Lagi-lagi mawar putih yang didapat Leven pagi ini. Hal ini sudah berlangsung sejak dua bulan yang lalu. Sejak kedatangan gadis itu ke sekolahnya.
“Nama saya Cinta, salam kenal.”ucapnya saat memperkenalkan diri didepan kelas hari itu.
Gadis itu sangat mempesona. Bak namanya, ‘cinta’ auranya itu dapat membuat laki-laki yang melihatnya jatuh cinta. Tak heran, banyak anak laki-laki di sekolah yang jatuh hati padanya.
Tapi tidak dengan Leven. Sekalipun ia duduk sebangku dengan Cinta, tapi ia tak tampak tertarik dengan Cinta. Alhasil Leven selalu mengacuhkan Cinta yang selalu berusaha untuk berbicara dengannya pada setiap kesempatan.
***
“Mas Leven…”pekik Aura-adiknya dari lantai bawah.
“Kenapa sih teriak-teriak kayak gitu?!”
Aura mengangsurkan setangkai mawar putih pada Leven, “Tuh Mas, ada kiriman mawar putih untuk mas.”
Leven mengerutkan keningnya-heran.”Dari siapa?”
“Nggak tau!”
Mawar ini mewakili aku yang tak dapat bicara langsung padamu. –Rose-
Siapa ya pengirim mawar ini? ,gumamnya.
***
“Elo dapat mawar putih, Lev??”sahut Adit-temannya, dengan kaget.
“Iya, setiap hari gue dapat kiriman mawar putih. Gue nggak tau siapa pengirimnya. Yang ngantarin bunga aja nggak tau, soalnya tuh orang pesannya Cuma lewat telepon.”
Adit tersenyum jahil,”Ciieee,, elo punya secret admirer tuh,Lev.”
“Gue penasaran banget deh, pengen tau siapa sih si Rose itu??”
***
Mawar-mawar putih itu pun selalu berdatangan setiap hari ke rumah Leven. Ia pun jadi semakin bingung memikirkan siapakah pengirim bunga-bunga sebanyak ini setiap hari?
Leven berjalan memasuki kelasnya tepat saat bel masuk berbunyi dengan nyaring. Sekilas ia melirik kearah Cinta yang duduk disebelahnya
Gadis itu tampak sibuk mencoret-coret gambar di dalam bukunya.
Dengan rasa penasaran, Leven pun mencoba tuk bertanya. “Elo lagi ngapain?”
Cinta menoleh saat didengarnya Leven bertanya. Ia tersenyum manis. “Tumben elo mau ngomong sama gue? Biasanya elo nggak pernah mau ngomong.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar