Powered By Blogger

Selasa, 16 Agustus 2011

(cerbung) AKU, DIA, dan DIA_Part 3

Riko sedang asik bercanda dengan Bimo dibangku – dalam kelasnya, saat Inneke teman sekelasnya berlarian dengan heboh dan langsung berhenti didepan meja Riko dengan nafas yang terengah-engah.
            “Ngapain Ke, lari-larian disekolah? Kabur dari kantin gara-gara makan bakso nggak bayar  ya?”goda Bimo sambil terkikik geli.
            Inneke memukul punggung Bimo yang sedang tertawa dengan cukup keras. “Kurang ajar, jangan samakan aku dengan kamu, Mo, ngutang mulu kerjanya!”sungut Inne. “Ko, gawat ko...”ujarnya dengan heboh – seolah baru teringat kabar penting nan gawat yang haru diberitahukannya pada Riko.
            “Gawat apanya?”tanya Riko bingung.
            “Sasha, Ko.. Sasha..”
            “Sasha kenapa?”Riko semakin bingung
            “Sasha ngelabrak Riri dikelasnya! Sekarang mereka lagi didepan gudang di u..”
Belum selesai Inne melanjutkan laporannya Riko langsung berlari keluar kelas dengan tergesa-gesa.
“Kamu beneran nggak ngutang bakso dikantin kan, Ne?”tanya Bimo yang kini berdiri didepan Inneke yang masih sulit mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“Ya enggak lah, Mo!”sungut Inne yang semakin kesal.
“Bagus deh.”sahutnya sambil mengehal nafas lega.
“Kok lega banget sih?!”
“Soalnya aku mau ngutang sekarang, laper banget nih. Daah Inne!”Bimo langsung berjalan dengan langkah cepat menuju kantin.
“Eh, Mo! Kok ke kantin? Kasian dong Riko mendamaikan cewek yang lagi cemburu membabi buta itu sendirian!”pekik Inne dari depan pintu kelas.
“Dia udah gede kok, bisa sendiri. Daah Inne!”
Inne hanya menggelengkan kepalanya – mint ampun banget dengan kepolosan Bimo yang dipikirannya cuma nguitang bakso.
“Aah, bodo’ amat deh!”
Inne pun kembali masuk kekelas dan membenamkan wajahnya diatas meja – tertidur.
***

“Maksud lo apa-apaan sih deketin si Riko?!”bentak Sasha
“Aku nggak ngedeketin kak Riko, kak..”jawab Riri pelan.
Kini Riri terpojokkan di sudut depan gudang – yang letaknya diujung belakang sekolah dan jauh dari jangkauan ruang guru. Tempat yang sangat aman untuk melabrak, seperti saat ini.
“Jadi maksud elo, Riko yang ngedeketin elo duluan?!”
Riri mengangguk pelan, “I..Iya kak..”
Sasha menendang pintu gudang hingga berderak dengan nyaring – untung aja nggak sampai lepas.
“Jangan sok kecantikan deh! Nggak mungkin banget Riko yang ngejar-ngejar elo! Pasti elo yang keganjenan deketin Riko, ngerayu dia, sampai –sampai dia mau-mau aja jalan sama elo, jemput elo sekolah! Ngaku deh! Nggak usah munafik jadi cewk. Baru kelas satu juga, udah macem-macem sama kakak kelas! Cari mati banget sih elo!”
bentak Sasha.
“Maksud kakak apaan sih ngelabrak aku gini? Kenapa kakak marahnya cuma sama aku? Kenapa nggak marah juga sama kak Riko? Kakak kan bukan siapa-siapanya kak Riko, kakak nggak punya hak giniin aku!”
“Eh, Berani lo ya bentak gue! Dasar kurang ajar lo!”
Sasha mendorong tubuh mungil Riri hingga membentur pintu gudang dengan kuat. Oouuchh, sakit banget.. gumam Riri dalam hati.
“Kakak sebenarnya mau apa sih? Langsung aja to the point, jangan kekerasan kayak gini!”protes Riri.
Dari jauh Rena hanya bisa menatap nanar kearah Riri yang sudah sangat terpojokkan. Ya Tuhan, lindungi Riri....
Sasha mendekati Riri dan berdiri hanya tigapuluh sentimeter didepannya, “Elo mau tau apa mau gue? Mau gue, elo jauhin Riko dan jangan masuk dalam hidup dia lagi!”
“Nggak ada alasan untuk aku jauhin kak Riko, kak. Dia baik. Nggak ada satupun hal yang bisa aku jadikan faktor untuk ngejauhin dia.”
“Anggap aja elo ngejauhin dia karena ancaman gue ini, akhirnya elo takut, dan elopun mundur karena nggak mau kalau dilabrak gue lagi..”
Riri tersenyum tipis dan menatap lurus kearah Sasha. “Kakak salah kalau ngelabrak aku!”desis Riri.
Saha mengerutkan keningnya, heran.
“Aku bukan tipe cewek yang takut oleh ancaman. Mau kakak ngelabrak aku atau ngancam aku seperti apapun, aku nggak akan pernah takut selama aku bener.”tegas Riri.
Sasha merasa amarahnya sudah tak tertahankan  dan harus ia lampiaskan sekarang juga. “Sialan Lo!”Sasha mengangkat tangannya tinggi-tinggi – bersiap untuk menampar Riri.
Ya Tuhan, lindungi aku.. gumamnya dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Satu, dua, tiga, empat, lima. Tidak ada tanda-tanda tangan Sasha kan mendarat diwajah Riri. Dengan waspada Riri mengangkat kedua tangannya dan terbelalak melihat pemandangan didepannya.
Kak Riko mencekal tangan Sasha yang hendak menamparnya! Terimakasih ya Tuhan...
“Kamu apa-apaan sih, Sha? Kamu berani mau nampar Riri?! Dia nggak ada salah apa-apa. Dia ngak gangguin aku, justru aku yang gangguin dia. Aku yang deketin dia, aku yang ngejar-ngejar dia! Kamu nggak ada hak untuk mencampuri kehidupan aku, Sha!”ujar Riko dengan nada yang tetap tenang, terkonrol.
“Ta..tapi, Ko..”
“Aku harap kamu nggak akan ngelakuin hal bodoh lagi. Kalau sampai kamu kayak gini lagi, aku nggak akan segan ngelaporin perbuatan kamu ini ke sekolah!”ancam Riko.
Riko menghampiri Riri yang masih diam ditempatnya.
Riko mengangkat wajah pucat yang tertunduk itu dengan kedua tangannya, “Kamu nggak kenapa-kenapa, Ri?”
Riri menatap lurus keaarah mata Riko yang sangat menenangkan baginya. Ia menggeleng pelan.
“Yuk, aku antar kamu ke kelas.”
Riko merangkul Riri dengan kedua lengannya – mengantarkan gadis itu menuju kelas, bersama Rena yang mengikuti dibelakang.

***

            Dimas berlarian sepanjang koridor sekolah menuju ruang UKS. Ia tidak perduli walaupun bel masuk telah berbunyi, lorong sekolah telah lengang, dan bunyi tapak kakinya yang berlari kencang mengganggu suasana belajar di kelas yang ia lewati.
            Yang berkecamuk dipikirannya hanya satu, Riri. Apa yang terjadi padanya?! Dimas sangat kaget saat menerima sms dari Rena yang mengabarkan Riri sekarang ada di UKS.
            “Ren, Riri mana?”tanya Dimas saat bertemu dengan Rena yang berdiri dipintu UKS.
            “Tuh, ada di dalam.”Rena menunjuk kasur paling ujung disebelah dalam.
            Dimas langsung berjalan kearah yang ditunjukkan oleh Rena, “Ri...”
            “Hai, Dimas.”sapa Riko – yang sedang duduk disamping kasur Riri
            Dimas hanya mengangguk, dan menatap kearah Riri yang tampak tertidur diatas kasur.
            “Riri nggak kenapa-kenapa kok, Mas. Dia cuma masih agak kaget aja. Tadi aku udah izin sama walikelasnya, kalau Riri sakit mau istirahat di UkS ditemenin Rena, nanti habis istirahat kedua, baru dia masuk kekelas lagi.”
            Dimas menghembuskan nafasnya, lega. “Syukurlah..”
            Riko berdiri dari tempatnya duduk tadi, “Aku ke kelas dulu ya, Mas. Jagain Riri ..”
            “Pasti.”jawab Dimas dengan tatapan tajam kearah Riko.
            Riko tersenyum dan keluar dari ruang UKS. Sesaaat ia berhenti menghampiri Rena yang berdiri didepan Pintu, “Kakak ke kelas dulu ya, kamu jagain Riri disini. Kalau ada apa-apa sms aja ya, kamu tau nomor hp kakak kan?.”
            Rena menganguk, “Tau kok , kak.”
            “Ok, duluan ya..”
            Rena menatap kepergian Riko yang terasa agak ganjil. Pasti sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Riri sebelum ia bangun, tapi karena kedatangan Dimas, ia jadi tak enak hati.
            Rena jadi agak sedikit menyesal karena telah menyuruh Dimas kesini, tapi mau gimana lagi, Dimas memang harus tau.
            Rena pun berjalan mendekati kasur yang ditempati Riri – diujung dalam ruang UKS. Dilihatnya Dimas duduk disamping Riri sambil menggenggam tangan gadis yang sedang tertidur itu.
            Wajahnya tertunduk dan... menangis.

***
            Apa sih salah aku, sampai kak Sasha ngelabrak aku gitu? Masa cemburu sampe segitunya banget. Padahal kan aku nggak salah dong. Toh kak Riko memang baik, nggak ada jahat-jahatnya sama aku. Jadi, nggak ada alasan buat aku jauhin dia..
            Jujur, aku bingung. Bingung dengan perasaan yang aku rasain..
            Kak Riko baik banget, nggak menutup kemungkinan aku bisa suka sama dia. Tapi, Dimas... Ya, Dimas emang sahabat aku, tapi aku ngerasa bedea sekarang sama Dimas. Apalagi pas hari minggu kemarin dia sampai gitu – takut aku ninggalin dia..
            Apa mungkin, rasa sayang ini berubah terhadap Dimas?

***

            “Ri, jadi gimana hubungan kamu dengan kak Riko sekarang?”tanya Rena – saat mereka berada di kamar Riri. Memang hari ini Rena janji mau kerumah Riri sepulang sekolah, karena nggak ada les dan bimbel lainnya.
            “Baik-baik aja kok. Hampir setiap hari dia jemput aku ke sekolah.”sahut Riri – sambil melanjutkan kegiatannya main game di laptop.
            “Waah, berarti semakin gencar dong, kak Riko PDKT sama kamu, Ri..ciiee ciiee..”goda Rena.
            “Nggak tau juga deh, Ren. Mungkin aja dia jadi gini karena ngerasa nggak enak sama aku, atas insiden kak Sasha waktu itu. Bisa jadi aja kan?”
            Rena melempar boneka beruang berwarna pink kerah Riri. Sukses mendarat dikepalanya. “Heh! Ngak boleh suudzan, Ri. Menurut pandangan aku, kak Riko emang lagi PDKT kok. Buktinya aja, nggak mungkin dia sms kamu terus, merhatiin kamu, nanya udah makan atau belum, kadang nraktir makan juga di kantin, aku sih setuju aja tuh kamu sama dia, Ri.”
            “Kok gitu?”
            Rena tertawa cengengesan, “Ya iyalah, setiap kamu lagi jalan sama kak Riko, dia kan kasi tips ke aku, karna mungkin dia takut bersalah sama aku, karena udah nyulik kamu dari aku. Lumayan juga kan, bisa makan di kantin gratisan tiap hari. Bisa awet uang jajan aku, Ri. Bisa deh bulan depan beli dress di FO..”sahutnya sambil mengerling kearah Riri.
            “Dasar nggak mau rugi! Mau nya cari gratisan mulu.”ejek Riri
            “Jelas dong! Siapa sih yang mau nolak rejeki?”elak Rena. “Tapi ngomong-ngomong, perasaan kamu sendiri ke kak Riko gimana, Ri?”
            Riri beranjak dari tempatnya duduk tadi – di kursi meja belajar – an berbaring disebelah Rena, di kasurnya. “Aku nggak tau, Ren. Aku bingung sama perasaan aku sendiri. Kak Riko baik banget, Cuma, rasanya ada yang sedikit nahan perasaan aku aja..”
            “Emangnya apa yang nahan perasaan kamu?
            “Dimas.”sahut Riri dengan pelan. “Setiap aku lagi sama kak Riko, aku selalu kepikiran Dimas, Ren. Waktu itu juga dia pernah ngomong ke aku, dia takut kehilangan aku kalau aku punya pacar. Aku nggak tau harus gimana, Ren. Perasaan aku nggak karuan sekarang.”
            “Ri, jangan bilang kalau kamu cinta sama Dimas?”
            Riri menggeleng dan langsung memeluk Rena, “Aku nggak tau, Ren..hiks..hiks..”jawabnya sambil menangis.
            “Aduuh Riri, jangan nangis doongg...”

***

            Ada rasa yang tak biasa , yang mulai kurasa yang entah mengapa.. Mungkinkah ini pertanda aku jatuh cinta, cintaku yang pertama ...
            Huft, Lagunya Mikha Tambayong kena banget nih di hati aku.. Ya ampun, kenapa aku jadi gini?? Kenapa aku kepikiran Dimas terus??
            Riri menutup buku Diarynya dengan mata berkaca-kaca. Diletakkannya diary itu dimeja kecil samping tempat tidurnya. Ia mematikan lampu kamar, menarik selimut, dan akhirnya tertidur lelap.

***

            Beberapa bulan kemudian...
            “Anak-anak, bulan depan kalian akan menghadapi ulangan akhir semester. Saya harap kalian  dapat mengerjakan ulangan nanti dengan sebaik mungkin – tanpa lepas menjunjung asas kejujuran.”tutur Bu Wati – wali kelas Riri dan Rena. “Jadwal ulangan sudah ada di papan pengumuman, kalian sudah bisa mulai mempersiapkan diri untuk ulangan akhir semester ini. Untuk angket pemilihan jurusan – yang akan digunakan sebagai acuan penentuan kalian akan masuk ke jurusan apa – akan saya bagikan saat pelajaran saya besok pagi. Ada pertanyaan?”
            “Tidak, bu..”sahut para murid dengan serempak.
            “Baiklah kalau begitu, jam pelajaran saya sudah selesai, silahkan kalian istirahat. Selamat siang.”
            “Siang, bu..”
            Bel istirahat kedua pun berbunyi tepat setelah Bu Wati beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelas.
            Beberapa murid pun mulai berkeluaran dari kelas setelah kepergian Bu Wati, ada yang ke kantin, ngobrol di taman atau pinggir halaman, bahkan ada yang Cuma ngeceng didepan selasar hanya untuk menggoda cewek-cewek yang lewat – tentu saja hal itu cowoklah yang melakukannya.
            Riri kembali melanjutkan hobinya yang selama pelajaran matematika yang diajarkan Bu Wati tadi berlangsung selama dua jam. Sambil mencomot beberapa potong brownies yang dibawanya dari rumah – tentu saja Papa yang membuatnya, Riri dengan asik membaca novel miliknya.
            “Eh, Ri, tumben istirahat kedua gini stand by di kelas? Aku kira tadi kamu langsung ke kantin pas aku ke toilet, tapi aku susul ke kantin kamu nggak ada, rupanya malah asik makan brownies sendirian..”ucap Rena. Ia memang langsung buru-buru ke toilet saat bel istirahat berbunyi, karena sejak satu jam pelajaran matematika berlangsung, Rena telah menahan hasratnya ingin ke toilet. Tapi saat bel berbunyi, batas pertahanannya hampir jebol – alhasil Rena jadi lari secepat kilat menuju toilet tanpa sempat Riri menyusulnya.
            “Masih kenyang Ren, lagian Papa bikinin brownies nih, kasian dia ntar sedih kalau nggak dimakan.”
            “Siapa yang sedih? Papa kamu?”
            Riri menggeleng sambil mengambil potongan brownies selanjutnya dari kotak makan yang dibawanya, “Papa? Ngapain juga papa sedih..”
            Rena mengerutkan keningnya heran,”Jadi yang kamu maksud nanti sedih kalau nggak dimakan tuh siapa dong?”ia ikut mengambil sepotong brownies.
            “Ya brownies nya lah yang sedih, ntar dia nangis lagi..”sahut Riri.
            “Riri.. sejak kapan brownies bisa nangis?!”sungut Rena.
            “Loh, nasi aja kalau nggak dimakan habis atau dibuang-buang bisa nangis kan? Berarti brownies sama aja dong.. Toh sama-sama makanan juga.”
            “Riri, dibilang mereka “nangis” ya nggak beneran nangis dong! Gila aja kalo lagi makan brownies tiba-tiba dia nangis. Yang ada bukannya menikmati kue yang lezat ini, tapi malah ketakutan kalo liat mereka nangis!”runtuk Rena. “Lagian orangtua-orantua jaman dulu bilang begitu kan supaya kita tuh makan nggak mubadzir, harus ingat, makanan yang ada itu harus disyukuri..”
            “Nah, sama aja kan artinya. Nasi aja nggak boleh dibuang-buang karena nanti bisa mubadzir, brownies sama juga dong, kalo dibuang dan gak abis kan sayang juga, Renaa...”Riri mengambil sepotong lagi dan melihat masih ada potongan terakhir dalam kotaknya, “Mau nggak nih? Kalau nggak ntar aku habisinn loh?”
            Dengan cepat Rena menyambar potongan brownies yang disodorkan Riri.
            “Tuh, laju juga kan makan borniesnya..”ledek Riri.
            “Loh, katanya nggak boleh mubadzir sama brownies kan? Jadi ya dihabisin dong..”sahut Rena sambil cekikikan.
            Riri hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sebaiknya sudah dihentikan saja perebatan dengan Rena, sebelum waktu mereka tersita banyak hingga bel pulang sekolah berbunyi hanya karena nasi dan brownies yang “menangis” itu.
            “Baca apaan sih ,Ri? Serius banget kayaknya?”
            Riri memperlihatkan sampul novel yang sedang dibacanya, “Ini loh, novelnya Esti Kinasih, Jingga dalam Elegi. Bagus deh.”puji Riri.
            “Waah, yang lanjutannya Jingga dan Senja itu ya? Aku pernah baca tuh, pinjem punya sepupu aku yang doyan baca novel teenlit. Katanya yang Jingga dalam elegi juga bagus banget, cuma aku belom sempet kerumahnya mau pinjem lagi. Aku mau beli aja deh, sekalian koleksi. Ntar sore temenin ke toko buku, yuk Ri? Aku jemput deh nanti..”
            “Aduh, sori ya Ren, aku nggak bisa.”
            “Kenapa? Kamu ada kegiatan?”tanya Rena.
            “Emm, em, iya. Aku mau cari kado buat om aku yang ulang tahun, Ren.”jawab Riri dengan tergagap.
            “Loh, sekalian kan bisa? Toko bukunya kan di mall juga, Ri, bisa sekalian aku temenin cari kado.”
            “Emm, nggak bisa, Ren. Aku udah janji perginya berdua sama sepupu aku – adik om aku itu, maaf ya, Ren.”
            Rena menghela nafasnya dengan berat, “Huft, ya udah deh nggak apa-apa. Tapi besok bisa kan?”
            “Aduh, nggak bisa juga. Aku minta maaf lagi ya, Ren. Besok juga nggak bisa, soalnya ulang tahunnya om aku itu, besok dirayainnya. Maaf banget , Ren..”
            “Huft, ya udahlah kalau nggak bisa.”sahut Rena pasrah.
***

            “Ren, kok tumben sendirian aja? Riri kemana?”tanya Dimas saat berpapasan dilorong sekolah saat bel pulang telah berbunyi sekita lima menit yang lalu.
            Rena mengangkat bahunya, “Nggak tau tuh. Tadi bel bunyi langsung aja dia keluar kelas buru-buru.”sungut Rena dengan wajah yang ditekuk kesal.
            “Kok manyun gitu, Ren, kenapa?”
            “Aku kan mau ke toko buku tuh, beli novel, aku pengen minta Riri temenin biar ntar sore aku jemput, eh dia nggak bisa. Katanya mau pergi sama sepupunya beli kado buat ulang tahun bapak sepupunya itu. Aku tanya besok bisa apa nggak, dia bilang nggak bisa juga, soalnya ultah om nya itu dirayainnya besok.”tutur Rena. “Kesel deh! Nggak tau si Riri beneran mau pergi sama sepupunya atau cuma nyari alasan aja nggak mau nemenin aku.”sungutnya.
            “Kok jadi negatif thinking gitu? Nggak mungkin lah Riri bohong buat menghindar nggak mau nemanin kamu. Pasti beneran, aku kenal sama Riri, Ren. Dia bukan tipe orang yang suka menghindar kok. Kalau dia nggak bisa, pasti memang ada urusan lain.”jelas Dimas.
            “Tapi Riri aneh, Mas. Dia tuh kayak ragu-ragu pas mau jawab ajakan aku. Jawabnya juga gugup kayak bingung mau jawab apa, gitu. Aku emang belom ada setahun jadi teman sebangkunya dan kenal dia, tapi aku tau, Riri nggak biasanya kayak gitu. Pasti ada sesuatu yang dia rahasiain deh.”
            Dimas terdiam sejenak. Memikirkan apa yang sedang disembunyikan Riri pada mereka ya..
            “Ya udah, ntar coba aku telpon kerumahnya buat mastiin deh. Sebagai pengganti Riri, aku temenin kamu deh ke toko buku, sekalian aku juga mau cari buku pelajaran nih, ntar aku sms deh sebelum jemput kamu, Ren.”sahut Dimas.
            “Oke deh.”

