Powered By Blogger

Kamis, 14 Februari 2013

Malam Tanpa Bintang . . .

1 tahun sudah setelah saya menghilang dari peredaran..
1 tahun sudah terakhir kali saya post cerita saya pada blog dan media sosial lainnya..
1 tahun sudah saya bersembunyi dalam kesibukan dan lika-liku kehidupan saya, hingga saya baru sempat menuliskan kata-kata ini, sekarang, saat ini, ketika 1 tahun itu telah berlalu.
izikan saya menuliskan cerita singkat utk mengenang dan menyegarkan kembali harapan saya akan kehidupan yang "sempurna"..
ini lah, persembahan sederhana saya utk para pembaca setia,
"Malam Tanpa Bintang. . ."

***

Raisha, panggil saja namanya begitu. Andromeda Armiraisha.
Raisha (6 tahun) , seorang gadis mungil dengan rambut yang berkuncir dua, dengan rok berenda warna pink dan baju bewarna senada, berlari-lari di halaman sambil memegang balonnya dengan bahagia.

Ardi (8 tahun) terbaring mengadah ke langit dengan kedua tangan terlipat mengalasi kepalanya.
"Raisha, " panggilnya pelan.
dengan senyuman yang masih terhias di wajah putihnya, ia duduk disamping Ardi, "ada apa?"
"Coba kamu berbaring disebelah, ardi.."pintanya.
dengan wajah berkerut, raisha memandang ke arah Ardi, "Memangnya kenapa? Sha malas ah, langitnya jelek, nggak ada bintangnya, Sha mau liat apa dong?"
"Sha, Ardi minta banget, Sha baring disebelah Ardi, Ardi mau kasi tau rahasia kecil sama Raisha.."
mendengar kata 'rahasia' membuat Raisha pensaran, dengan senyumnya yang masih terhias diwajah, ia berbaring disebelah Ardi sambil terus memegangi balonnya. "Ada rahasia apa?"
"Sha janji akan jaga rahasia ini?"
Raisha mengangguk bersemangat.
"Ingat ya, ini rahasia kecil , cuma Raisha dan Ardi yang tau, jangan bilang siapa-siapa.."
Raisha menautkan jari kelingkingnya dengan Ardi, "Sha janji."

Ardi mengacungkan telunjuknya ke langit, "Lihat, langitnya gelap kan? nggak ada bulan, nggak ada bintang.. Raisha suka nggak kalau langitnya begitu terus tiap hari?"
dengan cepat Raisha menggeleng, "Nggak mau ah, jelek. Sha suka bintang, apalgi kalo banyak. sha jd punya banyak kawan..."
"Nah, skrg Ardi kasi tau rahasia kecil sama Sha ya, mau tau kan?"
Lagi-lagi Raisha mengangguk.
"Sebenarnya, bintang-bintang itu nggak hilang, mereka semua ada di langit kok. Ardi bisa liatnya."
"Bohong! Kenapa Sha nggak bisa liat?!"protesnya.
"Raisha, kadang kita itu tidak harus melihat hanya dengan mata, tapi juga dengan hati."
Raisha mengerutkan keningnya, "Hati?!"
Ardi tersenyum memandang wajah Raisha yang bingung, wajar saja, karna umurnya baru 6 tahun, jadi belum terlalu mengerti. "Jadi, sekarang raisha menghadp langit, sha tutup mata , kemudian Sha harus senyum, tunjukkan kalau Sha bahagia melihat bintang, maka Sha pasti bisa liat semua bintang itu."
Raisha terdiam, matanya masih terpejam, kemudian dia tersenyum , "Sha bisa lihat! Indah ya..." ucapnya sambil tersenyum lebar ke arah Ardi.
Ardi balas tersenyum, "Mulai sekarang, Sha jangan takut sendirian ya, Sha punya banyak teman di langit."
"Iya."

***

Ardi (19 tahun) mendribel bola basketnya ke arah ring yang jaraknya sekitar 7 meter lagi didepannya. memasuki daerah three point, Ardi mengangkat tubuhnya ke atas, bola dileparkannya, dan "YEEEEEEYYYYYY" jerit penonton dengan bahagia memenuhi seluruh ruangan. Lemparan Three Point dari Ardi menyelesaikan pertandingan hari itu, tepat ketika bunyi bel tanda waktu pertandingan habis berbunyi.

Ardi meneguk ari mineralnya dengan cepat sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil berwarna biru, yang walau sudah pudar warnanya-karna di makan usia, tetap saja dipakainya.
"Hey, Ardi! Selamat ya, karna three point tadi nh kita bisa menang! Hampir aja frustasi tadi kita semua!" ujar Bento, salah satu teman dalam Tim Ardi..
"Haha, santai . kalau bukan kerjasama dengan kalian, gue jga gx bakal bs nyetak kok. :D" sahut Ardi .
"Eh ya, Ar. Tuh handuk masih aja lo pake, bukannya 2 hari yang lalu, pas ulang tahun lo, si Tika ada ngasi lo 1 set lengkap baju basket ya, sampe ke handuk, tempat minum dan segala macamnya, keren pula!"
Ardi tersenyum tipis, pandangannya tertuju pada handuk biru pudar yang ada di tangannya, " gue ngerasa nyaman dengan handuk ini, jadi nggak akan ada yg bisa lebih nyaman dibanding handuk ini.."
"hallah, bisa aja lo!"
Ardi mengemaskan barang-barangnya ke dalam tas, "gue duluan ya, ada urusan. bye."

***

Raisha (17 tahun) duduk di ayunan taman belakang rumahnya sambil memandang kearah langit, ia memejamkan matanya.
dari belakang, Ardi berjalan kearah Raisha, memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya sekilas.
Raisha tersenyum "Ardi, ini kamu?"
Ardi tersenyum, "Ya tentu aja aku lah, emang ada yg berani cium pipi kamu selain aku, yg adalah pacar kamu?!"
Raisha tertawa, "Ada, mama, papa, kakek, nenek, mereka berani cium pipi sha." ucapnya sambil tersenyum malu.
"Yaa itu sih bedaa."
"Tadi gimana pertandingannya? menang?"tanya Raisha.
Ardi duduk menghadap Raisha sambil tersenyum bangga, "Menang dong! Ini semua berkat handuk keberuntungan dari kamu!"
"Loh, kok bisa gitu?"
"Kamu ingat, pertandingan 6 bulan yg lalu, saat handuk biru pemberian kamu ketinggalan, aku kalah kan?"
Raisha mengangguk.
"Nah, coba sebelum dan setelah itu, aku selalu menang kalau handuk itu selalu menyertaiku.."ujarnya sambil tesenyum.
"Ahh, kamu bisa aja." sahut Raisha sambil tersenyum malu, "Emm, Ardi, maaf ya aku tadi nggak datang ke pertandingan kamu, bahkan selama ini sekalipun aku nggak bisa datang, aku nggak pernah bisa lihat kamu bertanding." Ujarnya sambil menundukkan kepala.
Ardi mengangkat wajah Raisha yang tertunduk, dilihatnya mata Raisha berkaca-kaca, "Ngggak apa-apa Sha. Aku paham, dan aku nggak pernah menuntut kamu untuk datang, aku akan selalu menunggu kamu sampai kamu siap .."
Raisha tak kuasa menahan air matanya, "maafin aku, Di. Mungkin untuk selamanya aku nggak bisa lihat kamu bertanding.. Yang aku bisa saat ini cuma 2 hal, melihat bintang, dan melikat senyum kamu, karna hanya 2 hal itu yang melekat dalam memori ingatan aku.. "ucapnya pelan.

"hhsshhh, jangan bicara gitu Sha, sampai kapanpun, aku nggak akan permasalahkan itu, dan selama kamu masih bisa "lihat" aku, aku nggak masalah, "ujar Ardi sambil memeluk Raisha dengan kuat.
"Tapi Di, aku ngerasa nggak pantas untuk kamu.. aku cuma cewek yg tidak bisa melihat dari kecil, dan aku nggak akan pernah bisa lihat kamu .. nggak akan..."

"Raisha, dengar! aku, akan jadi mata kamu, dari dulu, sampai sekarang, dan sampai nanti, aku akan terus jadi mata kamu! jadi jangan pernah kamu berfikir kamu nggak pantas untuk aku! Aku dan kamu, kita berdua sudah jadi satu. jadi jangan kamu bicara spt itu lagi, Sha. Aku sayang sama kamu. Aku terima kamu apa adanya, dari dulu, sampai sekarang..."

"tapi kamu lebih pantas dapat yg lebih baik dari aku, Di. Setidaknya cewek yg bisa melihat kamu bertanding, seperti Tika, yg sudah suka sama kamu sejak SMA.."ujar Raisha lirih.

"raisha, mau janji 1 hal?"
"apa?"
"Bolehkah aku menjadi mata dan hidupmu sampai nanti?"
Raisha menunduk, "tapi, Di..."
"Plis, Sha, jawab, boleh atau tidak?"
Raisha diam sejenak, Ardi terus menatap lurus kearah raisha , gadis cantik tuna netra yg sangat dicintainya sejak kecil. raisha tetap lah raisha, dulu sampai sekarang, sayang itu tidak berubah untuknya.
perlahan kepala Raisha mengangguk, Ardi memeluk Raisha , "Aku sayang kamu, Sha.."
Raisha menitikkan air mata bahagia, ia memblas pelukan Ardi, "Aku juga sayang kamu, Ardi.."

***

Raisha, walau di matamu, langit malam selalu kosong,
walau malam selalu tanpa bintang,
tapi ingatlah,
lihatlah semua yg ada di sekitarmu, dengan hati,
maka semua bintang di jagad raya ini akan terlihat di mata mu..
bintang-bintang itu lah yang akan menghiasi seluruh pemandangan didepan matamu..
Raisha, walau Malam Tanpa Bintang, tapi aku akan selalu memperlihatkan bintang-bintang didepan matamu..
selamanya....

-END-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar