Powered By Blogger

Selasa, 30 Agustus 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 7

Riri duduk di bangku taman dengan perasaan gelisah. Kaki dan tangannya tidak berhenti bergerak – seolah tidak betah hanya duduk diam dan menunggu saja.
            Hari ini adalah saat yang ditunggu Riri selama kurang lebih satu minggu. Pembagian hasil nilai akhir, yang disusun dan dijadikan satu dalam sebuah “raport”. Pada pembagian raport ini, orangtua lah yang bisa mengambilkan, sedangkan para murid disuruh menunggu diluar ruang kelas.
            Riri duduk sendiri di taman dengan gelisah. Rena tidak datang hari ini, karena dia bilang, dia tidak mau ikutan pusing dan deg-degan menunggu disekolah,jadi baginya cukup dia menunggu dengan santai dirumah. Toh dia telah melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang “cukup”.
            Dimas.. sudah hampir dua minggu dia tidak ada bertegur sapa – dalam arti biasanya. Jika bertemu disekolah, hanya saling menyapa seadanya atau cukup hanya sedikit tersenyum. Dimas pun sudah jarang datang kerumah Riri. Padahal “biasanya” setiap akhir minggu ataupun hari libur sekolah, Dimas selalu datang kerumahnya. Mulai hanya sekedar mengganggu tidur siangnya, meneriakinya dengan kencang dari luar pagar, memaksa Riri untuk memasakkan makan siang untuknya, sampai menggoda Bi’ Inah sampai Pak Dadang kadang cemburu.
            Dimas, aku kangen kamu...
            “Hai, Ri..”
            Riri menoleh dan mendapati Riko berdiri disampingnya sambil tersenyum, “Hai, kak.”sahutnya sambil ‘sedikit’ tersenyum, dan menggeser tubuhnya agar Riko bisa duduk disampingnya.
            “Mama kamu belum keluar, Ri?”
            Riri menggeleng, “Belum kak, lama banget ya. Kayaknya Bu Wati kata sambutannya sepanjang pidato presiden saat upacaran kemerdekaan di istana negara nih!”
            “Sabar aja, paling sebentar lagi juga tiba giliran kamu, Ri.”
            “kakak udah terima raport nya?”tanya Riri- melihat raport yang daritadi dipegang oleh Riko.
            Riko mengangguk, “Udah kok, cepat kan.”ucapnya dengan bangga.
            “Kok bisa dapat cepar kak? Nama kakak kan huruf depannya “R” harusnya duluan aku dong yang hurufnya “F”.”
            “Kalau wali kelas kakak, membagikan raport mulai dari yang masuk tiga besar sampai sepuluh besar, setelah itu sisanya baru dibagikan sesuai nomor urut absen.”
            “Waah, berarti kakak masuk sepuluh besar dong! Lihat kak raportnya..”
            Riri mengambil raport yang dipegang Riko. Matanya terbelalak lebar dan tersenyum – terpukau. “Waah, kakak jadi juara kelas! Selamat ya kak..”
            “Iya, makasih.”sahutnya sambil tesenyum. “Tapi sebenarnya sih dari dulu juga jadi juara kelas.”sahutnya sambil tertawa, menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sedikitpun.
            “Wah, jadi agak sombong nih..”ledeknya.
            Riko tertawa kikuk. “Ri, tuh mama kamu..”
            Riri menoleh dan melihat sosok mamanya berjalan kearah mereka di taman.
            Mama tersenyum manis, “Selamat ya, sayang..”ucapnya sambil memeluk Riri dengan sayang.
            “Gimana hasilnya, ma?”
            “Kamu juara kelas. Kamu juga masuk IPA, sesuai keinginan kamu.”seru mama sambil tersenyum lebar.
            Riri berloncatan riang dan langsung kembali memeluk mamanya.
            “Mama pulang duluan ya sayang. Mama ada janji sama klien mama yang baru dirumah. Kamu pulang naik taksi aja nggak apa-apa kan?”tanya mama sambil menyerahkan raport kepada Riri.
            “Iya ma, nggak apa-apa.”Riri mencium tangan dan pipi mamanya.
            Mama beralih pada Riko yang berdiri dibelakangnya, “Tante duluan ya, Riko.”
            Riko mengangguk sambil tersenyum, “Iya tante. Hati-hati dijalannya, te.”ucapnya sambil mencium tangan mama Riri dengan hormat.
            “Terimakasih, ya.”balas mama sambil tersenyum. “Mama pulang ya, Ri.”
            “Iya, ma. Hati-hati ya.”sahutnya sambil memandangi kepergian mamanya menuju mobil mereka yang ada di tempat parkir – bersama pak Dadang yang mengemudikannya.
            “Ri, aku yang antar pulang ya.”ujar Riko.
            Riri tersenyum, “Boleh. Tapi aku ke toilet dulu ya, kak.”
            “Yuk, sekalian aku mau ke toilet juga.”
            “Kakak mau ngikutin aku ke toilet?!”pekik Riri sambil membelalakkan matanya dengan lebar.
            Riko tertawa dan membeli rambut Riri, “Ya enggak lah, ngaco aja deh. Kamu ke toilet cewek, aku ke toilet cowok.”sahutnya.
            “Ooh, kirain kakak penguntit yang suka ngikutin cewek ke toilet!”godanya.
            “Ngaco deh!.”sergahnya sambil tertawa, “Tapi kalau yang ke toiletnya kamu sih, aku mau deh jadi penguntit.”sahutnya sambil mengerlingkan matanya nakal.
            “Aaahh kakak!!”pekik Riri sambil mencubit lengan Riko dengan gemas.

***

            Rena berjalan menghampiri Dimas dan mamanya yang berdiri dipinggir lapangan, didepan kelas Dimas.
            “Hai, tante..”sapa Rena seraya tersenyum manis, dan mengecup kedua pipi mama Dimas.
            “Hai, sayang. Gimana hasil raportnya? Dapat peringkat nggak?”     
            Rena tersenyum, “Alhamdulillah masuk IPA, tan. Masuk sepuluh besar juga, tan.”
            “Waah, selamat ya sayang. Kalau si Dimas sih, bisa  naik kelas aja syukur deh!”desis mamanya.
            Dimas menekuk wajahnya, “Iih mama! Dimas nggak bodoh banget kali.”sungutnya.
            Mama Dimas tertawa sambil mengacak rambut anaknya yang sedang cemberut, “Iya, anak mama memang nggak bodoh, tapi sayangnya aja malas buat belajar. Masa dari dulu sampai sekarang cuma bisa dalam posisi duapuluh besar aja, dari tigapuluh lima murid?!”
            “Yaa.. terserah mama deh ah. Yuk ma, pulang deh, ngapain juga lama-lama disini.”
            “Ya udah, sekalian kita ke mall ya, ada yang mau mama cari. Rena ikut sama kita yuk, sayang? Nanti pulangnya sekalian antar kamu, mama udah pulang duluan kan?”tanya mama Dimas.
            Rena mengangguk, “Iya, tante. Mama udah pulang duluan tadi, setelah ambil raport rena.”
            “Ya udah, yuk kita pergi sekarang.”mama Dimas merangkul Rena dengan sayang.

***

            Riko berdiri didepan pintu toilet cewek – bersandar di pilar sambil menatap lurus kearah pinggir lapangan basket.
            “Kak, lagi liat apaan?”tanya Riri yang baru keluar dari toilet.
            “Eh, Riri. Udah selesai? Kok lama banget sih?”goda Riko.
            Riri tertawa, “Namanya juga cewek, kak. Cewek kan memang butuh waktu yang lebih lama didalam toilet.”sahutnya sambil menahan senyum. “Kakak ngeliatin apaan sih daritadi?”
            “Oh, ngeliatin Dimas, sama seorang wanita separuh baya, dan Rena. Kayaknya mereka akrab banget deh.”Riko menunjuk kearah pinggir lapangan.
            Riri mengerutkan keningnya, “Dimas sama Rena kan memang dekat, sejak aku kenalin mereka, mereka berdua juga jadi sahabat aku, kak.  Tapi aku baru tau Rena kenal akrab dengan tante Mita – mamanya Dimas. Kapan Rena berkenalan dengan tante ya? Kok aku bisa nggak tau sih?!”
            Riri menatap heran kearah mereka dan mengikuti kepergian mereka menuju halaman parkir, dengan tante Mita yang merangkul Rena dengan sayang, seperti anak sendiri...

***

            Riri duduk diam di gazebo sambil melamun. Sejak pertikaiannya dengan Dimas  tempo hari, Riri benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Dimas. Bahkan ia pun tidak tau bahwa Rena kenal dekat dengan tante Mita. Teganya lagi Rena tidak memberitahukannya sama sekali!
            “Riri...”
            Riri menoleh dan mendapati mama berdiri diujung gazebo. “Ya, ma?”
            “Mama boleh temanin kamu disini?”tanya mama dengan lembut.
            Riri tersenyum manis, “Ya boleh lah, ma. Aku seneng malah kalau mama mau nemenin aku terus setiap hari.”
            “Waah kalau mama nemenin kamu terus setiap waktu, berarti mama nggak punya waktu buat kerja dan ngurus rumah dong. Memangnya kamu nggak mau makan setiap hari, kalau mama nggak masak?”
            “Yaah, mama.. Tetap harus masak dong!”
            “Loh, gimana mama mau masak, kalau kamu aja minta mama temenin kamu terus? Berarti kan mama harus temenin kamu sekolah, terus tidur siang, pergi jalan ke toko buku, iya kan?”goda mama.
            “Aaahh mama. Berdebat sama mama bikin aku sebel sendiri deh.”sahut Riri sambil cemberut.
            Mama tertawa  dan membelai lembut rambut Riri yang berbaring dipangkuannya. “Kamu kenapa sih sayang? Kok pulang-pulang dari sekolah malah melamun? Riko bikin kamu kesal ya, saat ngantar pulang tadi?”
            “Nggak kok, Ma. Kak Riko tadi malah nraktir makan es krim pas pulang. Kak Riko nggak bikin aku kesal kok, ma.”
            “Terus, kanapa dong kamu melamun daritadi?”
            Riri menghela nafas pelan, “Dimas, ma.”
            “Kenapa Dimas? O iya, mama juga bingung loh, kok sudah lama Dimas nggak datang kesini?”
            “Itu masalahnya, ma. Riri udah nggak dekat lagi sama Dimas. Sejak hampir tiga minggu yang lalu, Riri bertengkar sama Dimas.”
            “Loh kenapa bisa begitu?”tanya mama.
            Riri pun menceritakan semuanya pada mama, mulai dari Dimas yang tidak suka Riri menutup-nutupi sesuatu darinya, juga tentang kedekatan yang baru diketahui Riri – Rena sangat akrab dengan tante Mita, yang bahkan sebelum ini, setahu Riri, mereka belum pernah bertemu. Kalaupun sebelum ini mereka sudah saling mengenal, kenapa Rena menutupi semua ini dari Riri?!
            “Kenapa kamu nggak tanya aja sama Dimas? Mau sampai kapan kamu nggak teguran sama dia, Ri? Kamu nggak pernah nggak teguran sama Dimas, nggak pernah lebih dari tiga hari.”ucap mama.
            “Riri nggak enak ma, mau negur Dimas duluan.”sahutnya pelan.
            Mama tersenyum dan kembali membelai rambut anaknya, “Mama nggak pernah melahirkan anak yang tidak berani maju, hanya karena tidak enak.”
            “Iya deh, ma. Nanti Riri kerumah Dimas besok.”

***
            Riri berjalan mondar-mandir didepan rumahnya. Dilema mendera hatinya, antara rasa rindu dan penasaran terhadap penjelasan Dimas mengenai kedekatan “aneh”nya dengan Rena, dan juga rasa tak enak hati pada Dimas.
            Dengan langkah yang berat dan sedikit terseret, Riri berjalan menuju sebuah rumah yang sama besarnya dengan rumah Riri – namun beda suasana, bentuk, dan penampilan fisik lainnya – yang berada persis disebelah kiri rumahnya.
            Tok...tok...tok... “Assalamualaikum.”
            Terdengar derap langkah dari dalam rumah, menghampiri pintu, “Waalaikumsalam. Waah, Riri! Apa kabar sayang?”Riri pun langsung disambut pelukan hangat tante Mita
            “Baik kok, tante. Tante sendiri gimana?”Riri membalas pelukan hangat tante Mita dan mengikutinya masuk kedalam rumah, menuju dapur.
            “Baik dong, sayang. Oiya, kamu temenin tante bikin kue yuk, kamu suka brownies kan?”
            Mata Riri berbinar, “Suka banget, tante!”sahutnya dengan riang.
            Tante Mita tersenyum, “Bagus kalau begitu, kamu temenin tante masak kue, nanti, kamu boleh bawa pulang satu loyang ya buat dirumah.”
            “Waah, makasi banget tante.”
            Dengan semangat dan senang Riri pun bergelut dengan tepung, dan coklat untuk membuat brwonie. Sesaat ia lupa dengan maksud kedatangannya untuk mencari Dimas dan meminta maaf.

***

            Dimas duduk manis diatas sofa, di ruang tamu rumah Rena. “Sudah lama, mas?”
            Tante Lastri menghampirinya dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, “Belum terlalu lama kok, tan.”sahutnya dengan senyum ‘terpaksa’.
            “Mau pergi kemana hari ini sama Rena?”
            “Kita mau nonton film di bioskop, tan. Karena dapat tiketnya yang hari ini, jadi bisanya sekarang deh perginya, soalnya peminat yang mau nonton ramai banget, tan, sampai semua tiket habis terjual untuk satu minggu kedepan.”sahutnya.
            Tante Lastri mengangguk, “Ooh begitu. Jangan pulang terlalu malam ya..”
            “Nggak kok tante, sekarang kan masih jam setengah satu, selesainya paling sore gitu, tan. Nanti Dimas langsung antar Rena pulang.”
            “Ya sudah, tunggu sebentar ya, tante panggilkan Rena dulu dikamarnya.”
            Dimas kembali mengangguk dan menunggu.
            Huft, sampai kapan aku harus bersandiwara seperti ini?? Aku nggak bisa lama-lama seperti ini...gumam Dimas dalam hati.

***

            Dimas duduk dalam diam. Dua jam berada dalam studio bioskop, tak sedikitpun pikirannya yang dapat mencerna maksud dari film tersebut.
            “Kamu kenapa sih, Mas? Daritadi melamun terus..”tanya Rena.
            “Bisa kita bicara nanti habis ini, Ren?”tanya Dimas dengan pelan, dan wajah yang serius.
            Rena mengerutkan keningnya, menatap wajah Dimas yang samar-samar terlihat dalam cahaya muram dalam studio. “Ya, tentu saja.”sahutnya dengan pelan.

***

            Dimas dan Rena duduk disalahsatu cafe. Didepan mereka tersaji dua gelas capuccino yang mereka nikmati dalam diam, larut dengan pikiran masing-masing.
            “Jadi, mau bicara tentang apa, Mas? Kelihatannya cukup serius?”Rena memulai percakapan mereka.
            “Ya, aku rasa ini cukup serius untuk kita semua kedepannya.”
            Rena mengerutkan keningnya, heran. “Kita semuanya? Maksud kamu?”
            “Iya, kamu pasti tau, aku nggak setuju dengan rencana perjodohan ini. Aku nggak suka caranya seperti ini. Aku bisa cari jodoh dengan caraku sendiri!”
            “Ini semua sudah kesepakatan orangtua kita, Mas. Kita nggak bia berbuat apa-apa.”sahut Rena pelan.
            “Bisa, Ren! Kalau kita bilang sama mereka kita berdua tidak cocok dan sudah punya pilihan lain, mereka pasti bisa ngerti. Aku nggak mau semua ini bikin aku jadi terpaksa menjalaninya, Ren!”desak Dimas.
            “Tapi aku nggak punya orang yang aku sayang saat ini, Mas. Mama tau akan hal itu.”
            “Kita harus bisa, Ren! Kita batalkan pertunangan ini sama-sama, atau aku yang akan membatalkannya sendiri dengan caraku sendiri.”tegasnya.
            Rena menghela nafasnya pelan, “Maaf, Mas. Aku nggak bisa...”sahutnya.
            “Nggak masalah, Ren. Biar aku yang membatalkan semua ini.”ucapnya. “Yuk aku antar kamu pulang sekarang.”
            Dimas mengeluarkan selembar uang limapuluh ribu diatas meja dan segera keluar dari cafe tersebut, diikuti Rena yang tertunduk dibelakangnya.

***

            Riri duduk diruang keluarga rumah Dimas bersama tante Mita. Ia menikmati potongan demi potongan brownies yang masuk dalam mulutnya.
            Memang brownies buatan tante Mita tidak seenak buatan papa – yang notabene seorang chef yang memiliki banyak restoran, namun Riri tidak mempermasalahkannya, asalkan browniesnya masih layak dikatakan “enak” untuk dimakan.
            “Dimas mana ya, tan? Kok daritadi Riri nggak ada liat?”
            Tante Mita melipat tabloid yang sedang dibacanya, “Dimas pergi daritadi siang, ya belum lama sebelum kamu datang tadi. Tante juga kurang tau dia kemana, Dimasnya nggak bilang tante sih.”
            “Ooh, gitu ya, tan..”sahutnya pelan.
            “Assalamualaikum..”
            “Waalaikumsalam.”sahut tante Mita. “Nah, ini dia, baru aja diomongin udah datang Dimasnya.”
            Dimas berjalan menuju ruang keluarga, “Siapa lagi ngomongin Dimas, ma?”
            Dimas nampak sedikit kaget melihat Riri yang duduk diruang keluarga dirumahnya sedang asyik melahap brownies – camilan favoritnya.
            Dengan cepat Dimas merangkul Riri dengan sayang, “Jeleeekkk! Aku kangen banget sama kamu!”serunya dengan senang.
            Tante Mita bangkit dari tempat duduknya, “Mama tinggal kalian berdua ya. Mama rasa banyak yang akan kalian bicarakan berdua.”ucap tante Mita sambil meninggalkan Riri dan Dimas duduk berhadapan.

***

            Dimas duduk berhadapan dengan Riri. Sesaat mereka saling diam, bingung harus memulai percakapan darimana.
            “Udah lama kesini, Ri?”
            Riri mengangguk, “Udah. Lagian, udah lama juga kan aku nggak gangguin tante Mita masak dan minta jatah kue kesini.”sahutnya sambil tersenyum kaku.
            “Ri.”
            “Mas.” Panggil mereka disaat yang bersamaan.
            “Kamu duluan deh.”sahut Dimas.
            Riri menundukkan kepalanya, “Aku minta maaf ya..”
            “Untuk apa?”
            “Untuk semua perbuatan aku yang bikin kamu kesal, dan jadinya marah sama aku. Aku tahu, nggak semestinya aku bohongin kamu. Harusnya aku kasi tau kamu, karena bagaimana pun kamu sahabat aku, yang udah mengenal aku sejak kita baru lahir..”sahutnya pelan.
            Dimas menarik Riri dalam pelukannya. “Aku juga minta maaf, ya Ri. Aku janji nggak akan keterlaluan lagi sama kamu. Tapi kamu jangan menutupi sesuatu yang penting dari aku ya. Aku nggak akan marah dan melarang kamu. Aku siap jadi pendengar cerita-cerita kamu..”
            Riri tersenyum dan mengangguk dalam pelukan Dimas. “Iya, makasi ya, Mas..”
            “Aku kangen kamu, Ri...”
            “Aku juga kangen banget sama kamu, Mas...”sahut Riri sambil tersenyum senang.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar