Hidup di kota besar, berlimpahan harta, tentu sudah menjadi impian banyak orang. Andai saja semua orang berpikir, apalah arti sebuah uang tanpa hal yang sebenarnya sangat kita butuhkan? Kasih sayang, perhatian, waktu luang untuk keluarga. Pernahkah orang bepikir akan hal itu? Sepertinya tidak! Semua lebih mementingkan uang dan harta, bahkan di atas segala-galanya. Time is money. Begitulah prinsip hidup orang-orang yang sukses di kota besar, yang mereka pikirkan hanya uang dan kesuksesan secara material.
Mungkin aku juga merasakan bahagia dari semua materi yang ada. Aku dapat membeli apapun yang aku inginkan kapanpun aku mau. Aku tidak perlu bersusah payah menjadi kuli bangunan, mengantarkan Koran keliling kota setiap pagi, seperti yang pernah aku lakukan dulu.
Sekarang semua sudah berubah. Uang bukan hal sulit lagi bagiku. Berlimpah ruah hingga bingung ingin kuapakan uang sebanyak itu. Uang itu membuat derajat kehidupanku kini berada di atas sekali, secara ekonomi. Namun dari semua yang sempat aku miliki, kurasakan kebahagiaan itu hanya sementara, sebab pada akhirnya, karena uang itu pula lah, kini aku kembali berada di bawah. Terlalu hanyut dengan kekayaan dan harta melimpah serta uang yang banyak membuat aku lupa dengan sekelilingku, terlalu jauh aku tersesat dikarenakan gaya hidupku yang begitu mewah.
***
Berawal dari temanku, Roy, yang mengajakku bergabung dalam suatu partai politik yang menaunginya. Namun aku ragu dengan kemampuanku terutama dari segi materi, meskipun dulunya aku pernah mengenyam bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi jurusan ilmu hukum dengan biaya yang kudapat melalui beasiswa outreaching dari pemerintah. Namun aku bukan orang yang dengan mudah dapat mengeluarkan uang, kalau memang uang itu bukan untuk keperluan yang benar-benar penting.
Aku memang berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Ayahku hanyalah seorang petani, yang menggantungkan kehidupan kami dari hasil memanen dari sawah milik orang lain. Sedangkan ibu, hanyalah seorang kuli cuci yang menerima orderan mencuci baju dari tetangga sekitar yang memang ‘berada’.
Akirnya setelah aku selesai menamatkan Sekolah Menengah Atas ku, aku nekat pergi ke Jakarta dan bertaruh nasib disana. Awalnya hidupku lancar-lancar saja, kuliah dapat kuselesaikan tepat waktu, hidupku pun nyaman karena memiliki teman yang sedikit banyak sering mengajakku bisnis sambilan.
Saat-saat yang baik itulah, aku berani melamar Rina, pacarku yang kutemui saat masuk kuliah itu untuk menjadi istriku. Kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. Rio, namanya.
Hidup kami sangat bahagia kala itu. Aku bekerja di kantor Advokat sebagai sekretaris salah satu pengacara di sana. Namun, pada suatu ketika kantor tempatku bekerja ditutup oleh KPK, karena pengacara yang memiliki kantor itu, ketahuan melakukan upaya penyuapan terhadap salah satu jaksa yang menangani kasus kliennya. Karena kejadian itulah, aku tidak lagi bekerja hingga menjadi pengangguran. Setiap hari aku mengelilingi kota Jakarta dari pagi hingga sore, hanya untuk mencari pekerjaan agar dapat menafkahi anak dan istriku. Tapi apa yang kudapat? Nihil. Hanya kekecewaan dan kesedihan yang kubawa pulang ke rumah.
Inilah persaingan kejam yang berkembang di Jakarta. Banyaknya lulusan bergelar sarjana yang melimpah, tak sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia. Hal inilah yang menciptakan peluang kerja yang sangat sedikit di Ibu Kota.
Aku beserta istri dan anakku, terpaksa pindah ke rumah kontrakan yang jauh lebih kecil dari rumah kami sebelumnya. Tanpa bisa memilih, akupun mencoba segala jenis pekerjaan yang bisa kulakukan demi mendapatkan uang untuk membiayai anak dan istriku. Mulai dari menjadi kuli bangunan, dan tukang Koran, kulakukan setiap harinya, dari subuh hingga maghrib menjelang demi keluargaku.
Uang adalah hal yang sangat sulit kudapatkan. Aku harus banting tulang setiap hari hanya untuk membiayai anak dan istriku. Tapi hasil yang kudapat setiap bekerja pun tak pernah mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk membeli rokok saja, sudah sulit. Apalagi harus membayar kontrakan rumah, uang sekolah anakku, maka mau tidak mau aku harus mencari pinjaman untuk memenuhi semua kebutuhan pokok keluargaku. Pada akhirnya aku pun terlilit hutang yang banyak pada seorang rentenir.
***
Itulah masa-masa sulit yang kulalui dalam hidupku. Hingga akhirnya aku sangat beruntung sekali karena bertemu dengan Roy - teman kuliahku yang membantuku bangkit kembali dari keterpurukanku dan mulai menjalani kehidupan politik seperti sekarang ini.
Mungkin pada saat itu dapat dikatakan bahwa temanku, Roy, datang di saat yang tepat. Ketika aku tak tahu lagi harus pergi kemana dan meminta pertolongan pada siapa. Roy menawarkan sesuatu yang membuatku sangat tergiur untuk mengikuti ajakannya. Dengan modal yang dipinjamkan oleh Roy, aku mulai bergabung dalam sebuah partai politik yang menaungi Roy. Aku mulai sibuk dengan dunia politik saat itu.
Pada mulanya, aku hanya membantu teman-temanku dari partai yang sama, untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Aku dan Roy, menjadi ketua kegiatan kampanye mereka. Hasil yang aku peroleh dari bergabung dengan parpollah, aku mulai menapaki karirku di bidang politik. Namaku mulai dikenal dimana-mana. Ibarat kata, inilah langkah awalku untuk kehidupan yang menjanjikan.
Perlahan dari hasil tersebut, perekonomian keluargaku mulai membaik, membayar tunggakan uang sekolah anakku, bahkan aku bisa melunasi hutang-hutangku. Aku dapat membeli rumah yang nyaman untuk tempat tinggalku bersama anak dan istriku, tanpa harus membayar biaya kontrakan rumah yang kecil lagi. Kehidupanku berubah, aku dan Roy dengan gemilang membawa parpol kami ke masa kejayaannya kini. Partai yang dulunya hanya dianggap sebelah mata, kini mulai diperhitungkan eksistensinya dalam kancah dunia politik.
***
Aku sibuk di depan laptop milikku sejak pagi tadi. Semenjak aku dipilih menjadi ketua partai oleh anggota lainnya sekitar 1 bulan yang lalu, pekerjaanku semakin sibuk saja dari sebelumnya.
Sudah sangat jarang aku berada di rumah, menikmati makan malam yang menyenangkan bersama keluargaku. Entah sudah berapa lama pula aku melewati hari liburku di kantor dan tidak mengajak pergi anakku liburan atau sekedar berjalan-jalan ke tempat hiburan.
Bahkan seperti apakah wajah anakku kini, aku pun tak tak begitu mengingatnya. Setiap hari, aku selalu pulang larut. Yang kutemui saat tiba di rumah hanyalah wajah lesu istriku ketika ia membukakan pintu rumah untukku. Tak sekalipun aku berjumpa dengan anakku, Rio. Saat aku tiba di rumah, ia sudah tidur di kamarnya dan aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyaknya. Saat pagi menjelang, Rio sudah berangkat ke sekolah lagi, sedangkan aku masih tidur di kamar akibat lelah seharian di kantor.
Sungguh kehidupan yang sangat tidak kuharapkan. Namun inilah kehidupan yang harus kujalani sekarang. Toh, aku sibuk begini demi memberikan yang terbaik bagi keluargaku, dan kuyakini tak lama lagi setelah aku dapat memposisikan diriku lebih tinggi lagi, aku pasti dapat menghabiskan banyak waktu luangku di rumah bersama anak dan istriku. Aku pastikan itu.
***
Hari ini adalah hari yang sangat berharga bagiku. Aku tidak memiliki jadwal kerja sama sekali, hingga aku memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal agar aku dapat menikmati hidangan lezat buatan istriku dan bisa bercanda pula dengan Rio.
Kukendarai mobil Daihatsu Grandis milikku menuju rumah. Sebelumnya aku sudah menyempatkan diri mampir sebentar untuk membeli sebuah kue tart rasa blueberry kesukaan Rio. Aku ingat sekali, ia sangat senang dibuatkan kue ulang tahun rasa blueberry oleh istriku saat ulang tahunnya yang ke-5. Memang sudah lama aku tak menghabiskan waktu bersama Rio, namun aku yakin sekali pastilah selera makan Rio takkan berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Sambil tersenyum bahagia, menanti detik pertemuan bahagiaku dengan anak dan istriku di rumah, aku lanjutkan perjalananku kembali ke rumah, setelah membeli kue di toko yang letaknya tak jauh dari rumahku.
***
Sesampainya di rumah, aku heran sekaligus terkejut melihat banyak orang berkumpul di rumahku. Ada dua sampai empat mobil terparkir di depan pagar, dan hampir sepuluh bahkan mungkin lebih sepeda motor juga terparkir di halaman rumahku. Tanpa bisa menutupi kekhawatiran di balik keheranan yang menjalar dalam tubuhku, aku segera lari memasuki rumah tanpa ingat lagi dengan kue tart yang kubawa untuk Rio anakku.
***
Semua ini memang salahku. Lima tahun sudah berlalu, sejak aku bergabung di partai karena ajakan Roy. Selama itu pulalah aku tidak mengetahui penyakit kanker darah yang ternyata diderita oleh istriku.
Aku tidak tahu, bahkan mungkin memang aku yang tidak peduli dan tidak menanyakan tentang keluargaku sejak itu.
Hanya penyesalan yang ada dalam hatiku. Rasa bersalah terhadap Rio yang menatapku dengan wajah benci sambil memeluk istriku yang sudah terbujur kaku di ruang tengah rumah.
Kini takkan ada lagi senyum manis Rina yang menyambutku saat aku membuka mata. Tak ada lagi wajah khawatirnya saat aku pulang larut malam. Tak ada lagi pijatan lembutnya yang selalu mengabdikan hidupnya padaku, suaminya ini. Bahkan aku pun lupa, entah kapan terakhir kali aku berbincang hangat dengannya. Entah kapan terakhir kali aku makan malam berdua dengannya. Entah kapan pula aku terakhir mencium keningnya hanya untuk sekedar berikan rasa sayang padanya.
Kini hanya penyesalan yang datang dalam hidupku. Entah apa yang harus kulakukan demi Rio yang kini ditinggal ibunya, dan apa pula yang harus kulakukan demi menebus kesalahanku terhadap Rina, yang tak dapat menjadi suami yang baik baginya. Aku pun tidak tahu.
***
Sudah hampir 4 tahun sejak sepeninggal ibunya, Rio masih saja menatapku dengan rasa benci. Tatapan yang sama seperti saat kepergian Rina.
“Rio, kamu sudah makan nak?” tanyaku saat ia melewatiku, yang sedang duduk di ruang keluarga, malam itu. Rio tersenyum sinis sambil menatap lurus kearah mataku. “Oh, ternyata ayah masih peduli terhadapku?” tandasnya.
“Tentu saja, kamu anakku, Rio..” sahutku tercekat karena menahan tangis.
“Tapi sayang sekali ayah, aku sudah terlanjur menganggap bahwa aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini sejak meninggalnya ibu. Aku pun sudah menganggap ayah terkubur mati. Jadi ayah tidak perlu mengurusi aku lagi. Silahkan ayah habiskan waktu dengan pekerjaan ayah di kantor. Aku bisa urus hidupku sendiri! Bahkan, sekali pun ayah tidak pernah ingat hari ulang tahunku dan ibu sejak ayah sibuk sendiri dengan pekerjaan ayah yang sekarang. Aku dan ibu hidup seperti tanpa ayah, kami hanya berdua di rumah ini. Terima kasih Yah, atas kepahitan hidup yang telah Ayah berikan pada kami. Mulai sekarang aku akan menjalani hidupku sendiri. Ayah tak perlu lagi mengurusiku. Besok Rio akan keluar dari rumah ini dan hidup dengan cara Rio sendiri,” ucap Rio sambil meninggalkanku masuk ke kamarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar