“Jeeellleeekkkkk!!”
Riri menggeliat didalam selimutnya. “Iih, siapa sih ribut-ribut pagi-pagi gini?!”
Tok..tok..tok.. “Jelek, buruan buka pintunya, sebelum aku masuk tanpa permisi nih!”suara cempreng Dimas yang teriak dari depan pintu kamar Riri memekakan telinga Riri yang daritadi bergelut dalam selimut.
Riri menarik selimutnya lebih erat hingga menutupi seluruh wajah dan juga kedua telinganya. “Iih, Dimas bikin ribut ah!”sungutnya sambil mencoba menutup mata kembali.
Dimas membuka pintu kamar Riri dan berjalan kesisi tempat tidur Riri. Dilihatnya gadis itu kembali mencoba tidur dengan bergelut didalam selimutnya. “Banguun, jelekkk!”
Dimas menarik selimut Riri dan membuka seluruh tirai yang menutupi jendela kamar Riri.
Riri menutup kedua matanya dengan lengan kanan. “Iih Dimas! Rese banget sih pagi-pagi gini?! Baru juga jam setengah enam pagi nih!”sungut Riri sambil melirik jam dindingnya.
“Masa kalah sih sama aku, Ri? Pemegang rekor “jarang bangun pagi” ini aja sekarang bisa bangun lebih pagi daripada kamu.”ejeknya.
“Ah, biasanya aku habis sholat subuh gak tidur lagi kok. Berhubung kurang tidur aja, makanya aku tidur lagi tadi. Masih ngantuk nih, Mas.”
“Emang ngapain kamu tadi malam?”
Riri meletakkan bantalnya kesisi atas tempat tidur, dan bersandar. “Aku begadang nonton dvd, Mas.”
“Dvd apaan lagi?! kayak nggak bisa nonton siang aja, sampe begadang sampai malam gitu.”sahut Dimas.
“Iih, feel nya tuh lebih “dapet” kalo nontonnya malem, Mas.”
“Iya deh, terserah aja. Buruan mandi, Ri.”Dimas menarik tangan Riri dan mendorongnya menuju kamar mandi.
“Mau ngapain sih, Mas??”
“Udah deh, mandi aja dulu sana. Ntar aku kasi tau deh.”sahutnya penuh rahasia.
***
Riri mengambil helm yang diberikan Dimas dan naik ke boncengan. “Kita mau kemana sih, Mas?”
“Duduk diam aja deh diboncengan, aku mau bawa kamu ke suatu tempat, Ri.”sahutnya sambil mengenakan helmnya.
“Kemana?”
“Rahasia, jelek..”sahut Dimas sambil tersenyum jahil.
“Iih, rese’ banget sih!”Riri mencubit pinggang Dimas dengan geram.
“Sakit, Ri..”erangnya.
“Bodo’ amat. Buruan deh jalan, sebelum mood aku makin jelek nih!”ancam Riri dengan wajahnya yang cemberut.
Dimas memandang wajah Riri yang terpantul dari kaca spion motornya, “Senyum dulu dong, baru kita berangkat!”serunya.
Riri menarik kedua pipinya dengan paksa – tersenyum.
Dimas menarik gas motornya secara tiba-tiba hingga tubuh mungil Riri tersentak kebelakang.
“DIMAAAASSS!!!”pekik Riri.
***
Riko menghentikan mobilnya didepan rumah Riri. Ia menatap pantulan wajahnya yang terlihat di spion, dan membetulkan baju dan rambutnya agar terlihat lebih rapi.
Dengan senyum yang mengembang diwajahnya, ia turun dari mobil dan menekan bel pintu.
“Selamat siang, tante.”sapa Riko dengan ramah saat tante Lastri membukakan pintu untuknya.
“Selamat siang. Waah, Riko. Apa kabar sayang?”tante Lastri mengulurkan tangan kanannya dan disambut oleh Riko – mengecup tangan wanita separuh baya itu dengan hormat.
“Baik kok, tan. Tante apa kabar juga?”
Tante Lastri tersenyum, “Baik dong. Kamu cari siapa nih? Cari tante atau cari Riri?”godanya sambil menahan senyum.
Riko tersipu malu, “Pengen ketemu tante juga kok, Cuma tujuan utamanya sih cari Riri, tan.”sahutnya sambil tersenyum.
“Sudah pasti dong ya, cariin Riri.”sahutnya sambil tersenyum. “Tapi sayang banget, Riko. Ririnya pergi dari tadi pagi.”
Riko mengerutkan keningnya heran, “Pergi dari pagi, tan? Sama siapa?”
“Iya dari pagi. Dimas yang jemput. Pagi banget loh, sekitar jam setengah tujuh mereka sudah berangkat.”
“Sepagi itu, tan?!”sahut Riko kaget.
Tante Lastri mengangguk bingung. “Iya. Memangnya kenapa, Rik?”
Riko menggeleng dengan cepat, “Nggak kenapa-kenapa, tan. Kalau boleh tau, mereka kemana ya?”
“Tante kurang tau juga, tuh.”
“Ya sudah kalau begitu, saya pergi dulu ya, tan.”
“Loh, kok buru-buru? Nggak mau masuk dulu? Biar tante teleponkan Ririnya, biar dia cepat pulang.”
Riko menggeleng, “Nggak usah deh tante. Sampaikan aja salam dari Riko buat Riri.”
“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya.”
Riko kembali mencium tangan tante Lastri. “Permisi ya, tante.”
“Iya..”
Tatapan heran tante Lastri pun mengiringi kepergian Riko – menuju mobilnya yang terparkir didepan pagar , dengan kepalanya yang tertunduk lesu.
***
Riko menghentikan motornya didepan sebuah tanah lapang yang tertutup oleh seng, yang terpasang berderet membentuk sebuah pagar tinggi yang menghalangi pemandangan dari dalam terlihat dari luar.
“Tempat apa ini, Mas?”tanya Riri heran, saat mereka berhenti didepan sebuah tempat yang tertutup oleh seng yang dipasang mengelilingi tempat tersebut.
“Menurut kamu ini tempat apa?”
Riri memandang berkeliling. Disekitar tempat mereka berhenti kini, banyak kebun-kebun, seperti kebun buah melon, stoberi, serta buah-buah lainnya. “Kamu bawa aku ke kebun buah apa?”
Dimas tertawa dan turun dari motornya. “Bukan kebun buah jelek. Kamu sini deh.”Dimas menarik Riri agar mendekat disisinya.
Ia memakaikan penutup mata kepada Riri. “Kok pakai tutup mata segala sih, Mas?”
“Biar kamu terkejut dengan apa yang kamu lihat nanti.”
“Terkejut dengan apa? Apa didalam sana ada Agnes Jessica – penyanyi favoritku?”
Dimas tertawa, “Ya nggaklah. Mana aku punya uang sebanyak itu, buat manggil Agnes kesini buat nyanyi secara spesial buat kamu..”sahutnya.
“Terus apaan dong??”tanya Riri penasaran.
Dimas membimbing Riri dengan pelan. “Kamu akan tau ada apa didalam sana setelah kamu melihatnya sendiri.”sahutnya sambil tersenyum.
***
Riko terduduk lesu dikursi kemudi mobilnya. Matanya menatap lurus kearah jalan yang penuh hilir mudik kendaraan yang terhadang macet.
Ia selalu melakukan hal ini. Mencoba menenggelamkan pikirannya yang kusut dalam perjalanan macet menuju Jakarta yang sekarang sedang dilakukannya.
Handphone Riko berbunyi nyaring dari dalam kocek celananya. “Halo.”
“Selamat sore,dengan bapak Riko?”
“Ya, saya sendiri. Siapa ini?”
“Kami dari restoran XXX , pak. Kami ingin konfirmasi ulang untuk rencana bapak untuk sore besok, apakah jadi dilaksanakan?”
“Maaf ya, mas. Rencananya tidak jadi saya laksanakan hari ini. Mungkin beberapa hari kedepan. Saya tetap memakai restoran ini, tetapi waktunya yang saya geser. Tidak apa-apa, bukan?
“Tidak apa-apa, pak. Karena bapak juga salah satu pelanggan restoran kami yang sangat kami kenal, kami percaya kepada bapak. Bapak cukup konfirmasi ulang saja, kira-kira kapan bapak akan melaksanakannya, agar kami bisa mempersiapkan semuanya dengan tidak terburu-buru.”
“Baik, mas. Terimakasih ya.”
“Baik, pak. Selamat sore.”
Dimas menutup handphonenya, dan menghela nafas pelan.
Wajahnya tertunduk lemas. Ia melipat kedua tangannya didepan stir dan menungkupkan kepalanya. Seolah tidak perduli pada apapun, ia tidak memperdulikan terdengar ribut klakson mobil yang berbunyi dibelakangnya.
***
Dimas menuntun Riri memasuki tempat yang sudah berada didepan mereka. Riri pun melangkah pelan agar tidak tersandung batu yang sesekali menghilangkan keseimbangannya. Untungnya lengan Dimas dengan siaga memegangi tubuhnya, hingga Riri tidak sampai terjungkal tersandung batu.
Dimas membuka pagar yang terpasang disekeliling tempat ini – terbuat dari seng yang tersusun berjajar, hingga menimbulkan suara bergesek yang cukup nyaring.
Riri harus sedikit melompat karena ada sebuah kayu melintang dibawah pagar seng yang baru saja dibuka Dimas. Tangannya memegang erat kedua tangan dimas yang menutupi matanya – padahal ia sudah memakai penutup mata, sebenarnya tanpa ditutup dengan tangan Dimas pun Riri sudah tidak bisa melihat apa-apa karena tertutup oleh penutup mata.
“Ada apa sih disini, Mas? Mata aku udah perih ni ditutup terus..”keluh Riri.
“Ya ampun, baru juga sebentar kok. Dikit lagi sampe..”sahut Dimas sambil menuntun Riri agar berjalan sedikit lebih cepat.
Dimas memutar tubuhnya hingga menghadap Riri – yang berada disampingnya. Perlahan ia membuka penutup mata Riri dan didapatinya kedua mata gadis ini masih terpejam dengan rapat.
“Udah boleh dibuka nih?”tanya Riri.
“Sebentar..”Dimas masih menutup kedua mata Riri dengan tangannya, memutar tubuhnya hingga berada dibelakang Riri – menempel dekat dengan tubuh mungil Riri.
“Sekarang kamu boleh buka mata..”
Perlahan Riri membuka matanya saat kedua tangan Dimas telah menjauh dari wajahnya. Sinar matahari yang masuk menembus matanya membuat mata Riri sedikit menyipit karena silaunya.
Setelah beberapa saat mata Riri sudah bisa menyesuaikan cahaya yang masuk dimatanya dengan baik, Riri pun membuka matanya dan terbelalak melihat pemandangan yang terhampar luas didepannya.
Riri menghambur dalam pelukan Dimas – yang berdiri dibelakangnya sambil tersenyum senang. “Makasih ya, Mas.”
***
Riri duduk disalahsatu kursi dan membeli lembut sebatang mawar merah yang dipegangnya, “Kamu masih ingat dengan janji kamu, Mas.”
“Tentu dong! Aku bukan orang yang ingkar janji.”sahutnya.
“Tapi janji kamu ini kan udah lama banget, Mas. Sekitar lima tahun yang lalu, kan?”
Dimas mengangguk. “Selama apapun aku bikin janji, aku nggak akan pernah lupa dengan janji aku sendiri, Ri. Apalagi menyangkut kamu. Kamu kan belahan jiwaku..”ujarnya sambil mengerling mata nakal.
“Jangan mulai deh ganjennya.”sungut Riri sambil mencubit Dimas.
“Aw..aw..aw.. Jangan nyubit mulu dong, Ri. Nggak puas apa nyubitin aku terus dari kecil sampe sekarang? Aku aja bosen dicubitin terus.”
“Derita lo!”olok Riri sambil tertawa.
“Dasar, jelek!”sungut Dimas sambil tersenyum. “Tapi kamu seneng kan?”
“Seneng banget, Mas! Aku kaget banget, kamu bisa nemuin lagi taman ini. Padahal disekitar sini semua udah dibangun ruko-ruko yang jualan bunga dan buah, tapi kamu bisa tau kalau letak taman ini disini. Dan kagetnya lagi, taman ini masih ada sampai sekarang! Sama persis dari dulu, nggak berubah.”jelas Riri sambil memandang berkeliling.
Dimas tersenyum, “Sebenarnya aku udah tau letak taman ini dari tahun lalu, Ri.”
“Hah?! Tahun lalu?! Kenapa nggak langsung kasi tahu aku??”
“Aku tahunya didetik terakhir, Ri. Pas waktu itu aku temenin mama cari buah disekitar sini, aku liat rame orang bawa alat berat mau ngancurin tempat ini, untuk dibangun ruko juga! Separuh dari taman ini sebenarnya udah dihancurkan, Ri.”ucapnya pelan.
Riri membelalakkan matanya, kaget. “Serius, Mas?! Kok, sekarang taman ini bisa utuh dan sama persis seperti yang dulu?”
“Aku yang memperbaikinya, Ri.”
“Kamu?! Gimana bisa? Kata kamu taman ini udah mau dibikin ruko kan? Kenapa mereka mau kamu hentikan begitu?”
“Karna aku membeli taman ini, Ri.”sahutnya.
Riri bertambah kaget, “Kamu beli taman ini?? Kenapa??”
“Karena aku mau tepati janji aku ke kamu, Ri. Aku pengen liat kamu bermain ditaman ini lagi sama aku. Kita kejar-kejaran, berguling-guling disini sampai gaun kamu kotor – seperti waktu kecil. Semua ini untuk kamu, Ri.”
Riri mengusap matanya yang sedikit berair.
Dimas menggenggam tangan Riri, “Selama setahun ini, aku coba menata ulang taman ini. Waktu yang paling lama, ya, saat menanam bunga-bunga ini, menunggu mereka bermekaran dengan indah, menata ulang agar sama persis dengan yang dulu. Sekarang, taman ini sudah siap untuk aku persembahkan ke kamu, Ri.”ucapnya dengan tulus.
“Semua ini untuk aku, Mas?”
Dimas mengangguk, “Iya. Untuk apa aku berusaha selama setahun ini untuk mengembalikan taman “kita” kalau bukan karena janji aku ke kamu? Semua ini aku lakuin untuk kamu, Ri.”
Riri memeluk Dimas dengan erat. “Makasi banget, Mas!”sahutnya sambil mengecup pipi Dimas dan memeluknya tambah erat.
Dimas tersenyum, “Kamu harus bantu aku rawat taman ini ya..”
Riri mengangguk, “Pasti. Aku pasti akan rawat taman ini.”
Dimas tersenyum bahagia dan menarik Riri kembali dalam pelukannya. Tuhan, terimakasih telah mengambalikan Riri kepadaku...
***
“Assalamualaikum..”
Riri masuk kedalam rumah dan langsung mengecup pipi mama yang sedang menyiapkan hidangan makan malam di meja makan.
“Waalaikumsalam. Kamu dari mana saja, Riri? Kenapa baru pulang sekarang?”tanya mama.
“Hehe, ada deh, ma. Rahasia ya..”sahutnya sambil tesenyum.
Mama menggelengkan kepalanya, “Ya sudah, kamu mandi dulu. Sudah selesai langsung turun ya, kita makan malam sama-sama.”
Riri mengangguk. Setelah mengecup pipi mamanya, ia pun langsung menaiki tangga menuju kamarnya diatas, dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.
***
Riko duduk termangu diatas kap mobilnya. Matanya menatap kosong dan tidak menyadari kehadiran Bimo disampingnya.
“Kesambet kamu, Ko?”tanya Bimo.
“Loh, kok ada kamu disini sih, Mo?”
Bimo melipat kedua tangannya didepan dada, “Hei! Kamu yang jemput aku kerumah pagi-pagi buta, ngajak aku jalan nggak jelas keliling Bandung, tapi ujung-ujungnya sekarang malah ke sekolah kita yang tidak nada seorangpun disini – sedang libur kenaikan kelas , cuma numpang bengong aja, dan lupa akan kehadiranku disini?!”
“Oh, tadi aku jemput kamu ya, Mo? Maaf deh, lupa aku. Nggak tentu rudu nih pikiran dari kemarin.”sahutnya.
“Kenapa sih kamu, Ko? Aneh banget tau, linglung kayak begini.”sungut Bimo.
Riko menghembuskan nafas dengan keras. “Begini ya, rasanya cemburu. Sakit banget.”
“Hah?! Cemburu? Cemburu sama siapa kamu, Ko?”
“Dimas..”
Bimo tertawa. “Jadi kamu linglung gini karena cemburu dengan Dimas dan Riri? Ya ampun, Ko. Seluruh isi sekolah juga tau kali, Riri dan Dimas itu teman sepermainan dari lahir, sahabat, nggak lebih dari itu.”
“Kita nggak tau takdir, Mo. Nggak ada yang bisa menutup kemungkinan, sahabat bisa jadi pacar. Orang tua aku aja sahabat jadi pacar kok. Jadi wajar dong aku cemburu. Cuma aku nggak nyangka ternyata sakitnya seperti ini.”
Bimo menepuk pelan bahu Riko. “Kamu beneran sayang sama Riri, Ko?”
“Ya iyalah, beneran! Aku sayang sama Riri.”tegasnya.
“Kalau gitu, bilang dong ke dia, Ko. Jangan diem aja kayak patung disini.”
“Sebenarnya kemarin aku mau nembak dia, Mo. Tapi dia nggak lagi dirumah. Dari pagi, sampai aku datang, dia belum pulang, lagi pergi sama Dimas.”sahutnya lemas.
Bimo berdiri menghadap Riko yang terduduk lemas diatas kap mobilnya. “Maju terus dong, Ko! Kamu nggak akan tau apa jawaban dari perasaan Riri yang sebenarnya kalau kamu nggak bilang dan tanya sama dia. Jangan nyerah sebelum berperang dong!”
“Bener kamu, Mo. Aku harus bilang sama Riri, kalau aku sayang sama dia.”sahutnya bersemangat.
***
Riko menekan sederet angka yang dihapalnya dengan handphone miliknya. Terdengar suara sambungan beberapa saat sebelum telepon diseberang sana diangkat.
“Selamat siang, dengan restoran XXX bisa dibantu?”
“Selamat siang, saya Riko, mbak..”
“Oh, mas Riko. Jadi bagaimana mas, apa rencananya jadi dilaksanakan di restoran kami?”
“Iya mbak. Rencananya dilaksanakan saat malam minggu ya. Sabtu pagi nanti, ada karyawan dari flower shop yang akan mendekorasi tempat yang sudah saya booking waktu itu ya mbak.”jelas Riko.
“Baiklah kalau seperti itu mas. Kami dari pihak restoran akan memberikan pelayanan terbaik untuk mas Riko nanti.”
“Kalau begitu, terimakasih ya mbak.”ucap Riko.
“Sama-sama mas Riko.”
Riko menutup sambungan handphone nya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
***
Riri menutup novel yang sedang dibacanya, dan menyambar handphone nya yang berbunyi nyaring, diatas meja belajar.
Riri tersenyum melihat nama yang tertera di layar, “Hai, kak!”
“Wah, waah, girang banget kayaknya nih nerima telepon dari aku.”goda Riko.
“Pede banget ih kakak.”sahut Riri sambil tersenyum. “Kok sekarang baru nelpon Riri sih kak? Seminggu ini – sejak pembagian raport – kakak kemana aja nggak ada kabarnya?”
“Waah, ternyata ada yang kangen juga ya..”
“Jangan mulai genit deh, kak.”sungut Riri.
Riko tertawa. “Ada urusan penting seminggu ini. Oiya, nanti malam, aku jemput kamu ya, Ri.”
“Mau kemana, kak?”
“Aku mau ajak kamu makan malam, sekalian ada yang mau aku bicarakan. Nanti malam aku jemput jam tujuh, ya?”
Riri mengangguk dan tersenyum, “Iya, kak.”
***
Riko terpana melihat penampilan Riri malam ini. Ia tampak cantik – sangat cantik , dalam balutan gaun sederhana berwarna merah muda yang simple , dan terdapat sebuah hiasan bunga mawar berwarna sama disebelah kiri dadanya.
Rambut ikal indahnya tergerai dengan sempurna, wedges dan tas kecil berwarna sama pun menyempurnakan penampilan Riri malam ini.
Riko mengarahkan lengan kirinya yang ditekuk , kearah Riri. “Kita berangkat sekarang, nona?”candanya.
Riri tersenyum dan meraih lengan kiri Rio dengan lengan kanannya. “Tentu saja.”sahutnya.
***
Riri terpana melihat restoran yang terbangun gagah didepannya sekarang. Restoran yang lebih megah dari restoran yang waktu itu digunakan untuk ulang tahun papa Riko.
“Kakak yakin , kita akan makan malam disini?”tanya Riri.
Riko mengangguk. “Tentu saja. “
Riko melepas sabuk pengamannya dan mematikan mesin mobil. “Tunggu sebentar ya, aku bukakan pintu.”
“Terima kasih.”ucap Riri sambil tersenyum.
“Yuk, kita masuk sekarang.”
Riri mengangguk dan meraih lengan kiri Riko.
***
Riko meneguk air putihnya dan tersenyum memerhatikan Riri yang asik menyantap makanannya.
“Kakak kenapa senyum-senyum mandangin aku?”tanya Riri heran.
“Kamu cantik malam ini. Cantik sekali.”
Riri tersipu, “Makasih, kak.”sahutnya.
Riko tersenyum dan kembali meneguk air putihnya.
“Oh iya, kakak bilang mau ngomong sesuatu sama aku. Apa itu kak?”
“Sebenarnya, aku mau ngomong dan menunjukkan sesuatu sama kamu, Ri.”ucap Riko.
Riri mengerutkan keningnya heran. “Apa itu kak?”
“Bisa kamu selesaikan dulu makan malam kamu? Setelah itu aku akan menunjukkannya ke kamu, Ri.”ucap Riko.
Riri mengangguk dan kembali menyantap makanannya.
***
Riri memegang erat kedua tangan Riko yang menutupi kedua matanya.
Kenapa sih, orang-orang doyan banget nutup mata orang kalau mau kasih kejutan? Kemarin Dimas, sekarang kak Riko. Apa ya kira-kira yang akan aku lihat sekarang?, guman Riri penuh rasa penasaran.
Riri merasa langkahnya terhenti. Riko terasa bergerak untuk berdiri disampingnya – dengan kedua tangan yang masih menutupi mata Riri.
“Sudah sampai kak? Ada apa sih sebenarnya?”
“Kamu akan tau setelah melihatnya sendiri.”sahut Riko. “Sudah siap?”
Riri mengangguk.
Perlahan tangan Riko bergerak menjauh dari mata Riri. Kedua mata yang terpejam itu pun perlahan bergerak, dan terbelalak takjub dengan apa yang dilihatnya.
Riri kaget melihatdirinya dan Riko kini berada disebuah panggung mini yang diletakkan ditengah kolam renang di restoran ini.
Seluruh sisi kolam renang, terdapat mawar merah yang disusun berjajar. Didalam kolam renangpun ditebar mawar mearah yang tidak sedikit, hingga seluruh area kolam renagpun penuh dengan mawar merah yang mengapung, serta lilin kecil yang juga menambah penerangan malam disekeliling panggung mini dan pinggir kolam.
Riko meraih kedua tangan Riri dan menatapnya lekat. “Riri..”
Riri menatap Riko dengan bingung, apa maksud semua ini??
“Kamu suka dengan semua ini?”
“Tentu saja kak. Mawar memang bunga yang paling aku sukai.”sahutnya sambil tersenyum. “Tapi, untuk apa kakak melakukan semua ini?”
Riko tersenyum. Ia mengarahkan tubuh mungil Riri agar menghadap keseberang kolam renang – kearah taman kecil yang gelap.
Riko mengangkat tangan kanannya perlahan. Riri menyaksikannya dengan keheranan. Ketika Riko menjentikkan jarinya, betapa kagetnya Riri dengan pemandangan yang ada didepannya sekarang. Kejutan kedua untuk malam ini.
Riko kembali meraih tangan Riri. “Riri, kamu mau jadi pacar aku?”
Riri menatap lekat mata Riko yang kini memandangnya dengan lekat. Hatinya berdebar tak karuan. Rangkaian bunga mawar merah yang tersusun di taman kecil tadi, nampak indah dengan kerlap-kerlip lampu yang dipasang disekelilingnya, menambah kegundahan hati Riri saat ini.
I LOVE YOU. Rangkaian bunga itu membuat Riri mencoba menyelami kembali hatinya. Mencoba membuka kunci ruangan cintanya. Dan mencari apakah nama Riko ada didalam hatinya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar