Powered By Blogger

Jumat, 22 Juli 2011

Erik Si Cowok Nyentrik


          Erik adalah cowok paling nyentrik yang ada di sekolah. Rambutnya dipotong ala jabrik dan diwarna kuning mencolok. Guru-guru saja sudah letih memberitahu Erik untuk merubah kembali warna rambutnya menjadi hitam. Karena menurutnya, gaya seperti ini adalah keren, walau sebenarnya sangat norak di mata teman-teman dan orang yang mengenalnya.
          Erik berbanding terbalik dengan sahabat karibnya dari SD, yang sangat ganteng, bernama Rendy. Rendy sangat trendi dan keren dengan gayanya yang asik dan wajahnya yang sangat memesona. Bagi Rendy, tidak masalah baginya bersahabat dengan Erik yang memang sangat nyentrik sekali. Toh selama mereka asyik menjalani persahabatan mereka, mau seperti apapun gaya mereka, yang penting tetaplah status mereka yang tetap sahabat sampai kapanpun.
          Erik dan Rendy memang berbanding terbalik. Rendy adalah seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga yang sangat kaya-raya. Diumurnya yang baru menginjak 18 tahun saja, Rendy sudah memiliki 3 perusahaan sendiri. Rendy pergi sekolah selalu memakai mobil sport hitamnya. Sedangkan Erik adalah seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga yang sederhana. Ia sudah mulai bekerja membantu sang ayah mengurus warung bakso, yang tak jauh dari rumahnya. Ia pergi sekolah hanya dengan vespa butut milik sang ayah yang di modifikasi sehingga tampak ngejreng dengan warna merah terang.
          Walaupun banyak perbedaan secara fisik dan materil, tetapi tidak halnya dengan sifat. Karena Erik dan Rendy sangat cocok dalam hal bergaul dan berfikir, sehingga mereka pun dijuluki duet maut di sekolah, karena kekompakannya yang sangat solid.

***

          Erik duduk di atas vespa merahnya, sambil sibuk merapikan jabriknya yang sudah tinggi – menyaingi jambul ayam jago, dan tampak mengilap karena diberi gel.
          “Heh! Udah tinggi tuh jabrik lo.”ujar Rendy yang baru datang.
          Erik tertawa menyeringai. “Tumben elo baru datang, Ren?”
          “Gue nganterin si Lola dulu tuh. Mobilnya rusak soalnya. Udahlah sekolahnya tuh jauh banget dari sini, pakai macet pula.”sungut Rendy.
          “Sabar aja, Ren. Lagi pula sekali-sekali sih nggak kenapa-kenapalah nganterin adik sendiri. Gimana kayak gue coba? Tiap hari harus nganter adik gue dua orang, pakai vespa butut pula.”
          Rendy tertawa sambil merangkul Erik. “Udah deh nggak usah dibahas lagi. Soalnya kalo elo udah ngebahas masalah beginian, bakal panjang lagi ntar ceritanya. Yuk ke kelas sekarang.”

***

          Erik dan Rendy berjalan bersama menuju kelas mereka yang berada di lantai 2. Kelas mereka memang berbeda, tetapi berada di lantai yang sama. Erik termasuk anak yang pintar, walau gayanya paling nyentrik, tetapi Erik termasuk anak kelas IPA loh. Sedangkan Rendy, walau kenyataannya jauh lebih pintar dari Erik, tapi ia lebih tertarik dengan kelas jurusan IPS.
          Langkah mereka terhenti didepan tangga, karena Erik berhenti berjalan secara mendadak.
          “Elo kenapa sih berhenti tiba-tiba?”tanya Rendy dengan heran.
          Erik tampak mematung dengan tatapan mata lurus kearah tangga. Dengan kening mengerut karena heran, Rendy ikut memperhatikan kearah yang dituju Erik tanpa mengedipkan mata itu.
          Rendy tertawa saat melihat apa yang tiba-tiba mengalihkan dunia Erik hingga mematung di depan tangga. “Erik! Sadar dong sadar.”ucap Rendy sambil mengguncang tubuh Erik.
          Erik tersentak kaget - tersadar dari lamunannya. “Hah?! Kenapa Ren?”
          “Kenapa kenapa, harusnya gue yang nanya elo, kenapa elo tiba-tiba mematung didepan tangga gini? Sampai mandangin si Rena tanpa berkedip lagi!”ujar Rendy sambil tertawa.
          Erik tersipu malu. “Sumpah deh, Ren. Rena cantik banget. Sayang banget gue sama dia.”
          “Ya kalo elo sayang, elo deketin dong.”sahut Rendy
          “Gue malu ah, Ren mau deketin Rena. Dia cantik, kaya lagi. Nah kalau gue? Udahlah nyentrik, nggak kaya lagi.”ucap Erik dengan rasa pesimis.
         “Jadi orang jangan pesimis dong, Rik. Jangan menilai segala hal dari kaya dan miskin. Kita kan nggak tau hati orang kayak gimana. Don’t judge a book from the cover. Okay?”
          Erik mengangguk pelan.
         Mereka pun menaiki tangga – Rena masih terlihat berbincang-bincang dengan temannya ditengah tangga. Rendy tersenyum sambil merangkul Erik yang berada di sampingnya.
          “Hai Rena.”sapa Rendy saat mereka berhenti sebentar di tengah tangga.
          Rena menoleh dan tersenyum. “Hai, Rendy. Hai Erik.”sapanya sambil tersenyum manis pada Erik.
          “Rik, elo jangan bikin malu sekarang deh. Jangan mematung di depan cewek yang elo suka.”bisik Rendy pelan.
          Erik tersenyum malu sambil memegang jabriknya. “Hai Rena.”
          “Yuk ,Ren. Kita ke kelas duluan ya.”ujar Rendy sambil menarik tangan Erik-sebelum ia mematung di depan Rena.

***

           “Gila, Ren. Rena cantik banget. Sayang banget gue sama dia.”ucap Erik, saat mereka sudah berada di kantin saat bel tanda istirahat berbunyi.
          Rendy sibuk memakan bakso yang dipesannya. “Hemm, nyumm ya elo deketin lah dia. Gue siap membantu kok. Nyumm.”
          “Iya, Ren. Gue akan deketin dia. Doain gue ya, semoga berhasil.”ucapnya dengan semangat ’45.
          Rendy mengangguk, “Ok deh. Apa sih yang nggak buat elo, Rik. Jangankan doa, Surah Yassin kalo perlu gue bacain buat elo.”sahutnya sambil tertawa.
          Erik memukul bahu Rendy yang sedang tertawa terbahak-bahak. “Jahat banget lo, sampai bacain Surah Yassin buat gue. Parah banget!”
          “Haha. Bercanda doang kali.”sahut Rendy sambil berusaha menghentikan tawanya.
         “Ren, kenapa sih sampai sekarang elo nge-jomblo terus? Padahal kan banyak banget cewek yang ngejar-ngejar elo. Cantik-cantik lagi semuanya.”
          Rendy tertawa sambil memandang kosong ke depannya. “Gue liat cewek dari hatinya, Rik. Gue nggak mau pacaran sama cewek yang Cuma ngejar gue karena tampang dan harta yang gue punya. Tapi gue pengen tuh cewek emang sayang dan suka sama gue karena liat dari hati gue.”ucapnya.
          “Elo udah ketemu, cewek yang elo pengen itu?”tanya Erik sambil memakan siomay pesanannya.
Rendy mengangguk sambil tersenyum. “Udah kok. Elo kenal banget malah sama orangnya.”sahut Rendy sambil menahan tawanya.
          “Siapa?”Erik mengerutkan keningnya-heran.
          “Ratna, adik elo.”jawabnya sambil tersenyum malu.
          “Hah?!”

***

          Ratna adalah adik Erik yang hanya beda satu tahun darinya. Kini Erik dan Rendy duduk dibangku kelas 3, sedangkan Ratna duduk dibangku kelas 2 di sekolah yang berbeda.
          Tanpa Erik sadari, Rendy melakukan pendekatan dengan adiknya. Ratna gadis yang cantik dan pintar. Ia sangat ramah dan sederhana. Tidak menilai segala sesuatu dari materi, karena ia pada dasarnya juga berasal dari keluarga yang sederhana.
          Rendy tertarik pada kepribadian Ratna yang seperti itu. Hingga semakin lama, hubungan mereka pun semakin dekat, tanpa diketahui Erik. Karena Rendy bermaksud memberitahukan hal ini pada Erik jika ia dan Ratna memang sudah resmi berpacaran.
          “Jadi, elo udah pacaran sama adik gue?!”selidik erik.
          Rendy tertawa pelan. “Belum kok. Rencananya, malam minggu nanti gue baru mau nembak dia.”
          Erik menepuk bahu Rendy pelan. “Gue percaya Ratna bisa bahagia sama elo, Ren. Tapi kalo elo nyakitin dia, ggue bunuh lo!”ancam Erik.
          Rendy tersenyum. “Elo percaya deh sama gue. Gue akan buat adik lo bahagia.”

***

          Setiap sore, Erik selalu membantu sang ayah mengurusi warung bakso milik mereka yang letaknya tak jauh dari rumah. Dengan cekatan, Erik mengantarkan satu persatu bakso pesanan pelanggan ke meja mereka.
Bakso Pak Ali memang sudah terkenal kelezatannya didaerah sekitar rumah mereka. Walaupun warungnya sangat sederhana dan kecil, tetapi setiap harinya selalu saja ramai pelanggan yang datang membeli bakso.
          Pak Ali memang sengaja tidak mempekerjakan orang lain untuk mengurusi warung baksonya. Karena bagi Pak Ali dan keluarga, selembar uang adalah sangat berharga bagi mereka yang kurang mampu. Jadi, dari pada mereka mengupah orang lain untuk bekerja, lebih baik mereka mengupah untuk anak mereka sendiri. Jadilah setiap harinya, seluruh anggota keluarga Pak Ali menjalankan warung bakso ini bersama. Pak Ali bertugas menghidangkan bakso pesanan pelanggan ke dalam mangkuk. Ibu Ali memegang alih sebagai kasir.  Ratna membuat minuman pesanan pelanggan, sedangkan Erik dan adik bungsunya Bany, mengantarkan bakso pesanan pelanggan ke meja mereka.
          Beginilah kebersamaan yang tercipta di keluarga Erik. Walaupun hidup mereka sangat sederhana, tapi mereka jalani hidup ini dengan rasa kebersamaan dan kasih sayang mereka bersama.

***

          Sebuah mobil Honda Jazz merah berhenti beberapa meter tak jauh dari warung bakso Pak Ali. Rena bersama Lala – temannya, turun dari dalam mobil dan berjalan menuju warung bakso Pak Ali.
          Erik tampak kaget melihat Rena dan Lala dating ke warung baksonya.
          “Hai, Erik.”sapa Rena sambil tersenyum manis.
          “Ha..hai.”jawab Erik tergagap. “Ada perlu apa kalian berdua kesini?”
          “Kebetulan gue sama Lala lagi pengen makan bakso, terus Rendy bilang bakso di warung elo ini enak banget. Jadi kita mo nyobain makan bakso disini deh. Boleh kan?”utanya Rena.
           Erik mengangguk sambil tersenyum sumringah. “Tentu aja boleh. Ayo silahkan duduk.”
          Erik mengantarkan Rena dan Lala ke salah satu bangku yang terletak ditengah warung. “Tunggu sebentar ya. Baksonya di antar sebentar lagi.”
          Setelah berkata demikian pada Rena dan Lala, Erik langsung bergegas menyebutkan pesanan kepada bapaknya, agar membuatkan bakso yang special bagi pelanggan special Erik hari ini. Ratna pun segera membuatkan minuman setelah mendapat kedipan mata dari Erik yang berdiri di samping bapaknya.
          Setelah sedikit merapikan baju dan jabriknya, Erik membawa nampan berisi dua mangkuk bakso pesanan Rena dan Lala. Ia meletakkan bakso itu diatas meja mereka.
          “Selamat menikmati Bakso Pak Ali, ya.”ucapnya dengan kocak.

***

          Hari sudah malam, ketika Erik masih saja tersenyum sendiri sejak kedatangan Rena ke warung baksonya tadi sore. Ia duduk di kursi teras rumahnya sambil memeluk sepucuk kertas yang tadi sore diberikan Rena padanya.
          “Malam minggu nanti gue ulang tahun, Rik. Datang ya.”ucapnya sambil tersenyum manis saat memberikan undangan pada Erik.
          “Pasti. Gue pasti datang.”ucap Erik sambil tersenyum kocak.
          “Heh! Senyum-senyum sendiri terus lo. Gila lama-lama ntar.”tegur Rendy yang malam itu datang ke rumah Erik.
          “Ren, ngapain elo kesini?”Erik megerutkan keningnya heran.
          Rendy tertawa malu, “Gue mo ajak Ratna nonton Harry Potter. Mau ikut nggak lo?”
          Erik mengangguk dengan cepat. “Nggak deh, makasih. Daripada gue jadi tembok cina, mending gue dirumah aja.”sahut Erik.
          “Bagus deh, elo ngerti sama kawan. Hehe.”ucap Rendy sambil menepuk bahu erik. “So, elo belom cerita ke gue apa yang terjadi tadi sore di warung elo?”
          Erik lagi-lagi tersenyum “Thanks banget gue sama elo, Ren. Udah merekomendasikan warung bakso gue ke dia, jadinya rena datang deh tadi sore sama Lala. Seneng banget gue, Ren.”
          “Kok makasih ke gue?”tanya Rendy heran.
          “Iyalah. Rena bilang, dia dikasi tau elo kalau warung bakso bapak gue nih enak. Makanya dia sama Lala dating tadi sore mau nyobain makan bakso di warung, sekalian ngasi undangan ulang tahunnya malam minggu nanti.”jelas Erik sambil menyerahkan undangan tersebut pada Rendy.
          Rendy menggeleng pelan. “Gue nggak ada bilang apa-apa ke rena. Sumpah! Ketemu dia aja nggak ada kok pulang sekolah tadi.”
          “Hah?! Yang bener lo, Ren?”
          “Suer deh! Ngapain juga gue bohong sama elo, Rik. Kita udah lama kali berteman, dari SD. Nggak mungkin lah gue bohong sama elo.”sahut Rendy.
          “Kalau gitu, dia tau dari siapa dong?”tanya Erik heran.
          Rendy tersenyum jahil. “Dia emang cari tau sendiri kali, Rik. Ciee, pertanda baik tuh.”goda Rendy.
          Erik tersipu malu. “Apaan sih, lo?!”
           Ratna muncul dari dalam rumah saat Erik dan Rendy sedang tertawa saling mengejek. “Yuk, Ren pergi sekarang.”ucap Ratna.
          Rendy tersenyum dan menggandeng tangan Ratna. “Rik, gue pergi dulu ya.”
          “Ok. Ratna, kalo si Rendy macem-macem, tabok aja tuh mukanya.”goda Erik.
          Ratna tertawa melihat Rendy yang merengut diolok oleh Erik. “Paling satu macem doang kok. Iya kan, yank?”sahut Rendy sambil mengerlingkan mata dengan genit.
         “Heh! Gue tabok beneran lo, Ren!”ancam Erik.

***

          Malam minggu pun akhirnya tiba. Erik dan Ratna sudah berada di rumah Rendy sejak sore. Rendy sengaja menyuruh Erik dan Ratna untuk datang ke rumahnya sejak sore, agar mereka dapat mendandani Erik agar tampil menawan malam nanti di pseta ulang tahun Rena.
          Setelah selesai membeli pakaian baru untuk mereka bertiga di butik milik tante Rendy, mereka pun pergi ke salon dan siap berdandan untuk malam nanti.
          Ratna dan Rendy terlihat serasi dengan pakaian yang mereka kenakan. Rendy tampak gagah dengan kemeja hitam lengan panjangnya, sedangkan Ratna terlihat anggun dengan gaun berwarna pink lembut yang serasi dengan warna kulit Ratna yang kuning langsat.
          Sedangkan Erik, tampak jauh berbeda dari biasanya. Jabriknya yang biasanya sangat tinggi, kini tidak ada lagi. Rendy sengaja meminta orang yang menata rambut Erik, untuk memotong rambut Erik agar menjadi lebih rapi dan mewarnainya kembali menjadi hitam.
          Hasilnya, Erik yang biasa tampil nyentrik kini telah menampakkan wajahnya yang sebenarnya tampan. Ia terlihat rapi dengan penmpilannya yang sekarang. Kemeja warna biru tua pun menjadi sangat bagus dipakainya.

***

          Erik, Rendy dan Ratna pun tiba di rumah Rena yang tak jauh dari rumah Rendy – hanya beberapa blok saja bedanya.
          “Aduh, Ren, deg-degan banget gue.”ucap Erik sambil menurunkan kado yang dibelinya untuk Rena dari mobil Rendy.
          Rendy tersenyum sambil menggandeng tangan Ratna yang berada di sampingnya. “Easy, man. Santai aja, jangan nervous banget.”
           “Wish me luck. Wish me luck.”gumam Erik dalam hati.
          Mereka tiba di taman belakang – tempat Rena mengadakan pesta ulang tahunnya. Rena tersenyum manis saat melihat Erik dan Rendy datang.
          “Selamat ulang tahun ya, Ren”ucap Rendy.
          “Thanks ya, Ren. Hemm, ini siapa?”tanya Rena sambil tersenyum jahil.
          Rendy tersenyum manis. “Kenalin, ini Ratna cewek gue. Dia adiknya Erik.”
          “Hai, Ratna.”ucap Ratna sambil mengulurkan tangannya pada Rena.
          “Hai, gue Rena. Makasih ya udah datang ke ulang tahun gue.”
          Rendy mohon pamit untuk mencicipi makanan yang telah disediakan.”Gue kesana dulu, ya Ren.”
          Sambil mengedipkan matanya ke arah Erik yang mematung di depan Rena, Rendy pergi ke sisi lain taman bersama Ratna.
          “Rena, selamat ulang tahun ya.”ucap Erik sambil menyerahkan kado yang dibawanya pada Rena.
          Rena tersenyum manis. “Makasih ya, Rik”ucapnya sambil mengecup pipi Erik.
          Erik mematung seketika, tapi tangannya segera ditarik oleh Rena. “Yuk, sekarang waktunya gue potong kue.”
          Rena menarik tangan Erik menuju bagian tengah taman. Ia berdiri didepan kue ulang tahun yang bertingkat dua, dengan Erik yang berdiri di sampingnya.
          Sang MC memberikan aba-aba agar Rena memotong kue ulang tahunnya. Setelah seluruh tamu menyanyikan selamat ulang tahun untuknya, Rena meniup lilin nya dan memotong sebuah kue.
          “Guys, malam ini ada sesuatu hal yang gue pengen kalian semua tau.”
          Teman-teman yang hadir dalam acara ulang tahun Rena, seketika langsung hening setelah Rena berbicara demikian.
          “Kue ini, akan gue kasi ke cowok yang selama ini gue suka. Dan malam ini, gue pengen orang itu tau perasaan gue ke dia.”
          Erik yang berdiri di samping Rena menunduk. Perasaan tak menentu berkecamuk di hatinya. Ia sangat deg-degan sekali, siapakah cowok yang dimaksud Rena. Apa mungkin dirinya? Atau yang lain? Siapa?
          Rena tersenyum manis dan memberikan kue yang ada di tangannya pada Erik yang berdiri di sampingnya.
          “Gue suka sama elo, Rik. Elo mau jadi cowok gue?”ucap Rena blak-blakan.
          Teman-teman yang hadir di situ kaget mendengar ucapan Rena. Ternyata seorang rena sang idola di sekolah, menyukai seorang Erik si cowok nyentrik. Tetapi setelah perasaan kaget itu sirna, semua yang hadir bersorang gembira dan meneriakkan kata “terima” bersama-sama.
          “Gue nggak bisa, Ren.”jawab Erik.
          Rendy dan Ratna yang berdiri tak jauh dari mereka, dan juga teman-teman yang lain, kaget mendengar ucapan Erik barusan. Yang benar saja?!
           “Gue nggak bisa biarin elo yang nembak gue, Ren. Sebagai cowok, gue pengen gue yang nyatain perasaan gue ke elo.”ucapnya sambil tersenyum kocak.
          Erik berlutut di hadapan Rena sambil memegang tangan rena. “Rena, maukah kau menjadi seorang pacar dari Erik Si Cowok Nyentrik?”
          Rena tersenyum dan langsung memeluk Erik. “Gue rasa elo tau jawabannya.”
          Semua yang menyaksikan kejadian tersebut bersorak bahagia.
          Ternyata, cinta dan sayang itu tidak bisa siukur dari raga dan harta. Tapi dari hati. Ketulusan cinta akan membuat segalanya menjadi indah, tanpa malu menerima kekurangan dan kelemahan masing-masing. ■


Tidak ada komentar:

Posting Komentar