Gadis bertubuh mungil, berambut lurus dengan potongan pendek, dan berkulit putih mulus, serta bermata biru itu bernama Lala.
Ia sangat ramah pada siapa saja, dan selalu tersenyum setiap saat. Sehingga orang yang berada di dekatnya pun ikut bahagia dengan binar-binar bahagia yang di tebarkanya.
Lala punya satu kebiasaan yang sangat menyenangkan bagi teman-temannya. Membuat cupcake adalah hobi sekaligus bisnis rumahan yang ia kelola sendiri. Teman-teman menamai cupcake buatan Lala dengan nama Luphy Cuppy. Karena sang pembuat selalu bahagia setiap hari, seakan menebarkan cinta kemana-mana, hingga semua yang berada di dekatnya dan yang memakan cupcake buatannya menjadi bahagia pula.
Bisnis rumahannya memiliki banyak peminat. Mulai dari teman-teman, tetangga, hingga kantor-kantor besar pun terkadang memesan kue dari toko “Luphy Cakes” miliknya.
Sebenarnya Lala berasal dari keluarga yang bisa dibilang sangat berkecukupan. Hanya saja, Ia ingin hidup mandiri sejak dini tanpa terus bergantung dengan orang tuanya. Lala sendiri tinggal di Bandung bersama kedua kakak dan abangnya. Sedangkan kedua orang tuanya tinggal di London dan mengembangkan bisnis restoran mereka di sana.
***
Seperti biasanya, Lala datang ke sekolah dengan wajah bahagianya sambil membawa sebuah plastik kertas berisi cupcake buatannya untuk dibagikan pada teman sekelasnya.
Lala turun dari Pinky Jazz-nya, dan tersenyum manis pada Pak Munir - satpam sekolahnya. “Selamat pagi, pak..,” ucapnya dengan menyunggingkan senyum di bibirnya yang tampak merona.
Pak Munir menganggukkan kepalanya sambil balas tersenyum. “Pagi juga, non. Wah, hari ini jadwal bagi-bagi cupcakes ya non?” godanya.
“Iya nih, pak. Tapi bapak tenang aja, tetap ada jatah buat bapak kok. Ini,” Lala menyerahkan kotak kecil transparan berisi dua buah cupcakes pada Pak Munir.
“Wah, terima kasih banyak, non”ucapnya sambil tersenyum bahagia.
Lala menganggukkan kepalanya, “Sama-sama pak. Lala permisi dulu ya pak. Tolong jagain si pinky ya pak.”
Pak Munir mengangkat tangan kanannya, seraya memberi hormat. “Siap, non. Dijamin, pinky aman di bawah pengawasan bapak.”
Lala tertawa melihat tingkah kocak Pak Munir, dan kembali melangkahkan kakinya menuju kelas sambil tersenyum pada siapa saja yang dijumpainya di jalan menuju kelas.
***
Setelah membagikan cupcakes yang dibawanya untuk teman-teman di kelas, Lala langsung meletakkan tasnya di meja dan berlari menuju ruang guru, karena ia dipanggil oleh guru piket.
Beberapa menit kemudian Lala sampai di ruang piket. Ternyata Pak Tommy, guru fisika yang seharusnya masuk pada jam pertama berhalangan hadir. Sehingga guru piket memberikan tugas dan Lala diminta membawa buku latihan fisika ke kelas dan memberitahukan yang lain untuk mengerjakan tugas yang diberikan.
Walau harus membawa buku yang lumayan banyak, hingga tinggi bukunya hampir menutupi wajah, tapi Lala tetap tersenyum sambil berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh membawa buku-buku itu. Tapi sayang, Lala kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Buku-buku berserakan di mana-mana, tapi mengapa tubuh Lala seperti separuh melayang?
Lala membalikkan kepalanya dan ternyata Kak Arya sedang menahan tubuh mungilnya yang sedikit lagi jatuh ke lantai.
Lala langsung cepat berdiri dan tertunduk malu. “Maaf, kak ngerepotin,” ucapnya pelan.
Arya tersenyum, “Nggak ngerepotin kok. Lain kali hati-hati jalannya.”
Lala mengangguk sambil memunguti buku-buku yang berserakan di lantai, yang ternyata juga diikuti oleh kak Arya. “Nggak usah kak, Lala bisa sendiri kok.”
“Nggak apa-apa. Aku memang mau bantu kamu kok. Daripada nanti kamu jatuh lagi bawa buku sebanyak ini, masa nanti aku harus ngikutin kamu dari belakang dan bersiap siaga menahan kamu lagi kalau jatuh? Kan nggak lucu..”
Lala tertawa dan memperlihatkan kedua lesung pipinya. “Bener juga ya, kak,” ucapnya sambil tersipu malu.
Setelah selesai memunguti buku-buku yang tadi bertebaran di lantai, Lala berjalan bersama Kak Arya menuju kelasnya. Kini Lala tidak membawa buku yang banyak itu sendirian karena ada Kak Arya yang membantunya membawakan sebagian dari buku-buku itu.
“Terimakasih ya kak, udah bantuin aku bawa buku-buku ini ke kelas,” ucap Lala saat mereka telah sampai di depan kelas Lala.
“Oke. Aku permisi dulu ya,” ucapnya sambil mengerlingkan matanya ke arah Lala yang termangu heran di depan kelasnya.
***
Keesokan harinya, sejak pagi-pagi sekali Lala sudah sibuk membantu karyawan Luphy Cakes membuat kue pesanan para pelanggan. Ketika Lala sedang mengaduk adonan cupcakes di dapur toko kue miliknya, tiba-tiba Rena – tetangga sekaligus teman satu kelasnya di sekolah datang menghampirinya dan mulai menggoda.
“Ciie, yang tadi diantar kak Arya ke kelas. Kelihatannya semakin bahagia nih sekarang?”
Lala tersipu malu. “Iih, apaan sih, Ren? Jangan godain aku deh.”
Rena mencomot sepotong cupcakes dari atas Loyang. “Emang bener kan? So, udah siap buat ngelanjutin PDKT yang dulu tertunda?”
Lala mencuci tangannya dan ikut menyantap cupcakes dengan nikmat. “Humm..nyyuumm.. nggak tau juga deh, Ren. Nyuumm..”
“Kok gitu sih?! Aku sangat mendukung sekali kalau kamu PDKT lagi sama Kak Arya. Apalagi, dulu hubungan kalian kan sangat dekat, tapi gara-gara kamu lantas menghindar dari dia tanpa alasan yang tidak jelas, kalian malah jadi miss communicaton. Jadi, PDKT lagi aja lah, La. Aku dukung banget deh kalau kalian jadian. Apalagi kak Arya kan masih ngarep banget sama kamu. Uppss,” Rena langsung menutup mulutnya – keceplosan.
Lala mengerutkan keningnya – heran, “Ngarep gimana maksudnya? Ada yang kamu sembunyiin dari aku, Ren?” selidik Lala.
“Sori La, aku nggak bisa ngasi tau secara detil. Soalnya aku udah janji sama kak Arya. Biar nanti dia aja ya yang ngasi tau ke kamu.”
Lala baru saja ingin mengorek informasi lebih dalam dari Rena, tapi dia malah langsung pergi.
***
Lala menghempaskan tubuhnya yang lelah di kursi rotan di beranda kamarnya yang berada di lantai dua, yang menghadap ke arah rumah bagian depan.
Kegiatan yang selalu ia lakukan setelah seharian sibuk di sekolah dan mengurus toko kue miliknya, adalah duduk di beranda kamar sambil memeluk boneka beruang pink kesayangannya hingga ia mengantuk.
Lala memandang langit yang dihiasi beribu bintang dan satu bulan yang berbentuk bulat sempurna malam ini. Sambil menikmati keindahan langit malam ini, lala memeluk bonekanya dengan erat dan merasakan hembusan angin yang dengan lembut menyapu kulitnya.
Sambil memejamkan mata ia nikmati udara sejuk kota Bandung yang selalu ia rasakan setiap malam. Sampai akhirnya ia tertidur lelap di beranda kamarnya.
***
Keesokan paginya, Lala terbangun akibat suara jam beker yang berbunyi nyaring tepat disamping telinganya. ia meraba-raba mencari jam tersebut dan menekan tombol off.
Setelah membereskan tempat tidurnya dan mandi, ia turun dari kamarnya yang berada di lantai dua, dan berjalan menuju halaman belakang rumah. Lala menyesap segelas coklat hangat sambil membaca majalah yang baru diantarkan ke rumah pagi ini. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi ia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di rumah seharian ini.
Mas Adit mengacak rambut Lala hingga ia memekik geram, “Iih, Mas Adit apa-apaan sih?! nggak usah jahil deh.”
“Hihi. Habis Mas kangen sama adik bungsu Mas yang satu ini. Kok satu minggu nggak ketemu, kamu nakin cantik aja sih, La?” goda Mas Adit dengan jahil.
“Mulai deh hobi ngegombalnya..” sahut Lala sambil melanjutkan membaca majalah yang dari tadi dibacanya.
“Siapa yang gombal sih? Ya jelas ajalah kamu cantik, La. Mas-mu aja seganteng ini,” ucapnya sambil menirukan gaya sok ‘cool’.
Lala tertawa mendengar omongan mas-nya barusan. Mas Adit memang paling jago membuat Lala tertawa. Mungkin karena umur mereka yang hanya beda 3 tahun, membuat Lala lebih dekat dengan Mas Adit dari pada Mbak Inne yang lebih tua 8 tahun darinya.
***
“Non..non Lala.. ada telepon dari karyawan toko, non,” panggil Mbok Inah dari balik pintu kamar Lala.
Lala segera keluar dari kamar dan menerima telepon yang dibawakan Mbok Inah. “Halo.”
“Halo, Mbak Lala. Aduh Mbak, tolong Mbak ke sini sekarang dong Mbak. Ada tamu yang complain nih Mbak, dia sampai ngancam bakal ngacak-ngacak toko kalau Mbak nggak cepat kesini,” ucap karyawan tokoh yang bernama Mira itu dengan nada cemas.
“Oke, sebentar lagi aku kesana ya,” Sahut Lala.
Lala langsung memutuskan sambungan telepon dan segera membawa pinkynya menuju toko, yang terletak di depan komplek rumahnya
“Luphy Cakes” tampak sangat ramai dari luar. Apalagi hari ini adalah hari minggu, jadi sangat banyak tamu yang datang membeli kue, baik untuk dibawa pulang maupun memakannya langsung di toko, karena “Luphy Cakes” toko kue yang sekaligus merangkap sebagai café.
Lala segera turun dari mobilnya dan bergegas memasuki toko. Karena akan sangat berbahaya bila ada pelanggan yang membuat keributan saat ramai seperti ini.
Lala langsung membuka pintu toko dan terkejut melihat keadaannya.
***
Arya berdiri di area café sambil memegang buket mawar pink ditangannya. Ada banyak teman yang menyertai surprise ini
Dengan masih terkejut, Lala berjalan menghampiri Arya yang berdiri tepat di tengah area café.
“Hai..,” sapa Arya sambil tersenyum manis dan menyerahkan buket mawar yang dipegangnya untuk Lala.
“Thanks,” ucap Lala sambil menerima buket mawar itu.
Lala mencari-cari sosok Mira yang tadi meneleponnya. Ia berkacak pinggang saat Mira sudah berada di dekatnya. “Maksud kamu apa sih, ra?”
Mira tertawa sambil menggaruk kepala. “Hehe. Saya cuma dimintai tolong, Mbak sama dia,” ia mengacungkan telunjuknya ke arah Arya yang berada dihadapan Lala.
“Kak, ini apa maksudnya? Lala nggak ngerti deh.”
Arya langsung berlutut di hadapan Lala dan menggenggam tangan kanannya. “Lala, di hadapan semua orang yang ada di sini, aku pengen semuanya tahu tentang perasaan aku selama ini sama kamu. Aku sayang sama kamu, Lala. Kamu mau jadi pacar aku?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar