Powered By Blogger

Rabu, 21 September 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 11


Riri membekap mulutnya dengan dua tangan untuk menahan isak tangisnya yang kencang. Riko tak henti mencoba menenangkannya sepanjang perjalanan tadi. Lain halnya dengan Dimas yang dari tadi hanya diam, hingga sekarang.
            Riko menghentikan mobilnya ditempat parkir, kemudian mereka bertiga pun bergegas mencari ruang dimana Rena berada saat ini. Setelah bertanya kepada petugas yang berjaga diruang piket, mereka pun langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditunjukkan petugas tadi.
            Dari jauh, terlihat kedua orangtua Rena dan abangnya berdiri bersisian didepan ruang UGD. Mama Rena menangis dengan kencang dalam pelukan papa Rena. Sedangkan abang Rena – Danny – berdiri mematung – berhadapan dengan kedua orangtuanya – sambil bersandar pada dinding sambil tertunduk lesu.
            Dimas dengan cepat berjalan menghampiri kedua orangtua Rena serta bang Danny.
            “Tante, oom..”panggil Dimas dengan pelan.
            Tante Lastri yang langsung menoleh saat mendengar suara Dimas yang memanggilnya, langsung menghambur dalam pelukan Dimas.
 “Rena, Rena belum sadarkan diri sampai sekarang, Dimas. Kami tidak diizinkan masuk.”ujar tante Lastri – mama Rena – disela isakan tangisnya.
Dimas menepuk pelan bahu tante Lastri yang berguncang hebat – mencoba menenangkan. Ditatapnya oom Dodi yang sedih melihat Rena belum sadarkan diri dan istrinya yang terus menangis dengan histeris. “Kenapa bisa begini, oom?”
“Menurut saksi yang berada disekitar tempat kejadian, saat ditikungan, ada mobil dari berlawanan arah yang oleng dan keluar dari jalurnya. Sepertinya Rena kaget dan dia banting setir ke kiri – menabrak trotoar dan pohon – tapi mobil yang oleng itu justru berbelok kearah mobil yang Rena kendarai. Sehingga setelah mobil yang dibawa Rena menabrak pohon, mobil yang oleng itu juga menabrak mobilnya, tepat disisi kursi pengemudi yang diduduki Rena.” Oom Dodi mengusap kedua matanya yang menitihkan air mata. “Ren..Rena. Tubuh Rena, terjepit didalam mobil. Saat dibawa kemari, dia sudah tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya mengeluarkan darah, terutama kepalanya yang terbentur setir mobil dengan sangat keras.”
Tangis tante Lastri semakin menjadi saat Oom Dodi selesai menjelaskan situasi yang terjadi saat kecelakaan itu terjadi.
Riri yang sejak tadi berdiri beberapa meter dibelakang Dimas dan keluarga Rena, tambah menangis pula saat oom Dodi selesai menjelaskan. Disampingnya – Riko, terus merangkul Riri dengan erat – berharap tubuh mungil Riri yang sangat terguncang hebat dengan kesedihan ini tidak roboh.
            Danny berjalan menghampiri Riri dan Riko yang berdiri beberapa meter dari yang lainnya. “Kamu, Riri kan?”
            Riri mengangguk pelan, “Iya, aku Riri.”
            Danny menyerahkan sepucuk surat berwarna biru muda pada Riri. “Ini, untuk kamu.”
            “Apa ini bang?”
            “Ini dari Rena. Surat ini ditemukan dalam tas tangan yang Rena bawa tadi.”
            Dengan tangan bergetar, Riri mengambil sepucuk surat biru muda yang terlihat ronyok disemua sisi – mungkin Danny sedikit merapikannya dengan tangan, tapi tidak menutupi keronyokan yang ada disemua sisi surat.
            Riri membaca tulisan kecil yang berada pada amplop surat itu.
                                              
            Untuk sahabat terbaikku, Febriani Putri.

***

            Dear Riri.
            Jujur Ri, aku nggak tau kenapa aku nulis surat ini. Tapi sejak kamu menjauh, aku kangen kamu, Ri. Sangat kangen. Aku kangen sahabat ceriaku, Febriani Putri!
            Aku senang karena kamu adalah teman pertama ku di SMA dan sahabat terbaik dalam hidupku. Aku senang berada didekat kamu, Ri. Lihat keceriaan kamu, semuanya. Aku senang punya sahabat kamu.
            Apalagi karena kita sebangku ya, aku ngerasa kamu seperti sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup aku, setelah keluarga aku.
            Kamu seperti dunia baru dalam duniaku selama ini, Ri. Bersama kamu, aku kadang berpikir, tidak apa kalau didunia ini aku hanya bersama dengan satu orang saja. Dan aku pasti sangat berharap bahwa orang itu kamu, Ri.
            Bersama kamu, aku sangat bahagia. Sama bahagianya seperti aku bersama keluargaku. Bahkan aku kadang lebih sangat bahagia sama-sama kamu. Kamu sangat penting buat aku, Ri. Sangat berarti.
            Aku ingat saat aku sangat sedih kelinci kesayangan aku mati, kamu hibur aku, Ri. Seharian penuh kamu nemenin aku. Kita sampai bolos pelajaran, karena kamu mau ngajak aku nikmatin udara dingin dan menenangkan disudut sekolah. Besoknya, kita manjat pagar bareng gara-gara telat. Sembunyi dari kejaran guru piket, yang untungnya agak sedikit rabun jauh, jadi nggak bisa ngenalin wajah kita berdua.
            Terus besoknya lagi, kamu kerumah aku pagi-pagi banget. Aku kaget banget pas bangun tidur ada kelinci diatas tempat tidur aku!
            Semua itu kerjaan kamu, Ri. Aku inget banget kamu ketawa ngakak dibalik pintu kamar bareng mama karna ngeliat aku kelabakan karena tuh kelinci mau pipis dimuka aku! Dasar jahil kalian.. Tapi aku seneng. Seneng banget!
            Tapi aku sedih saat kamu ngambek sama aku, Ri. Mungkin kamu bukan ngambek lagi, tapi udah marah sama aku. Maafin aku, Ri.. Aku tau maaf aku nggak akan cukup untuk menebus kesalahan aku, sebanyak apapun itu, tapi aku kangen kamu, Ri...
            Kalau kamu cuma ngambek, Ri. Cukup aku bawain satu loyang brownies, pasti kamu langsung ceria. Tapi sekarang nggak, Ri. Mungkin walau aku bawa pabrik brownies sekalipun, belum tentu kamu mau maafin aku, ya?
            Aku juga kaget, Ri tentang perjodohan ini. Orangtua aku sama Dimas ternyata teman lama, tau-tau kami ketemu pas makan malam, terus papa bilang kami akan dijodohkan. Setelah tamat SMA nanti, papa dan oom Irawan ingin kami langsung tunangan.
            Sebelumnya aku minta maaf, Ri. Maaf aku telat menyadari perasaan kamu. Maaf aku baru sadar bahwa yang kamu sayang itu Dimas, tepat saat aku juga mulai menyukai Dimas!
            Maafin aku, Ri. Aku salah udah bohongin kamu. Dan aku juga salah karena aku nyakitin kamu. Aku salah banget sama kamu, aku minta maaf.
            Saat kamu baca surat ini, Ri. Mungkin aku udah nggak bisa ngomong langsung ke kamu, untuk nyampaikan semua isi surat ini secara langsung ke kamu.
            Selama ini insting aku memang suka meleset, Ri. Kamu tau banget tentang itu. Aku selalu gagal kalau disuruh menebak atau menerka-nerka. Tapi sekarang, aku yakin banget sama insting aku, Ri. Yakin banget, seratus persen! Nggak pake diskon. Hehe.
            Bilang ke aku, Ri, kali ini insting aku bener kan? Berarti aku nggak bisa ketemu lagi untuk ngomong langsung sama kamu. Aku memang bukan Tuhan, Ri. Tapi firasat manusia ada saatnya akan terjadi kan?
            Kalau kamu sudah baca surat ini, berarti firasat aku bener, Ri..
            Sekali lagi maafin aku ya, Ri.. Maaf aku udah bohong dan bikin kamu sakit.. Maaf aku nggak bisa ngomong langsung.. dan, maaf aku nggak bisa selamanya disisi kamu.
            Kalau aku nggak ada lagi, kamu jaga Dimas ya, Ri. Biarpun aku hanya sebentar dikasi waktu untuk sayang sama Dimas, tapi aku sudah bersyukur karena diberi waktu untuk bbisa sayang sama dia.
            Jaga dia ya, Ri. Aku tau kalian saling sayang, hanya saja, karena kalian saling bersahabat sejak kecil, kalian jadi bingung mengartikan rasa sayang kalian yang sebenarnya adalah cinta sepasang kekasih, bukan sahabat.
            Semoga kalian bahagia ya, Ri...
            Aku ingin melihat kalian memakai sepasang cincin yang sama dijari manis kanan kalian – dari atas Sana..
            Aku akan bahagia dengan kebahagiaan kamu, Ri..
            Aku sayang kamu selalu...
   Salam sayang,
-Renata Amalia Diana (Rena)-

***

            Beberapa orang suster keluar dari ruang UGD yang sejak tadi tertutup dengan rapat. Dengan tergesa mereka mendorong sebuah ranjang tidur dan tabung oksigen yang cukup besar.
            Tante Lastri semakin histeris saat anaknya yang masih tak sadarkan diri itu keluar dan entah dibawa kemana. Danny menahan tubuh mamanya yang hampir jatuh – saat oom Dodi menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
            “Bagaimana keadaan anak saya, dok? Mau dibawa kemana dia?”tanya oom Dodo dengan sangat cemas.
            “Keadaan pasien semakin gawat. Beberapa saat yang tadi jantungnya sempat berhenti berdetak selama beberapa detik. Kita tidak punya pilihan lain selain memasukkannya ke ruang ICU yang memiliki peralatan lengkap, pak. Karena sampai saat ini hanya upaya itu yang dapat kami lakukan semaksimal mungkin sebelum hasil pemeriksaan keadaan tubuh anak bapak diberikan oleh pihak laboratorium.
            “Sebaiknya bapak dan ibu sekarang ikut saya menuju ruang ICU. Lebih baik kalian menunggu disana agar lebih mudah kami memberikan kabar.”
            Oom Dodi segera merangkul istrinya dan mengikuti dokter tersebut menuju lift. Danny menoleh pada Riri dan memberikan kode agar ia dan Riko juga ikut.
            Sambil mengusap matanya yang sejak tadi menangis – dan Riko masih terus merangkulnya, Riri berjalan mengikuti Danny dari belakang.
            Kamu harus berjuang, Ren. Kamu harus kembali hidup, jangan menyerah sedikitpun. Kamu kuat, Ren. Kamu bisa kembali untuk kami semua. Untuk oom dan tante, untuk bang Danny, untuk aku, dan untuk Dimas...

***

            Tujuh hari kemudian...
            Pukul 00:00 wib , 10 Oktober 2010.
            Dimas duduk dipinggir tempat tidur dimana Rena terbaring. Sudah satu minggu Rena terbaring tanpa sadarkan diri. Tidak ada perubahan yang menggembirakan, selain keadaannya yang sudah tidak koma lagi, sejak tiga hari yang lalu.
            Dimas mengambil sehelai handuk kecil yang dibasahkan, dan mengusapkannya di wajah Rena dengan pelan. Wajahnya yang putih bersih kini pucat pasi. Seakan tak setetes darahpun mengalir di wajah itu. Dibersihkannya pula tangan dan kaki Rena yang dingin dan juga pucat seperti wajahnya.
            Perlahan tangan yang digenggam Dimas bergerak pelan. Kelopak mata yang selalu tertutup selama seminggu ini, bergerak pelan, dan akhirnya terbuka. Menatap lekat Dimas yang berada disisinya.
            “Rena.. Kamu sadar! Kamu sadar!”seru Dimas sambil memeluk Rena. “Aku panggil oom dan tante, juga dokter ya.”
            Tangan dingin itu menahan Dimas. Kepalanya menggeleng pelan. “Jangan pergi.”ucapnya pelan – hampir tak terdengar.
            Dimas kembali duduk dan menggenggam erat tangan Rena yang masih tetap dingin dengan kedua tangannya yang hangat. “Iya, aku nggak akan kemana-mana, Ren. Aku akan disini terus. Aku akan ada disisi kamu terus. Kamu harus cepat sembuh, Ren. Kita akan langsung tunangan saat kamu sudah keluar dari rumah sakit ini. Kamu harus sembuh.”
            “Kamu baik-baik ya, Mas. Aku ingin melihat kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Aku ingin kamu bersatu dengan Riri dalam ikatan cinta yang abadi..”
            Dimas menggeleng dengan kencang. “Kamu ngomong apa sih, Ren? Ikatan apa?! Aku tunangan kamu. Aku adalah calon suami kamu. Jadi kamu harus sembuh untuk aku. Untuk orang yang sayang sama kamu!”
            “Aku harus pergi, Mas..”
            Dimas mengusap matanya yang hampir menitihkan air mata. Ia tidak boleh menangis didepan Rena! Tidak akan!
            “Boleh aku minta kamu peluk?”
            Dimas mengangguk dan memeluk Rena dengan erat. Tubuh itu dingin, namun semakin dingin, semakin lama Dimas memeluknya.
            Rena tersenyum kecil. “Selamat ulang tahun, Dimas..”
            Dimas tersenyum, “Terimakasih! Terimakasih kamu sudah sadar dihari ulang tahun aku, Ren. Ini hadiah yang sangat spesial untuk aku. Saat kamu keluar dari rumah sakit nanti, kita rayakan berdua ya. Aku akan ajak kamu kemanapun yang kamu mau, Ren.”
            Tubuh itu semakin dingin dan dingin. “Ren. Rena?” Dimas menggoyangkan tubuh dingin yang sejak tadi terus dipeluknya.
            Tit..tit..tit..tiiiiiiiiittttttt.....
            Dimas menatap garis lurus yang berada dilayar samping tempat tidur Rena dengan air mata yang tak bisa lagi ditahannya.
            Selamat jalan, Rena. Terimakasih sudah menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat untukku..

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar