Powered By Blogger

Minggu, 20 November 2011

(sinopsis) "LOVE ARITMATIKA"

Aritmatika Rizka Ardinata (Tika) siswi kelas 2 SMA. Namanya yang "matematika" banget berasal dari ayah dan bunda nya yang notabene dosen dan guru matematika. Tika dan adiknya, Arabeta Rizka Ardini (Beta) jadi kebagian nama "matematika" itu!

Alfa, teman sekolah Tika yang ternyata adalah tetangga, selalu saja mengejek Tika, dimanapun dan kapanpun!

Gamma, cowok pendiam, dan selalu ada disaat Tika butuh pelarian dari kejengkelannya terhadap Alfa.

Teta, cowok ter-FAMOUS di sekolah ini, ramah, dan baik sekali pada Tika

Tika dilema menghadapi 3 cowok yang bernama "sudut matematika" itu. ALfa yang menjengkelkan, tapi sangat dirindukan Tika bila tak ada kehadirannya. Gamma, yang selalu memberinya masukan dan nasihat, selalu melindungi, dan memberikan kenyamanan bagi Tika. Teta, populer, selalu memperlakukan Tika bak seorang Putri yang sangat beruntung di dunia.

Kemudian, pertemuan tidak sengaja dengan Tarra, saat ia lari dari kejaran Alfa yang pantang menyerah menuntut jawaban atas pernyataan cintanya pada Tika.

Siapakah yang akan Tika pilih sebagai pasangan matematika nya? apakah ada diantara cowok "sudut" yang dekat dengannya, atau dengan Tarra yang baru dikenalnya?

Sabtu, 19 November 2011

Mawar Merah


            Putri Amalia – Putri, berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih sepi pagi ini. Putri memang selalu datang awal kesekolah, walaupun bel masuk berbunyi pukul tujuh, tapi pukul enam Putri sudah turun dari rumah, dan lima belas menit kemudian sampailah ia disekolah yang masih lengang ini.
            Putri meletakkan tas ranselnya diatas meja, dan menghela nafas lega saat duduk dibangkunya yang terletak ditengah kelas. Masih ada waktu belajar sebelum ulangan fisika nanti mulai, pikir Putri sambil mengeluarkan buku catatan fisikanya dari dalam tas.
            Putri mengernyitkan keningnya heran, seperti ada sesuatu yang mengganjal di laci mejanya. Tangannya menggapai-gapai kedalam laci meja, betapa terkejutnya ia mendapati buket mawar merah yang kini tergenggam erat ditangannya.
            Putri mengambil secarik amplop berwarna pink yang terselip diantara mawar-mawar merah yang merekah indah dalam buketnya. Putri tertegun saat membaca isi surat tersebut, dan tersipu malu.

Dear Putri,
Bukanlah aku pujangga yang dapat menyusun kata indah nan rupawan untukmu.
Bukan pula lah aku seniman yang dapat melukiskan indahnya cintaku diatas sebuah kanvas yang indah untuk kuserahkan padamu.
Bukan pula lah pelagu yang dapat menyanyikan sebait lagu cinta penuh kasih untukmu.
Bila merpati adalah contoh yang tak ingkar janji, adalah contoh yang menyejukkan hati, bila pula lah merpati itu dapat ku jadikan saksi..
Terimalah mawar merah persembahan dari hati yang kusembahkan untukmu..
Bukan memang buatan tanganku, bukan pula tanaman hasilku, tapi dariku..
Kuberikan spesial untukmu..
Mawar Merah, penyemangat hatiku..

-AR-



            Putri melipat kembali surat tersebut dan menyelipkannya kedalam buku catatan fisikanya. Sambil tersenyum manis Putri menghirup pelan aroma wangi dari mawar merah yang kini digenggamnya.

***

            “Putri!”
            Putri membalikkan badannya dan melihat Lisa berlari menyusulnya, “Ada apa?”
            “Duuh, kamu tuh jalan cepet banget sih! Bel istirahat bunyi, langsung aja nyelonong keluar kelas.”sungut Lisa sambil menormalkan kembali nafasnya yang terengah-engah.
            “Kan biar sempet makan dulu di kantin, Lis. Jadi ntar sebelum masuk masih ada waktu ke perpus.”sahut Putri sambil tersenyum.
            “Duuh, iya deh iya terserah. Buruan yuk ke kantin. Cacing dalam perutku udah pada demo nih, pada pusing semua mereka ngerjain soal ulangan fisika tadi!”
            “Memangnya cacing dalam perutmu sekolah juga, Lis?”
            “Aah, aku sama cacing dalam perutku kan one heart gitu, jadi kalo aku pusing, mereka ikut pusing juga. Yuk aah buruan..”
            Lisa menarik tangan Putri yang terkikik geli mendengar ucapannya barusan. Ternyata ulangan fisika bikin semua makhluk pusing yaa.. :D

***

            “Put, kok kamu dari tadi pagi senyum-senyum terus sih?”tanya Lisa.
            Putri menutup majalah yang tadi sedang dibacanya. Ia meraih boneka beruang besar warna coklat miliknya dan memeluknya dengan erat. “Pengin tau?”
            “Ya iya, lah. Ada apaan sih??”
            Putri terkikik geli melihat ekspresi wajah Lisa yang penasaran. Putri memang sudah mengenal Lisa sejak SMP, saking dekatnya dengan Putri, hampir setiap hari setelah pulang sekolah, Lisa pasti selalu mampir kerumah Putri, jadi tak heran bila rumah Putri ini dinobatkan sebagai “rumah kedua” bagi Lisa. Karena kedekatan mereka inilah, Putri jadi tau tentang sifat cepat penasaran yang dimiliki Lisa, sehingga sering kali Putri mengerjai Lisa seperti ini, hingga ia melemparkan bantal kearah Putri saking kesalnya.
            “Putrii! Buruan kasi tau, ngapa. Suka banget siih bikin aku penasaran!”sungut Lisa kesal.
            “Hem, jadi pengen tau niih?”tanya Putri sambil mengerling nakal.
            “Sekali lagi kamu nanya, aku timpuk pake kursi nih!”ancam Lisa dengan gaya seolah ingin mengangkat kursi.
            “Oke oke, hemm, tadi pagi aku dapat bunga mawar, Lis. Ada didalam laci mejaku. Tuh bunganya yang diatas meja belajar aku.. ada suratnya juga.”
            Lisa menyambar surat beramplop pink itu dengan semangat, dan membacanya. “AR? Siapa, Put?”
            Putri memeluk bonekanya dengan erat dan menerawang jauh keluar jendela kamarnya, “Seseorang diluar sana, yang aku yakin pasti suatu saat nanti akan datang buat aku.”
            Lisa menatap Putri yang senyum sendiri dengan bingung.

***

            Putri mematut dirinya sekali lagi – sebelum keluar dari kamar dan berangkat sekolah – didepan cermin. Putri merapikan rambutnya, tersenyum pada bayangan dirinya yang terpantul didepan cermin, kemudian keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju mobilnya yang tersimpan manis didalam garasi.
            Putri baru akan membuka pintu mobilnya saat mbok Nah memanggilnya dari dalam rumah. “Non, non Putri...”
            “Iya, kenapa mbok?”
            “Tadi pagi ada orang yang kirim bunga nih untuk non Putri..”mbok Nah menyerahkan buket mawar merah kepada Putri.
            Putri tersenyum, “Terima kasih, mbok. Putri berangkat sekolah dulu ya.”
            “Iya hati-hati non.”
            Putri menyalakan mesin mobilnya dan melirik sekilas pada buket mawar yang disimpan dijok sampingnya. Aku masih menunggu kamu...

***

Dear Putri,
Kamu tau, sudah berapa lama waktu berlalu?
Sudah berapa banyak hari yang terlewati?
Seberapa banyak menit dan detik yang terlangkahi?
Apakah kamu masih disana?
Bolehkah aku datang kembali?
Kembali bersamamu, menemanimu, bahkan selalu disisimu hingga akhir nanti?

-AR-

***

            Putri duduk di ayunan taman belakang rumahnya. Mata indahnya menerawang jauh, tangannya terus mendekap erat buket mawar merah yang diterimanya tadi pagi. Kapan kamu kembali?
            Ddrrtt..ddrrt.. handphone Putri bergetar dalam saku celananya. Putri tertegun melihat pesan dari sederetan angka yang sangat dikenalnya. Angka yang berarti dalam hidupnya, dan hidup.. mereka.

From: +62852********
Bolehkah selamanya aku disisimu?

            Putri meneteskan air matanya, saat dirasakannya seseorang menyentuh pundaknya dengan pelan. Putri membalikkan badannya dan tersenyum melihat sosok yang berdiri didepannya kini. Putri membelai wajahnya pelan, meraskan hembusan nafasnya di telapak tangannya, seolah meyakinkan diri bahwa sosok didepannya kini adalah nyata.
            Putri mendekapnya dengan erat, memeluknya dengan segala hasrat dan rasa yang terpendam selama ini. Penantian, angan, pengharapan, sebuah kesedihan, rindu, dan.. cinta.
            “Bolehkah selamanya aku disisimu?”
            Ia berbisik pelan, menanyakan kembali pertanyaannya yang belum terjawab pada Putri.
            Putri mengangguk pelan, matanya menatap lurus pada sepasang mata yang dirindukannya, yang selama sepuluh tahun dinantinya. Sebuah janji kecil, janji yang diikrarkan ketika mereka berumur 7 tahun.
            “Putri, kamu mau kan, tunggu Angga sampai Angga kembali lagi kesini?”
            Putri mengangguk sambil tersenyum manis. “Iya, Putri janji akan tunggu Angga. Dan kalau Angga kembali lagi kesini, Putri nggak akan izinin Angga buat pergi lagi ya..”
            “Janji?”Putri mengacungkan jari kelingkingnya pada Angga.
            “Janji.”
            “Karena kamu sudah kembali, aku nggak akan biarin kamu pergi lagi, Anggada Ramandha.”ucap Putri sambil tersenyum.
            Angga mengecup pelan kening Putri. “Aku akan selalu disini , disisi kamu, selamanya..”

THE END

Rabu, 02 November 2011

KISSING (Kisah Singkat) 1


Aku berdiri didepan kelas dengan bangganya. Setelah usaha yang kulakukan dengan susah payah, akhirnya kini membuahkan hasil yang memuaskan. Aku menjadi juara kelas! Mama dan papa pasti akan senang sekali bila saat aku pulang kerumah nanti, aku membawa piagam serta rapot yang berisikan nilai-nilai indah berwarnakan biru – tanpa warna merah sedikitpun.

Aku sebenarnya bukanlah anak yang pintar – sehingga langganan menjadi juara kelas. Justru ini kali pertamalah, aku bisa berdiri didepan kelas dengan perasaan bangga dan luar biasa ini! Tanganku sedikit bergetar saat menerima uluran piagam dan rapot dari Ibu Lusiah – wali kelasku. Setelah aku menerima piagam dan rapot, tak lupa kusalami tangan Bu Lusiah dengan sopan – dan senyum yang terus merekah diwajahku.

Aku berjalan kembali menuju tempat dudukku yang ada diujung kelas. Pandangan takjub dan luar biasa terpancar dari mata-mata yang ada disekelilingku – teman-temanku. Mereka menyalamiku secara bergantian, mengucapkan selamat atas prestasi terbaikku selama ini. Wajar saja aku sangat bahagia, dan mereka ikut bahagia pula. Karena selama ini aku tidak pernah bisa masuk kedalam sepuluh besar, selalu saja tersangkut di peringkat sebelas atau duabelas.

Semua ini karena “dia”. Dukungan dan semangatnya lah yang membuatku semangat untuk belajar. Dan, buktinya hasilnya sangat memuaskan, bahkan jauh memuaskan dari apa yang ingin kuraih. Targetku minimal bisa masuk peringkat lima besar, tapi ternyata lebih dari itu! Aku senang sekali, bisa menunjukkan piagam juara satuku pada dia dan juga orang tuaku. Rasanya senyum ini tak ingin hilang dari wajahku.

Dengan langkah riang aku keluar kelas sambil menggendong tas ranselku. Aku ingin menemuinya, dan berkata padanya, bahwa aku bisa karena aku memang bisa jika berusaha. Tapi.. Bbuukk.. Aku mengelus lututku yang lecet terkena paku yang menyembul dibalik lantai kayu sekolahku – aku terjatuh. Dia berdiri didepanku, ia menarik tanganku – membantuku bangkit berdiri. “Ayo kita ke kelas, sebentar lagi Ibu Lusiah akan membagikan rapot kita!”serunya bersemangat. Apa?! Bukankah aku sudah mendapatkan rapot dan piagam juara satuku?! Aku membongkar isi tasku, dan hasilnya nihil. Tidak ada rapot dan piagam itu! Ternyata sedari tadi aku hanya sibuk dengan dunia khayalku, hingga saatku terjatuh, baru kusadari dan kembali kedunia nyataku.

Huh! Dengan langkah gontai dan lemah, aku mengikuti Dia yang berjalan didepanku. Saat ini doaku hanya satu,  “Semoga posisi peringkatku tidak dibawah peringkat dua belas.”

Rabu, 21 September 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 12 (END)


Dua tahun kemudian...
            “Dimaaaass!!!”Riri menghambur dalam pelukan Dimas – yang baru saja muncul diambang pintu kamar Riri.
            “Wo,wo,wo.. Ada yang kangen banget nih kayaknya.”goda Dimas sambil mengerling nakal.
            “Iih, mulai deh ganjennya!”sungut Riri sambil mencubit lengan Dimas yang sekarang sudah terbentuk otot hasil nge-gym dua tahun ini.
            “Tapi suka kan?”
            “Dimaass!! Benci deh mulai ganjen gini! Kayak waria, tau!”
            “Ya ampun, teganya dirimu mengatai aku ini waria..”sahut Dimas dengan memasang wajah memelas. Akting banget siihhh!!
            Riri mengibaskan tangannya. “Terserah deh!”
            “Yah, jangan ngambek dong, Ri. Nih, aku bawain brownies..”seru Dimas sambil mengeluarkan sekotak brownies dari dalam tas kecil yang dibawanya.
            “Waah! Kamu emang the best sayaangg! Makasii..”Riri segera menyambut brownies itu dengan suka cita dan mendaratkan sebuha kecupan dipipi Dimas.
            Dimas tersenyum.

***

            Riri mendekati makam Rena dengan membawa sebuah rangkaian mawar putih dan meletakkannya diatas makam itu.
            “Hai, Ren! Sumpah, kangen banget sama kamu, tau! Jahat banget sih, ninggalin aku. Gara-gara kamu pergi, mau nggak mau aku deh yang harus ngerawat si putih – kelinci yang aku kasi ke kamu – sekarang. Padahal kamu kan tau, aku lebih suka kucing daripada kelinci. Kamu sengaja ih, ngerjain aku!”
            Riri tersenyum dan berlutut disamping makam Rena. “Sekarang, aku jadi mahasiswi kedokteran UI loh! Hebat kan ya? Nggak nyangka kan kamu? Haha, aku mau sombong sedikit ah! Hihi.. Aku bisa masuk kedokteran UI lewat jalur PMDK loh! Lebih sombong lagi nih aku nya..”
            Riri tertawa dan mengelus makam Rena. “Udah satu tahun aku kuliah, satu tahun juga kemarin aku nyelesain SMA tanpa kamu, Ren! Dua tahun loh kamu ninggalin aku. Kamu nggak kangen apa? Pasti kangen dong ya, aku kan ngangenin.”
            Riri menunduk, “Ren, kamu pasti bahagia kalau aku bahagia kan? Aku tau, jawaban kamu disana pasti iya. Makasih kalau begitu untuk jawabannya.
            “Aku baru tau, Ren. Ternyata orang yang aku sangat sayangi dan orang yang sangat aku butuhkan, bukan orang yang sama, Ren. Aku sayang banget sama Dimas, kamu tau itu. Tapi aku sangat butuh kak Riko dalam hidup aku. Dia selalu jadi penguat untuk aku.
            “Aku tunangan sama kak Riko, Ren. Tepat ulang tahun aku - 12 februari, beberapa bulan yang lalu. Aku nggak nyesel dengan pilihan aku, Ren. Walau aku tau aku sangat sayang sama Dimas, tapi aku jauh lebih membutuhkan kak Riko.
            “Maaf aku nggak bisa penuhi permintaan kamu, Ren. Karena setelah aku bertanya pada hati aku, selama setahun setelah kepergian kamu, aku mendapatkan jawabannya. Aku butuh kak Riko. Hanya itu jawabanyang aku temukan.
            “Tapi tenang, Ren. Aku akan jagain Dimas semampu aku. Sekarang dia juga mahasiswa kedokteran loh! Cuma bedanya dia lebih memilih di UNPAD. Kamu tau, kenapa aku lebih memilih masuk UI daripada UNPAD? Karena di UI ada kak Riko, Ren. Dia senior aku loh. Hihi. Jadinya, ospek gak berasa ospek tuh, karena dia terus nemenin aku. Senang banget deh!”
            Riri melirik jam tangannya. “Waah, gawat Ren, udah jam 4 nih! Jam 5 aku harus berangkat ke jakarta sama kak Riko! Bisa-bisa mama marah nih aku molor gini. Aduuh Rena.. sekarang aku jadi sudah pakai jam karet deh kalau jenguk kamu. Tapi nggak apa-apa deh. Aku seneng kok cerita sama kamu disini. Walau aku nggak bisa denger suara kamu, tapi aku tau, kamu pasti denger aku.”
            Riri tersenyum dan berdiri dari posisi berlututnya. Ia merapikan celananya yang sedikit terlipat dan kembali tersenyum kearah makam Rena. “Aku pergi dulu ya, Rena.. Ntar kalau aku ada libur lagi, aku pasti jenguk kamu. “
            Riri berbalik dan berjalan menjauhi makam Rena.
            Sebuah kelopak mawar putih terjatuh diatas pundak Riri. Ntah dari mana asal kelopak mawar itu, tapi Riri tersenyum. Ia berbalik dan memandang makam Rena yang terlihat dari jauh.
            Aku tau kamu mendengarkan aku, Ren. Terimakasih kamu sudah jadi sahabat terbaik yang pernah aku punya. Terimakasih kamu sudah mengajarkan aku arti dari cinta yang sesungguhnya.
            Aku sayang kamu, Rena...

THE END

21-09-2011 , 23:38 wib
           

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 11


Riri membekap mulutnya dengan dua tangan untuk menahan isak tangisnya yang kencang. Riko tak henti mencoba menenangkannya sepanjang perjalanan tadi. Lain halnya dengan Dimas yang dari tadi hanya diam, hingga sekarang.
            Riko menghentikan mobilnya ditempat parkir, kemudian mereka bertiga pun bergegas mencari ruang dimana Rena berada saat ini. Setelah bertanya kepada petugas yang berjaga diruang piket, mereka pun langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditunjukkan petugas tadi.
            Dari jauh, terlihat kedua orangtua Rena dan abangnya berdiri bersisian didepan ruang UGD. Mama Rena menangis dengan kencang dalam pelukan papa Rena. Sedangkan abang Rena – Danny – berdiri mematung – berhadapan dengan kedua orangtuanya – sambil bersandar pada dinding sambil tertunduk lesu.
            Dimas dengan cepat berjalan menghampiri kedua orangtua Rena serta bang Danny.
            “Tante, oom..”panggil Dimas dengan pelan.
            Tante Lastri yang langsung menoleh saat mendengar suara Dimas yang memanggilnya, langsung menghambur dalam pelukan Dimas.
 “Rena, Rena belum sadarkan diri sampai sekarang, Dimas. Kami tidak diizinkan masuk.”ujar tante Lastri – mama Rena – disela isakan tangisnya.
Dimas menepuk pelan bahu tante Lastri yang berguncang hebat – mencoba menenangkan. Ditatapnya oom Dodi yang sedih melihat Rena belum sadarkan diri dan istrinya yang terus menangis dengan histeris. “Kenapa bisa begini, oom?”
“Menurut saksi yang berada disekitar tempat kejadian, saat ditikungan, ada mobil dari berlawanan arah yang oleng dan keluar dari jalurnya. Sepertinya Rena kaget dan dia banting setir ke kiri – menabrak trotoar dan pohon – tapi mobil yang oleng itu justru berbelok kearah mobil yang Rena kendarai. Sehingga setelah mobil yang dibawa Rena menabrak pohon, mobil yang oleng itu juga menabrak mobilnya, tepat disisi kursi pengemudi yang diduduki Rena.” Oom Dodi mengusap kedua matanya yang menitihkan air mata. “Ren..Rena. Tubuh Rena, terjepit didalam mobil. Saat dibawa kemari, dia sudah tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya mengeluarkan darah, terutama kepalanya yang terbentur setir mobil dengan sangat keras.”
Tangis tante Lastri semakin menjadi saat Oom Dodi selesai menjelaskan situasi yang terjadi saat kecelakaan itu terjadi.
Riri yang sejak tadi berdiri beberapa meter dibelakang Dimas dan keluarga Rena, tambah menangis pula saat oom Dodi selesai menjelaskan. Disampingnya – Riko, terus merangkul Riri dengan erat – berharap tubuh mungil Riri yang sangat terguncang hebat dengan kesedihan ini tidak roboh.
            Danny berjalan menghampiri Riri dan Riko yang berdiri beberapa meter dari yang lainnya. “Kamu, Riri kan?”
            Riri mengangguk pelan, “Iya, aku Riri.”
            Danny menyerahkan sepucuk surat berwarna biru muda pada Riri. “Ini, untuk kamu.”
            “Apa ini bang?”
            “Ini dari Rena. Surat ini ditemukan dalam tas tangan yang Rena bawa tadi.”
            Dengan tangan bergetar, Riri mengambil sepucuk surat biru muda yang terlihat ronyok disemua sisi – mungkin Danny sedikit merapikannya dengan tangan, tapi tidak menutupi keronyokan yang ada disemua sisi surat.
            Riri membaca tulisan kecil yang berada pada amplop surat itu.
                                              
            Untuk sahabat terbaikku, Febriani Putri.

***

            Dear Riri.
            Jujur Ri, aku nggak tau kenapa aku nulis surat ini. Tapi sejak kamu menjauh, aku kangen kamu, Ri. Sangat kangen. Aku kangen sahabat ceriaku, Febriani Putri!
            Aku senang karena kamu adalah teman pertama ku di SMA dan sahabat terbaik dalam hidupku. Aku senang berada didekat kamu, Ri. Lihat keceriaan kamu, semuanya. Aku senang punya sahabat kamu.
            Apalagi karena kita sebangku ya, aku ngerasa kamu seperti sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup aku, setelah keluarga aku.
            Kamu seperti dunia baru dalam duniaku selama ini, Ri. Bersama kamu, aku kadang berpikir, tidak apa kalau didunia ini aku hanya bersama dengan satu orang saja. Dan aku pasti sangat berharap bahwa orang itu kamu, Ri.
            Bersama kamu, aku sangat bahagia. Sama bahagianya seperti aku bersama keluargaku. Bahkan aku kadang lebih sangat bahagia sama-sama kamu. Kamu sangat penting buat aku, Ri. Sangat berarti.
            Aku ingat saat aku sangat sedih kelinci kesayangan aku mati, kamu hibur aku, Ri. Seharian penuh kamu nemenin aku. Kita sampai bolos pelajaran, karena kamu mau ngajak aku nikmatin udara dingin dan menenangkan disudut sekolah. Besoknya, kita manjat pagar bareng gara-gara telat. Sembunyi dari kejaran guru piket, yang untungnya agak sedikit rabun jauh, jadi nggak bisa ngenalin wajah kita berdua.
            Terus besoknya lagi, kamu kerumah aku pagi-pagi banget. Aku kaget banget pas bangun tidur ada kelinci diatas tempat tidur aku!
            Semua itu kerjaan kamu, Ri. Aku inget banget kamu ketawa ngakak dibalik pintu kamar bareng mama karna ngeliat aku kelabakan karena tuh kelinci mau pipis dimuka aku! Dasar jahil kalian.. Tapi aku seneng. Seneng banget!
            Tapi aku sedih saat kamu ngambek sama aku, Ri. Mungkin kamu bukan ngambek lagi, tapi udah marah sama aku. Maafin aku, Ri.. Aku tau maaf aku nggak akan cukup untuk menebus kesalahan aku, sebanyak apapun itu, tapi aku kangen kamu, Ri...
            Kalau kamu cuma ngambek, Ri. Cukup aku bawain satu loyang brownies, pasti kamu langsung ceria. Tapi sekarang nggak, Ri. Mungkin walau aku bawa pabrik brownies sekalipun, belum tentu kamu mau maafin aku, ya?
            Aku juga kaget, Ri tentang perjodohan ini. Orangtua aku sama Dimas ternyata teman lama, tau-tau kami ketemu pas makan malam, terus papa bilang kami akan dijodohkan. Setelah tamat SMA nanti, papa dan oom Irawan ingin kami langsung tunangan.
            Sebelumnya aku minta maaf, Ri. Maaf aku telat menyadari perasaan kamu. Maaf aku baru sadar bahwa yang kamu sayang itu Dimas, tepat saat aku juga mulai menyukai Dimas!
            Maafin aku, Ri. Aku salah udah bohongin kamu. Dan aku juga salah karena aku nyakitin kamu. Aku salah banget sama kamu, aku minta maaf.
            Saat kamu baca surat ini, Ri. Mungkin aku udah nggak bisa ngomong langsung ke kamu, untuk nyampaikan semua isi surat ini secara langsung ke kamu.
            Selama ini insting aku memang suka meleset, Ri. Kamu tau banget tentang itu. Aku selalu gagal kalau disuruh menebak atau menerka-nerka. Tapi sekarang, aku yakin banget sama insting aku, Ri. Yakin banget, seratus persen! Nggak pake diskon. Hehe.
            Bilang ke aku, Ri, kali ini insting aku bener kan? Berarti aku nggak bisa ketemu lagi untuk ngomong langsung sama kamu. Aku memang bukan Tuhan, Ri. Tapi firasat manusia ada saatnya akan terjadi kan?
            Kalau kamu sudah baca surat ini, berarti firasat aku bener, Ri..
            Sekali lagi maafin aku ya, Ri.. Maaf aku udah bohong dan bikin kamu sakit.. Maaf aku nggak bisa ngomong langsung.. dan, maaf aku nggak bisa selamanya disisi kamu.
            Kalau aku nggak ada lagi, kamu jaga Dimas ya, Ri. Biarpun aku hanya sebentar dikasi waktu untuk sayang sama Dimas, tapi aku sudah bersyukur karena diberi waktu untuk bbisa sayang sama dia.
            Jaga dia ya, Ri. Aku tau kalian saling sayang, hanya saja, karena kalian saling bersahabat sejak kecil, kalian jadi bingung mengartikan rasa sayang kalian yang sebenarnya adalah cinta sepasang kekasih, bukan sahabat.
            Semoga kalian bahagia ya, Ri...
            Aku ingin melihat kalian memakai sepasang cincin yang sama dijari manis kanan kalian – dari atas Sana..
            Aku akan bahagia dengan kebahagiaan kamu, Ri..
            Aku sayang kamu selalu...
   Salam sayang,
-Renata Amalia Diana (Rena)-

***

            Beberapa orang suster keluar dari ruang UGD yang sejak tadi tertutup dengan rapat. Dengan tergesa mereka mendorong sebuah ranjang tidur dan tabung oksigen yang cukup besar.
            Tante Lastri semakin histeris saat anaknya yang masih tak sadarkan diri itu keluar dan entah dibawa kemana. Danny menahan tubuh mamanya yang hampir jatuh – saat oom Dodi menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
            “Bagaimana keadaan anak saya, dok? Mau dibawa kemana dia?”tanya oom Dodo dengan sangat cemas.
            “Keadaan pasien semakin gawat. Beberapa saat yang tadi jantungnya sempat berhenti berdetak selama beberapa detik. Kita tidak punya pilihan lain selain memasukkannya ke ruang ICU yang memiliki peralatan lengkap, pak. Karena sampai saat ini hanya upaya itu yang dapat kami lakukan semaksimal mungkin sebelum hasil pemeriksaan keadaan tubuh anak bapak diberikan oleh pihak laboratorium.
            “Sebaiknya bapak dan ibu sekarang ikut saya menuju ruang ICU. Lebih baik kalian menunggu disana agar lebih mudah kami memberikan kabar.”
            Oom Dodi segera merangkul istrinya dan mengikuti dokter tersebut menuju lift. Danny menoleh pada Riri dan memberikan kode agar ia dan Riko juga ikut.
            Sambil mengusap matanya yang sejak tadi menangis – dan Riko masih terus merangkulnya, Riri berjalan mengikuti Danny dari belakang.
            Kamu harus berjuang, Ren. Kamu harus kembali hidup, jangan menyerah sedikitpun. Kamu kuat, Ren. Kamu bisa kembali untuk kami semua. Untuk oom dan tante, untuk bang Danny, untuk aku, dan untuk Dimas...

***

            Tujuh hari kemudian...
            Pukul 00:00 wib , 10 Oktober 2010.
            Dimas duduk dipinggir tempat tidur dimana Rena terbaring. Sudah satu minggu Rena terbaring tanpa sadarkan diri. Tidak ada perubahan yang menggembirakan, selain keadaannya yang sudah tidak koma lagi, sejak tiga hari yang lalu.
            Dimas mengambil sehelai handuk kecil yang dibasahkan, dan mengusapkannya di wajah Rena dengan pelan. Wajahnya yang putih bersih kini pucat pasi. Seakan tak setetes darahpun mengalir di wajah itu. Dibersihkannya pula tangan dan kaki Rena yang dingin dan juga pucat seperti wajahnya.
            Perlahan tangan yang digenggam Dimas bergerak pelan. Kelopak mata yang selalu tertutup selama seminggu ini, bergerak pelan, dan akhirnya terbuka. Menatap lekat Dimas yang berada disisinya.
            “Rena.. Kamu sadar! Kamu sadar!”seru Dimas sambil memeluk Rena. “Aku panggil oom dan tante, juga dokter ya.”
            Tangan dingin itu menahan Dimas. Kepalanya menggeleng pelan. “Jangan pergi.”ucapnya pelan – hampir tak terdengar.
            Dimas kembali duduk dan menggenggam erat tangan Rena yang masih tetap dingin dengan kedua tangannya yang hangat. “Iya, aku nggak akan kemana-mana, Ren. Aku akan disini terus. Aku akan ada disisi kamu terus. Kamu harus cepat sembuh, Ren. Kita akan langsung tunangan saat kamu sudah keluar dari rumah sakit ini. Kamu harus sembuh.”
            “Kamu baik-baik ya, Mas. Aku ingin melihat kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Aku ingin kamu bersatu dengan Riri dalam ikatan cinta yang abadi..”
            Dimas menggeleng dengan kencang. “Kamu ngomong apa sih, Ren? Ikatan apa?! Aku tunangan kamu. Aku adalah calon suami kamu. Jadi kamu harus sembuh untuk aku. Untuk orang yang sayang sama kamu!”
            “Aku harus pergi, Mas..”
            Dimas mengusap matanya yang hampir menitihkan air mata. Ia tidak boleh menangis didepan Rena! Tidak akan!
            “Boleh aku minta kamu peluk?”
            Dimas mengangguk dan memeluk Rena dengan erat. Tubuh itu dingin, namun semakin dingin, semakin lama Dimas memeluknya.
            Rena tersenyum kecil. “Selamat ulang tahun, Dimas..”
            Dimas tersenyum, “Terimakasih! Terimakasih kamu sudah sadar dihari ulang tahun aku, Ren. Ini hadiah yang sangat spesial untuk aku. Saat kamu keluar dari rumah sakit nanti, kita rayakan berdua ya. Aku akan ajak kamu kemanapun yang kamu mau, Ren.”
            Tubuh itu semakin dingin dan dingin. “Ren. Rena?” Dimas menggoyangkan tubuh dingin yang sejak tadi terus dipeluknya.
            Tit..tit..tit..tiiiiiiiiittttttt.....
            Dimas menatap garis lurus yang berada dilayar samping tempat tidur Rena dengan air mata yang tak bisa lagi ditahannya.
            Selamat jalan, Rena. Terimakasih sudah menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat untukku..

***