Besok adalah hari pertama aku masuk SMA! Akhirnya, setelah menunggu waktu yang sangat lama – hiperbolis dikit deh – sekarang aku sudah resmi menjadi siswa berseragam putih abu-abu.
Padahal baru sebulan yang lalu, aku, Febriani Putri ini adalah seorang siswi SMP yang sangat imut ala gadis-gadis di film korea. Tapi, lihatlah aku sekarang! Seperti bertemu dengan peri cantik jam dua belas malam tadi, dan langsung mengubahku menjadi gadis yang mulai beranjak dewasa!
Dulu rambut ikal panjangku selalu aku kuncir. Mulai dari dikuncir dua, kuncir kuda, kepang, dan lain sebagainya. Tapi sekarang, rambut ikalku tergerai dengan indahnya – sepanjang punggung.
Dunia, inilah aku! The new Febriani Putri!
***
Riri turun dari kijang innova milik papanya – yang dikendarai supir – dengan perasaan riang.
Sekarang aku udah jadi siswi SMA!, seru Riri dalam hatinya – sambil memandang takjub kearah pintu gerbang sekolahnya yang hanya berkisar lima meter dari tempat Riri berdiri sekarang.
Sekali lagi ia menatap bayangan dirinya - yang sudah siap dengan seragam SMA yang terpasang rapi, juga rambut yang sangat mendukung penampilannya – dikaca spion mobil.
“Nanti kalau Riri udah pulang, Riri telepon ke rumah ya, pak.”ucapnya pada sang supir.
“Iya, non.”
Setelah sang supir – beserta mobil – yang mengantarkannya telah menghilang dari pandangan mata, Riri berjalan memasuki sekolah dengan senyum yang tidak berhenti berbinar di wajahnya.
I’m coming!
***
Cewek itu tampak menonjol dan sangat berbeda dari teman-teman lainnya. Aura kebahagiaan yang selalu terpancar darinya, membuat Riko tak henti memperhatikan setiap gerak-geriknya , dari ruang OSIS – tempat para panitia MOS berkumpul saat brifing pagi, istirahat, dan evaluasi akhir saat pulang sekolah.
“Malah ngelamun. Ngeliatin apaan sih?”tegur Bimo, teman sebangku Riko – sambil menyerahkankan sebotol minuman pesanan Riko.
“Ngeliatin cewek, Mo. Manis banget. Inner beauty nya terpancar kuat banget.”puji Riko, sambil terus memperhatikan cewek itu.
Dia tertawa, dia berbicara dengan semangat, dia melahap siomay dengan mata berbinar, dia berkaca dan menyisir rambut ikal indahnya, lalu kembali bergurau dengan teman-temannya, tertawa lagi, dan kembali berkaca dan tersenyum melihat bayangan wajahnya. Sepertinya hal yang paling disukai cewek ini adalah berkaca, karena semenjak Riko memperhatikannya tadi, sudah empat kali ia berkaca dan menyisir rambutnya dengan rapi.
“Sangat menarik.”gumam Riko.
“Cewek yang mana, sih Ko? Penasaran jadinya, cewek kayak gimana sih , yang pada akhirnya bisa menarik perhatian kamu?”tanya Riko. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh area lapangan basket, voly, dan taman, sebelum kemudian ditatapnya Riko dengan wajah yang menuntut penjelasan.
Riko tertawa melihat aura “penuntutan kejelasan” yang dipancarkan wajah Bimo. “Tuh, liat kearah taman, dibangku tengah yang disampingnya ada kumpulan bunga lily. Kan ada lima orang tuh disitu, nah, yang ditengah tuh. Rambutnya ikal, kulitnya kuning langsat, dan tingginya lumayan sedang untuk ukuran cewek. Nggak tinggi, nggak pendek.”tunjuk Riko.
“Ooh, Riri maksudnya?”
“Riri? Kamu kenal, Mo?”
Bimo mengangguk sambil ikut memandang kearah cewek bernama Riri itu.”Kenal lah. Aku mentor kelas XA kali, dia emang paling menonjol dari temannya yang lain. Selain manis, lucu, riang, ramah, dan baik hati – tidak sombong – rajin menabung, pula.”ledek Bimo.
“Kenalin dong..”
Bimo membelalakkan matanya – kaget. “Ha?! Serius??”
Riko mengangguk dengan cepat – mengiyakan.
“Seorang Riko minta dikenalin sama cewek dibawah tingkat?! Hellooo...”
“Emang ada yang salah, kalau aku minta dikenalin? Secara kan, kamu emang kebetulan mentor di kelasnya, Mo.”
Bimo menggeleng sambil tertawa. “Beneran gak sadar nih?”
“Apaan sih?”Riko makin bingung aja mendengar pertanyaan aneh terus keluar dari mulut Bimo – yang daritadi terlihat sangat takjub dan tidak percaya atas permintaan Riko barusan.
“Riko, selama ini kamu tuh The most wanted boy di sekolah kita tercinta ini! Banyak cewek yang ngejar-nggejar, terang-terangan nembak, tapi nggak satupun dari cewek sebanyak itu yang kamu taksir. Sekarang, seorang Riko yang telah mematahkan hati banyak cewek dengan kelembutan hatinya ini malah malu-malu dan minta dikenalin sama seorang cewek mungil yang berasal dari kesal yang aku mentorin? Gila! Syok banget aku!”
Riko terkikik geli, “Jadi gara-gara itu kamu takjub setengah mampus gitu? Ya ampun, Mo. Aku manusia juga, kali. Mungkin sekarang udah saatnya aku jadi cowok normal! Bukan Cuma dikejar-kejar cewek – seperti biasanya – tapi malah berusaha mengejar cewek, Mo. Aku juga mau ngerasain kali, sensasinya ngejar cewek tuh kayak gimana. Pasti seru deh.”Riko mengalihkan pandangannya – kembali kearah Riri, “Lagian, Riri kayaknya nggak kayak cewek kebanyakan deh. Dia bukan tipe cewek yang bisa ngejar cowok dengan sangat heroik, ataupun langsung jingkrakan seneng karena ditaksir cowok ganteng. Dia keliatannya kalem kok, baek, bisa ngendaliin perasaannya dengan normal dan nggak heroik.”
“Alah kayak paranormal aja, Ko.”
Lagi-lagi Riko terkikik geli, “Ya iyalah tau. Walaupun aku belom pernah pacaran lagi – sejak yang terakhir saat kelas 3 SMP – setidaknya aku mengenal dan sudah sering melihat cewek bertipe heroik , yang selama ini suka ngejar aku.
“Iya deh, apa kata kamu aja.”jawab Bimo,ogah-ogahan.
“Jadi kenalin ya, Mo?”
Bimo menepuk pundak Riko – sambil tersenyum penuh misterius. “Tenang, pasti aku kenalin. Aku nggak bakal kenalin kamu hanya pada Riri doang, tapi pada semua anak kelas satu – nggak semua sih, ya, minoritasnya lah.”
“Maksudnya?”
“Kita liat besok aja ya, Ko.”
***
Riri berjalan menuju toilet dengan langkah cepat. Pasti gara-gara kebanyakan minum sama ketawa daritadi nih, makanya jadi kebelet gini, keluhnya sambil tersenyum.
Nice day.
“Riri!”
Riri menghentikan langkahnya yang sedikit lagi mencapai pintu masuk toilet. Matanya membelalak lebar, lalu tersenyum riang saat melihat sosok yang kini berdiri dibelakangnya, ikut tersenyum melihat ekspresi wajah konyol Riri. “Dimaass!”
Dengan kaget, Dimas langsung menangkap tubuh mungil Riri yang langsung memeluknya. “Hei, hei. Ini sekolah , nona. Apa kata orang kalau lihat kita pelukan didepan toilet ini?”
Riri melepas pelukannya, dan langsung mencubit lengan kanan Dimas. “Kamu kenapa nggak bilang-bilang kalau sekolah disini juga?! Bisa-bisanya ya kamu diem-diem ngerahasiain ini dari aku, yang notabene temen sepermainan kamu dari lahir – merangkap tetangga – sampai sekarang?!”omel Riri sambil berkacak pinggang.
Dimas tertawa – sambil mengacak-acak rambut ikal Riri yang kini telah digerai indah – tidak seperti dulu yang hanya dikuncir saja. “Kan biar surprise, Ri. Lagian, siapa suruh nggak ada nanya-nanya ke aku , kalau aku ini masuk SMA mana. Aku pergi liburan selama dua minggu ke Paris juga kamu paling nggak sadar kan? Terlalu sibuk dan heboh sendiri sih..”
“Dimas, kamu kan tau, aku dari dulu sangat mengharapkan masa SMA ini cepat terjadi pada kita – khususnya aku – jadi wajar dong kalau aku mempersiapkan diri untuk memulai masa remajaku sebagai seorang siswi SMA?!”
“Oke, oke. Sekarang aku menghentikan perdebatan kecil ini, nona Riri.”ucapnya sambil mengacungkan tangannya membentuk huruf “v”.
Riri menggamit lengan kanan Dimas dan menyeretnya untuk pergi. “Yuk, kamu hutang banyak sama aku, Mas”
“Hutang apaan? Perasaaan dari lahir smpe sekarang aku nggak pernah minjem duit sama kamu deh, Ri.”
“Iihh Dimaass! Kamu liburan ke Paris selama dua minggu!”sungut Riri
“Terus?”
‘Dimas lemot ihh! Kamu hutang cerita sama hutang oleh-oleh sama aku! Yuk sekarang ke kelas kamu, ambil oleh-olehnya.”rengek Riri.
Dimas mengerutkan keningnya – heran, “Tadi bukannya kamu mau ke toilet, Ri?”
“Kebelet aku udah keburu ilang! Yuk cepetaann...”
***
Riri menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur – setelah ia mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah yang biasa dipakainya, celana jins selutut dan baju kaus pink bergambarkan minnie mouse.
Ia meraih buku diary yang diletakkannya diatas meja kecil , disamping tempat tidurnya.
Riri sih tidak perlu cemas, jika meletakkan diary atau barang pribadi lainnya dimanapun dirumah ini, karena seluruh orang dirumah ini – termasuk dirinya, sangat menjunjung tinggi ke-privasi-an masing-masing anggota keluarga dirumah – mulai dari papa, hingga Bi’ Inah sang pembantu yang telah merawat Riri serta dua orang kakaknya sejak kecil.
Jadi tidak masalah jika Riri meletakkan diary nya di ruang tv, meja makan, ataupun dapur. Paling hanya dipindahkan ketempat yang selayaknya, dan tak ada seorangpun yang berani membukanya. Semua ini karena asas ke-privasi-an yang dijunjung tinggi dirumah ini.
Riri membuka diarynya dan mulai menulis.
Seneng banget deh hari ini, ternyata Masa Orientasi Siswa (MOS) tidak demenyeramkan yang aku bayangkan. Buktinya kami tidak ada disuruh mengikat rambut kami dengan pita warna-warni, ataupun memakai papan nama bertuliskan nama binatang atau buah, memakai topi kerucut yang terbuat dari karton, dan memakai tas yang terbuat dari karung goni.
Mungkin karena ada kebijakan dari sekolah yang melarang melakukan hal tersebut, jadi selamatlah kami – para murid baru..
Aku ditempatkan di kelas XA. Aku dapet banyak temen baru. Aku seneng dengan semua temen sekelas. Apalagi teman sebangkuku, Rena, dia baik banget. Orangnya Ramah dan sangat friendly. Jadinya pas istirahat, aku dan Rena ikut berkumpul dengan teman-teman lain yang ngobrol bareng di taman – sambil menyantap jajanan yang kami beli dari kantin.
Aku sempet kaget saat lihat Dimas – teman kecilku juga sekolah disini. Dasar Dimas, usil, jahat banget dia ngerjain aku. Hhiii. Tapi aku seneng deh, dia sekolah juga di SMA yang sama dengan aku, jadinya kan, aku kompakan terus sama Dimas. Dari SD sampai SMA satu sekolah terus..
Dimas juga bawain oleh-oleh buat aku loh..
Ada pigura kecil – bisa aku pajang dimeja kecil samping tempat tidur - yang didalamnya terdapat lukisan menara eiffel. Bagus banget deh. Terus juga ada miniatur menara eiffel yang dimasukkan dalam kotak kaca. Tingginya kira-kira 50 sentimeter gitu. Pasti Dimas agak susah membawanya dalam pesawat – takut-takut bisa pecah kalau nggak hati-hati.
Well, selain hal menyenangkan yang aku alami hari ini, ada hal aneh yang menyelimuti perasaan aku juga.
Sejak di taman tadi, aku ngerasa ada yang merhatiin dari jauh. Bukan mau GeEr atau apa, tapi emang bener kok! Perasaan aku nggak mungkin meleset. Kayak ada yang ngeliatin aku terus selama di taman. Siapa ya kira-kira....
***
Riri sedang melahap mie tiaw pesanannya dengan lahap, saat Dimas menghampirinya, dan langsung menyeruput es teh milik Riri.
“Iihh Dimas! Jangan banyak-banyak minumnya. Aku seret nih, ntar keselek lagi!”sungut Riri.
“Biarin aja! Dasar pelit!”olok Dimas sambil menjulurkan lidahnya kearah Riri.
“Rese’ ih. Siapa juga yang pelit, aku nggak pelit kok!”
Dimas menarik kursi kosong disamping Riri dan duduk disebelahnya. “Iya deh nggak pelit, bagi dulu dong mie tiaw nya..”
“Beli dong, Mas!”
“Males ah, Ri. Liat aja tuh warungnya sepanjang apa antrinya hanya unuk mendapatkan sepiring mie tiaw dan segelas es teh ini.”ujar Dimas – sambil menunjuk warung Mang Dadang yang memang panjangnyaa seperti kereta api.
“Tapi aku masih laper , Mas. Tadi pagi nggak sarapan nih.”
“Ntar pulangnya aku traktir di KFC deh. Plus es krim juga.”
Mata Riri langsung berbinar mendengar KFC dan es krim. “Bebas pilih paket ya?”
“Iya, terserah. Buruan suapin mie tiaw nya..”
“Iihh udah minta, minta disuapi pula. Manja banget sih, Mas?!”sungut Riri.
“Mau di traktir KFC sama es krim gak nih?”
‘Iya, iya.” Dengan berat hati, Riri pun menyuapkan mie tiaw miliknya hingga hampir setengah piring kepada Dimas. Demi KFC dan es krim sih, Riri terpaksa rela deh, perutnya masih berbunyi sampai bel pulang sekolah nanti berbunyi.
***
Dimas sibuk menyalin catatan fisika dari papan tulis ke bukunya. Selain lama mencerna arti tulisan yang semeruet kayak cacing itu, Dimas juga agak lama mencerna turuan dari rumus-rumus yang membingungkan.
Kadang Dimas berpikir, apa para ilmuwan yang menemukan rumus-rumus itu tidak pusing apa melihat angka sebanyak itu? Pantas saja wajah para ilmuwan di ensiklopedi rata-rata berkepala pelontos ataupun berambut tipis. Pasti karena kebanyakan mikir pusing tuh makanya sampai gitu.
Kalau gitu nggak mau deh aku jadi ilmuwan. Ntar aku botak lagi!, gumam Dimas.
“Eh, Dim. Ngapain serius gitu ngeliatin papan tulis?”tegur Joko – seksi keamanan dikelasnya.
“Keliatannya serius banget ya? Habis nih, nggak ngerti-ngerti aku, tuh rumus dari mana asalnya tiba-tiba bisa kayak gitu? Haduuhh. Harusnya pelajaran Fisika dihapus nih dari kurikulum, biar nggak ada murid yang kepalanya plontos kayak ilmuwan yang nemuin rumus ribet kayak gitu!”runtuknya.
“Jiah.. gitu aja dipikirin. Udah lah, salin ya salin aja. Ngerti gak ngertinya sih urusan belakangan, Dim. Palingan juga kalo ada PR tinggal nyontek aja tuh sama si Ratna.”Joko menunjuk cewek yang duduk paling depan - tepat didepan meja guru.
Gila, tuh kacamata tebel banget! Ada kali 10 sentimeter. Begitulah komentar pertama saat Dimas dan teman cowok lainnya bertemu dengan Ratna saat pembagian kelas saat hari pertama masuk.
“Ya, nyontek sih nggak dilarang, Jok. Tapi kan seenggaknya usaha dulu lah sedikit.”jawab Dimas sambil terkekeh.
“Alah, nyontek juga kan ujung-ujungnya. Basa basi banget!”
“Kan jaim dikit, Jok.”
“Eh, kamu pacaran sama Riri anak XA itu ya?”
Dimas mengerutkan keningnya – heran, “Hah?! Dapat gosip dari mana?”
“Tuh anak-anak cewek, daritadi pagi heboh ngomongin kalian berdua. Katanya kemarin kalian berdua sempat pelukan didepan toilet, terus istirahat tadi kalian suap-suapan di kantin.”tutur Joko, sambil memakan tempe gorengnya yang terakhir.
“Kok kamu bisa tau, Jok? Ikut ngerumpi juga sama cewek?”sindir Dimas.
“Enak aja!”Joko meninju lengan kiri Dimas. “Sangar-sangar gini, ngapain juga aku ngegosip bareng cewek?! Kayak nggak ada kerjaan lain aja. Dari pada ngegosip, mendingan gue jajan di kantin deh, ketauan kenyangnya, kalau enggak ya, nemenin pak satpam main catur pas istirahat kedua gini.”
“terus, kenapa bisa denger gosip gitu?”
“Ya ampun Dimas, aku punya telinga kali! Gimana nggak denger kalau mereka menggosip aja nyaring dan hebohnya ngalahin adzan di masjid sono?!”sungut Joko.
Dimas tertawa nyaring, “Hahahahaha, terus kamu percaya aja sama gosip mereka?”
“Hemm, nggak ada alasan buat nggak percaya kan? Tapi bener apa nggak, Dim?”
“Hemm, gimana yaa...”sahut Dimas sok misterius.
Joko menatapnya dengan serius. “Serius nih, Dim! Kalau nggak aku timpuk nih pake tempe!”
“Hhi, sabar atuh, Mas. Aku sih mau-mau aja kalau ditimpuk pake tempe. Lagian masih laper ini. Si Riri nyuapin mie tiaw nya Cuma setengah sih, jadi ya masih lumayan keroncongan juga nih perut.”goda Dimas sambil mengerlingkan matanya-genit.
“Ih, jijay banget, Dim! Serius ah!”
Dimas terkikik geli, “Nggak kok, aku nggak pacaran sama Riri.”
“Yakin? Terus kenapa semesra itu?”selidik Joko.
“Aku sama Riri temen dari lahir kali. Cuma duluan aku satu bulan aja. Kalau Cuma suap-suapan sama pelukan sih, udah biasa buat kami. Orangtua kami juga udah maklum kok, secara selain temen dari lahir, kami juga tetangga sebelah rumah, orangtua kami udah temenan sejak kuliah, lagi.”jelas Dimas sambil meneruskan menyalin catatannya yang sedikit lagi selesai.
“Cewek kamu atau cowok Riri nggak cemburu liat kedekatan kalian kayak gitu?”
Dimas tersenyum, “Mana ada si Riri cowok. Dia tuh masih polos, masih Riri-ku yang manis, imut dan belum terjamah oleh licik dan pedihnya Cinta.”
“Bahasa kamu, Dim.. Beratnya ngalahin truk tronton deh!”
Dimas tertawa, lagi!
“Cewek kamu? Nggak marah?”
“Aku sama Riri ya sebelas duabelas, Jok. Mana ada aku cewek. Tapi bedanya aku sama Riri, Riri emang nggak pernah deket dengan makhluk bernama cowok, selain Papa, Abang, Aku, dan temen-temen cowoknya. Dan dia bener-bener belom pernah jatuh cinta. Nah kalau aku, aku belom pacaran bukannya nggak pernah jatuh cinta. Pernah sih sekali pas kelas 3 SMP, Cuma ditolak, jadi ya, masih rada trauma dikit deh. Mungkin nggak lama lagi bisa aja aku jatuh cinta lagi. Semoga aja ada cewek yang nyantol dihati.”jelasnya.
“Hati-hati loh, Dim.”
Dimas mengerutkan keningnya, heran. “Hati-hati kenapa?”
“Hati-hati kamu jatuh cinta sama Riri, apalagi udah sedeket kayak gitu, dari segi kalian berdua sampai keluarga.”
“Nggak mungkin lah, Jok. Kita berdua tuh temen kecil, aku nggak mungkin jatuh cinta sama sahabat aku dari kecil!”
“Iya kamu nggak mungkin, tapi Ririnya? Mungkin aja suatu saat dia bisa naksir kamu kan? Nggak ada yang nggak mungkin didunia ini.”
Dimas menggeleng cepat, “Nggak, Jok. Aku yakin dia nggak punya perasaan sayang yang aneh terhadapa aku selain sayang sebagai sahabatnya.”
“Liat aja nanti, Dim. Toh kamu bukan tuhan , kan? Kamu nggak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya antara kalian.”ujar Joko.
Dimas terdiam mendengar ucapan Joko barusan.
Kenapa jadi kepikiran gini sih?! Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran aneh yang terlintas dan kembali menyalin catatatnnya.
***
“Dimas, kok lama sih?!”sungut Riri yang daritadi menunggu kedatangan Dimas di pos satpam.
Dari jauh terlihat Dimas yang berlarian menghampiri Riri yang sudah menunggu daritadi.
“Sori, Ri lama nunggu.”
“Darimana sih, Mas? Dua puluh menit nih aku nunggu. Aku kirain nggak jadi mau traktirnya. Kalau nggak jadi kan aku terpaksa pulang pake taksi, tadi pas istirahat udah keburu telpon kerumah, bilang Pak Dadang nggak usah jemput!”
“Sori Ri, tadi ada urusan dikit. Yuk, pergi sekarang, yuk. Laper nih..”
Dimas menggandeng tangan Riri dan menuntunnya ketempat parkir motor Dimas.
“Jangan ngambek dong, Ri. Nggak ada duit aku mau beliin kamu KFC sama es krim segede baskom, kalo ngambek gitu..”goda Dimas.
Riri menepuk lengan kiri Dimas yang menggandengnya, “Ih, ngaco! Aku nggakj serakus itu kali, Mas, bisa ngabisin KFC sama es krim segede baskom!”
“Gitu dong, ketawa, senyum, jangan cemberut terus. Ini baru, Riri-ku.”
Riri tersenyum . “Yuk, pergi sekarang.”
Riri naik ke boncengan motor sport merah milik Dimas, dan mereka pun pergi dengan senyum dan tawa yang tak lepas dari wajah dan hari mereka.
***

nice story :)
BalasHapus