Powered By Blogger

Sabtu, 10 September 2011

lanjutan STILL versi 2 Mawar Atina


            Febi merangkul Rangga yang memeluknya dengan erat, dan tersenyum.
Semua ikut bahagia. Semua ikut merasakan pancaran kebahagiaan antara Fani dan Bima saat ini. Semua yang disini tau, Fani-Bima dulunya adalah pasangan teraneh yang memiliki status “berpacaran” tetapi tidak saling cinta – karena Fani dulu terpaksa menerima Bima karena takut. Tapi sekarang, seiring berjalannya waktu rasa cinta pun tumbuh diantara mereka berdua.
Kini, Fani-Bima sudah menjadi salah satu pasangan yang romatis dan saling cinta di kampus. Febi-Rangga juga saling cinta, bahkan mereka saling mengerti dan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tapi kenapa Febi-Rangga tidak bisa seperti Langen-rei atau Febi-Bima?
Febi mengusap air matanya yang hampir menetes tengan tangan kirinya. Rangga tidak boleh tahu bahwa Febi menangis.
Kenapa aku menangis? Apa aku menangis bahagia melihat sahabatku bahagia? Atau aku iri karena tidak sebahagia sahabatku? Kenapa?

***

Febi berjalan bersisian dengan Langen, sedangkan Fani berjalan beberapa langkah didepan mereka dengan wajah sumringah.
“Liat deh, pas pulang dari cafe kemarin, Bima kasi gue cincin ini! Waah, seneng banget gue.”seru Fani dengan semangat ’45 tadi pagi.
“Kalau udah ngasi cincin, berarti Bima udahh mau ngikat elo, Fan.”ujar Febi sambil membetulkan ikatan rambutnya.
Langen mengangguk heboh, sambil mengunyah sandwich sarapannya karena tadi terburu-buru dan tidak sempat sarapan dirumah. “Nyumm, setuju gue sama Febi. Jangan-jangan habis kuliah nanti, Bima langsung ngajak elo kawin lagi! Waah.. nyumm, gue mau deh jadi pengiring pengantin wanitanya. Asal gue dikasi gaun yang cantik aja.”
“Iih, ngaco lo, La! Gue nggak mau kawin muda. Gue maunya, kerja dulu, Bima juga gitu, kalo emang udah mapan, tabungan udah cukup, rumah udah ada, baru deh gue mau dikawinin sama Bima.”sahut Fani sambil tersenyum manis.
“Hemm, kalo elo kawin sama Bima, gue bersedia deh jadi guru private tata krama secara gratis buat anak elo. Karena kalau liat kelakuan Bima yang kayak gitu, gue khawatir ntar calon keponakan gue malah kelakuannya aneh semua. Jadi biar gue deh yang ngajarin tata krama. Biar elo nggak terlalu repot juga ntar.”usul Febi.
Fani tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Waah, ketinggian banget deh ngayalnya. Udah ah jangan bahas gue sama Bima mau kawin ntar, mending yang sekarang kita pikirin aja target kita lulus kuliah harus bisa kurang dari empat tahun!”
“Ho’oh, nyumm, setuju gue. Kalo gue lulus lebih dari empat tahun,bisa mati digerek gue sama bokap! Amit-amit deehh..”Langen mengetuk-ngetuk mejanya dengan heboh.
“Oh iya, pulang nanti, kita ke mall yuk. Ada diskon besar-besaran loh di butik langganan kita, La. Elo juga ikut yuk, Feb. Ntar gue sama Langen bantu pilihin baju yang cocok buat elo. Mau ya?”
Febi mengangkat bahunya, “Terserah aja..”
Alhasil, disinilah mereka berada. Di dalam mall yang entah mengapa masih saja terasa panas walaupun sudah dipasangi AC yang mungkin saja sudah bersuhu minus. Apakah keringat dari manusia-manusia yang memadati mall disiang hari ini bisa menguap dan menyerap dingin dari AC hingga hawa dingin pun tak terasa sama sekali di mall ini.
Anehnya, hanya Febi yang sejak tadi heboh mengipasi dirinya dengan kipas kecil yang selalu dibawanya kemana-mana. Sedangkan Langen dan Fani justru heboh sejak tadi memasuki satu persatu gerai yang menjual pakaian yang tertempeli label diskon sekian dan sekian persen.
Sepertinya niat mereka yang ingin mencarikan Febi pakaian yang cocok hilang sudah, karena mereka sendiri sibuk mencari pakaian untuk mereka pribadi.
Febi hanya geleng-geleng kepala melihat puluhan wanita berjubel didalam toko dan bahkan ada yang rela saling dorong, jambak, bahkan memukul untuk memperebutkan gaun yang mereka inginkan.
Segitu ganasnya euforia keganasan wanita dalam menghadapi “diskon”.
Febi geleng-geleng kepala. “La, Fan, mau cari apaan lagi sih?”
“Mau cari gaun disitu tuh.. Yuk, gue pilihin juga buat lo sekalian.”
Fani menarik tangan Febi dan mengajaknya ke butik yang lebih sepi dari lainnya. Langen mengikuti dibelakang sambil mengulum senyum.

***

Febi mematut dirinya didepan kaca. Fani memilihkannya sebuah gaun sederhana namun kata Fani, akan cantik sekali dikenakan Febi yang simple.
Gaun dengan bahu terbuka berwarna kuning lembut itu nampak cantik di tubuh Fani. Bagian bawah gaun yang sedikit mengembang – panjangnya diatas lutut namun tidak terlalu pendek – nampak anggun dengan hiasan pita-pita berwarna senada.
Langen juga memilihkan high heels berwarna sama hingga membuat Febi tampak “lain” dari biasanya.
“Elo tuh cantik, Feb. Coba aja elo berani dalam berpakaian, pasti kecantikan elo yang dari dalam bakalan keluar kayak gini.”puji Fani.
“Iya. Elo jangan jadiin tata krama keluarga elo tuh sebagai halangan elo dalam bergaya dong. Pakaian lucu-lucu kan nggak mesti seksi, Feb. Banyak kok yang berlengan panjang tapi modelnya tetep lucu.”sahut Langen.
Febi tersenyum. Benar juga kata Langen dan Febi. Apa salahnya aku merubah penampilan?

***

Febi memasuki salah satu salon ternama dengan langkah cepat. Selesai dari kampus tadi, Febi memang langsung pergi cepat-cepat karena mau kesalon ini. Sebenarnya Langen dan Fani mengajaknya ke kantin dulu, tapi ditolak Febi dengan alasan ada les.
Nyatanya, sekarang Febi ada disalon ini. Ia duduk disalah satu kursi sambil memegang erat majalah yang dibawanya – menunggu karyawati salon tersebut mendatangi kursinya.
“Ada yang bisa saya bantu, mbak?”sapa karyawati yang bertubuh langsing dan cantik.
Febi mengangguk sambil memberikan majalah yang tadi dibawanya. “Saya mau yang seperti ini.”tunjuk Febi kearah majalah.
Sang karyawati itu mengangguk dan memperhatikan gambar yang ditunjuk Febi dengan serius. Ia tidak mau membuat pelanggan kecewa, jadi harus memperhatikan setiap detail agar sama persis.
“Ingin persis dengan disini mbak?”
“Ya mbak, sama persis ya..”
“Baik kalau begitu. Kita kesana dulu ya mbak, rambutnya di cuci dulu.”
Febi mengikuti karyawati itu masuk kesalah satu sudut salon. Semoga aku tidak kecewa...

***

Febi mematut dirinya – terakhir kali sebelum berangkat ke kampus – di kaca. Setelah merapikan rambut dan bajunya, Febi menyambar tas tangan berisi buku catatan kuliahnya dan turun kelantai bawah.
“Selamat pagi, ibunda, ayahnda..”sapa Febi seraya mengecup pipi kedua orangtuanya.
            Ibunda dan Ayahnda menatap putri mereka tanpa berkedip. “Walah, kamu ini kenapa nduk jadi kayak begini? Rambut kamu kenapa begini? Kamu sakit ya?”tanya Ibunda dengan heboh – memegangi seluruh badan Febi, memutarnya hingga kepala Febi pusing.
            “Aduuh, ibunda, Febi nggak kenapa-kenapa kok. Febi cuma ganti gaya aja, Febi bosen dengan Febi yang biasanya. Lagipula, Febi seperti ini juga nggak melanggar tata krama kita kok, bu. Pakaian Febi masih dalam batas kewajaran.”Febi memandang kemeja krem lengan panjang dan celana jins hitam yang dipakainya.
            Ayahnda hanya geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan kegiatannya membaca koran.
            “Febi berangkat dulu ya, ibunda..”
            Febi bergegas menuju halaman rumahnya – masuk ke dalam mobil dan menyuruh supirnya segera menjalankan mobil dan pergi dari rumah secepat mungkin.
            “Nduk, kalau kamu sakit nanti kita ke dokter yaaa..”pekik Ibunda dengan heboh didepan pintu.
            Untungnya mobil yang dinaiki Febi beserta supirnya sudah keluar dari pekarangan rumah, jadi ia tidak perlu mendengar kehebohan ibunda lebih lama lagi.

***

            Langen bersandar dalam pelukan Rei – sambil duduk diatas jeep milik Rei, begitu pula dengan Fani yang sibuk menyuapi roti isi yang dibawanya dari rumah untuk Bima.
            Rangga sibuk menatap layar HP nya yang dari tadi tidak bercahaya, bergetar, atau berbunyi. Tak ada kontak sama sekali dari Febi.
            “Febi kemana sih, Ngga? Tumben banget jam segini belom dateng..”tanya Langen.
            Rangga menggeleng, “Nggak tau juga nih. Nggak biasanya dia gini. Coba gue telpon dulu deh..”
            “Halo..yang kamu dimana?”tanya Rangga saat sambungan diangkat Febi diseberang sana.
            “Aku kena macet dijalan nih.. Tinggal satu blok lagi dari kampus. Kamu dimana yang?”
            “Aku sama yang lain tunggu di parkiran ya? Tempat biasa..”ujar Rangga.
            “Iya. Bentar lagi sampai nih.”
            Klik.

***

            Langen, Fani, Rangga, Rei dan Bima tidak dapat menutupi keterkejutan mereka saat ini. Sosok yang mereka kenal selama ini, kini telah menjadi sosok yang berbeda dan tidak seperti yang mereka kenal.
            “Kalian kenapa?”tanya Febi heran.
            Rangga menghampiri Febi – dengan rasa keterkejutannya yang masih terasa kuat – dan menggenggam tangan gadis itu. “Kamu kenapa yang?”tanya Rangga pelan.
            “Febi kenapa memangnya?”
            Rangga memperhatikan penampilan Febi dari atas sampai kebawah. Rambut Febi yang biasanya tergerai indah sepanjang punggung, kini telah lenyap. Digantikan dengan rambutnya yang dipotong pendek sepanjang leher. Rambutnya yang hitam bak mutiara hitam – seperti yang diumbar dalam iklan di tv – kini telah berganti warna menjadi coklat gelap. Tidak mencolok memang, tapi tetap saja perubahan ini menjadikan Febi “berbeda” dari yang dulu.
            Begitu pula dengan cara berpakaian Febi! Biasanya ia mengenakan pakaian yang kelonggarannya bisa mencapai satu jengkal tangan disisi kanan dan kiri bajunya. Tapi sekarang? Febi nampak chic dengan kemeja pas badan seperti yang sering dikenakan Langen dan Fani. Febi pun nampak kelihatan trendy dan lebih cantik.
            “Kenapa penampilan kamu seperti ini yang? Dan rambut kamu..”Rangga membelai pelan kepala Febi.
            Febi tersenyum. “Ya, nggak ada salahnya melakukan perubahan kan?”sahutnya riang. Dirangkulnya lengan Rangga,”Yuk kita ke kantin. Semuanya nungguin gue dateng karena mau sarapan bareng kan? Ayoo..”
            Rangga hanya tercengang melihat perubahan yang terjadi pada pacarnya ini. Sedangkan yang lainnya, hanya mematung dan saling berpandangan bingung melihat “kejutan” yang diberikan Febi hari ini.

***

\           Langen, Fani dan Febi asik berbincang tentang gosip terbaru yang mereka dengan tentang si centil Stella.
            “Eh, elo tau nggak, katanya nih, si Stella sekarang pacaran sama bule loh!”seru Langen semangat.
            Fani membelalakkan matanya , kaget. “Hah?! Yang bener lo? Dapat gosip dari mana?”
            “Hemm, bukan gosip sih sebenarnya, tapi kenyataan. Gue denger nih, pas kemaren gue nyamperin Rei diruang Maranon, anak-anak cewek di Maranon tuh lagi dengerin si Stella yang membanggakan cowok bule nya itu. Katanya Stella, cowoknya itu dari Australia, dia kesini karena ada urusan kerja gitu dehh.”
            “Jangan-jangan pacarnya itu oom-oom lagi..”sahut Febi.
            “Bisa jadi aja. Kalo liat gayanya si Stella sih, dia santai aja tuh pacaran sama yang “tua”. Asalkan dompet tebal aja buat dia shopping. Maklum deh, tuh anak kan levelnya sok tinggi. Tunggu aja kalo bokapnya bangkrut ntar.. kan perusahaan bokapnya lagi disorot KPK tuh!”ucap Fani.
            Langen mengangguk setuju. “Bener banget tuh. Kemarin juga aku sempet sekilas liat dia waktu mamerin foto cowoknya. Ganteng sih, putih, tinggi, gagah, tapi kayaknya umurnya udah tiga puluhan tahun deh..”
            “Nggak nyangka banget ya Stella gitu, kayak nggak ada cowok lain aja. Cowok yang muda-muda kan masih banyak banget didunia ini..”ucap Febi prihatin.
            “Iya tuh, dasar dianya aja yang emang ganjen dari sononya..”desis Fani. “Iish, untung banget deh Bima nggak kecantol sama si ganjen Stella itu! Kalo sampe dia berani godain si Bima, gue injek-injek ntar, biar badannya yang kurus cekin gitu rata kayak papan setrikaan!”
            Langen tertawa terbahak-bahak. “Ngeri banget lo, Fan. Pacaran sama Bima, jadi bikin elo mendadak jadi singa juga deh kalo lagi marah. Hahahahaha.”
            “Tega banget sih lo, La..”
            “Waahh, elo Febi ya? Beneran nih ini elo, Feb??”seru teman sekelas mereka yang baru saja masuk.
            Febi tersenyum, “Ya iyalah ini gue. Siapa lagi memangnya?”
            Lala mengelus rambut Febi, “Waah, cantik banget elo, Feb kayak begini. Cocok banget deh! Coba dari dulu elo kayak gini, pasti banyak banget deh cowok yang naksir elo..”
            “Iya..iya.. Rangga beruntung banget dapetin elo. Udah pinter, tajir, inner beauty elo terpancar pula!”puji Meta.
            Febi tersenyum manis, “Makasi ya, pujiannya..”
            “Oia Feb, elo gabung aja yuk sama kita di klub jurnalis. Elo pasti cocok banget deh kita jadiin icon buat nanti dimasukin dalam majalah kampus kita edisi bulan ini. Mau yaa?”bujuk Meta.
            “Hemm, gimana ya..”Febi agak ragu.
            “Ayo lah, Feb. Anak-anak lain pasti seneng deh kalo modelnya elo.. elo cantik banget! Kebetulan tema majalah kampus kita bulan ini, “Beauty and Smart” cocok banget tuh buat elo, Feb. Mau yaa..”timpal Lala.
            “Liat ntar deh ya, gue pikir-pikir dulu..”ujar Febi dengan lembut.
            “oke deh kalo gitu.. Kita tunggu kepastian lo, ya Feb..”ujar Meta sebelum ia dan Lala pergi keluar kelas.
            Langen dan Fani saling bertatapan. Oke deh, Febi benar-benar udah berubah 180o sekarang!

***

            Rangga memegang majalah kampus dengan wajah yang bingung, “Yang, kamu jadi icon majalah kampus bulan ini?”tanyanya.
            Febi mengangguk. “Iya. Seminggu yang lalu, Meta sama Lala minta aku jadi icon untuk edisi bulan ini, karena tema bulan ini beauty and smart , jadi mereka minta tolong sama aku deh. Kamu nggak seneng ya?”ujar Febi sambil merengut sedih.
            “Siapa bilang? Seneng lah yang, aku bangga malah, prestasi kamu semuanya dimuat disini. Ada tentang aku juga lagi..”
            Febi tertawa dan bersandar dibahu Rangga.
            “Yang..”panggil Rangga.
            “Ya?”
            “Kamu, merasa nyaman dengan semua ini ?”
            Febi mengerutkan keningnya, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
            “Aku mikirin kamu yang. Aku nggak mau, kamu mendadak jadi beken dan sebagainya, tapi hati kamu sendiri nggak nyaman dengan keadaan seperti ini.”
            “Kamu kok ngomongnya gitu sih yang? Jelas lah aku nyaman. Aku nggak mungkin lah melakukan perubahan yang buat aku sendiri nggak nyaman..”
            Rangga menatap mata Febi, “Kamu yakin?”
            Febi terdiam sejenak, namun ia tersenyum. “Tentu.”sahutnya pelan.
            Rangga menarik tubuh Febi dalam pelukannya dan berbisik pelan, “Aku nggak akan masalah mau kamu seperti apa. Mau kamu cantik atau tidak, beken atau tidak, pintar atau tidak, aku nggak perduli. Yang aku lihat cuma hati kamu,sayang. Seperti apapun perubahan yang kamu lakukan, selama itu semua membuatmu nyaman, aku akan mendukung kamu sepenuhnya.. Aku sayang kamu..”
            Febi membalas pelukan Rangga dengan matanya yang sedikit berkaca, “Febi juga sayang kamu..”

***

            Rangga sibuk mengutak-atik mesin jeep Wrangler nya. Mereka – Rangga, Rei dan Bima – sedang berkumpul dirumah Rei sejak pulang kampus tadi.
            “Ngga, Febi kenapa sih?”tanya Bima.
            “Kenapa gimana maksud lo?”
            “Ya, elo ngerti lah maksud gue. Febi nggak kayak biasanya. Kenapa tiba-tiba dia mau merubah penampilannya secara drastis kayak gini? Pasti ada apa-apanya.”ujar Bima.
            Rangga mengangkat bahunya, “Gue juga nggak tau, Bim. Dia nggak cerita sama gue, dan gue juga nggak mau maksa dia buat cerita. Buat gue sih, selama dia nyaman dengan penampilannya seperti ini, gue nggak masalah. Yang penting dia nyaman, gue ikut seneng dan tetap nerima dia apa adanya kok.”
            “Elo ngearas dia nyaman?”tanya Rei.
            Rangga menggeleng pelan, “Gue nggak yakin juga. Dari sorot matanya, kayak ada beban yang dia tutupin dari gue, yang nggak mau dia bagi ke siapa-siapa.”
            “Ya, semoga aja bukan sesuatu yang akan nyakitin dia, Ngga.”
            “Gue juga berharap gitu. Semoga nggak ada apa-apa sama dia.”sahut Rangga pelan.

***

            “Fan, Feb, elo berdua udah nyiapain gaun buat prom nite besok malem?”tanya Langen sambil membongkar isi lemari pakaiannya.
            “Gue juga masih bingung nih mau pake baju apaan. Elo gimana, Feb?”tanya Fani.
            Fani mengalihkan perhatiannya dari majalah yang baru saja dibeli Langen kemarin, yang kini sedang dibacanya. “Gue sih, pake gaun yang kemarin elo berdua pilihin buat gue. Kan belom dipake tuh, jadi gue pake itu aja ntar.. Tas sama sepatunya kan juga elo berdua udah pilihin.”
            Fani mengangguk, “Iya juga ya, kalo gitu gue ntar juga pake gaun yang kemarin gue beli itu aja ah.”sahut Fani sambil membayangkan gaun model kemben berwarna hitam yang dibelinya tempo hari.
            “Duuh gue bingung nih mau pake apaan. Kemaren pas kita ke mall kan, gue nggak ada beli gaun. Gue beli kaos sama kemeja doang. Habis gue jarang banget pake gaun selain kalo ada pesta-pesta gini sih. Jadinya ya, koleksi gaun gue sedikit deh.”sahut Langen sambil garuk-garuk kepalanya yang pusing melihat isi lemarinya sudah terbongkar tak karuan.
            “Bukannya waktu itu elo pernah bilang pernah dikirimin gaun dari tante elo di Singapore ya, La?”ujar Febi.
            Langen menepuk dahinya, “Oh iya, bener banget, Feb! Baru inget gue.”
            Langen membongkar lemari pakaiannya lagi dan mencoba menemukan gaun tersebut diantara baju-baju yang digantung nya didalam lemari. “Nah, ini dia..”seru Langen sambil mengangkat gaun merah miliknya.
            “Ya udah pake itu aja, La. Bagus kok. Elo kan juga punya high heels warna merah kan, cocok deh.”sahut Fani.
            “Iya, iya, bener banget. Kalo gitu, besok malem gue pake ini aja deh!”sahut Langen dengan riang.
            “La, besok sebelum ke prom, gue kesini aja ya, dandan dirumah elo aja. Elo tau deh, orang rumah gue gimana.. Bisa senewen mereka kalo liat gue pake gaun yang kemarin elo berdua pilihin.”ujar Febi.
            Langen mengangguk setuju, “Boleh-boleh. Kalo gitu elo kesini aja juga sekalian, Fan. Biar kita bertiga dandan barengan aja.. Ntar gue minta mama bantu dandan juga. Mama gue jago ngedandan looh.”seru Langen bangga.
            “Oke deh.”

***

            Langen, Febi dan juga Fani sudah siap dengan gaun dan dandanan masing-masing, saat Rei, Rangga dan Bima sudah menunggu mereka diruang tamu bawah rumah Langen.
            Langen tampak cantik dengan gaun pas badan berwarna merah dan seutas tali yang melingkar dilehernya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai dan sedikit diikalkan sedikit agar tampak menarik.
            Febi tak kalah cantik dengan gaun kuning lembutnya, yang menampakkan bahunya yang seksi dan menawan. Berhubung rambut Febi sekarang sudah pendek, jadi dibiarkan seperti begitu saja, hanya ditambahkan sebuah jepit rambut berwarna perak agar rambutnya ampak lebih ber-volume.
            Sedangkan Fani, ia tampak seksi dengan gaun hitamnya. Rambutnya yang tidak sepanjang langen, digelung agar menimbulkan kesan eksotis baginya.
            Mereka bertiga pun turun dari kamar Langen menghampiri ketiga cowok mereka yang sudah setia menunggu mereka di ruang tamu bawah.
            Sudah pasti ketiga cowok mereka tampak takjub dengan penampilan pacar mereka yang “wow” banget malam ini.
            Bima merangkul Fani dengan mesra. “Yang, kok kamu seksi banget sih malem ini?”
            “Nggak apa-apa dong. Kali aja ada cowok ganteng ntar yang bisa gue gebet disana.”goda Fani.
            “Eeh, jangan berani-berani selingkuh ya! Awas aja kamu!”ancam Bima sambil menjawil hidung mungil Fani.
            Rei meraih kedua tangan Langen, “Feminim banget kamu malam ini? Kesambet ya?”ledeknya.
            “Iih, rese deh kamu, Rei!”sungut Langen sambil mencubit Rei hingga ia meringis.
            Rangga tersenyum manis melihat Febi yang cantik dalam balutan gaunnya yang sukup sederhana, namun sangat memesona. “Kamu sangat cantik malam ini.”bisik Rangga.
            Febi tersipu, “Makasii..”
            “Yuk buruan kita berangkat,  ntar kita telat lagi..”seru Rei.
            Mereka pun berangkat dengan tiga mobil yang berbeda. Berhubung malam ini juga malam minggu, jadi biarlah mereka memiliki privasi masing-masing dengan pasangannya dalam mobil yang terpisah pula.

***

            “Selamat malam semuanya! Kenalin gue vj Rena yang bakal nemenin elo semua dalam acara prom nite kita malam ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita bakal ngadain pemilihan “King and Queen” penilaian nya dimulai setelah gue memulai acara kita malam ini. Jadi buat elo-elo semua, harus enjoy banget malam ini, dan joget se asyik mungkin, oke?”
            “Okeee”seru mereka semua yang hadir dalam prom malam ini.
            “Dewan juri akan berbaur diantara kalian semua. So, enjoy this nite, guys!”

***

Seluruh mata yang ada di cafe malam ini menatap Febi dengan takjub. Tak ada yang menyangka, bahwa Febi yang selama ini terkesan tertutup itu, ternyata menyimpan kecantikan yang sangat luar biasa.
            “Semua orang ngeliatin kamu, yang.”bisik Rangga disela-sela mereka tengah berdansa mengikuti irama lagu.
            Febi tersenyum, “Kamu cemburu?”
            Rangga menarik pinggang febi agar lebih mendekat dengannya, “Ya nggaklah. Justru aku bangga banget, jadi orang yang sangat beruntung bisa miliki kamu.”
            Febi merangkul Rangga dengan mesra. Mereka pun berdansa mengikuti irama musik yang perlahan mulai berubah menjadi beat.

***

            Fani melotot kearah Bima yang daritadi matanya selalu memandang berkeliling melihat satu persatu cewek yang lewat disekitar tempat duduk mereka. “Iiih! Elo nih ya, nggak liat apa cewek lo udah seseksi ini malam ini?! Masih aja mata lo jelalatan kemana-mana! Nyebelin banget sih!”sungut Fani sebal.
            “Kamu cemburu sayang?”tanya Bima sambil mengerling nakal
            “Bodo! Lo pikir aja sendiri!”
            Bima tertawa dan merangkul Fani yang merajuk dalam pelukannya. “You’re the best honey.. Kamu nggak perlu cemburu gitu dong, aku mandang sekeliling kan bukan berarti aku cari cewek lain. Yang aku sayang kan cuma kamu..”
            “Beneran gak bo’ong?!”selidik Fani.
            “Suueerrr..”
            “Bo’ong awas ya! Gue gundulin semua bulu tangan dan kaki lo!”sancam Fani sambil cemberut.
            Rei dan Langen tertawa melihat Bima dan Fani yang saling merajuk. Mata mereka tertuju pada Rangga dan Febi yang asik bergoyang mengikuti irama lagu.
            “Febi beneran berubah ya..”ujar Langen pelan.
            “Iya. Tapi bagus juga sih dia sekarang kayak gini. Jadinya kan, mereka juga bisa ngerasain pacaran “normal” kayak yang kita jalani itu kayak gimana.”ujar Rei.
            Langen mengangguk, “Iya bener. Dan sepertinya, mereka mungkin bisa jadi “King and Queen” tahun ini deh.”
            “Bisa jadi...”

***

            “Guys,, saat yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga . Sekarang gue akan ngumumin siapa yang menyandang gelar “King and Queen” tahun ini. Dan gelar tersebut jatuh kepada.....”suara vj Rena membahana keseluruh penjuru cafe yang tiba-tiba menjadi sunyi senyap karena ketegangan yang mendebarkan.
            “Rangga Dipa Dilaga dan Raden Ajeng Febriani!!”seru vj Rena yang disertai pekikan semangat dari Langen-Rei dan Fani-Bima.
            “Yey! Rangga! Febi!!”pekik Langen dan Fani heboh.
            Rangga dan Febi bergandengan menaiki panggung. Mereka diberikan mahkota dan tropi penghargaan karena terpilih menjadi “king and queen “ tahun ini.
            Rangga memberikan ucapan terimakasih untuk semuanya, sedangkan Febi hanya tertunduk lemas tanpa bicara sepatah katapun.
            Setelah mereka turun dari panggung, Febi langsung berlari keluar dari cafe, diikuti Rangga yang mengejarnya dengan kebingungan yang melanda hatinya.
            Febi menangis, ia terisak dalam pelukan Rangga – diluar cafe.
            “Kamu kenapa sayang?”tanya Rangga dengan lembut.
            “Aku mau minta maaf sama kamu..”ujar Febi dengan suara yang hampir tak terdengar.
            “Minta maaf kenapa??”
            Febi menutup mulutnya agar ia dapat meredam sedikit isak tangisnya. “Aku iri dengan Langen dan Fani. Mereka bisa tampil asik, disukai banyak orang, karena gaya dan pribadi mereka yang mengasikkan. Kalau aku? Teman-teman aku cuma kalian, teman yang lain paling hanya menganggap aku anak pintar tanpa memandang pribadi aku, seperti mereka memandang Langen dan Fani. Aku iri sama mereka, Ngga!!”pekik Febi disela isak tangisnya
            “Aku ngerubah semua penampilan aku, agar aku bisa jadi seperti mereka. Disukai banyak orang, punya banyak temen. Awalnya aku senang seperti ini, tapi lama kelamaan, aku tertekan! Aku tertekan dengan menjadi diriku yang bukan diriku!
            “Sebagian dari hati aku menolak semua perubahan ini, yang.. Aku nggak bisa jadi seperti Langen dan Fani..”sahutnya lemah.
            Rangga  membelai kepala Febi dengan lembut. “Yang, kamu nggak perlu merubah semuanya hanya untuk menirukan orang lain. Kamu hebat dengan siri kamu sendiri. Banyak yang iri dengan kepintaran kamu, kebaikan kamu, keramahan kamu, tapi kamu nggak tahu itu kan?
            “Kamu nggak berani untuk buka diri kamu terhadpa teman lain. Padahal teman lain semuanya banyak yang mau jadi teman kamu selain kita-kita.
            “Kamu nggak perlu ngerubah semuanya untuk meniru Langen dan Fani. Kamu bisa jadi berharga dan spesial dengan cara kamu sendiri sayang..”jelas Rangga.
            Febi masih terisak dalam rangkulannya. Rangga memeluk Febi dengan erat, “Gusti Randa Raden Ajeng Febriani, pacarku tersayang, Febi.. Aku sayang kamu, apa adanya kamu. Aku nggak mau kamu sedih dan merasa terpaksa dengan hal yang sebenarnya tidak kamu inginkan ini. Kamu harus janji ya sama aku, kamu nggak boleh memaksakan diri kamu lagi seperti ini..”
            Febi mengangguk pelan dan membalas pelukan Rangga dengan erat. “Febi janji.. maafin Febi ya..”
            Rangga tersenyum dan mengecup kening Febi dengan pelan.
            Aku mencintaimu, bukan karena ragamu, namun karena hatimu. Aku tak perduli seperti apapun bentuk rupamu. Tak perduli kamu pendiam atau tak memiliki banyak teman, yang terpenting untukku, kamu menjadi dirimu sendiri. Utuh menjadi dirimu saja. Jangan pernah menyiksa dirimu dengan hal yang membuatmu tertekan.. karena ku mencintaimu tanpa meminta perubahan darimu..

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar