Riri memasuki sekolah dengan langkah yang ringan, serta senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
“Selamat pagi, pak!”Riri menyapa pak satpam yang dengan setia selalu berdiri didepan gerbang sekolah hingga bel masuk berbunyi nyaring.
“Pagi non Riri.”
Riri melewati lapangan parkir tanpa menoleh kanan dan kiri. Ia terus berjalan lurus dan tetap menjaga senyumannya. Ia berjalan menuju papan pengumuman yang kini dipenuhi murid yang mencari nama mereka masing-masing dalam pengumuman pembagian kelas.
Untuk saat seperti ini Riri sangat bersyukur karena memiliki tubuh yang mungil, hingga ia bisa masuk diantara kerumunan yang ramai itu dengan tidak terlalu sulit.
Riri menghembuskan nafasnya lega saat ia dengan selamat telah berhasil berdiri tepat didepan papan pengumuman. Lihatnya satu-persatu deretan kelas XI IPA. Ia mencari namanya dengan teliti. Febriani Putri. Yak! Ini dia, Riri menemukan namanya dalam XI IPA 1.
Setelah bertanya sebelumnya pada seorang guru piket yang dijumpainya – dimana letak kelas XI IPA 1 – agar ia tidak salah masuk kelas, Riri pun melanjutkan langkah ringan nan riangnya menuju kelasnya yang baru.
***
Rena berdiri didepan kelasnya – XI IPA 1 – menunggu kedatangan Riri yang ternyata kembali satu kelas dengannya. Rena tersenyum saat melihat Riri berjalan menuju kelas.
“Riri!”Rena langsung menghambur memeluk Riri dengan rian – seolah tidak terjadi sesuatu sama sekali. “Kita sekelas lagi, seneng banget deh! Aku udah pilih tempat duduk buat kita. Dibarisan kedua situ, Ri.”Rena menunjuk kursi “mereka” dengan semangat.
“Makasih udah repot-repot nyariin aku kursi. Tapi aku bisa cari tempat dudukku sendiri.”desis Riri.
Riri berjalan memasuki kelsnya dan memandang sekeliling. Ia berjalan menuju deretan diujung kelas dan menghampiri seorang cewek yang sedang asik membaca bukunya disudut samping jendela.
“Hai, aku Riri.”sapa Riri sambil mengulurkan tangannya.
Mata yang sejak tadi memandang lurus kearah buku, kini menatap Riri dan kemudian tersenyum – menjabat uluran tangan Riri. “Hai, aku Meta.”
“Aku boleh duduk disini ya?”
Meta mengangguk, “Tentu saja.”
Rena memandang kejadian tersebut dengan mata yang berkaca. Riri tidak mau lagi duduk bersamanya. Memandang mata Rena pun tidak!
Rena, segitu marahnya kah kamu sama kami – aku dan Dimas? Kenapa separah ini?
***
Riri berjalan menuju kantin bersama Meta – tidak dengan Rena seperti dulu. Sejak perkenalan pertama mereka dua hari yang lalu, Riri menjadi akrab dengan Meta. Gadis itu cenderung menutup dirinya dari orang lain, namun karena melihat sikap Riri yang selalu riang – terlihat dari luar – Meta pun tidak segan untuk membagi cerita mengenai dirinya.
Alhasil, Riri dan Meta sudah sangat akrab dihari ketiga pertemuan mereka ini. Mereka memiliki hobi yang sama – membaca novel – sehingga waktu istirahat kedua sering mereka habiskan bersama di perpustakaan.
Mereka hendak berbelok saat Riri tidak sengaja menabrak seseorang. “Aduuh, sori ya.”
Riko tersenyum, “Hei, kemana aja kok baru kelihatan hari ini?”
Riri tertawa, “Loh, kakak rupanya. Riri kirain siapa. Iya nih, udah dua hari ini, emang belum ada ke kantin, aku sama Meta Cuma jajan di koperasi aja. Oh iya kak, kenalin ini Meta teman sebangku aku.”
Riko tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Meta, “Hai, Riko dari XII IPA 1.”
“Aku Meta, kak.”sahut Meta sambil menjabat tangan Riko yang terulur padanya.
“Kak, ikut kita ke kantin yuk!”seru Riri.
“Aku nggak laper, Ri..”
“Alah, laper nggak laper deh. Ikut pokoknya. Yuk yuk!”Riri menyeret Riko dengan semangat – menuju kantin. Dibelakang mereka, Meta hanya tertawa melihat semangat yang berkobar dimata Riri saat mendengar kata “makan”. Tipe cewek yang menarik.