***

            Dimas melemparkan handuknya ke kursi meja belajarnya.
            Segar sekali rasanya, setelah lelah dan pusing seharian dengan pelajaran yang menguras otak selama disekolah, langsung mandi begitu sampai rumah, seakan semangat hidupnya kembali muncul setelah terserang rasa kantuk yang luar biasa sejak dua jam terakhir sebelum bel pulang berbunyi.
            Dimas melirik jam dinding yang  tergantung di kamarnya. Masih jam tiga sore, kalau dia telepon sekarang, mungkin Riri juga masih capek dan sedang istirahat. Lebih baik nanti saja lah.
            Dimas pun keluar dari kamarnya, menuruni tangga, dan menuju ruang makan yang berada dilantai bawah. Ternyata ia sangat lapar hari ini.

***

            “Ma, Riri pergi dulu ya..”Riri mencium tangan dan kedua pipi Mamanya.
            “Iya, Hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam.”pesan mama.
            Riri mengangguk sambil tersenyum, “Iya, Ma. Pergi dulu ya , Ma. Assalamualaikum..”
            “Waalaikumsalam..”

***

            Dimas mengangkat gagang telpon rumahnya dan menekan sederet angka yang sudah diingatnya sejak kecil. Sekarang sudah jam empat sore, Riri pasti udah nggak terlalu capek lagi, pikirnya
“Halo.”terdengar suara mama nya Riri mengangkat diseberang sana.
“Halo, sore tante..”
‘Eh, Dimas, sore. Ada apa sayang? Tumben nelfon? Biasanya juga langsung datang kesini tanpa diundang.”goda mama Riri.
Dimas tertawa kecil, “Ah, tante nyindir nih. Hihi. Riri nya ada, tan?’
“Waah, Riri baru aja pergi tuh. Sekitar lima menit yang lalu lah dia turun.”sahut mama Riri.
“Pergi kemana, tan? Sama sepupunya?”
“Hah? Sepupu? Nggak kok, tadi dia di jemput sama Riko. Katanya mau ke mall yang nggak jauh dari sekolah kalian itu loh..”
“Hah? Riko tante??”tanya Dimas, kaget.
“Iya, Riko, Mas. Kenapa memangnya?”
“Ah, nggak apa-apa, tan. Makasih ya, tan. Selamat sore.”
“Iya, sore Mas..”
Dimas langsung menutup telepon rumahnya dan langsung berlarai keatas – ke kamarnya.
Ia dengan cepat langsung mengganti pakaian rumahnya dengan kau oblong berwarna putih dan celana jeans. Tak lupa ia memakai sepatu nya dengan cepat, menyambar dompet, kunci motor dan handphone yang diletakkan dimeja belajar, kemudian kembali bergegas turun kebawah.
Dimas memasang earset ditelinganya dan memacu motornya dengan kecepatan penuh.
“Halo, Rena.”
“Iya, Mas. Udah mau jemput?”
“Iya, sekarang siap-siap, bentar lagi aku sampe. Kita ubah planing, Ren, nggak jadi beli novel dan buku, belinya nanti aja.”
“Loh, kenapa?”tanya Rena heran.
“Kita harus jadi mata-mata sekarang Ren. Lebih jelasnya ntar aku ceritain deh.”
“Hah?! Mata-mata?!”sahut Rena, tambah kaget. Ada apa ini sebenarnya? Kenap suara Dimas terdengar panik? Apa ada hubungannya dengan Riri?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar