri...
            Aku ingin melihat kalian memakai sepasang cincin yang sama dijari manis kanan kalian – dari atas Sana..
            Aku akan bahagia dengan kebahagiaan kamu, Ri..
            Aku sayang kamu selalu...
   Salam sayang,
-Renata Amalia Diana (Rena)-

***

            Beberapa orang suster keluar dari ruang UGD yang sejak tadi tertutup dengan rapat. Dengan tergesa mereka mendorong sebuah ranjang tidur dan tabung oksigen yang cukup besar.
            Tante Lastri semakin histeris saat anaknya yang masih tak sadarkan diri itu keluar dan entah dibawa kemana. Danny menahan tubuh mamanya yang hampir jatuh – saat oom Dodi menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
            “Bagaimana keadaan anak saya, dok? Mau dibawa kemana dia?”tanya oom Dodo dengan sangat cemas.
            “Keadaan pasien semakin gawat. Beberapa saat yang tadi jantungnya sempat berhenti berdetak selama beberapa detik. Kita tidak punya pilihan lain selain memasukkannya ke ruang ICU yang memiliki peralatan lengkap, pak. Karena sampai saat ini hanya upaya itu yang dapat kami lakukan semaksimal mungkin sebelum hasil pemeriksaan keadaan tubuh anak bapak diberikan oleh pihak laboratorium.
            “Sebaiknya bapak dan ibu sekarang ikut saya menuju ruang ICU. Lebih baik kalian menunggu disana agar lebih mudah kami memberikan kabar.”
            Oom Dodi segera merangkul istrinya dan mengikuti dokter tersebut menuju lift. Danny menoleh pada Riri dan memberikan kode agar ia dan Riko juga ikut.
            Sambil mengusap matanya yang sejak tadi menangis – dan Riko masih terus merangkulnya, Riri berjalan mengikuti Danny dari belakang.
            Kamu harus berjuang, Ren. Kamu harus kembali hidup, jangan menyerah sedikitpun. Kamu kuat, Ren. Kamu bisa kembali untuk kami semua. Untuk oom dan tante, untuk bang Danny, untuk aku, dan untuk Dimas...

***

            Tujuh hari kemudian...
            Pukul 00:00 wib , 10 Oktober 2010.
            Dimas duduk dipinggir tempat tidur dimana Rena terbaring. Sudah satu minggu Rena terbaring tanpa sadarkan diri. Tidak ada perubahan yang menggembirakan, selain keadaannya yang sudah tidak koma lagi, sejak tiga hari yang lalu.
            Dimas mengambil sehelai handuk kecil yang dibasahkan, dan mengusapkannya di wajah Rena dengan pelan. Wajahnya yang putih bersih kini pucat pasi. Seakan tak setetes darahpun mengalir di wajah itu. Dibersihkannya pula tangan dan kaki Rena yang dingin dan juga pucat seperti wajahnya.
            Perlahan tangan yang digenggam Dimas bergerak pelan. Kelopak mata yang selalu tertutup selama seminggu ini, bergerak pelan, dan akhirnya terbuka. Menatap lekat Dimas yang berada disisinya.
            “Rena.. Kamu sadar! Kamu sadar!”seru Dimas sambil memeluk Rena. “Aku panggil oom dan tante, juga dokter ya.”
            Tangan dingin itu menahan Dimas. Kepalanya menggeleng pelan. “Jangan pergi.”ucapnya pelan – hampir tak terdengar.
            Dimas kembali duduk dan menggenggam erat tangan Rena yang masih tetap dingin dengan kedua tangannya yang hangat. “Iya, aku nggak akan kemana-mana, Ren. Aku akan disini terus. Aku akan ada disisi kamu terus. Kamu harus cepat sembuh, Ren. Kita akan langsung tunangan saat kamu sudah keluar dari rumah sakit ini. Kamu harus sembuh.”
            “Kamu baik-baik ya, Mas. Aku ingin melihat kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Aku ingin kamu bersatu dengan Riri dalam ikatan cinta yang abadi..”
            Dimas menggeleng dengan kencang. “Kamu ngomong apa sih, Ren? Ikatan apa?! Aku tunangan kamu. Aku adalah calon suami kamu. Jadi kamu harus sembuh untuk aku. Untuk orang yang sayang sama kamu!”
            “Aku harus pergi, Mas..”
            Dimas mengusap matanya yang hampir menitihkan air mata. Ia tidak boleh menangis didepan Rena! Tidak akan!
            “Boleh aku minta kamu peluk?”
            Dimas mengangguk dan memeluk Rena dengan erat. Tubuh itu dingin, namun semakin dingin, semakin lama Dimas memeluknya.
            Rena tersenyum kecil. “Selamat ulang tahun, Dimas..”
            Dimas tersenyum, “Terimakasih! Terimakasih kamu sudah sadar dihari ulang tahun aku, Ren. Ini hadiah yang sangat spesial untuk aku. Saat kamu keluar dari rumah sakit nanti, kita rayakan berdua ya. Aku akan ajak kamu kemanapun yang kamu mau, Ren.”
            Tubuh itu semakin dingin dan dingin. “Ren. Rena?” Dimas menggoyangkan tubuh dingin yang sejak tadi terus dipeluknya.
            Tit..tit..tit..tiiiiiiiiittttttt.....
            Dimas menatap garis lurus yang berada dilayar samping tempat tidur Rena dengan air mata yang tak bisa lagi ditahannya.
            Selamat jalan, Rena. Terimakasih sudah menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat untukku..

***

Senin, 19 September 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 10


Riri memasuki sekolah dengan langkah yang ringan, serta senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
            “Selamat pagi, pak!”Riri menyapa pak satpam yang dengan setia selalu berdiri didepan gerbang sekolah hingga bel masuk berbunyi nyaring.
            “Pagi non Riri.”
            Riri melewati lapangan parkir tanpa menoleh kanan dan kiri. Ia terus berjalan lurus dan tetap menjaga senyumannya. Ia berjalan menuju papan pengumuman yang kini dipenuhi murid yang mencari nama mereka masing-masing dalam pengumuman pembagian kelas.
            Untuk saat seperti ini Riri sangat bersyukur karena memiliki tubuh yang mungil, hingga ia bisa masuk diantara kerumunan yang ramai itu dengan tidak terlalu sulit.
            Riri menghembuskan nafasnya lega saat ia dengan selamat telah berhasil berdiri tepat didepan papan pengumuman. Lihatnya satu-persatu deretan kelas XI IPA. Ia mencari namanya dengan teliti. Febriani Putri. Yak! Ini dia, Riri menemukan namanya dalam XI IPA 1.
            Setelah bertanya sebelumnya pada seorang guru piket yang dijumpainya – dimana letak kelas XI IPA 1 – agar ia tidak salah masuk kelas, Riri pun melanjutkan langkah ringan nan riangnya menuju kelasnya yang baru.

***

            Rena berdiri didepan kelasnya – XI IPA 1 – menunggu kedatangan Riri yang ternyata kembali satu kelas dengannya. Rena tersenyum saat melihat Riri berjalan menuju kelas.
            “Riri!”Rena langsung menghambur memeluk Riri dengan rian – seolah tidak terjadi sesuatu sama sekali. “Kita sekelas lagi, seneng banget deh! Aku udah pilih tempat duduk buat kita. Dibarisan kedua situ, Ri.”Rena menunjuk kursi “mereka” dengan semangat.
            “Makasih udah repot-repot nyariin aku kursi. Tapi aku bisa cari tempat dudukku sendiri.”desis Riri.
            Riri berjalan memasuki kelsnya dan memandang sekeliling. Ia berjalan menuju deretan diujung kelas dan menghampiri seorang cewek yang sedang asik membaca bukunya disudut samping jendela.
            “Hai, aku Riri.”sapa Riri sambil mengulurkan tangannya.
            Mata yang sejak tadi memandang lurus kearah buku, kini menatap Riri dan kemudian tersenyum – menjabat uluran tangan Riri. “Hai, aku Meta.”
            “Aku boleh duduk disini ya?”
            Meta mengangguk, “Tentu saja.”
            Rena memandang kejadian tersebut dengan mata yang  berkaca. Riri tidak mau lagi duduk bersamanya. Memandang mata Rena pun tidak!
            Rena, segitu marahnya kah kamu sama kami – aku dan Dimas? Kenapa separah ini?

***

            Riri berjalan menuju kantin bersama Meta – tidak dengan Rena seperti dulu. Sejak perkenalan pertama mereka dua hari yang lalu, Riri menjadi akrab dengan Meta. Gadis itu cenderung menutup dirinya dari orang lain, namun karena melihat sikap Riri yang selalu riang – terlihat dari luar – Meta pun tidak segan untuk membagi cerita mengenai dirinya.
            Alhasil, Riri dan Meta sudah sangat akrab dihari ketiga pertemuan mereka ini. Mereka memiliki hobi yang sama – membaca novel – sehingga waktu istirahat kedua sering mereka habiskan bersama di perpustakaan.
            Mereka hendak berbelok saat Riri tidak sengaja menabrak seseorang. “Aduuh, sori ya.”
            Riko tersenyum, “Hei, kemana aja kok baru kelihatan hari ini?”
            Riri tertawa, “Loh, kakak rupanya. Riri kirain siapa. Iya nih, udah dua hari ini, emang belum ada ke kantin, aku sama Meta Cuma jajan di koperasi aja. Oh iya kak, kenalin ini Meta teman sebangku aku.”
            Riko tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Meta, “Hai, Riko dari XII IPA 1.”
            “Aku Meta, kak.”sahut Meta sambil menjabat tangan Riko yang terulur padanya.
            “Kak, ikut kita ke kantin yuk!”seru Riri.
            “Aku nggak laper, Ri..”
            “Alah, laper nggak laper deh. Ikut pokoknya. Yuk yuk!”Riri menyeret Riko dengan semangat – menuju kantin. Dibelakang mereka, Meta hanya tertawa melihat semangat yang berkobar dimata Riri saat mendengar kata “makan”. Tipe cewek yang menarik.

***
            “Assalamualaikum..”Riri mengecup kedua pipi mamanya – yang sedang menyiapkan makan siang – saat ia tiba dirumah.
            “Waalaikumsalam. Tumben kamu pulang cepat?Biasanya jalan dulu sama Rena ke mall..”
            “Riri nggak deket sama Rena lagi kok, ma.”sahut Riri.
            “Loh, kenapa? Hanya karena pertunangan Rena dan Dimas, bukan berarti kamu harus musuhin mereka kan?”tanya mama.
            “Justru karena mereka berdua sahabat aku, ma! Mereka tega bohongin Riri! Dengan masalah yang seserius ini..”
            Mama menarik salah satu kursi agar Riri bisa duduk. “Lalu? Apa alasan kamu marah hanya karena mereka tidak jujur?”
            “Riri sayang sama Dimas, ma..”aku Riri.
            “Ya, mama tau kamu sayang Dimas. Sejak kamu umur enam tahun mama sering mendengarmu bicara sayang dengan Dimas – baik kepada mama, atau pada Dimas langsung.”
            “Bukan sayang yang seperti itu, ma.”sahutnya lemah.
            Mama memegang pundak Riri dan menatapnya lembut. “Kamu cinta sama Dimas?”
            “Iya, ma.”sahut Riri sambil menangis.
            “Dimas tahu akan hal itu?”
            Riri menggeleng lemah. “Tapi Rena tau, ma. Riri pernah bilang kalau Riri bingung dengan perasaan Riri. Riri sayang sama Dimas, tapi juga sayang sama kak Riko. Rena tahu akan hal itu.”
            “Kalau begitu, kamu harus kasi tau sama mereka berdua.”
            “Maksud mama?”
            Mama tersenyum dan membelai rambut anaknya. “Kamu marah, karena mereka tidak jujur dan tidak tau perasaan kamu sebenarnya kan?”
            Riri mengangguk.
            “Kalau begitu, beritahu mereka berdua tentang perasaan kamu sebenarnya. Bukan karena kamu ingin menghancurkan hubungan mereka, tapi agar mereka tahu, dan agar kamu bisa lega, sayang..”
            Riri memeluk mamanya dengan erat. “Riri nggak tahu harus mulai dari mana , ma.”sahutnya sambil terisak.
***

            Riri duduk disalah satu kursi ditengah taman. Sejak pagi tadi, Riri sudah berada di taman ini dan membersihkannya.
            Taman ini. Taman kenangan Riri dan Dimas. Tapi kini Riri disini sendiri. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya. Sedih, marah, gelisah, seakan ia tak mengenal dirinya yang saat ini terduduk lemas disini.
            Sayup-sayup didengarnya langkah kaki yang semakin lama semakin mendekatinya.
            Riri menjatuhkan dirinya ke tanah. Tubuhnya terkulai lemas – dengan tangan yang memeluk erat kakinya yang ditekuk. Air matanya jatuh.
            Dirasakannya sedikit demi sedikit air menetes dari langit. Seakan merasakan rasa yang sama , sedih yang luar biasa. Dilema akan perasaannya, dilema untuk mengungkapkannya.
            Perlahan air-air yang berjatuhan itu membasahi kepalanya. Sedikit, sedikit, hingga deras – tubuh Riri terguncang hebat. Perdebatan antara isak tangisnya yang semakin menjadi, dan rasa dingin akibat hujan yang membasah kuyupkan tubuhnya.
            Seseorang menarik tubuh Riri berdiri. Memakaikan jaket yang cukup hangat yang menutup kepala dan juga badannya yang menggigil..
            Dirasakannya hangat itu menjalar ditubuhnya. Wajah Riri masih tertunduk. Saat ia mencoba membuka matanya, Riko sedang memeluknya.
            “Kakak kenapa disini?”tanya Riri dengan suara yang sedikit nyaring – beradu dengan suara hujan yang tak kalah nyaring.
            Riko mengeratkan pelukannya. “Jangan pergi lagi, Ri. Aku mohon jangan pergi lagi. Kamu nggak sendiri disini. Ada aku. Aku akan bersama kamu, Ri. Aku temani kamu menghadapi kenyataan ini. Kamu jangan pergi lagi seperti ini.”
            Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Berusaha mencintai orang yang mencintaiku, atau aku tetap mencintai orang yang sangat aku cintai? Beri aku jawabannya Tuhan..

***

            Dimas berjalan mondar-mandir sejak sepuluh menit yang lalu. Rena menatapnya dengan pandangan sedih dan khawatir.
            “Mas, sampai kapan kamu mau seperti ini?”
            “Kita harus jelasin, Ren!”ujar Dimas.
            “Jelasin apa lagi? Riri sudah tau tentang kita. Dia sudah tau kita tunangan. Apalagi yang harus kita jelaskan?”
            “Tapi Riri nggak tau alasan dari pertunangan kita ini, Ren. Apa kamu mau selamanya kita seperti ini sama Riri?”
            “Ya jelas nggak lah! Riri udah aku anggap sahabat aku. Dia teman terbaik yang pernah aku kenal selama ini.”sahut Rena pelan.
            Dimas terduduk lemas. “Aku ingin membatalkan pertuangan ini, Ren.”
            “Kenapa, Mas?!”
            “Aku sayang sama Riri, Ren. Rasa sayang yang sangat jauh berbeda dari rasa sayang aku yang dulu terhadap Riri kecil.”sahutnya pelan.
            Rena tertunduk lemas. Andai kamu tau perasaan Riri, Mas. Dia tidak bisa mengartikan rasa sayangnya terhadap kamu. Menghadapi Riko yang sangat mencintainya pun ia tidak tau harus bagaimana. Semua itu karena kamu, Mas.
            Andai kamu tau sejak dulu. Andai pertunangan kita tidak ada, mungkin keadaannya tidak seperti ini. Mungkin aku bisa bahagia melihat sahabatku – Riri, bahagia bersamamu. Tapi tidak sekarang, Mas. Aku juga menyayangimu.. Lebih dari yang kamu tau..
            Rena terisak.

***

            Drrtt..drrtt..drrtt..
            Riri mengambil handphone yang berada dalam saku celananya.

            Besok sore, kita ketemu di taman kompleks. Aku dan Rena ingin menjelaskan semuanya.
          -Dimas-

            “SMS dari siapa, Ri?”tanya Riko sambil memberikan segelas teh hangat.
            “Dimas, kak.”sahut Riri pelan.
            “Kenapa lagi?”
            Riri mengangsurkan Hpnya pada Riko. Riko membaca SMS dari Dimas. Dipandanginya Riri sambil mengangsurkan HP Riri kembali.
            Ia tersenyum dan menggenggam erat tangan Riri. “Jangan takut. Semua pasti akan baik-baik aja nanti. Aku temani ya..”
            Riri mengangguk, “Makasih, kak.”

***

            Besok sore kita ketemu di taman kemarin. Kita harus jelaskan semuanya pada Riri. Sekaligus kita pikirkan cara untuk membatalkan pertunangan ini.
          -Dimas-

            Rena melempar Hpnya kelantai hingga berderai. Dibenamkannya tubuhnya yang lelah kedalam selimut.
            Dengan tubuh yang berguncang Rena berusaha menghentikan tangisnya. Tangisan ketakutan , tangisan kekalahan.
            Dimas memang untuk kamu, Riri. Maafkan aku yang ingin merebutnya dari kamu.

***

            Riri berdiri dihadapan Dimas yang duduk dibangku taman. Sejak tadi Riko terus merangkul – melindungi, Riri. Sesekali Riri menghela nafas pelan dan menatap lekat pada Riko. Riko mengangguk pelan, Riri tersenyum.
            Dimas duduk dibangkunya dalam diam sejak kedatangan Riri dan Riko setengah jam yang lalu. Matanya tak henti melihat jam digital yang terdapat di layar handphone nya.
            Rena belum datang. Sejak setengah jam yang lalu – saat Dimas mencoba menelpon kerumah Rena - tante Lastri bilang Rena sudah berangkat dengan membawa mobil sendiri tanpa supir.
            Handphone Rena tidak aktif. Telpon rumahnya pun kini tidak ada yang mengangkat setiap Dimas menghubunginya. Wajahnya memucat. Apa mungkin sesuatu terjadi pada Rena?
            “Sampai kapan kita diam terus tanpa bicara sepatah katapun, Mas?”tanya Riri memecah kebisuan yang ada. Memang sejak kedatangan Riri dan Riko tadi, Dimas hanya berkata, kita menunggu Rena, baru membicarakan semuanya. Tapi sampai saat ini Rena tak kunjung tiba.
            “Kita harus tunggu Rena. Karena ini melibatkan dia juga. Tapi telponnya nggak ada yang angkat sama sekali.”
            “Coba kamu telpon nomor abangnya?”usul Riri.
            Dimas mengangguk dan baru akan mencari kontak abang Rena, saat handphone nya berbunyi nyaring.
            Mama Rena.
            “Halo tante.”
            Dimas terdiam. Wajahnya memucat, matanya mulai berkaca. Ia memutuskan sambungan telpon dan menatap nanar pada Riri dan Riko.
            “Kenapa, Mas?”tanya Riri cemas melihat perubahan raut muka Dimas.
            “Rena.. Rena kecelakaan, Ri.”

***