Aku berdiri didepan kelas dengan bangganya. Setelah usaha yang kulakukan dengan susah payah, akhirnya kini membuahkan hasil yang memuaskan. Aku menjadi juara kelas! Mama dan papa pasti akan senang sekali bila saat aku pulang kerumah nanti, aku membawa piagam serta rapot yang berisikan nilai-nilai indah berwarnakan biru – tanpa warna merah sedikitpun.
Aku sebenarnya bukanlah anak yang pintar – sehingga langganan menjadi juara kelas. Justru ini kali pertamalah, aku bisa berdiri didepan kelas dengan perasaan bangga dan luar biasa ini! Tanganku sedikit bergetar saat menerima uluran piagam dan rapot dari Ibu Lusiah – wali kelasku. Setelah aku menerima piagam dan rapot, tak lupa kusalami tangan Bu Lusiah dengan sopan – dan senyum yang terus merekah diwajahku.
Aku berjalan kembali menuju tempat dudukku yang ada diujung kelas. Pandangan takjub dan luar biasa terpancar dari mata-mata yang ada disekelilingku – teman-temanku. Mereka menyalamiku secara bergantian, mengucapkan selamat atas prestasi terbaikku selama ini. Wajar saja aku sangat bahagia, dan mereka ikut bahagia pula. Karena selama ini aku tidak pernah bisa masuk kedalam sepuluh besar, selalu saja tersangkut di peringkat sebelas atau duabelas.
Semua ini karena “dia”. Dukungan dan semangatnya lah yang membuatku semangat untuk belajar. Dan, buktinya hasilnya sangat memuaskan, bahkan jauh memuaskan dari apa yang ingin kuraih. Targetku minimal bisa masuk peringkat lima besar, tapi ternyata lebih dari itu! Aku senang sekali, bisa menunjukkan piagam juara satuku pada dia dan juga orang tuaku. Rasanya senyum ini tak ingin hilang dari wajahku.
Dengan langkah riang aku keluar kelas sambil menggendong tas ranselku. Aku ingin menemuinya, dan berkata padanya, bahwa aku bisa karena aku memang bisa jika berusaha. Tapi.. Bbuukk.. Aku mengelus lututku yang lecet terkena paku yang menyembul dibalik lantai kayu sekolahku – aku terjatuh. Dia berdiri didepanku, ia menarik tanganku – membantuku bangkit berdiri. “Ayo kita ke kelas, sebentar lagi Ibu Lusiah akan membagikan rapot kita!”serunya bersemangat. Apa?! Bukankah aku sudah mendapatkan rapot dan piagam juara satuku?! Aku membongkar isi tasku, dan hasilnya nihil. Tidak ada rapot dan piagam itu! Ternyata sedari tadi aku hanya sibuk dengan dunia khayalku, hingga saatku terjatuh, baru kusadari dan kembali kedunia nyataku.
Huh! Dengan langkah gontai dan lemah, aku mengikuti Dia yang berjalan didepanku. Saat ini doaku hanya satu, “Semoga posisi peringkatku tidak dibawah peringkat dua belas.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar