Memainkan sebuah gitar di halaman belakang rumah sudah menjadi kegiatan rutin yang selalu dilakukan Mira. Gadis tomboy yang kini duduk di bangku kelas 3 SMA ini, tertarik untuk menguasai gitar sejak kelas 3 SD. Maka tak heran, bila kini Mira sudah sangat mahir bermain gitar.
Sambil mencomot sebuah martabak mini buatan sang Mama, dengan asyik Mira memainkan gitarnya dan bernyanyi sangat merdu.
“Krrsskkk..kkrrsskkk..”
Pada saat Mira tengah memainkan gitarnya, tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu dari semak-semak rumput di dekat pohon. Mira menghentikan permainan gitarnya, dan memasang telinga dengan tajam.
“Krrsskkk..kkrrsskkk..”
Terlihat seperti ada sesorang di balik semak itu. Dengan sigap, Mira langsung menyambar sebuah sapu yang ada di dekatnya, dan menyabitkan sapu itu ke arah semak di balik pohon.
“Heh! Siapa tuh?!” cetus Mira dengan kesal.
Tapi tidak ada siapa-siapa di balik semak maupun di belakang pohon, yang ada hanyalah sebuah keranjang kecil yang isinya penuh dengan coklat yang penampilannya terlihat lezat.
“Siapa yang menyimpan coklat sebanyak ini ya? Hemm, siapapun itu, makasih deh,” ujar Mira dengan senang sambil membawa keranjang berisi coklat itu masuk ke rumah.
***
Keesokan harinya, Mira menceritakan soal keranjang berisi coklat misterius yang ia temukan di balik semak belakang rumahnya itu kepada sahabatnya, Luna.
“Lun, menurut kamu siapa ya kira-kira yang menyimpan coklat sebanyak itu di semak dekat pohon belakang rumah aku? Penasaran banget deh jadinya.” tutur Mira sambil mengunyah coklatnya.
“Penggemar rahasia kamu kali?” celetuk Luna, sambil ikutan memakan coklat yang dibawa oleh Mira.
“Iih, ngaco banget deh! Emang siapa sih yang mau jadi penggemar dari cewek tomboy dan berkulit coklat seperti aku ini? Mending aja kalo aku cantik dan putih mulus kayak kamu. Ngasal banget sih kamu kalo ngomong, Lun.”
Luna berkacak pinggang - tak terima dibilang ngaco oleh Mira. “Nggak ada yang nggak mungkin kali, Mira. Apapun bisa terjadi tanpa kita sadari. Kamu nggak perlu secantik Lady Di kali, untuk punya seorang penggemar. Kalo emang penggemar kamu itu terima diri kamu apa adanya, dia pasti seneng banget tuh jadi penggemar kamu,” goda Luna, yang disambut cubitan oleh Mira di lengan Luna.
“Duuhh.. Sakit, Miraa!” pekik Luna sambil berusaha melepaskan cubitan Mira di lengannya.
“Kamu ngomongnya tambah ngaco sih. Nyebelin banget deh,” sungut Mira.
Luna tertawa, “Mira, Mira.. Ngapain sih kamu sampai penasaran gitu? Kamu kan cukup nungguin tu orang yang bawa coklat muncul lagi di balik semak. Pas nanti udah ada tanda dia dateng, langsung kamu sergap deh, beres kan?”
“Ya ampun, jenius banget sih kamu, Lun? Thanks so much ya,” ujar Mira yang langsung memeluk Luna. Namun disambut dengan ekspresi geli setengah mati oleh ulah Mira itu.
“Iih Mira!!”, cetus Luna.
***
Sesampainya di rumah, Mira langsung bergegas menuju kamarnya dan mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah.
“Mira, kenapa sih kamu buru-buru gitu? Naik tangga itu pelan-pelan dong, ntar kalo kamu jatuh, Mama yang repot nanti,” pekik Mama dari dapur yang terletak di lantai bawah, namun tidak digrubris oleh Mira.
Kemudian Mira kembali berlari menuruni tangga setelah selesai mengganti bajunya.
“Mira lagi buru-buru nih, Ma,” ujar Mira sambil mencomot sepotong roti selai coklat dari atas meja makan.
“Buru-buru mau kemana sih kamu?!” tanya Mama.
“Mau ke halaman belakang, Ma,” jawab Mira sambil menyambar gitar miliknya yang ia simpan tak jauh dari meja makan.
Mama hanya geleng kepala, melihat anak gadisnya yang tomboy itu kembali berlari menuju halaman belakang rumah mereka.
***
Sambil menyantap roti selai coklat buatan Mama, Mira kembali memainkan gitarnya di halaman belakang rumah, sambil tak lupa memasang telinga dengan tajam.
Lantunan syair lagu This is me dari Demi Lovato mulai terdengar memenuhi halaman belakang rumahnya, “… but I’ve this dream right inside of me. I’m going let its show its time, to let you know. Its to let you know…”, tapi di tengah tiba-tiba Mira menghentikan sejenak nyanyiannya, seraya memasang telinga dengan tajam ke arah semak di dekat pohon yang belum menunjukkan adanya seseorang yang bersembunyi di balik pohon itu.
Mira kembali memetik gitarnya dan melanjutkan lagu yang tadi dinyanyikannya. “This is real this is me. I’m exactly we’re I’m suppose to be know, gonna let the light shine on me. Now I found who I am, that’s no way to hold it in. no more hiding who I wanna be. This is me…”
Tiba-tiba terdengar suara seorang cowok melanjutkan lagu yang dinyanyikan Mira dari balik pohon. “You’re the voice I hear inside my head the rising that I’m singing, I need to find you, I gotta find you. You’re the missing piece I need, the song inside of me, I need to find you, I gotta find you.”
Mira tercengang melihat seorang cowok ganteng berdiri di balik pohon di dekat semak, sambil memegang sekeranjang penuh coklat lagi. “Hai, Mira!” sapanya sambil tersenyum.
“Oh my god, ganteng banget sih?!” gumam Mira dalam hatinya. “Kamu siapa?” Tanya Mira dengan tampang sok jaim, padahal didalam hatinya berdebar-debar karena melihat cowok ganteng berdiri dihadapannya kini.
“Kenalin, aku Raka,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Mira.
“Aku Mira,” sahutnya sambil membalas uluran tangan Raka.
“Nih, coklat buat kamu,” ujar Raka sambil menyerahkan sekeranjang coklat yang sengaja dibawakannya untuk Mira.
Mira menerima coklat itu sambil tersenyum, “Thanks. Tapi, kenapa kamu kasi coklat sebanyak ini ke aku? Padahal kita kan baru kenal sekarang.”
“Karena aku suka sama kamu.”
“Hah?!”
“Iya. Aku udah lama merhatiin kamu dari jauh. Aku sampai hafal kebiasaan kamu tiap sore main gitar di halaman belakang sambil ngemil. Kamu suka banget kan makan coklat?”
Mira mengangguk.
“Aku seneng banget liat wajah kamu yang berbinar bahagia waktu makan coklat. Makanya aku kasi kamu coklat. Tapi aku malu kalo ngasi langsung coklatnya ke kamu. Soalnya kita kan nggak kenal sebelumnya. Makanya aku taruh keranjang coklat itu di balik semak,” jelas Raka.
Mira tersipu malu. “Thanks banget ya. Aku emang suka banget makan coklat. Makanya aku penasaran banget, siapa yang ngasi aku coklat sebanyak itu.”
“Hemm, Mira..” panggil Raka dengan pelan.
Mira menatap wajah tampan Raka yang ada di depannya kini. “Iya.”
“Kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Mira terkejut mendengar ucapan Raka barusan. “Serius kamu minta aku jadi pacar kamu?”
Raka mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Kita emang belum sepenuhnya saling mengenal, tapi nggak ada salahnya kan kalau aku berharap kamu mau jadi pacar aku?”
“Hemm, iya sih,” sahut Mira.
Raka menatap lurus ke arah kedua mata Mira. “Jadi, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Mira mengangguk sambil tersenyum. “Yuk, aku kenalin sama mama,” ucapnya sambil menggandeng tangan Raka menuju rumah.
“Mama, kenalin nih Raka. Orang yang aku ceritakan waktu itu, yang suka sembunyi di belakang pohon kita itu loh. Sekarang dia pacar Mira.” pekik Mira dengan nyaring, yang disambut cubitan lembut dari Raka yang berdiri tepat di sampingnya. ■

Tidak ada komentar:
Posting Komentar