Riri memandang kerlap-kerlip lampu warna-warni yang terpasang disekeliling rangkaian bunga mawar merah itu. Hanya tiga kata, “I LOVE YOU” , namun kontan membuat perasaan Riri kacau hingga tak karuan.
Jantungnya bertdetak lebih cepat, dan seakan “cenat-cenut” seperti lagu I Heart You dari boyband yang sedang naik daun saat ini – SM*SH.
Disampingnya Riri – Riko – masih menatapnya lurus dengan matanya yang seolah berbicara, “jawablah Riri...”. Riri menghembuskan nafasnya pelan. “Kak Riko...”
“Ya?”
“Kakak bisa kasi Riri waktu? Riri belum bisa jawab semuanya sekarang. Riri surprise banget, kakak lakuin ini semua untuk Riri, dan Riri sangat berterimakasih sekali untuk semua ini – yang udah kakak lakuin untuk Riri – dan Riri seneng banget. Tapi Riri nggak bisa jawab sekarang. Kakak mau kasi Riri waktu untuk berfikir?”tanya Riri pelan.
Riko mengangguk dan tersenyum. “Tentu. Aku akan kasi kamu waktu. Selama apapun waktu yang kamu perlu untuk berfikir, aku akan menunggunya sampai jawaban itu ada.”
Riri tersenyum dan memeluk erat Riko.
Terimakasih Tuhan, telah Kau kirimkan orang yang setia untukku..
***
Riri duduk di gazebo sambil menimang-nimang Hpnya. Wajahnya kadang murung kadang senyum, dan semua ekspresi kegelisahan dan kegalauanpun terungkap semua diwajahnya hari ini.
Riri menekan duabelas digit nomor dengan Hpnya . Tuut.. Tuut.. “Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi. The number u’re calling ....”
Riri mendengus kesal. “Rena kemana sih?! Tumben-tumben Hpnya nggak aktif gini. Biarpun hari ini hari minggu, tuh anak bukan tipe penggemar bangun siang di hari libur. Jadi nggak mungkin banget dia masih tidur. Tapi kenapa Hpnya nggak aktif ya? Kalau lagi di cas juga biasanya selalu aktif kok!”
Riri terdiam sebentar, dan kembali membuka kunci tombol Hpnya dan menelusuri daftar kontak di memorinya. Terdengar suara sambungan dari nomor tersebut. Tuut..tuuttt..
“Halo..”
“Halo, selamat pagi tante.”sapa Riri kepada tante Lastri.
“Selamat pagi. Siapa ini?”
“Aku Riri, tan..”
“Ooh, Riri. Kirain tante siapa.. apa kabarnya, Ri?”
“Alhamdulillah baik, tan. Rena ada nggak, tan? Soalnya tadi Riri telfon ke Hpnya, nomornya nggak aktif.”ujar Riri
“Rena lagi pergi ke supermarket sama Dimas, Ri.”
“Di..dimas , tan?”tanya Riri kembali – mungkin dia salah dengar, batinnya.
“Iya sama Dimas. Sudah sekitar setengah jam yang lalu mereka pergi..”
“Oh, gitu ya. Terimakasih, tan.”
Riri menutup sambungan telfon secara sepihak. Diletakkannya Hpnya diatas lantai. Kakinya ditekuk dan ia menutup matanya dengan kedua tangan. Riri menangis.
***
Riri duduk dihadapan Riko dengan tatapan kosong. Sejak limabelas menit yang lalu Riri tetap seperti ini. Diam, melamun, es krim yang selama ini jadi santapan favoritnya pun tergeletak manis diatas meja dalam keadaan utuh dan setengah mencair.
Riko menyentuh pelan tangan Riri. “Kamu kenapa?”
Riri seakan baru tersadar kembali ke dunia nyata dan mengerjapkan matanya kaget. “Hah? Kenapa kak?”
“Kamu kenapa?”Riko kembali bertanya dengan lembut.
“Hemm, aku nggak kenapa-kenapa kok, kak.”sahutnya pelan.
“Pasti ada apa-apa. Riri yang aku kenal nggak sepemurung ini. Riri yang aku kenal selalu ceria dan menebarkan kebahagiaannya dimana pun dia berada. Kalau kamu jadi diam dan murung begini, pasti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan..”
Riri menunduk dan kembali diam.
“Kamu begini bukan karena pernyataan cinta aku waktu itu kan?”tanya Riko lagi.
“Nggak kok kak. Sama sekali nggak.”
Riko mengangguk pelan. Ntah ia harus senang atau sedih melihat Riri jadi begini. Senang, karena Riri berubah seperti ini bukan karena dirinya, namun ia sedih, jika Riri begini bukan karena dirinya, berarti Riri tidak memikirkannya sama sekali. Ada orang lain yang dipikirkannya hingga begini. Riko jadi bingung sendiri, tak tau apa yang harus dilakukan.
“Kamu nggak mau cerita sama aku? Aku siap kok dengerin semua cerita kamu, Ri. Kamu bisa percaya sama aku.”ujar Riko.
Riri mengangkat kepalanya. “Maaf kak, bukannya Riri nggak mau cerita. Tapi.. tapi Riri nggak bisa. Riri belum siap buat cerita ini ke siapa-siapa..”
Riri kembali menunduk dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Aduuh, kamu jangan nangis dong, ya? Kamu habisin es krimnya, terus kita pulang. Biar kamu bisa istirahat..”ujar Riko dengan panik.
Riri mengangguk pelan. Diambilnya sendok yang daritadi hanya diam tergeletak ditempatnya tanpa disentuh oleh sang pemesan. Perlahan ia menyuapkan sedikit demi sedikit es krim yang mulai mencair itu ke mulutnya. Rasa manis yang seharusnya ada, kini terasa seperti kehilangan gulanya – hambar – tanpa rasa.
***
“Jelek..”Dimas menjawil pipi Riri yang sedang menyantap sandwich nya di ruang makan.
Riri mendelik sinis. “Ngapain kamu kesini?!”
“Duh, sinis banget mbak. Emangnya sejak kapan aku laporan kalo mau kesini?”
Riri mendengus dan beranjak ke dapur untuk mengambil minum.
Dimas mengerutkan keningnya bingung. Ia mengikuti Riri ke dapur dan menghadang gadis itu saat ia hendak kembali ke meja makan lagi. “Kamu kenapa sih? Sinis banget sama aku.”
“Nggak kenapa-kenapa kok.”sahut Riri sambil berusaha mendorong tubuh Dimas yang menghalanginya – walau tak berhasil, karena tubuh mungil Riri kalah besar dari Dimas.
“Ri, kenapa sih?! Kamu jangan bohong! Kamu nggak punya bakat sama sekali untuk bohong, terutama sama aku!”desis Dimas.
“Terus, kalau aku bohong kenapa? Bukan urusan kamu kan?!”
“Riri! Kamu kenapa lagi kayak gini?! Kamu mau kita kelai lagi? Apa salah aku kali ini, Ri? Jawab..”ujar Dimas dengan suara yang bergetar.
“Kamu yang minta aku jujur untuk semua hal. Tapi kamu? Kamu nyembunyiin hal yang seharusnya aku juga tau! Apa susahnya untuk kamu jujur ke aku? Aku juga akan ikut bahagia kalau aku tau dari awal. Tapi kenapa seperti ini?”
Dimas menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ngerti apa maksud kamu..”
“Pikirkan aja sendiri. Saat kamu tau apa yang aku maksud, aku harap kamu udah siap dengan penjelasannya!”
Riri berlari meninggalkan Dimas yang masih terdiam di dapur. Riri kembali menangis.
***
Dimas mondar-mandir tak karuan dikamarnya. Otaknya tak berhenti berputar dan memikirkan apa yang menyebabkan Riri seperti tadi.
Tiba-tiba ia tersadar. Kaget yang luar biasa menyerang dirinya.. Apa Riri sudah tau tentang Dimas dan Rena?
Dengan cepat Dimas mengambil Hpnya yang daritadi tergeletak diatas tempat tidur, dan mencari kontak Rena.
“Halo.”
“Halo Ren, bisa kita ketemu sore ini?”
“Ada apa memangnya?’
“Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
“Soal apa?”tanya Rena bingung.
Dimas menghela nafasnya pelan. “Riri sepertinya sudah tau tentang hubungan kita, Ren.”
“Apa?!!”
***
Riri sedang asik menggerak-gerakkan kakinya pelan – yang dimasukkannya kedalam kolam ikan yang berada dibawah jendela kamar mama dan papanya – saat Riko datang.
“Hai.”sapa Riko sambil tersenyum.
Riri menoleh dan tersenyum, “Hai kak. Tumben sore-sore begini kesini nggak bilang dulu.”
“Nggak apa-apa. Pengen ngasi kejutan aja.”sahutnya sambil memberikan sebuah plastik kepada Riri.
“Apa ini kak?”
“Brownies. Kebetulan tadi habis nemenin mama ke toko kue deket rumah. Pas liat brownies, jadi inget kamu. Jadi aku beli satu deh untuk kamu.”sahutnya sambil tersenyum.
“Waah, makasi banget ya, kak.”
Riri langsung melahap brownies dipangkuannya dengan lahap dan senyum yang mengembang di wajahnya.
Riko mengamatinya sambil tersenyum sendiri. Ternyata dengan memberikan brownies untukmu, bisa mengembalikan dirimu seperti Riri yang kukenal, pikir Riko.
“Kak?”suara Riri membuyarkan lamunan Riko yang sejak tadi menatap Riri tanpa berkedip. “Kenapa mandangin Riri kayak gitu?”
Riko tertawa kikuk dan membelai pelan rambut Riri. “kamu lucu lagi makan brownies. Aku seneng kamu bisa tersenyum hari ini.”
Riri tersenyum manis. Pipinya bersemu merah. “Terimakasih ya kak, untuk browniesnya.”
“Iya, sama-sama. Ri, habis ini jalan yuk!”
“Mau kemana kak?”
“Kita keliling-keliling sini aja, kamu punya sepeda nggak?”
“Kebetulan aku punya kak.”sahut Riri riang.
Riko tersenyum, “kalau begitu, kita keliling pakai sepeda ya. Biar aku boncengin kamu.”
Riri mengangguk dan tersenyum.
***
Rena menghampiri Dimas yang sudah menunggunya disalahsatu kursi di pojok taman.
“Kenapa kita ketemu disini? Kalau Riri tiba-tiba lewat sini gimana?”tanya Rena khawatir.
“Nggak, tenang aja. Riri udah nggak lagi kesini sejak satu tahun yang lalu. Lagi pula bangku ini ada diujung,,dari ujung jalan sana, nggak akan keliatan siapa yang ada disini.”
“Semoga aja Riri nggak liat kita.”
“Mobil kamu gimana?”
“Sesuai instruksi kamu tadi ditelfon, aku nggak bawa mobil. Aku minta antar sama supir dirumah, nanti dia jemput aku lagi.”sahut Rena.
“Bagus kalau begitu.”
“Jadi, mulai darimana yang mau kamu omongin.”
“Aku bingung, kenapa Riri bisa tau kalau kita berdua ada apa-apa. Kemarin dia sinis sama aku. Pas aku tanya kenapa, dia malah bilang, gak seharusnya aku nyembunyiin sesuatu. Andai dia tau dari awal dia pasti akan ikut bahagia.”jelas Dimas.
“Duh, aku juga nggak ngerti, nih.”ujar Rena. “Eh, sebentar ya..”
Rena merogoh kocek celananya dan mengangkat telfon dari mamanya. “Ya ma?”
“Rena, bilang sama papa, malam ini mama nginap dirumah sakit lagi ya, bibi kamu masih sakit, paman masih dalam perjalanan dari batam pulang kesini. Oh iya, kemarin kan mama belum sempat ketemu kamu saat kamu pulangbelanja, mama mau sampein sesuatu. Selama ini mama lupa terus mau nyampaikannya.”jelas mama.
“Apa itu, ma?”
“Waktu kamu pergi nonton dengan Dimas tempo hari, Riri ada nelpon kerumah. Dia nanyain kamu. Tapi mama bilang kamu lagi pergi dengan Dimas. Kemarin juga pagi-pagi dia ada nelpon waktu kamu belanja dengan Dimas.. jadi, coba kamu telpon dia balik. Mungkin ada hal penting yang mau dia bilang ke kamu..”
Rena memutuskan sambungan telponnya. Hpnya dibiarkan terjatuh ketanah dan Dimas menatapnya dengan bingung.
“Kenapa, Ren?”tanya Dimas dengan cemas.
Rena menatap Dimas dengan mata sedikit berkaca. “Riri, Riri tau kedekatan kita, Mas. Berulang kali dia nelpon kerumah saat kita pergi berdua.”
“Ja..jadi dia tau tentang kita?”
“Dia tau kita dekat, tapi soal pertunangan kita, kurasa belum.”
***
Riko mengayuh sepeda Riri dengan perasaan senang. Dibelakangnya Riri berdiri dipijakan sisi sepeda dan tertawa dengan riang. Tangannya memegang pundak Riko agar tidak terjatuh.
“Waah, kak. Aku seneng banget! Aku udah lama nggak naik sepeda kayak gini!”seru Riri sambil tertawa lepas.
“Iya. Untung aja dirumah kamu ada pompa ban ya, kalau nggak, kita nggak bisa keliling pakai sepeda deh karna ban nya kempes.”
“Kak, kita mampir ke taman itu yuk. Istirahat dulu, sekalian beli jajanan disitu. Enak-enak loh kak!”seru Riri.
“Boleh, yuk!”
Riko mengayuh sepeda yang mereka naiki menuju taman yang berada didepan mereka. Setelah memarkir sepeda mereka, Riri pun mearik tangan Riko tak sabaran menuju gerobak somay yang lumayan ramai sore ini.
“Bang, pesan dua ya.”seru Riri.
Riko tertawa melihat Riri dengan matanya yang berbinar saat menerima dua kotak plastik berisi somay setelah menyerahkan selembar sepuluhribu.
“Yuk kak, kita duduk diujung taman ini aja. Diujung pohonnya rindang semua loh, suasananya asik.”seru Riri.
Riko mengangguk dan mengikuti Riri dari belakang.
Tiba-tiba Riri melihat sosok yang dikenalnya. Langkahnya terhenti, dan Riko pun terpaksa menghentikan langkahnya saat gadis yang berada didepannya berhenti mendadak.
“Kamu kenapa?”
Riko memandang kearah yang membuat Riri diam mematung. Dua orang itu, dipojok taman. Berbicara dan saling memandang. Dimas dan Rena!
Riri menjatuhkan somay yang dibawanya dan berlari meninggalkan taman sambil menahan tangisnya.
“Riri, tunggu!”Riko berlari menyusul Riri tanpa perduli wajah kaget dua sosok yang mereka lihat tanpa sengaja tadi.
***
Dimas dan Rena menoleh kaget saat mendengar seseorang berteriak.
“Riri, tunggu!”
Dengan mata terbelalak dan perasaan kaget mereka saling memandang. Dimas menunduk dan menahan air matanya agar tidak keluar.
“Apa yang harus aku katakan pada Riri?”ucap Dimas pelan.
***
“Riri, kamu kenapa?”tanya Riko sat mereka sudah berada dirumah Riri dan Riri menangis tersedu-sedu di gazebo rumahnya.
“Di..dimas kak..”
“Dimas kenapa?”
“Dimas tunangan dengan Rena. Dan aku nggak tau akan hal itu. Mereka menyembunyikannya dari aku!”pekik Riri histeris.
Riko menarik tubuh mungil Riri yang terguncang dalam pelukannya, “Riri, tolong jangan gini..”
“Aku sayang sama Dimas kak! Aku sayang!!”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar