Powered By Blogger

Sabtu, 21 Januari 2012

Jatuh Cinta Lagi :: Ending (True Story)


            Dari judulnya saja, kalian pasti tahu kalau kisah ini kubuat untuk menuliskan akhir dari kisahku yang aku ceritakan pada cerita pendek sebelumnya kan? Ya, memang benar. Di cerita pendek ku yang sebelumnya, aku menuliskan tentang kisahku bersama dengan seniorku di kampus, yang semakin hari semakin dekat dengannya.
            Rasanya memang aneh, dari hanya perkenalan singkat dalam suatu kegiatan, lalu lanjut pada SMSan, akhirnya bisa seperti ini.. ^^
            Terima kasih untuk happy ending yang kamu berikan..

***

            Dalam hidup ini, selalu ada jalan yang mengharuskan kita untuk memilih. Aku, memilih untuk bergerak maju. Setahun belakangan ini aku diam ditempat, dan berharap masa lalu ku akan menjemputku kembali. Tapi apa yang ku dapat? Dia pergi dengan masa depannya. Saat aku menoleh kebelakang, akhirnya aku sadar, kalau dia tidak akan kembali lagi. Masa lalu, sudahlah menjadi masa lalu. Mereka akan menjadi tulisan cerita dalam buku lama kita, tidak akan mengisi buku baru lagi.
            Cukup berat untuk melangkah kedepan. Mengingat waktu setahun yang ku habiskan sia-sia itu. Kini, aku berjalan ke depan. Sebenarnya motivasi yang mendorongku maju hanya ada satu, bahagia. Hanya satu sata itu yang membuatku bangkit. Aku ingin bahagia, dan aku harus mencari bahagiaku. Dan akhirnya aku berjalan maju. Mencoba menelusuri jalan yang ada didepanku dan mencari dengan perlahan masa depan ku yang membahagiakan itu.
            Saat aku berjalan, aku melihatnya. Ternyata ia sedang berjalan disampingku. Awalnya aku ingin menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan bersamaku, tapi aku tidak bisa.. Dia sudah ada yang memiliki.
            Aku harus menahan rasa ini. Tapi berapa lama sih kita dapat bersembunyi dibalik kepura-puraan?? Huh! Lebih baik aku jujur saja.. Aku harus menerima apapun kenyataan dan pilihannya nanti.

***

            Kita tidak bisa memilih akan seperti apa kisah kita. Karena kita hanya bisa meneruskan cerita yang sudah Dia buatkan untuk kita. Aku memilih untuk mencintainya, walaupun ku tahu mungkin dilihat dari suatu sisi menjadi aku adalah salah, tapi apakah salah kalau aku mencintainya? Apa aku yang salah kalau kami baru dipertemukan sekarang?
            Kadang kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Apa yang kita anggap benar tak selamanya benar, begitu pula dengan salah. Yang selama ini salah bisa jadi adalah yang benar. Maka dari itu Dia menyuruh kita untuk memilih sendiri jalan hidup kita. Karena hanya kita yang dapat menentukan benar dan salahnya yang terbaik untuk kita. Bahagia kita ada di tangan kita sendiri.

***

            Dia memilih jalannya sendiri. Awalnya aku agak sedikit bersalah, tapi dia telah memilih. Aku akan buktikan padanya kalau apa yang dia pilih tidak lah salah. Aku harus membuatnya bahagia. Harus!
            Ya seperti di ceritaku yang awal, aku menulis cerita seperti itu, dan dia membacanya. Pada hari tiu, dia bertanya padaku, apakah senior yang ku maksud adalah dirinya?
            Aku gugup setengah mati! Apa yang dia tanya tidak langsung aku jawab. Aku berputar-putar mencari jawaban sebelum akhirnya aku mengaku kalau senior yang kusuka itu adalah dirinya.
            Debaran jantungku makin menjadi saat ia memegang tanganku. Oh, Tuhan. Aku benar-benar sayang dia. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahku, dia terus memegang tanganku, dan bertanya padaku. Aku gugup. Apalagi dia melihat wajahku dari kaca spion, aku hanya bisa tertunduk malu.
            Dia bertanya apa yang kuinginkan untuk akhir ceritaku? Aku ingin akhir yang bahagia, ujarku. Ia kembali bertanya, kalau aku ingin akhir yang bahagia berarti hanya ada satu kemungkinan, dan ia pun bertanya..
            “Iin mau jadi pacar abang?”
            Oh Tuhan! Jelas saja aku mau.. ^^
            Terima kasih atas akhir cerita yang membahagiakan ini.. Semoga akhir bahagia ini akan terus kita bawa hingga akhir zaman nanti...
©271211

SELESAI

Jatuh Cinta Lagi (True Story)


            Cinta, hal yang masih sulit untuk aku mengerti. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ingin ditimbulkan oleh cinta. Tak cukupkah cinta yang selama ini melukai ku? Tak cukup pula kah cinta selama ini menjadikanku sosok rapuh yang selalu menangis?
            Cinta yang selama ini membuai ku dalam dekapan hangatnya. Cinta yang selama ini mengikatku dengan tali emasnya. Cinta yang datang dan pergi semaunya. Tak terpikirkah olehnya tentang apa yang kurasakan?
            Terlintas dalam pikiranku, tak ingin merasakannya lagi. Tak ingin bertemu lagi.  Sudah kututup seluruh pintu dan jendela hatiku, tapi tetap tak bisa. Ia masuk dari sela-sela hatiku yang kecil, perlahan, dan akhirnya menguasai dan mengisi penuh hatiku – kembali.
            Kini, bisa apa aku? Aku hanya bisa menjalaninya, dan berharap inilah cinta terakhirku.... Semoga saja....

***

            Aku menatap lurus kearahnya. Aku mengenalnya – bukan dalam artian memang mengenalnya, tapi aku tahu kalau dia adalah salah satu seniorku di kampus.
            Matanya. Sejak tadi yang menjadi pusat perhatianku adalah matanya. Seperti ada tarikan medan magnet yang kuat, yang menarik perhatianku untuk selalu menatap mata itu dari kejauhan. Hal konyol memang, curi-curi pandang terhadap senior yang kebetulan mengikuti kegiatan yang sama denganku. Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin kebiasaanku yang bisa terpesona dalam pandangan pertama, saat itu sedang kambuh.
            Semoga saja ini pertanda jodoh, aku menjadi salah satu teman sekelompoknya, dan dia duduk tepat disamping ku. Waah, tidak tentu rudu sudah bunyi debar jantungku. Rasanya seharian itu adalah hari tersenyum bagiku.
            Ternyata rasa penasaranku tidak sampai disitu saja. Saat sampai dirumah, aku langsung mencari akun facebooknya – aku memang sudah lama tahu namanya, karena suatu saat yang lalu, dia pernah mengomentari tulisan dindingku di dinding temannya, dan kami pun sempat berbincang sedikit dalam komentar itu.
            Yak! Apa yang ku cari dapat sudah. Nomor handphone nya! Firasatku mengatakan, aku harus mengiriminya sms terlebih dahulu, agar dia tahu aku. Sempat ragu memang, tapi setelah mendapatkan semangat dari abangku – teman sekelasku sebenarnya, tapi sudah kuanggap sebagai abangku – akhirnya aku pun memberanikan diri untuk mengiriminya sms.
            Ternyata mendapat sambutan yang baik. Alhamdulillah ya, sesuatu sekali! ^^
            Tanpa aku rencanakan sebelumnya, ternyata perkenalan ini akan terus memasuki suatu hubungan yang kembali memposisikanku dalam keadaan yang dulu aku rasakan, yaitu cinta....

***

            Hidup ini memang penuh dengan persimpangan jalan yang mengharuskan untuk memilih. Itu lah yang sedang dihadapinya. Memilih untuk tetap berjalan dijalan hidupnya yang lama, atau beralih menuju jalan baru, yang mungkin aku bisa saja menunggunya di jalan baru itu.
            Aku pasrah. Apapun pilihannya, aku harus menerimanya. Walaupun jujur didalam hati ini aku ingin menjadi orang yang mengisi hatinya, karena saat ini hatiku pun telah terisi oleh dirinya.
            Bisa dibilang rasa ini terlalu cepat. Terlalu kilat, dan terlalu awal menyimpulkan bahwa rasa ini adalah cinta.  Tapi aku cemburu saat dia tak ada kabar dan sedang bersama kekasihnya. Aku sedih saat ia tak sengaja mengira diriku sebagai pacarnya dan bukan sebagai aku. Aku menangis saat ia mengatakan menganggapku sebagai adik yang disayanginya, melebihi dari adik tingkatnya yang lain. Adik?! Tak sadarkah ucapannya itu melukai ku?! Sebenarnya tak ingin aku terjebak dalam posisi menyebalkan ini! Bersembunyi dibalik dinding tinggi yang bernama kekaguman. Aku ingin dia tahu, bahwa aku menyayanginya. Aku tak tahu seperti apa wujud sayangku ini padanya, yang aku tahu, aku sedih bila harus kehilangannya. Ku rasa hal itu sudah menjadi bukti yang kuat kalau ia sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku....

***

            Jatuh cinta lagi, lagi lagi ku jatuh cinta... Aku jatuh cinta, kepada seorang pria...
            Saking kacaunya pikiranku ini karena cinta yang kini melandaku, lirik lagu J-rock jadi ku ubah-ubah. Untung saja personil band tersebut tidak mendengarnya, jadi mereka tidak melakukan penuntutan padaku karena dengan beraninya merubah lirik lagu mereka semauku dan menyanyikannya pula didalam kamar mandi! Parah, parah..
            Aku seperti terserang sindrom yang menyebabkan bunga-bunga seperti berterbangan disekeliling kepalaku, akibatnya aku terus tersenyum dan bahagia. Bagaimana tidak?! Pergi dan pulang kampus bersama dia yang saat ini sedang dalam proses pengisian penuh dalam hatiku. Waktu-waktu bersamanya yang selalu saja terasa singkat. Keberadaannya yang semakin hari semakin spesial untukku. Waktunya yang hampir sering dihabiskan bersamaku.
            Bahagia? Tentu saja. Rasanya saat ini sangat membahagiakan. Semoga bahagia ini takkan berakhir cepat. Aku hanya berharap, cinta yang kualami ini akan membahagiakanku hingga akhir, dan tidak akan pergi lagi.. Jangan pergi....

***

            Kamu, kalian semua yang membaca cerita yang saat ini sedang ku alami ini, pasti bertanya-tanya, “Bagaimana akhir cerita cinta mu ini, Iin?”
            Kalau kalian ingin aku berkata jujur, “Aku tidak tahu.”
            Aku tak tahu kapan cerita ini berakhir, bagaimana ujung dari cerita ini. Apakah bahagia, atau sebaliknya? Akankah cinta itu membahagiakan ku hingga akhir, atau justru cinta itu lagi-lagi menyakitiku dan menjadikanku makhluk yang rapuh karena tersakiti oleh cinta?
            Kalau aku mau, bisa saja aku mengarang sendiri akhir dari kisahku ini sekarang juga. Toh cerita ini ku tuangkan dalam sebuah cerita pendek yang sedang kalian baca ini. Jadi tidak masalah bukan, bila aku mengarangnya?  Semua kendali cerita pendek ini dalam tanganku yang sedang menari indah di atas keyboard ini.
            Tapi apalah arti happy ending dalam sebuah tulisan dibandingkan kenyataannya? Aku tak ingin terlalu berangan dengan menulis kisah ku ini berakhir bahagia dalam tulisannya. Aku takut bila anganku itu terlalu tinggi dan aku akan sangat kecewa bila kenyataannya nanti tak seindah dalam cerita yang akhirnya ku karang.
            Jadi ku putuskan saja saat ini, akan ku akhiri cerita pendek ini sampai disini. Maaf bila ceritaku ini menggantung dalam ketidak jelasan. Bukan karena cerita ku ini yang tidak jelas, namun karena aku belum memiliki akhir dari cerita ini.
            Tapi aku janji, saat aku mendapatkan akhir cerita ku ini, entah akhir yang bahagia atau tidak, aku akan membagikannya kembali dalam sebuah tulisan yang akan ku buat untuk menyelesaikan cerita pendek ini.
            Kini, aku akan berharap, berdoa dan terus berusaha, untuk mewujudkan cinta itu hadir kembali dan utuh dalam hatiku. Semoga tidak hanya angan, dan bukan sekedar khayalanku belaka.
            Dari tulisan ini aku ingin dia tahu, bahwa aku menyayanginya, lebih dari yang aku pikirkan sebelumnya. Aku berharap ia tidak pergi, jangan pergi untuk selamanya....
SELESAI

Kalau Cinta Tuh Bilang Dong!


Kalau  Cinta  tuh  Bilang  dong!

            Aura  duduk  di  tepi  lapangan  basket,  sambil  sesekali  melihat  jam  tangannya  dan  melihat  ke  kanan  dan  ke  kiri.  Sudah  pukul  tiga,  tapi  ia  belum  melihat  Rio  sama  sekali.  Dihubungi  daritadi,  nomornya  selalu  saja  sibuk.  Dikirimi  sms  apa  lagi,  tidak  dibalas  juga.
            Sambil  terus  menunggu,  Aura  berusaha  untuk  menahan  air  matanya  agar  tidak  menetes  lagi  siang  ini.  Cukup  sudah  ia  menangis  tanpa  henti  selama  seminggu  ini,  dan  hari  ini  ia  tak  ingin  lagi!  Walau  setidaknya   hanya  untuk  hari  ini  saja.
            Akhirnya,  setelah  hampir  dua  jam  ia  menunggu,  sosok  Rio  muncul  juga  dihadapannya.  Rio  masih  mengenakan  celana  abu-abunya,  walau  baju  seragam  putih  kini  telah  berganti  menjadi  kaus  oblong berwarna  hijau.
            “Ra  hampir  dua  jam  disini  nungguin  kamu  sendirian.  Kamu  darimana  kok  baru  muncul?  Tadi  Ra  ke  kelas  kamu  juga  udah  nggak  ada  siapa-siapa.”
            Rio  melemparkan  tasnya  kebawah.  “Udahlah,  Ra!  Kamu  nggak  perlu  tau  aku  darimana  dan  mau  kemana.  Kita  tuh  udah  putus  dari  seminggu  yang  lalu,  jadi  tolong  jangan  ganggu  aku  lagi!”
            Aura  mengusap  air  matanya  yang  sedikit  lagi  jatuh.  “Ra  minta  maaf,  Rio.  Ra  emosi  waktu  itu.  Ra  nggak  bisa  mengendalikan  diri  Ra  sendiri.  Rio  maafin  Aura  ya?  Ra  masih  sayang  banget  sama  Rio.  Ra  nggak mau  kehilangan  Rio.”ucapnya  dengan  suara  yang  bergetar.
            “Udahlah,  Ra!  Aku  risau  kayak  gini  terus!  Lebih  baik  kamu  pulang  sekarang.  Aku  nggak  mau  liat  muka  kamu  lagi.  Pergi  deh  sana!”seru  Rio  sambil  menepiskan  tangan  Aura  yang  hendak  menyentuh  tangannya.
            Dengan  perasaan  sedih,  Aura  berlari  meninggalkan  lapangan,  sambil  terus  menangis  sepanjang  perjalanan  pulang.
***
            Mona  mondar-mandir  kebingungan  dikamar  Aura.  Memang  bukan  hal  asing  lagi  melihat  seorang  Aura  menangis  meraung-raung  seperti  anak  kecil.  Apalagi  menangis  karena  putus  dari  pacar,  itu  sih  biasa  sudah  dilihat  Mona  sejak  tiga  tahun  mereka  kenal.  Tapi  kali  ini  agak  sedikit  berbeda  masalahnya.
            Aura  memang  sudah  putus  dengan  Rio  sejak  satu  minggu  yang  lalu,  apalagi  penyebabnya  adalah  perasaan  Aura  yang  terlalu  sensitive  dan  sangat  cemburu.  Jadilah  tanpa  tertahankan  lagi  kata  “putus”  yang  menyakitkan  keluar  tanpa  tertahankan  dari  bibir  Rio  karena  emosi  melihat  kecemburuan  Aura  terhadapnya.
            Sejak  putusnya  Aura  dengan  Rio,  Aura  seolah  menjadi  orang  yang  berbeda.  Ia  pingsan  saat  itu  akibat  terpukulnya.  Aura  juga  selalu  memanggil-manggil  nama  Rio  saat  pingsan  kemarin  itu.  Mona  yang  berada  disamping  Aura  hanya  bias  memeluk  Aura  dan  menenangkannya  saja,  karena  memang  sepertinya  Aura  sangat  kehilangan  Rio.
            Hari  ini  terulang  lagi.  Aura  menelepon  Mona  sambil  menangis  tersedu-sedu,  hingga  membuat  Mona  langsung  tancap  gas  dan  dating  kerumah  Aura  beberapa  menit  kemudian.  Untunglah  rumah  mereka  berdua  tidak  terlalu  jauh,  jadi  tidak  perlu  memakan  waktu  yang  lama  untuk  pergi  ke  rumah  Aura.
            Aura  memeluk  boneka  dolphin  kesayangannya.  “Aku  nggak  bisa  ngelupain  dia,  Mon.  Aku  sayang  banget  sama Rio.  Bahkan  udah  cinta,  Mon.  nggak  bisa  ngilangin  dia  dari  pikiran  aku.”rengek  Aura  disela  isak  tangisnya.
            “Iya,  Ra.  Aku  tau  kok.  Tapi  mau  kayak gimana  lagi  coba?  Kalian  tuh  masih  sama-sama  emosi,  Ra.  Lebih  baik  kalian tenagkan  pikiran  kalian  masing-masing  dulu.  Kalau  memang  sudah  benar-benar  tenang  dan  tidak  emosi  lagi satu  sama  lain,  barulah  kalian  icara  lagi  berdua  dengan  baik-baik tanpa  emosi,  Ra.  Menyelesaikan  masalah  itu  perlu  waktu  dan  kepala yang  dingin   untuk  berpikir,  Ra.”
            Aura  hanya  bisa  mengangguk  lesu  sambil  melanjutkan  isak  tangisnya  dibalik  selimut  dan  boneka  dolphin.
***
            Aura  hanya  duduk  dibangkunya  walau  bel  tanda  istirahat  telah  berbunyi.  Ia  tak  memiliki  selera  untuk  keluar  kelas,  barang  untuk mencari  jajanan  sekalipun.  Ia  hanya duduk  termangu  ditempatnya,  sambil  sesekali  memejamkan  matanya  karena  terasa  berat  akibat  semalaman  menangis  terus-menerus.
            “Ra  nggak  ke  kantin?”tanya  Miko  yang  ternyata  sudah  berdiri  didepannya  tanpa  ia  sadari.
            Aura  mencoba  untuk  sedikit  tersenyum,  walau  sangat  terlihat  hanya  dipaksakan  saja.  “Nggak.  Malas  mau  keluar kelas.”
            “Ini  buat  Aura  aja.”Miko  meletakkan  sepotong  coklat  dan  segelas  air  mineral  diatas  meja  Aura.
            Aura  melongo  ditempatnya  melihat  Miko  meletakkan  jajanannya  diatas  meja.  “Kok  kasi  ke  Aura  sih?  Kamu  makan  apa  jadinya?”
            Miko  tertawa  sambil  menggaruk-garuk  kepalanya  yang  sebenarnya  tidak  gatal.  “Aku  sih  udah  makan  banyak  dikantin.  Maklum  lah, porsi  kuli  kan  agak  banyak  gitu. Hhee.”
            “Makasih,  ya.”
            Miko  mengangguk,  “Ok,  sama-sama.  Hemm,  Aura  kenapa  sih  beberapa hari  ini murung  terus?  Biasanya  selalu  ceria dan  rebut  dikelas,  tapi  belakangan  ini  malah  jadi pendiam.  Nggak  asik  banget  ah.”hibur  Miko.
            Aura  tertawa  mendengar  ucapan  Miko  barusan.  “Lagi  ada  masalah  aja.  Jadi  ya  gini  deh.”
            “Hemm,  jangan  terlalu  dipikirin  banget  ya,  Ra.  Jangan  nyakitin   diri kamu  sendiri.  Aura  masih  punya  banyak  teman  disini.  Miko  juga   ada  nih  buat  Aura.  Jadi  jangan  sedih terus  ya.  Cepat  kembali  ceria  seperti  Aura  yang  biasa  lagi  ya.”ucapnya  sambil  mengerlingkan  mata.
***
            Sejak  saat  itu,  Aura  mulai  dekat  dengan  Miko.  Miko  selalu  menghibur  Aura  yang bersedih  karena  putus  cinta.  Miko  memberikan  perhatian  yang  telah  hilang  pada  Aura.  Disaat  Aura  sepi  dan  sedih,  Miko  pasti  langsung  dating  apabila  diminta.
            Ia  menjadi  lebih  sering  mengantar  Aura  kemanapun,  karena  ia  tak  ingin  melihat  Aura  terus  bersedih.  Terkadang  mereka  pun  berangkat  dan  pulang  sekolah  bersama.  Perlahan  Aura  mulai  bisa  melupakan  kesakitannya  terhadap  rio,  walaupun sebenarnya  ia  tetap  tak  bisa  menghilangkan  Rio  dari  hatinya.
***
            Rio  menarik  tangan  Mona  saat  mereka  berpapasan  didepan  koperasi  sekolah.  “Aku  mau  ngomong.”ucapnya  dengan  singkat,  padat,  dan  jelas.
            Mona  mengerutkan  keningnya  heran.  “Ngomong  ya  ngomong  aja,  kok  susah  banget  sih?”tanyanya  heran.
            Rio  terlihat  gusar,  dan  terlihat  pula  kekhawatiran  diwajahnya.  “Aura  lagi  dekat  sama  Miko  ya??”selidiknya.
            “Hemm,  setau  aku  sih,  dia  Cuma  dekat  gitu  aja,  nggak  lebih.  Memangnya  kenapa?  Bukannya  kalian  udah  putus,  dan  kamu  nggak  mau  ambil  pusing  dengan  urusan  Aura?  Kan  kamu  sendiri  yang  bilang  ke  Aura.”
            “Haduuh,,  kok  dia  nggak  ngerti  banget  sih?  aku  kayak  gitu  juga  bukan  karena  nggak  mau  peduli  lagi.  Tapi  emang  susah  mau  dijelasinnya.  Ya  ampun,  kenapa  sih  dia  dekat  sama  Miko?!  Kenapa  harus  Miko?!”
            Mona  mengangkat  bahunya,  “Mana  aku  tau.  Memangnya salah  dia  dekat  dengan  Miko?  Miko  baik kok  sama  Aura.  Aku  ikut  senang  bisa  liat  Aura tertawa  lagi  sekarang.”
            “Ya  ampun  Mona,  aku  nih  dari  SMP  kenal  Miko.  Enam  tahun  aku  kenal  dia.  Aku  tau  baik  dan  buruknya  Miko.  Aku  nggak  mau  Aura  kenapa-kenapa.  Terserah  deh  dia  mau   dekat  sama  siapapun,  asal  jangan  sama  Miko,  tolonglah,  Mon,  kamu  kasi  tau  Aura,  jauhin  Miko.”
            “Mana  aku  bisa  suruh  dia  jauhin  Miko,  Yo.  Toh  sejauh  ini  yang  aku  liat  Miko  malah  buat  Aura  tertawa  lagi.  Nanti  kalau  aku  suruh  Aura  jauhin  Miko,  malah  nanti  Aura  yang  gimana  gitu  sama  aku.  Kan  jadi  aku  yang  nggak  enak.  Ngerti  posisi  aku  juga  dong,  Yo.”
            “Tapi  aku   nggak mau  dia  kenapa-kenapa,  Mon.”
            Mona  menggeleng-gelengkan  kepalanya  heran.  “Kamu  nih  aneh,  Yo.  Kalo  emang  kamu  khawatir,  ya  kamu  lindungi  lah  dia.  Aura  tuh  selalu  dengarin  kata-kata  kamu,  nurut  sama  kamu.  Ngapain  juga  sih  kamu  ngerasa  nggak  enak  mau  ngasi  tau  dia?! Kalo  emang  kamu  masih  sayang  sama  dia,  Yo,  bilang dong!  Jangan  jadi  pengecut  buat  nyatain  perasaan  sendiri  pada  orang  yang  kita  sayang.  Jangan  sampai  nyesal  nantinya,  Yo.”ucap  Mona  sambil  berlalu  meninggalkan  Rio  yang  tertegun  ditempatnya.
***
            Aura  keluar  dari  kamar  sambil  mengusap  kedua  matanya  yang  masih  terasa  berat  karena  mengantuk,  baru  bangun  tidur.
            Ia  berjalan  pelan  sambil  membuka  pintu  rumahnya.
            “Selamat  pagi.”sapa  Rio  saat  Aura   membuka  pintu.
            “Hah?!  Rio?!  Ngapain  kesini?  Ya  ampun,  nggak  bilang-bilang  lagi.  Ra  kan  baru  bangun,  masih  jelek  gini.”ucapnya  sambil  cemberut.
            Rio  tertawa  sambil  mencubit  kedua  pipi  Aura  yang  tembem,  “Biar  aja  jelek.  Nggak  peduli  kok.”
            Aura  melongo  mendengar  ucapan  Rio  barusan.
            “Sudah,  mandi  gih  sekarang.  Terus  siap-siap  ya  kita  pergi.”
            Aura  mengerutkan  keningnya  heran.  “Memangnya  mau  pergi  kemana?”
            Rio  mengedipkan  sebelah  matanya.  “Rahasia  dong,  ya  udah  siap-siap  aja  dulu  sana.  Nanti  Rio  kasi  tau  kamu  kok.”
            Aura  mengangguk  dan  langsung  bergegas  mandi  dan  berisap-siap.
            Setengah  jam  kemudian  Aura  sudah  berada  diboncengan  belakang  motor  Rio.  Dengan  sedikit  enggan,  Aura  meletakkan  tangannya  disamping  tubuh  tegap  Rio  yang  melindunginya  dari  terpaan  angin dibelakang  boncengan.
            Tiba-tiba  tangan  Rio  terulur,  dan  menarik  kedua  tangan  Aura  agar  memeluk  tubuhnya  dengan  erat.  “Kok  daritadi  nggak  meluk  Rio  sih?  Nanti  kalau  tiba-tiba  jatuh  gimana?  Kan  nanti  Rio  yang  susah  jadinya  kalau  kamu  kenapa-kenapa.  Jangan  buat  Rio  khawatir  ya, Ra.”ucapnya  pelan  sambil  terus  memegang  tangan  kiri  Aura  dengan  tangan  kirinya.
            “Iya,  maaf.”sahut  Aura  pelan,  sambil  mengeratkan  pelukannya  pada  Rio.
***
            “Pernah  pergi  sejauh  ini  sebelumnya?”tanya  Rio   saat  mereka  sudah  sampai  ditepi  danau  buatan  yang  lokasinya  lumayan  jauh  dari  pusat  kota.
            “Kalau  pergi  tanpa  bunda,  ini  yang  pertama  kali  yang  paling  jauh.”ucapnya  terkagum-kagum  melihat  pemandangan  yang  menenangkan  hati.
            Rio  tersenyum  sambil  duduk  disamping  Aura. “Makasih  ya  udah  mau  ikut  kesini,  Ra.”
            Aura  tersenyum  manis.  “Iya  sama-sama.  Hemm,  memangnya  ada  apa  kamu  ajak  Ra  ketempat  jauh  ini?”
            Rio  menatap  lurus  kearah  mata  Aura.  “Ra,  aku  mau  Tanya  sesuatu  sama  kamu.”
            “Apa?”
            “Kamu  sedekat  apa  sih  sama  Miko?”Tanya  Rio  dengan  wajah  cemburu  yang  tidak  dapat  disembunyikannya.
            Aura  tersenyum  manis.  “Hanya  teman  biasa  kok,  nggak  lebih.  Miko  hibur  Ra  saat  Ra  sedih  karena  kehilangan  kamu,  Yo.  Nggak  lebih  dan  nggak  ada  perasaan  apa-apa  kok,  Yo.  Karena  hati  ini  hanya  untuk  satu  orang  aja.”
            Seketika  Rio  langsung  memeluk  Aura  dengan  erat.  “Maafin  Rio  karena  Rio  salah  bersikap  sama  kamu  ya,  Ra.  Rio  masih  sayang  sama  kamu.  Jujur,  aku  khawatir  banget  saat  liat  kamu  dekat  dengan  Miko.  Sebenarnya  Rio  juga  cemburu  sih,  Rio akui  itu.  Rio  masih  sayang  kamu  juga, Ra.  Kamu  mau  jadi  pacar  Rio  lagi?”
            Aura  mengangguk  sambil  tersenyum.  “Iya.  Ra  mau  jadi  pacar  kamu  lagi.”
            Rio  menatap  lurus  ke  mata  Aura.  “Rio  janji,  mulai  sekarang  Rio  nggak  akan  pernah  ragu  untuk  katakn  cinta  setiap  hari  sama  kamu.”ucapnya  lembut  sambil  mengecup  lembut  kening  Aura. ■