***
“Assalamualaikum..”Riri mengecup kedua pipi mamanya – yang sedang menyiapkan makan siang – saat ia tiba dirumah.
“Waalaikumsalam. Tumben kamu pulang cepat?Biasanya jalan dulu sama Rena ke mall..”
“Riri nggak deket sama Rena lagi kok, ma.”sahut Riri.
“Loh, kenapa? Hanya karena pertunangan Rena dan Dimas, bukan berarti kamu harus musuhin mereka kan?”tanya mama.
“Justru karena mereka berdua sahabat aku, ma! Mereka tega bohongin Riri! Dengan masalah yang seserius ini..”
Mama menarik salah satu kursi agar Riri bisa duduk. “Lalu? Apa alasan kamu marah hanya karena mereka tidak jujur?”
“Riri sayang sama Dimas, ma..”aku Riri.
“Ya, mama tau kamu sayang Dimas. Sejak kamu umur enam tahun mama sering mendengarmu bicara sayang dengan Dimas – baik kepada mama, atau pada Dimas langsung.”
“Bukan sayang yang seperti itu, ma.”sahutnya lemah.
Mama memegang pundak Riri dan menatapnya lembut. “Kamu cinta sama Dimas?”
“Iya, ma.”sahut Riri sambil menangis.
“Dimas tahu akan hal itu?”
Riri menggeleng lemah. “Tapi Rena tau, ma. Riri pernah bilang kalau Riri bingung dengan perasaan Riri. Riri sayang sama Dimas, tapi juga sayang sama kak Riko. Rena tahu akan hal itu.”
“Kalau begitu, kamu harus kasi tau sama mereka berdua.”
“Maksud mama?”
Mama tersenyum dan membelai rambut anaknya. “Kamu marah, karena mereka tidak jujur dan tidak tau perasaan kamu sebenarnya kan?”
Riri mengangguk.
“Kalau begitu, beritahu mereka berdua tentang perasaan kamu sebenarnya. Bukan karena kamu ingin menghancurkan hubungan mereka, tapi agar mereka tahu, dan agar kamu bisa lega, sayang..”
Riri memeluk mamanya dengan erat. “Riri nggak tahu harus mulai dari mana , ma.”sahutnya sambil terisak.
***
Riri duduk disalah satu kursi ditengah taman. Sejak pagi tadi, Riri sudah berada di taman ini dan membersihkannya.
Taman ini. Taman kenangan Riri dan Dimas. Tapi kini Riri disini sendiri. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya. Sedih, marah, gelisah, seakan ia tak mengenal dirinya yang saat ini terduduk lemas disini.
Sayup-sayup didengarnya langkah kaki yang semakin lama semakin mendekatinya.
Riri menjatuhkan dirinya ke tanah. Tubuhnya terkulai lemas – dengan tangan yang memeluk erat kakinya yang ditekuk. Air matanya jatuh.
Dirasakannya sedikit demi sedikit air menetes dari langit. Seakan merasakan rasa yang sama , sedih yang luar biasa. Dilema akan perasaannya, dilema untuk mengungkapkannya.
Perlahan air-air yang berjatuhan itu membasahi kepalanya. Sedikit, sedikit, hingga deras – tubuh Riri terguncang hebat. Perdebatan antara isak tangisnya yang semakin menjadi, dan rasa dingin akibat hujan yang membasah kuyupkan tubuhnya.
Seseorang menarik tubuh Riri berdiri. Memakaikan jaket yang cukup hangat yang menutup kepala dan juga badannya yang menggigil..
Dirasakannya hangat itu menjalar ditubuhnya. Wajah Riri masih tertunduk. Saat ia mencoba membuka matanya, Riko sedang memeluknya.
“Kakak kenapa disini?”tanya Riri dengan suara yang sedikit nyaring – beradu dengan suara hujan yang tak kalah nyaring.
Riko mengeratkan pelukannya. “Jangan pergi lagi, Ri. Aku mohon jangan pergi lagi. Kamu nggak sendiri disini. Ada aku. Aku akan bersama kamu, Ri. Aku temani kamu menghadapi kenyataan ini. Kamu jangan pergi lagi seperti ini.”
Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Berusaha mencintai orang yang mencintaiku, atau aku tetap mencintai orang yang sangat aku cintai? Beri aku jawabannya Tuhan..
***
Dimas berjalan mondar-mandir sejak sepuluh menit yang lalu. Rena menatapnya dengan pandangan sedih dan khawatir.
“Mas, sampai kapan kamu mau seperti ini?”
“Kita harus jelasin, Ren!”ujar Dimas.
“Jelasin apa lagi? Riri sudah tau tentang kita. Dia sudah tau kita tunangan. Apalagi yang harus kita jelaskan?”
“Tapi Riri nggak tau alasan dari pertunangan kita ini, Ren. Apa kamu mau selamanya kita seperti ini sama Riri?”
“Ya jelas nggak lah! Riri udah aku anggap sahabat aku. Dia teman terbaik yang pernah aku kenal selama ini.”sahut Rena pelan.
Dimas terduduk lemas. “Aku ingin membatalkan pertuangan ini, Ren.”
“Kenapa, Mas?!”
“Aku sayang sama Riri, Ren. Rasa sayang yang sangat jauh berbeda dari rasa sayang aku yang dulu terhadap Riri kecil.”sahutnya pelan.
Rena tertunduk lemas. Andai kamu tau perasaan Riri, Mas. Dia tidak bisa mengartikan rasa sayangnya terhadap kamu. Menghadapi Riko yang sangat mencintainya pun ia tidak tau harus bagaimana. Semua itu karena kamu, Mas.
Andai kamu tau sejak dulu. Andai pertunangan kita tidak ada, mungkin keadaannya tidak seperti ini. Mungkin aku bisa bahagia melihat sahabatku – Riri, bahagia bersamamu. Tapi tidak sekarang, Mas. Aku juga menyayangimu.. Lebih dari yang kamu tau..
Rena terisak.
***
Drrtt..drrtt..drrtt..
Riri mengambil handphone yang berada dalam saku celananya.
Besok sore, kita ketemu di taman kompleks. Aku dan Rena ingin menjelaskan semuanya.
-Dimas-
“SMS dari siapa, Ri?”tanya Riko sambil memberikan segelas teh hangat.
“Dimas, kak.”sahut Riri pelan.
“Kenapa lagi?”
Riri mengangsurkan Hpnya pada Riko. Riko membaca SMS dari Dimas. Dipandanginya Riri sambil mengangsurkan HP Riri kembali.
Ia tersenyum dan menggenggam erat tangan Riri. “Jangan takut. Semua pasti akan baik-baik aja nanti. Aku temani ya..”
Riri mengangguk, “Makasih, kak.”
***
Besok sore kita ketemu di taman kemarin. Kita harus jelaskan semuanya pada Riri. Sekaligus kita pikirkan cara untuk membatalkan pertunangan ini.
-Dimas-
Rena melempar Hpnya kelantai hingga berderai. Dibenamkannya tubuhnya yang lelah kedalam selimut.
Dengan tubuh yang berguncang Rena berusaha menghentikan tangisnya. Tangisan ketakutan , tangisan kekalahan.
Dimas memang untuk kamu, Riri. Maafkan aku yang ingin merebutnya dari kamu.
***
Riri berdiri dihadapan Dimas yang duduk dibangku taman. Sejak tadi Riko terus merangkul – melindungi, Riri. Sesekali Riri menghela nafas pelan dan menatap lekat pada Riko. Riko mengangguk pelan, Riri tersenyum.
Dimas duduk dibangkunya dalam diam sejak kedatangan Riri dan Riko setengah jam yang lalu. Matanya tak henti melihat jam digital yang terdapat di layar handphone nya.
Rena belum datang. Sejak setengah jam yang lalu – saat Dimas mencoba menelpon kerumah Rena - tante Lastri bilang Rena sudah berangkat dengan membawa mobil sendiri tanpa supir.
Handphone Rena tidak aktif. Telpon rumahnya pun kini tidak ada yang mengangkat setiap Dimas menghubunginya. Wajahnya memucat. Apa mungkin sesuatu terjadi pada Rena?
“Sampai kapan kita diam terus tanpa bicara sepatah katapun, Mas?”tanya Riri memecah kebisuan yang ada. Memang sejak kedatangan Riri dan Riko tadi, Dimas hanya berkata, kita menunggu Rena, baru membicarakan semuanya. Tapi sampai saat ini Rena tak kunjung tiba.
“Kita harus tunggu Rena. Karena ini melibatkan dia juga. Tapi telponnya nggak ada yang angkat sama sekali.”
“Coba kamu telpon nomor abangnya?”usul Riri.
Dimas mengangguk dan baru akan mencari kontak abang Rena, saat handphone nya berbunyi nyaring.
Mama Rena.
“Halo tante.”
Dimas terdiam. Wajahnya memucat, matanya mulai berkaca. Ia memutuskan sambungan telpon dan menatap nanar pada Riri dan Riko.
“Kenapa, Mas?”tanya Riri cemas melihat perubahan raut muka Dimas.
“Rena.. Rena kecelakaan, Ri.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar