Powered By Blogger

Selasa, 30 Agustus 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 7

Riri duduk di bangku taman dengan perasaan gelisah. Kaki dan tangannya tidak berhenti bergerak – seolah tidak betah hanya duduk diam dan menunggu saja.
            Hari ini adalah saat yang ditunggu Riri selama kurang lebih satu minggu. Pembagian hasil nilai akhir, yang disusun dan dijadikan satu dalam sebuah “raport”. Pada pembagian raport ini, orangtua lah yang bisa mengambilkan, sedangkan para murid disuruh menunggu diluar ruang kelas.
            Riri duduk sendiri di taman dengan gelisah. Rena tidak datang hari ini, karena dia bilang, dia tidak mau ikutan pusing dan deg-degan menunggu disekolah,jadi baginya cukup dia menunggu dengan santai dirumah. Toh dia telah melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang “cukup”.
            Dimas.. sudah hampir dua minggu dia tidak ada bertegur sapa – dalam arti biasanya. Jika bertemu disekolah, hanya saling menyapa seadanya atau cukup hanya sedikit tersenyum. Dimas pun sudah jarang datang kerumah Riri. Padahal “biasanya” setiap akhir minggu ataupun hari libur sekolah, Dimas selalu datang kerumahnya. Mulai hanya sekedar mengganggu tidur siangnya, meneriakinya dengan kencang dari luar pagar, memaksa Riri untuk memasakkan makan siang untuknya, sampai menggoda Bi’ Inah sampai Pak Dadang kadang cemburu.
            Dimas, aku kangen kamu...
            “Hai, Ri..”
            Riri menoleh dan mendapati Riko berdiri disampingnya sambil tersenyum, “Hai, kak.”sahutnya sambil ‘sedikit’ tersenyum, dan menggeser tubuhnya agar Riko bisa duduk disampingnya.
            “Mama kamu belum keluar, Ri?”
            Riri menggeleng, “Belum kak, lama banget ya. Kayaknya Bu Wati kata sambutannya sepanjang pidato presiden saat upacaran kemerdekaan di istana negara nih!”
            “Sabar aja, paling sebentar lagi juga tiba giliran kamu, Ri.”
            “kakak udah terima raport nya?”tanya Riri- melihat raport yang daritadi dipegang oleh Riko.
            Riko mengangguk, “Udah kok, cepat kan.”ucapnya dengan bangga.
            “Kok bisa dapat cepar kak? Nama kakak kan huruf depannya “R” harusnya duluan aku dong yang hurufnya “F”.”
            “Kalau wali kelas kakak, membagikan raport mulai dari yang masuk tiga besar sampai sepuluh besar, setelah itu sisanya baru dibagikan sesuai nomor urut absen.”
            “Waah, berarti kakak masuk sepuluh besar dong! Lihat kak raportnya..”
            Riri mengambil raport yang dipegang Riko. Matanya terbelalak lebar dan tersenyum – terpukau. “Waah, kakak jadi juara kelas! Selamat ya kak..”
            “Iya, makasih.”sahutnya sambil tesenyum. “Tapi sebenarnya sih dari dulu juga jadi juara kelas.”sahutnya sambil tertawa, menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sedikitpun.
            “Wah, jadi agak sombong nih..”ledeknya.
            Riko tertawa kikuk. “Ri, tuh mama kamu..”
            Riri menoleh dan melihat sosok mamanya berjalan kearah mereka di taman.
            Mama tersenyum manis, “Selamat ya, sayang..”ucapnya sambil memeluk Riri dengan sayang.
            “Gimana hasilnya, ma?”
            “Kamu juara kelas. Kamu juga masuk IPA, sesuai keinginan kamu.”seru mama sambil tersenyum lebar.
            Riri berloncatan riang dan langsung kembali memeluk mamanya.
            “Mama pulang duluan ya sayang. Mama ada janji sama klien mama yang baru dirumah. Kamu pulang naik taksi aja nggak apa-apa kan?”tanya mama sambil menyerahkan raport kepada Riri.
            “Iya ma, nggak apa-apa.”Riri mencium tangan dan pipi mamanya.
            Mama beralih pada Riko yang berdiri dibelakangnya, “Tante duluan ya, Riko.”
            Riko mengangguk sambil tersenyum, “Iya tante. Hati-hati dijalannya, te.”ucapnya sambil mencium tangan mama Riri dengan hormat.
            “Terimakasih, ya.”balas mama sambil tersenyum. “Mama pulang ya, Ri.”
            “Iya, ma. Hati-hati ya.”sahutnya sambil memandangi kepergian mamanya menuju mobil mereka yang ada di tempat parkir – bersama pak Dadang yang mengemudikannya.
            “Ri, aku yang antar pulang ya.”ujar Riko.
            Riri tersenyum, “Boleh. Tapi aku ke toilet dulu ya, kak.”
            “Yuk, sekalian aku mau ke toilet juga.”
            “Kakak mau ngikutin aku ke toilet?!”pekik Riri sambil membelalakkan matanya dengan lebar.
            Riko tertawa dan membeli rambut Riri, “Ya enggak lah, ngaco aja deh. Kamu ke toilet cewek, aku ke toilet cowok.”sahutnya.
            “Ooh, kirain kakak penguntit yang suka ngikutin cewek ke toilet!”godanya.
            “Ngaco deh!.”sergahnya sambil tertawa, “Tapi kalau yang ke toiletnya kamu sih, aku mau deh jadi penguntit.”sahutnya sambil mengerlingkan matanya nakal.
            “Aaahh kakak!!”pekik Riri sambil mencubit lengan Riko dengan gemas.

***

            Rena berjalan menghampiri Dimas dan mamanya yang berdiri dipinggir lapangan, didepan kelas Dimas.
            “Hai, tante..”sapa Rena seraya tersenyum manis, dan mengecup kedua pipi mama Dimas.
            “Hai, sayang. Gimana hasil raportnya? Dapat peringkat nggak?”     
            Rena tersenyum, “Alhamdulillah masuk IPA, tan. Masuk sepuluh besar juga, tan.”
            “Waah, selamat ya sayang. Kalau si Dimas sih, bisa  naik kelas aja syukur deh!”desis mamanya.
            Dimas menekuk wajahnya, “Iih mama! Dimas nggak bodoh banget kali.”sungutnya.
            Mama Dimas tertawa sambil mengacak rambut anaknya yang sedang cemberut, “Iya, anak mama memang nggak bodoh, tapi sayangnya aja malas buat belajar. Masa dari dulu sampai sekarang cuma bisa dalam posisi duapuluh besar aja, dari tigapuluh lima murid?!”
            “Yaa.. terserah mama deh ah. Yuk ma, pulang deh, ngapain juga lama-lama disini.”
            “Ya udah, sekalian kita ke mall ya, ada yang mau mama cari. Rena ikut sama kita yuk, sayang? Nanti pulangnya sekalian antar kamu, mama udah pulang duluan kan?”tanya mama Dimas.
            Rena mengangguk, “Iya, tante. Mama udah pulang duluan tadi, setelah ambil raport rena.”
            “Ya udah, yuk kita pergi sekarang.”mama Dimas merangkul Rena dengan sayang.

***

            Riko berdiri didepan pintu toilet cewek – bersandar di pilar sambil menatap lurus kearah pinggir lapangan basket.
            “Kak, lagi liat apaan?”tanya Riri yang baru keluar dari toilet.
            “Eh, Riri. Udah selesai? Kok lama banget sih?”goda Riko.
            Riri tertawa, “Namanya juga cewek, kak. Cewek kan memang butuh waktu yang lebih lama didalam toilet.”sahutnya sambil menahan senyum. “Kakak ngeliatin apaan sih daritadi?”
            “Oh, ngeliatin Dimas, sama seorang wanita separuh baya, dan Rena. Kayaknya mereka akrab banget deh.”Riko menunjuk kearah pinggir lapangan.
            Riri mengerutkan keningnya, “Dimas sama Rena kan memang dekat, sejak aku kenalin mereka, mereka berdua juga jadi sahabat aku, kak.  Tapi aku baru tau Rena kenal akrab dengan tante Mita – mamanya Dimas. Kapan Rena berkenalan dengan tante ya? Kok aku bisa nggak tau sih?!”
            Riri menatap heran kearah mereka dan mengikuti kepergian mereka menuju halaman parkir, dengan tante Mita yang merangkul Rena dengan sayang, seperti anak sendiri...

***

            Riri duduk diam di gazebo sambil melamun. Sejak pertikaiannya dengan Dimas  tempo hari, Riri benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Dimas. Bahkan ia pun tidak tau bahwa Rena kenal dekat dengan tante Mita. Teganya lagi Rena tidak memberitahukannya sama sekali!
            “Riri...”
            Riri menoleh dan mendapati mama berdiri diujung gazebo. “Ya, ma?”
            “Mama boleh temanin kamu disini?”tanya mama dengan lembut.
            Riri tersenyum manis, “Ya boleh lah, ma. Aku seneng malah kalau mama mau nemenin aku terus setiap hari.”
            “Waah kalau mama nemenin kamu terus setiap waktu, berarti mama nggak punya waktu buat kerja dan ngurus rumah dong. Memangnya kamu nggak mau makan setiap hari, kalau mama nggak masak?”
            “Yaah, mama.. Tetap harus masak dong!”
            “Loh, gimana mama mau masak, kalau kamu aja minta mama temenin kamu terus? Berarti kan mama harus temenin kamu sekolah, terus tidur siang, pergi jalan ke toko buku, iya kan?”goda mama.
            “Aaahh mama. Berdebat sama mama bikin aku sebel sendiri deh.”sahut Riri sambil cemberut.
            Mama tertawa  dan membelai lembut rambut Riri yang berbaring dipangkuannya. “Kamu kenapa sih sayang? Kok pulang-pulang dari sekolah malah melamun? Riko bikin kamu kesal ya, saat ngantar pulang tadi?”
            “Nggak kok, Ma. Kak Riko tadi malah nraktir makan es krim pas pulang. Kak Riko nggak bikin aku kesal kok, ma.”
            “Terus, kanapa dong kamu melamun daritadi?”
            Riri menghela nafas pelan, “Dimas, ma.”
            “Kenapa Dimas? O iya, mama juga bingung loh, kok sudah lama Dimas nggak datang kesini?”
            “Itu masalahnya, ma. Riri udah nggak dekat lagi sama Dimas. Sejak hampir tiga minggu yang lalu, Riri bertengkar sama Dimas.”
            “Loh kenapa bisa begitu?”tanya mama.
            Riri pun menceritakan semuanya pada mama, mulai dari Dimas yang tidak suka Riri menutup-nutupi sesuatu darinya, juga tentang kedekatan yang baru diketahui Riri – Rena sangat akrab dengan tante Mita, yang bahkan sebelum ini, setahu Riri, mereka belum pernah bertemu. Kalaupun sebelum ini mereka sudah saling mengenal, kenapa Rena menutupi semua ini dari Riri?!
            “Kenapa kamu nggak tanya aja sama Dimas? Mau sampai kapan kamu nggak teguran sama dia, Ri? Kamu nggak pernah nggak teguran sama Dimas, nggak pernah lebih dari tiga hari.”ucap mama.
            “Riri nggak enak ma, mau negur Dimas duluan.”sahutnya pelan.
            Mama tersenyum dan kembali membelai rambut anaknya, “Mama nggak pernah melahirkan anak yang tidak berani maju, hanya karena tidak enak.”
            “Iya deh, ma. Nanti Riri kerumah Dimas besok.”

***
            Riri berjalan mondar-mandir didepan rumahnya. Dilema mendera hatinya, antara rasa rindu dan penasaran terhadap penjelasan Dimas mengenai kedekatan “aneh”nya dengan Rena, dan juga rasa tak enak hati pada Dimas.
            Dengan langkah yang berat dan sedikit terseret, Riri berjalan menuju sebuah rumah yang sama besarnya dengan rumah Riri – namun beda suasana, bentuk, dan penampilan fisik lainnya – yang berada persis disebelah kiri rumahnya.
            Tok...tok...tok... “Assalamualaikum.”
            Terdengar derap langkah dari dalam rumah, menghampiri pintu, “Waalaikumsalam. Waah, Riri! Apa kabar sayang?”Riri pun langsung disambut pelukan hangat tante Mita
            “Baik kok, tante. Tante sendiri gimana?”Riri membalas pelukan hangat tante Mita dan mengikutinya masuk kedalam rumah, menuju dapur.
            “Baik dong, sayang. Oiya, kamu temenin tante bikin kue yuk, kamu suka brownies kan?”
            Mata Riri berbinar, “Suka banget, tante!”sahutnya dengan riang.
            Tante Mita tersenyum, “Bagus kalau begitu, kamu temenin tante masak kue, nanti, kamu boleh bawa pulang satu loyang ya buat dirumah.”
            “Waah, makasi banget tante.”
            Dengan semangat dan senang Riri pun bergelut dengan tepung, dan coklat untuk membuat brwonie. Sesaat ia lupa dengan maksud kedatangannya untuk mencari Dimas dan meminta maaf.

***

            Dimas duduk manis diatas sofa, di ruang tamu rumah Rena. “Sudah lama, mas?”
            Tante Lastri menghampirinya dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, “Belum terlalu lama kok, tan.”sahutnya dengan senyum ‘terpaksa’.
            “Mau pergi kemana hari ini sama Rena?”
            “Kita mau nonton film di bioskop, tan. Karena dapat tiketnya yang hari ini, jadi bisanya sekarang deh perginya, soalnya peminat yang mau nonton ramai banget, tan, sampai semua tiket habis terjual untuk satu minggu kedepan.”sahutnya.
            Tante Lastri mengangguk, “Ooh begitu. Jangan pulang terlalu malam ya..”
            “Nggak kok tante, sekarang kan masih jam setengah satu, selesainya paling sore gitu, tan. Nanti Dimas langsung antar Rena pulang.”
            “Ya sudah, tunggu sebentar ya, tante panggilkan Rena dulu dikamarnya.”
            Dimas kembali mengangguk dan menunggu.
            Huft, sampai kapan aku harus bersandiwara seperti ini?? Aku nggak bisa lama-lama seperti ini...gumam Dimas dalam hati.

***

            Dimas duduk dalam diam. Dua jam berada dalam studio bioskop, tak sedikitpun pikirannya yang dapat mencerna maksud dari film tersebut.
            “Kamu kenapa sih, Mas? Daritadi melamun terus..”tanya Rena.
            “Bisa kita bicara nanti habis ini, Ren?”tanya Dimas dengan pelan, dan wajah yang serius.
            Rena mengerutkan keningnya, menatap wajah Dimas yang samar-samar terlihat dalam cahaya muram dalam studio. “Ya, tentu saja.”sahutnya dengan pelan.

***

            Dimas dan Rena duduk disalahsatu cafe. Didepan mereka tersaji dua gelas capuccino yang mereka nikmati dalam diam, larut dengan pikiran masing-masing.
            “Jadi, mau bicara tentang apa, Mas? Kelihatannya cukup serius?”Rena memulai percakapan mereka.
            “Ya, aku rasa ini cukup serius untuk kita semua kedepannya.”
            Rena mengerutkan keningnya, heran. “Kita semuanya? Maksud kamu?”
            “Iya, kamu pasti tau, aku nggak setuju dengan rencana perjodohan ini. Aku nggak suka caranya seperti ini. Aku bisa cari jodoh dengan caraku sendiri!”
            “Ini semua sudah kesepakatan orangtua kita, Mas. Kita nggak bia berbuat apa-apa.”sahut Rena pelan.
            “Bisa, Ren! Kalau kita bilang sama mereka kita berdua tidak cocok dan sudah punya pilihan lain, mereka pasti bisa ngerti. Aku nggak mau semua ini bikin aku jadi terpaksa menjalaninya, Ren!”desak Dimas.
            “Tapi aku nggak punya orang yang aku sayang saat ini, Mas. Mama tau akan hal itu.”
            “Kita harus bisa, Ren! Kita batalkan pertunangan ini sama-sama, atau aku yang akan membatalkannya sendiri dengan caraku sendiri.”tegasnya.
            Rena menghela nafasnya pelan, “Maaf, Mas. Aku nggak bisa...”sahutnya.
            “Nggak masalah, Ren. Biar aku yang membatalkan semua ini.”ucapnya. “Yuk aku antar kamu pulang sekarang.”
            Dimas mengeluarkan selembar uang limapuluh ribu diatas meja dan segera keluar dari cafe tersebut, diikuti Rena yang tertunduk dibelakangnya.

***

            Riri duduk diruang keluarga rumah Dimas bersama tante Mita. Ia menikmati potongan demi potongan brownies yang masuk dalam mulutnya.
            Memang brownies buatan tante Mita tidak seenak buatan papa – yang notabene seorang chef yang memiliki banyak restoran, namun Riri tidak mempermasalahkannya, asalkan browniesnya masih layak dikatakan “enak” untuk dimakan.
            “Dimas mana ya, tan? Kok daritadi Riri nggak ada liat?”
            Tante Mita melipat tabloid yang sedang dibacanya, “Dimas pergi daritadi siang, ya belum lama sebelum kamu datang tadi. Tante juga kurang tau dia kemana, Dimasnya nggak bilang tante sih.”
            “Ooh, gitu ya, tan..”sahutnya pelan.
            “Assalamualaikum..”
            “Waalaikumsalam.”sahut tante Mita. “Nah, ini dia, baru aja diomongin udah datang Dimasnya.”
            Dimas berjalan menuju ruang keluarga, “Siapa lagi ngomongin Dimas, ma?”
            Dimas nampak sedikit kaget melihat Riri yang duduk diruang keluarga dirumahnya sedang asyik melahap brownies – camilan favoritnya.
            Dengan cepat Dimas merangkul Riri dengan sayang, “Jeleeekkk! Aku kangen banget sama kamu!”serunya dengan senang.
            Tante Mita bangkit dari tempat duduknya, “Mama tinggal kalian berdua ya. Mama rasa banyak yang akan kalian bicarakan berdua.”ucap tante Mita sambil meninggalkan Riri dan Dimas duduk berhadapan.

***

            Dimas duduk berhadapan dengan Riri. Sesaat mereka saling diam, bingung harus memulai percakapan darimana.
            “Udah lama kesini, Ri?”
            Riri mengangguk, “Udah. Lagian, udah lama juga kan aku nggak gangguin tante Mita masak dan minta jatah kue kesini.”sahutnya sambil tersenyum kaku.
            “Ri.”
            “Mas.” Panggil mereka disaat yang bersamaan.
            “Kamu duluan deh.”sahut Dimas.
            Riri menundukkan kepalanya, “Aku minta maaf ya..”
            “Untuk apa?”
            “Untuk semua perbuatan aku yang bikin kamu kesal, dan jadinya marah sama aku. Aku tahu, nggak semestinya aku bohongin kamu. Harusnya aku kasi tau kamu, karena bagaimana pun kamu sahabat aku, yang udah mengenal aku sejak kita baru lahir..”sahutnya pelan.
            Dimas menarik Riri dalam pelukannya. “Aku juga minta maaf, ya Ri. Aku janji nggak akan keterlaluan lagi sama kamu. Tapi kamu jangan menutupi sesuatu yang penting dari aku ya. Aku nggak akan marah dan melarang kamu. Aku siap jadi pendengar cerita-cerita kamu..”
            Riri tersenyum dan mengangguk dalam pelukan Dimas. “Iya, makasi ya, Mas..”
            “Aku kangen kamu, Ri...”
            “Aku juga kangen banget sama kamu, Mas...”sahut Riri sambil tersenyum senang.

***

Minggu, 21 Agustus 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 6



“Kok lama banget sih, Ren keluarnya?”tanya Riri saat melihat Rena baru keluar dari ruangan ulangan. Karena urutan nama mereka jauh, merekapun menjalani ulangan tidak diruang yang sama.
Rena menyeka keringat yang menetes didahinya. “Lama?! Kamu kali yang kecepetan, Ri! Bagi kamu sih, ngerjain fisika cukup sambil tutup mata juga bisa, kalau aku?! Sampai dunia kebalik juga belum tentu aku bisa ngerjain 40 soal itu dengan benar semua!”sungutnya.
Riri terkikik geli. “Ya udah deh, berhubung hari ini aku lagi pengen baik hati, yuk kita ke taman!”Riri menyeret Rena yang kebingungan.
“Apa hubungannya baik hati sama ke taman?”
“Tadi pagi, papa bikinin aku yakiniku dua porsi, karena aku nggak serakus itu, sanggup menghabiskan yakiniku dua porsi, jadi aku akan berbaik hati membaginya kepada sahabat dan teman sebangkuku yang tersayang ini...”sahutnya.
“Waahh, makasi banget Riri sayaangg! Tau banget deh aku kelaperan sekarang. Yuk, Yuk buruan ke taman kita makan..”seru Rena bersemangat.
Riri menahan tangan Rena yang ingin buru-buru menujju taman. “Tunggu dulu ngapa, Ren. Belom selesai ngomong nih.”
“Apaan lagi?”
“Aku mau bagi yakiniku nya, Cuma ada satu syarat ya? Gampang kok..”ujar Riri sambil tersenyum penuh arti.
            Rena membelalakkan matanya dengan lebar. “Hah?! Kayak gini nih yang namanya baik hati? Malah kasi syarat gitu..”sungutnya.
            “Syaratnya gampang kok, Ren. Yaa? Pliisss??”rengek Riri.
            “Apaan sih emangnya?”
            “Antar aku pulang yaa..”ucapnya sambil tersenyum (sok) manis.
            “Hah?! Tumben.. Pak Dadang memangnya kemana?”tanya Rena
            Riri mendengus, “Dia ngantarin mama, nggak tau kemana, jadi nggak bisa jemput. Mau pulang pakai taksi malas ah, Ren. Hemat doonggg..”
            “Kak Riko kemana?”
            “Katanya ada les pulang sekolah ini.”sahut Riri.
            Rena mengangkat sebelah alisnya, “Kok kamu tau, Ri, aku kesekolah hari ini dianter supir pakai mobil? Kan pas aku datang, kamu ada di kelas?”selidik Rena.
            Riri terkikik geli, “Aku kan paranormal, Ren.”godanya.
            “Serius doong, Rii..”pekik Rena sambil mencubit Riri.
            “Aaww.. lepas ah Ren. Sakit tau!”Riri mengelus kedua pipinya yang dicubit Rena dengan gemas.
            “Makanya serius dong, tau dari mana??”tanya rena penasaran.
            “Ya tau nya dari hasil analisis aku lah, Ren.”sahut Riri
            “Maksudnya?”
            “Tadi pagi, kamu nggak seperti biasanya. Kalau kamu ke sekolah bareng kakak kamu pakai motor, rambut kamu pasti kayak habis kena tiup angin topan waktu sampai disekolah, dan dikelas kamu baru sibuk pinjem sisir dan kaca sama aku buat ngerapiin dandanan kamu. Tapi pagi ini, rambut kamu sangat rapi, dan tidak berantakan seidikitpun. Jadi aku memiliki kesimpulan, kamu pasti diantar sama supir pakai mobil, karena kakak kamu nggak bangun-bangun juga setelah dibangunin dan dipukulin sekalipun. Sehingga, dengan kesimpulan tersebut, aku bisa nebeng kamu pulang deh!”jelas Riri sambil tersenyum dengan arti tolong-banget-antar-aku-pulang-nanti-ya.
            Rena mengehela nafasnya. “Oke deh, ntar aku antarin pulang.”
            “Yey! Tengkyu banget Renaa!!”Riri memeluk rena dengan kencang sambil menciumi kedua pipinya.
            “Iihh riri lepas aah. Aku nggak mau disangka pasangan lesbi kamu!”
            Riri tertawa dan melepaskan pelukannya.
            Rena menghela nafas lega dan langsung menarik tangan Riri. “Yuk buruan kita makan. Menghadapi 40 soal fisika dalam waktu kurang dari dua jam bikin aku jadi pengen makan orang!!”

***

            Salah satu hobi Riri yang paling disenanginya – selain membaca, setiap sore, Riri pasti dengan rajin menyirami kebun bunga yang ada dihalaman depan. Dua atau tiga hari sekali diberinya pupuk dan perhatian yang teramat sangat besar setiap harinya.
            Sebenarnya urusan kebun sudah menjadi tugas Toto, tapi khusus untuk kebun bunga, jangan harap ada yang boleh menyentuhnya selain Riri! Karena kecintaannya dengan bunga ini lah, mama pun dengan senang hati – dan perasaaan yang juga berbunga-bunga, membuatkan sekaligus mendesainkan taman bunga kecil disudut kanan halaman rumah mereka.
            Memang, halaman depan rumah tidak seluas halaman belakang, tapi dengan penataan yang bagus dari mama, taman yang tidak terlalu besar itu pun menjadi sangat indah dan sangat asri.
            Disekeliling rumah, sengaja ditanami pohon yang sangat tinggi dan rindang. Entah apa namanya, hanya mama sendirilah yang tau. Di depan ataupun dibelakang halaman rumah, pohon-pohon ini lah yang seolah menjadi “bingkai” rumah mereka.
            Dihalaman depan, terdapaty beberapa jenis dedaunan yang tersusun rapi sepanjang selasar teras. Lalu disudut depan sebelah kanan, berjejer beraneka ragam jenis dan warna bunga. Dari mulai bunga mawar melati semuanya indah sampai bunga terompet dan bunga pukul sembilan pun ada. Cuma bunga raflesia yang tidak ada karena tidak dijual – kalaupun ada yang menjual, mama pasti tidak akan mau membelinya, karena bukan menambah indah rumahnya, malah memperburuk dengan aroma yang tidak sedap itu.
            Sedangkan dipojok kanan, disebelah teras, tepat di depan jendela kamar mama dan papa, terdapat kolam ikan kecil beserta air mancurnya. Sengaja mama meletakkannya disebelah sana, agar mendapatkan kesan dingin yang menyejukkan setiap dia membuka jendela kamarnya.
            Riri sedang asyik merapikan bunga-bunga nya sejak tadi. Namun kegiatannya itu pun terhenti saat terdengar sapaan dari rumah sebelah.
            “Hai, Ri.”
            Riri menoleh dan mendapati Dimas berdiri disamping dinding pembatas rumah mereka. “Hai.”sahutnya tanpa menoleh lagi kearah Dimas – tetap konsentrasi mengurus bunganya.
            “Udah daritadi disitu?”tanya Dimas dengan canggung.
            “Ya.”
            Dimas menghela nafasnya dengan berat. “Heemm, Ri...”
            “Ya, ada apa?”
            Aku kangen kamu yang dulu... “Nggak apa-apa kok. Aku masuk dulu ya.”
            Dimas pun langsung masuk kerumahnya dengan kepala yang tertunduk.
            Riri termenung ditempatnya, dirasakannya ada air yang menetes di pipinya, ia mendongak, ternyata rintik hujan pun turun dan membasahi dirinya. Seolah mengerti dan menemani Riri yang besedih dan ikut menangis bersama langit.
***

            Dimas dengan asyiknya menggerak-gerakkan kedua jempolnya di PSP miliknya. Satu kegiatan yang sering dilakukan Dimas saat dirumah. Tidur, makan, main game, dan.. kerumah Riri.
            Sudah hampir seminggu ini, Dimas tidak bertegur sapa dengan Riri. Jika bertemu disekolah, Riri kadang hanya tersenyum sekilas lalu pergi menjauh darinya. Tadi, saat dilihatnya Riri sedang mengurus kebun bunga nya, Riri pun seakan berbicara dengan Dimas sangat enggan.
            “Kenapa nih, anak mama murung terus belakangan ini?”mama mengelus kepala Dimas dengan sayang.
            “Dimas kangen sama Riri, ma...”keluhnya.
            “Loh,kalau kangen ya tinggal jalan toh kesebelah, kan nggak jauh ini..”
            Dimas menghela nafsnya berat, “Dimas lagi nggak teguran, ma..”
            “Loh, memangnya kenapa? Kamu bikin Riri ngambek ya?”
            Dimas mengangguk, “Iya, ma. Dimas memang agak kelewatan sama Riri, sampai dia marah gitu sama Dimas.”
            “Memangnya kamu ngapain? Cerita dong sama mama..”ucap mama sambil menyalakan televisi didepan mereka.
            “Riri kemarin sempat bohong sama Dimas dan teman sebangkunya. Dia bilang mau pergi sama sepupunya untuk cari kado om nya yang ulang tahun. Tapi ternyata dia perginya sama kak Riko.”
            Mama mengerutkan keningnya, heran. “Memangnya salah kalau Riko pergi sama Riri?”
            “Tapi kak Riko tuh bukan sepupunya Riri, ma! Dia kakak kelas kami di sekolah. Kak Riko naksir sama Riri. Riri bohong sama Dimas, ma!”
            Mama tertawa, “Kamu cemburu sama si Riko itu?”
            Dimas tertunduk dan lanjut memainkan PSPnya lagi, “Nggak kok, Dimas nggak cemburu. Dimas nggak terima aja Riri bohong gitu sama Dimas. Riri nggak pernah gitu dari dulu, dia selalu cerita apapun ke Dimas. Memangnya apa salahnya kalau dia jujur? Dimas kan nggak akan larang dia ma. Dimas Cuma mau Riri jujur sama Dimas.”
            Lagi-lagi mama tersenyum, “Mungkin Riri pengen jaga perasaan kamu sayang..”
            “Maksud mama?”
            “Kamu sudah beranjak remaja sekarang, sudah waktunya kamu belajar untuk menjadi sedikit lebih dewasa dalam menghadapi hidup, terutama dalam menghadapi wanita. Menghadapi Riri yang sahabat kamu aja, kamu kebingungan gini, gimana kalau kamu punya pacar nanti?”goda mama.
            “Aah mama.. Dimas nggak punya pacar. Lagian, Dimas juga nggak ngerti maksud mama apa.”
            “Tidak semua hal bisa wanita katakan pada pria, apalagi (jika) menyangkut hal yang sangat pribadi dan ingin disimpannya sendiri. Untuk menghadapi wanita yang seperti ini, kamu nggak bisa berfikir pake otak sayang, tapi pakai ini...”mama menunjuk dada Dimas sambil tersenyum.

***

            Mama Dimas membukakan pintu rumah untuk papa yang baru pulang kerja. “Tumben pa, pulangnya lebih larut?”tanya mama sambil mengambil tas kerja papa dan mengunci pintu.
            Papa menghempaskan tubuhnya yang lelah di sofa ruang keluarga, “Tadi ada klien yang sedikit bermasalah, ma. Dia nggak terima dengan hasil yang diterimanya dari sidang pengadilan tempo hari. Padahal, percuma saja dia protes sekarang, toh keputusan itu kalau tidak salah papa, sudah ditetapkan sekitar sebulan yang lalu.”
            Papa Dimas adalah seorang pengacara, jadi wajar saja bila ada beberapa klien yang merasa kurang puas dengan yang didapatnya. Toh semua keputusan ditentukan kembali oleh hakim, jadi sebagai pengacara, setelah melakukan hal yang semaksimal mungkin dan menunjukkan bukti yang ada, semua kembali lagi ketangan hakim.
            “Ooh, ya sudahlah pa, toh bukan sekali ini saja papa menghadapi klien yang tidak puas.”sahut mama. “Papa sudah makan?”
            “Sudah kok, tadi papa minta dibelikan makan malam sama satpam di kantor.”jawabnya. “Dimas mana ma?”
            “Mungkin lagi istirahat di kamar, pa. Dia lagi kalut pikirannya.”sahut mama sambil sedikit tertawa.
            “loh, apa lagi yang dikalutkan nya? Bukankah ulangan akhir sudah selesai dijalani nya dengan baik?”tanya papa heran.
            Mama tersenyum sambil memijat kaki papa. “Biasalah pa, dia lagi tidak teguran dengan Riri selama seminggu ini.”
            “Ada apa lagi memangnya? Seingat papa,  terakhir kali mereka bertengkar waktu kelas 6 SD, itu pun tiga hari kemudian mereka sudah berbaikan lagi, kan?
            “Biasalah pa, kesalahpahaman anak remaja. Biarkan saja mereka saling menenangkan diri, nanti juga bisa baik sendiri kok.”
            Papa menghembuskan nafasnya pelan, “Ma, papa rasa kita harus mengambil tindakan untuk Dimas.”
            “Maksud papa?”
            “Beberapa bulan yang lalu, papa bertemu dengan teman lama papa. Mereka baru  pindah dari Surabaya kesini, karena dia dipindah tugaskan kemari. Setelah berbincang lama dengan dia, kami bermaksud menjodohkan Dimas dengan anak perempuannya.”jelas papa.
            “Ha?! Papa tidak bercanda kan?!”sahut mama kaget.
            “Untuk apa papa bercanda mengenai anak kita, ma?”
            “Tapi pa, biarkan Dimas menentukan pilihannya sendiri. Dimas sudah besar, biarkan dia menjalani kehidupan remaja nya, jangan dijodohkan seperti zaman kita dulu, pa!”
            “Ma, sampai kapan Dimas begini terus? Dia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain Riri kan? Mana ada perempuan yang mau dekat dia kalau dia saja tidak pernah lepas dari Riri seperti itu?!”sergah papa.
            “Kalau Dimas seperti itu karena dia sayang pada Riri melebihi seorang sahabat bagaimana pa? Kita tidak bisa melarangnya.. Itu perasaannya..”
            “Tidak ma! Sahabat kecil tetap saja sahabat kecil! Papa sudah memutuskan ini dan memikirkannya secara matang, ini yang terbaik untuknya. Tidak ada bantahan lagi ma!”tegas papa.

***

            Tok..tok..tok.. “Rena...”panggil mama dari balik pintu kamar Rena.
            “Iya ma, masuk aja nggak Rena kunci kok.”
            Rena sedang mengeringkan rambutnya yang basah – setelah tadi keramas, dengan hair dryer miliknya. “Ada apa, ma?”
            “Kita ke mall yuk, Ren.”ajak mama.
            “Tumben ngajak Rena ke mall, ma?”godanya. “Memangnya mau cari apa?”
            Mama tersenyum, “Kita ke salon, terus cari gaun untuk kamu nanti malam.”
            Rena terbelalak kaget, “Ha?! Nanti malam? Memangnya nanti malam ada apa, ma?”
            “Masih rahasia, pokoknya kamu siap-siap sekarang ya. Limabelas menit lagi kita berangkat, mama tunggu di mobil.”
            Mama menutup pintu kamar Rena, dan meninggalkan anak gadisnya itu kebingungan ditempatnya.

***

            Mama memoleskan lipstik di bibir Rena sebagai sentuhan terakhir, “Nah, sekarang anak mama sudah cantik deh!”seru mama dengan senang melihat Rena yang tmpak anggun dengan gaun yang dipilihkannya tadi siang.
            Rena menatap bayangan dirinya yang terpantul dikaca, “Waah, mama hebat deh. Harusnya mama buka salon kecantikan aja deh.”puji Rena sambil mengecup kedua pipi mamanya dengan sayang.
            “Kamu pandai memuji juga ya..”olok mama. “Mana sepatu yang tadi kamu beli? Coba kamu pakai, mama ingin lihat hasil keseluruhan dari kreasi mama malam ini.”
            Rena mengeluarkan wedges putih yang tadi dibelinya bersama mama.
            “Sempurna..”ucap mama dengan menirukan gaya Demian – magician yang sering muncul di televisi.
            Rena tersenyum manis, “makasih ya, ma.”
            “Iya. Kamu siap-siap ya, bentar lagi langsung turun ke bawha, papa pasti sudah tidak sabar menunggu kita yang daritadi belum juga turun.”
            Rena tertawa dan mengangguk. Ia mengambil tas tangannya yang berwarna putih juga – yang diletakkannya diatas tempat tidur. Sebelum ia keluar, ia kembali mematut dirinya didepan kaca.
            Gaun putih pilihan mama yang berbahan satin ini memang sesuai dengan seleranya. Wedges dan tas tangan kecil dengan warna senada mempermanis dandanan Rena malam ini.
            Rambut lurus panjangnya digelung kebelakang dan disisakan sedikit bebertapa helai disamping telinganya.
            Sambil tersenyum pada bayangan dirinya, Rena menutup pintu kamarnya dan berjalan menuruni tangga.

***
            Dimas duduk dikursi belakang mobil dalam diam. Sesekali papa mama memperhatikan kediaman anaknya itu melalui kaca spion yang berada didalam mobil.
            “kamu kok daritadi diam  terus, Mas?”tanya mama.
            “Nggak apa-apa kok, ma.”sahutnya pelan.
            Mama menghela nafasnya pelan, sedangkan papa hanya geleng kepala dan tetap konsentrasi menghadap jalan didepannya – mengemudikan mobil.
            Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di salah satu hotel terkemuka di daerah Bandung dan naik dengan lift menuju restoran yang berada dilantai atas. Entah dilantai berapa, karena Dimas tidak memperhatikan angka penunjuk didalam lift, karena sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah terbang tak tau kemana.
            “Ma, Dimas ke toilet dulu ya.”ujarnya saat mereka sudah sampai di meja pesanan papa.
            Mama mengangguk, “Iya, jangan lama-lama ya.”
            Dimas pun pergi menuju toilet yang berada diujung restoran ini.

***

            Dodi memperhatikan sekelilingnya dan mencari sosok yang dikenalnya. Diujung sana terlihat Irawan, teman lamanya duduk dimeja bundar bersama istrinya.
            “Selamat malam, Irawan..”sapanya sembari merangkul teman lamanya itu.
            “Malam, Dodi. Waah, tampak lebih gagah dari biasanya nih.”canda Irawan.
            Dodi tertawa, “Ah, bercanda saja bisanya. Jelaslah, kalau hari biasa kamu hanya melihatku dalam balutan seragam kepolisian, kalau sekarang kan aku bisa sedikit bergaya dengan setelan jas.”
            Dodi merangkul istrinya, “Perkenalkan, ini istriku, Lastri. Tentu kamu masih ingat kan, Wan?”
            Irawan mengangguk sambil tertawa, dan mengulurkan tangannya ada Lastri. “Tentu saja. Dialah wanita yang kamu kejar-kejar sejak SMP. Senang sekali melihat kalian masih bersama hingga sekarang.”
            “Tentu. Kamu tau, untuk urusan percintaan, aku memang jauh beruntung daripadamu, yang sejak dulu, sangat pemalu. Beruntung sekali kamu mendapatkan istri yang cantik seperti ini. Padahal untuk berkenalan dengan perempuan saat SMA saja, muka mu sudah memerah seperti udang rebus!”ucap Dodi sambil tertawa dan mengenalkan Lastri pada istri Irawan.
            Mita tersenyum memandang seorang gadis yang daritadi berdiri disamping Lastri, “Siapa gadis cantik ini? Apa anak kalian?”tanyanya lembut.
            Lastri mengangguk, “Iya, ini anak bungsu kami. Anak tertua kami, laki-laki, tapi dia sedng sibuk dengan urusannya sendiri, tidak tau pergi kemana.”
            Dodi dan Irawan asyik berbincang dan tertawa, “Ngomong-ngomong, mana anak kalian?”tanya Dodi.
            “Ooh, dia sedang ke toilet, sebentar lagi mungkin datang.”sahut Mita.
            “Itu dia.”Irawan menunjuk kearah Dimas yang baru keluar dari toilet dan menuju kearah mereka.
            Dimas mengerutkan keningnya heran, kenapa sekarang meja itu menjadi ramai? Apa papa mengundang temannya? Dan, siapa pula gadis bergaun putih yang membelakanginya?
            Dimas berdiri disamping papanya, Irawan. “Ini dia anak kami. Dimas, ini teman lama papa, namanya pak Dodi.”
            Dimas menyalami pak Dodi dengan sopan dan tersenyum.
            “Dimas, kenalkan ini anaknya om Dodi dan tante Lastri.”
            Gadis bergaun putih itu pun berdiri. Wajahnya tertunduk.
            Rena mengangkat wajahnya dan begitu kaget saat melihat sosok yang dikenalnya kini berad tepat didepannya.
            “Dimas?!”
            “Rena?!”ucap mereka berdua hampir bersamaan.
            “Wah, ternyata kalian sudah saling mengenal, ya?”ucap Dodi sambil tersenyum.
            Irawan menepuk pundak Dimas dua kali, dan tersenyum. “Bagus kalau kalian sudah saling mengenal. Berarti, setelah kalian lulus SMA nanti, acara pertunanganpun bisa langsung kita laksanakan.”
            “Pertunangan? Maksud papa?”sahut Rena bingung.
            Dodi mengangguk. “Iya, kamuu dan Dimas akan kami tunangkan setelah kalian lulus SMA nanti.”
            “APA?!!”

***